
Aku masih menatap reaksi Ardi yang terkejut, saat itu. Apa dia benar-benar tidak menyukai wanita bernama Marsya itu? Padahal, wanita itu cantik. Apa Ardi tidak menyadari hal itu?
"Jodohkan aku dengan wanita lain saja. Jangan dia!" ucapnya.
"Kenapa memangnya?"
"Aku tidak tertarik padanya!" ucap Ardi kesal.
"Baiklah. Aku akan mengajak wanita itu kemari besok."
"Kakak ipar, jangan macam-macam! Kau tidak pernah lihat aku ngamuk ya!" tawa Ardi.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Ardi. Tapi, wajah Ardi terlihat semakin kesal.
"Bagaimana hasil tes medis Kak Bara?" tanya Ardi.
"Tes medis Bara menyatakan kalau Bara ada kemungkinan untuk punya keturunan. Kemungkinan besar, diagnosa hasil tes yang dimiliki Ibumu itu keliru."
"Baguslah. Aku yakin, Ibu akan kembali menyayangi mu!" ucapnya.
"Terimakasih. Bersiaplah untuk pertemuan esok ya, dengan Marsya," tawaku sambil berlalu.
****
Pagi harinya, aku dan Bara baru bangun. Aku dan Bara terpaksa tidur dikamar tamu, karena kamar kami ditempati oleh Ardi. Bara tersenyum menatap kearah ku, sambil memeluk tubuhku.
"Marsya hari ini akan kemari!" ucap Bara.
"Benarkah?"
"Iya. Aku pura-pura menyuruhnya mengajari les untuk Alesha. Ternyata dia sekarang berprofesi sebagai guru les," ucap Bara.
"Benarkah? Lalu kapan dia kemari?"
"Nanti siang, mungkin sekitar jam 2 siang," ucap Bara.
Aku senyum-senyum sendiri memikirkan cara yang bagus untuk mendekatkan mereka. Walau aku pun tidak tahu, bagaimana caranya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Bara sambil menciumi pipiku.
"Tidak ada."
"Kau pasti akan kaget, jika melihat Ardi bertemu dengan Marsya. Mereka itu, persis seperti kucing dan anjing yang tidak pernah akur," ucap Bara diiringi tawa.
"Ya sudah. Aku buat sarapan dulu!" ucapku sambil berjalan keluar kamar.
Bara mengikuti ku dari belakang, pasti dia akan menggangguku lagi!
Aku mulai memasak sarapan pagi, aku membuat nasi goreng dan ayam goreng. Bara kembali memelukku dari belakang, sontak membuatku kaget.
"Apa yang kau lakukan? Menjauh, aku sedang masak! Aku tidak mau masakan ku gosong lagi, karena ulah mu," tawaku.
"Tapi hobi ku setiap pagi, memang mengganggumu! Jadi, nikmatilah," tawa Bara.
"Mas, lepaskan aku! Kau boleh menggangguku, setelah aku selesai masak!" ucapku.
Tapi Bara tidak perduli, dia terus menggangguku. Menciumi pipiku, mengusap wajahku, dan membelai rambutku. Bara benar-benar membuatku prustasi, karena dia terus menggodaku. Dia sengaja pasang wajah semanis mungkin untuk menarik perhatianku.
Bibir seksinya itu digigitnya hingga berwarna merah. Aduh, aku selalu fokus pada bibir Bara yang eksotis itu. Bara semakin tak terkendali, tangannya merayap menyusuri tubuhku. Aku yang semakin terbuai, tak sanggup lagi mempertahankan hasrat ku yang semakin bergejolak.
Aku mematikan kompor itu, padahal aku belum selesai membuat sarapan. Ulah suamiku ini membuatku ikut gila karenanya. Bara menggendongku masuk kedalam kamar, aku hanya menurut, patuh pada keinginan Bara.
Kecupan di bibirku terus mendarat tak terkendali, lama-lama semakin buas. Awalnya hanya sebuah kecupan menjadi ciuman hangat yang membuai hasrat. Desah demi desah hasrat kenikmatan itu, menjadi hal yang biasa untukku. Itu karena cintaku yang begitu besar pada Bara.
Bara terus melakukan aksinya, lebih lembut dan semakin membuatku terbuai. Bara menciumi setiap lekuk tubuhku dan semakin memanas. Aku semakin tak terkendali, menarik wajah Bara lalu menciumi bibirnya. Hingga, semua pun berakhir!
"Kak Chika! Mana sarapan untukku? Aku mau berangkat sekolah bersama Kak Ardi," teriak Alesha.
Aku terkejut, langsung masuk kedalam kamar mandi. Aku segera mandi dan memakai bajuku. Bara hanya tertawa melihat kepanikan ku. Padahal kan, ini ulahnya!
Bara masuk kedalam kamar mandi, sementara aku keluar untuk menemui Alesha dan Ardi.
"Lama sekali, aku pasti telat!" teriak Alesha.
Aku senyum-senyum sendiri memikirkan hal yang aku lakukan bersama Bara tadi. Kenapa kami seperti sedang sedang main kucing-kucingan?
Aku menyiapkan nasi goreng dimeja makan, sambil kembali ke dapur untuk menggoreng ayamnya.
__ADS_1
"Kak Chika, mana ayamnya?" Alesha kesal.
Ardi tertawa, dia tentu sedang memikirkan apa yang terjadi padaku dikamar bersama Bara. Aku bahkan bisa melihat tawa nakal dibibir Ardi saat ini.
"Kakak ipar, buatkan aku teh hangat!" ucap Ardi sambil membuka buku ditangannya. Dia terlihat sibuk dengan buku dan pulpen ditangannya.
Aku memberikan teh hangat itu pada Ardi, dia masih serius menatap buku dan pulpennya.
"Kau sedang membuat apa?" tanyaku sambil mendekat kearah Ardi.
"Tidak ada. Aku hanya sedang iseng, membuat puisi," ucapnya.
"Puisi? Puisi untuk Marsya?" tawaku.
"Jangan mulai Kakak ipar. Ini masih terlalu pagi, kau meledekku," ucap Ardi kesal.
Aku tertawa sambil kembali ke dapur, aku membawa ayam goreng yang ditunggu Alesha.
"Ini ayam gorengnya. Alesha sebelum makan, jangan lupa baca doa dulu ya!" ucapku.
Alesha mengangguk, lalu mulai membaca doa dan memakan sarapannya. Aku masih menatap Ardi yang serius dengan kegiatannya sendiri.
"Kau tidak mau sarapan? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyaku.
"Jauh lebih baik. Ini berkat Kakak ipar ku yang baik hati. Yang merawat ku dan membuatkan aku bubur yang enak kemarin!" ucap Ardi.
"Ya, aku memang sudah baik dari lahir, jadi tidak usah diucapkan dengan kata-kata," tawaku.
Bara yang sudah selesai dengan pakaian kantornya, langsung duduk menghampiri kami. Bara menatap kearah ku dengan senyum manisnya.
"Sayang, kau mulai lagi? Kau memuji dirimu sendiri?" tawa Bara.
"Tidak apa-apa kan!" tawaku.
"Kau, tidak kekantor?" tanya Bara pada Ardi.
"Mungkin libur dulu. Ini adalah hari pertama Alesha sekolah, jadi aku ingin menemaninya sampai dia pulang sekolah," ucap Ardi sambil memakan sarapannya.
"Kau sayang sekali pada adik ku ya?" tawaku.
"Aku tidak mendapatkan cinta Kakaknya, biarkan aku mendapat cinta adiknya," tawa Ardi.
"Haha... Memangnya tidak boleh ya?" ucap Ardi.
"Tidak. Kau cari wanita lain saja! Umurku baru 8 tahun. Aku masih ingin sekolah dan bekerja. Tidak mau langsung menikah!" ucap si kecil Alesha.
Kami tertawa mendengar ucapan dari bibir polos Alesha. Sampai tiba-tiba, Ibu Bara masuk kedalam rumah kami. Matanya begitu kesal, menatap kearah ku.
"Jadi, kau sudah berhasil dengan rencana mu? Hebat sekali Chika! Kau bisa langsung mendapatkan dua laki-laki sekaligus. Kakak dan adiknya! Kau benar-benar wanita licik," teriak Ibu.
Kami terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Ibu. Kenapa dia bisa salah paham?
"Ibu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ucap Bara.
"Chika tidak salah, Bu! Aku yang salah," ucap Ardi.
Dua anak laki-laki itu terus menyerang Ibunya, padahal aku tahu betul, Ardi dan Bara begitu menghormati Ibu mereka. Tapi karena membelaku, hari ini mereka menentang Ibu kandung mereka sendiri.
"Ibu kecewa pada kalian, Ibu yang melahirkan kalian, tapi kalian terus membela wanita itu. Ibu ingin anak-anak Ibu, kembali pada Ibu. Jangan terus menerus menentang Ibu kalian. Aku yang bersusah payah merawat kalian dulu!" teriak Ibu diiringi tangis.
Aku mendekat, aku mengusap lembut tangan Ibu. Tapi Ibu menatap tajam kearah ku.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu!" ucap Ibu sambil menepis tanganku.
Aku mundur beberapa langkah, air mataku mengalir deras. Menyaksikan sendiri ucapan getir dari bibir seorang Ibu, yang sudah ku anggap seperti Ibuku sendiri.
"Ibu, hasil pemeriksaan medis yang ada ditangan Ibu, itu keliru. Kak Bara dan Chika sudah melakukan pemeriksaan ulang. Dan hasilnya, Kak Bara bisa memberikan keturunan. Kak Bara, tunjukkan hasil pemeriksaan itu pada Ibu," ucap Ardi.
Mata Ibu berkaca-kaca saat melihat hasil pemeriksaan medis itu. Ternyata selama ini, ketakutannya jika Bara mandul, itu salah. Ada rasa bahagia dihati ibu. Namun ada rasa malu yang berkecamuk dihatinya. Malu padaku yang sudah beberapa kali diberi nyinyiran pedas olehnya.
Ibu Bara menatap kearah ku, dia memeluk tubuhku penuh penyesalan. Sebenarnya, ucapan Ibu Bara memang begitu menyakitkan. Tapi, aku tahu dia melakukan itu karena begitu menyayangi anak-anaknya.
"Maafkan Ibu, Chika!" ucapnya.
Aku menghapus air matanya, lalu tersenyum padanya.
"Aku tidak pernah dendam pada Ibu," ucapku.
__ADS_1
" Maafkan Ibu, Nak!" ucap Ibu masih memeluk tubuhku.
Aku melepaskan pelukan Ibu, aku mengusap lembut tangan mertuaku. Mungkin kesalahannya memang besar, tapi aku tidak ingin menaruh dendam pada wanita yang begitu dihormati suamiku.
"Aku sudah memaafkan Ibu. Kau itu seorang Ibu, tentu kau ingin yang terbaik untuk anak-anak mu. Aku mengerti," ucapku.
Setelah taburan air mata di pagi hari, akhirnya semua keadaan berubah kembali seperti semula. Ibu pamit pulang, begitupun dengan Ardi berangkat ke sekolah untuk mengantar Alesha. Tak lama Bara juga pergi kekantor, hanya tinggal aku seorang diri di rumah.
Aku mulai jenuh, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman bersama Alghi. Hingga tak sengaja, aku bertemu wanita itu. Marsya, iya dia!
"Hai, kau Marsya kan!" sapaku.
"Kau, wanita yang tadi bersama Bara kan!" ucapnya.
"Kenalkan namaku Chika, aku istrinya Bara!"
"Bara sudah menikah? Benarkah? Lalu, bayi yang kau gendong ini, apa anak Bara?" tanyanya sambil menggendong Alghi.
"Iya." ucapku.
"Wah, lucu sekali anak Bara! Siapa namanya?"
"Baby Alghi."
"Hai, Alghi..." ucap Marsya sambil menciumi pipi bayi kecil itu.
"Ikut denganku yuk! Aku bosan di rumah sendirian. Lagipula, Bara sudah memintamu untuk mengajarkan adikku les siang ini kan!" ucapku memohon.
"Tapi, apa tidak bisa nanti saja!"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa sih! Ya sudah, aku ikut bersamamu," ucapnya.
Aku dan Marsya mengobrol didepan halaman rumahku. Kami bercerita banyak hal, yang mengasikkan. Sampai tiba-tiba, Ardi pulang bersama Alesha.
Alesha langsung bersalaman bersama kami, tapi Ardi diam didepan mobilnya. Dia menatap kesal pada wanita yang ada disampingku. Aku bahkan baru melihat, wajah Ardi semarah itu.
"Ardi, kemarilah! Kau masih ingat wanita ini?" tanyaku.
Ardi tersenyum sinis, masih memperhatikan Marsya dari atas kepala sampai ujung kaki. Marsya terlihat ketakutan, terlihat jelas dimatanya.
"Wanita menyebalkan, kau disini? Apa yang kau lakukan?" ucap Ardi ketus.
"Aku...." Marsya bingung, dia menggigit jari telunjuknya sambil berpikir.
"Aku yang mengajaknya. Aku mau dia, mengajarkan Alesha les disini," ucapku.
"Kakak ipar. Kau tahu kan, aku sangat membenci wanita itu! Kenapa kau mengundangnya kesini? Aku pergi saja," ucap Ardi sambil masuk kedalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumahku.
"Maaf ya Chika, gara-gara aku Ardi jadi marah padamu!" ucapnya.
"Tenanglah. Memang untuk menjinakkan laki-laki seperti Ardi, butuh kesabaran ekstra," tawaku.
"Kau baik sekali Chika! Kau tahu, aku sudah lama menyukai Ardi."
"Apa?"
"Kenapa terkejut? Apa karena umurku tiga tahun lebih tua darinya?"
"Bukan! Aku terkejut, karena kau bilang menyukai Ardi. Bukankah, dulu kau yang menjual foto-foto Ardi pada teman kampusmu? Untuk apa kau lakukan hal itu?" tanyaku bingung.
"Aku butuh uang, untuk membayar uang kuliahku. Aku ini yatim piatu, jadi aku membayar semua biaya kuliah sendiri. Makanya waktu itu, aku nekat mencuri foto Ardi yang sedang tersenyum."
"Kenapa?" tawaku.
"Karena ada seorang wanita yang berani membayar mahal untuk harga satu foto Ardi. Dia membayar ku, setara dengan harga sebuah motor. Kau bisa bayangkan?"
"Tapi kini, kau harus rela dibencinya seumur hidup karena itu!" ucapku.
"Hm... Benar!" ucapnya lesu.
"Tapi, aku akan membantumu! Aku akan mencari cara, agar Ardi bisa memaafkan mu. Bagaimana?"
"Benarkah? Kau baik sekali," ucap Marsya sambil memeluk tubuhku.
Ada senyum yang terpancar indah dari bibir Marsya. Sepertinya, wanita ini benar-benar menyukai Ardi. Semoga saja aku segera menemukan cara untuk membuat mereka saling jatuh cinta. Tapi bagaimana?
__ADS_1
Ardi kenapa histeris banget, liat Marsya? Akankah Chika berhasil menjodohkan Marsya dan Ardi? Beri dukungan untuk Author ya, Like dan Vote nya. Saran juga boleh!
Terimakasih.💕💕