
Setelah puas menangis dan saling memaafkan, Ardi tersenyum menatap kearah kami.
"Anak dalam kandungan Chika, itu adalah anakmu, Kak! Aku kenal wanita seperti apa dia. Dia tidak akan pernah mengkhianati cintamu, Kak!" ucap Ardi.
"Kau yakin?" ucap Bara sambil menoleh kearah ku.
"Iya Kak. Selama Chika berpacaran denganku, dia tidak pernah membagi hatinya untuk pria lain. Hanya aku, laki-laki yang diizinkan menyentuhnya. Sekarang dia milikmu, jadi dia akan menjaga hatinya hanya untukmu. Bahkan dia tidak mengizinkan mantan pacarnya ini, walau sekedar mengenangnya," tawa Ardi.
"Benarkah?" Bara tersenyum, mendekat kearah ku.
Tangan nakalnya mulai menggerayangi wajahku dengan senyum mistisnya. Mau apa dia? Apa arti tatapannya?
Bara memeluk tubuhku, mata kami saling beradu. Ada senyum kebahagiaan terpancar diwajahnya. Lama-lama wajah Bara semakin mendekat kearah wajahku.
"Aku mencintaimu!" bisiknya sambil mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Ada Ardi dan Alesha! Apa kau benar-benar mau mencium ku dihadapan mereka?" ucapku yang terkejut saat bibir Bara mendekat kearah bibirku.
Bara tidak perduli dengan ucapanku, dia terus mendekatkan bibirnya ke bibirku. Sebelum sempat sampai mendarat dibibir ku, aku mendorong lembut tubuh Bara. Aku pikir Bara akan marah, tapi dia marah tertawa.
"Kak Bara dan Kak Chika genit! Kak Ardi tidak marah kan?" tanya Alesha.
"Tidak. Kak Ardi kan, punya Alesha! Jadi, Kak Ardi tidak sendiri," tawanya.
"Alesha berharap, akan ada wanita baik yang akan mencintaimu, suatu saat nanti!" ucap Alesha sambil memeluk tubuh Ardi.
"Terimakasih, Alesha sudah menyayangi Kak Ardi. Kak Ardi sudah menganggap Alesha, seperti adik kandung Kak Ardi sendiri. Mulai besok, Kak Ardi akan daftarkan sekolah untuk Alesha ya!" ucap Ardi.
"Tidak. Aku takut dibully! Aku harusnya sudah sekolah sekelas dengan Marcell. Pasti aku harus memulai dari kelas satu lagi. Aku tidak mau!" tolaknya.
"Kak Ardi akan menemani Alesha. Kak Ardi akan antar dan jemput Alesha. Alesha harus sekolah, agar Alesha jadi anak pintar." kata Ardi.
Setelah begitu banyak bujukan dari Ardi, akhirnya Alesha mengangguk. Padahal, aku sudah pernah meminta Alesha untuk bersekolah. Tapi beberapa kali Alesha menolak. Ardi memang hebat, karena dia bisa membuat Alesha menuruti permintaannya.
"Kak, aku mau sekolah besok! Jadi, Kakak siapkan semua keperluan sekolahku ya," ucap adikku sambil tersenyum.
"Kak Chika dan Kak Bara mau berangkat ke rumah sakit dulu. Nanti pulangnya, Kakak akan membelikan perlengkapan sekolahmu ya!" ucapku.
Bara hanya tersenyum sambil mengambil alih Alghi di tanganku. Aku dan Bara keluar dari rumah itu menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter memberikan hasil tes yang pernah dilakukan Bara waktu itu. Awalnya aku takut, tapi aku harus yakin.
Bara membuka kertas hasil pemeriksaan medisnya, matanya berkaca-kaca menatapku. Apa hasilnya?
"Maafkan aku, karena aku telah meragukan mu!" ucapnya sambil mengusap rambutku.
"Apa hasilnya?"
"Alat reproduksi ku masih berfungsi, ada kemungkinan besar aku memiliki keturunan. Mungkin hasil pemeriksaan yang Ibuku lakukan, keliru!" ucap Bara.
Air mataku mengalir deras, menatap hasil pemeriksaan medis itu.
"Syukurlah, jika kau tidak lagi meragukan anak didalam kandunganku."
Bara memelukku dan mencium keningku, ada air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Sudahlah, ayo kita pulang!" ucapku sambil masuk kedalam mobil.
Bara juga masuk kedalam mobil, lalu memberikan Alghi padaku. Bara mulai melajukan mobilnya, lalu berhenti disebuah toko alat-alat tulis. Setelah semua keperluan sekolah Alesha sudah ku beli, kami pun pulang.
Dijalan kami hampir menabrak seorang wanita, Bara segera keluar untuk menolongnya.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Bara pada wanita itu.
"Tidak ada. Aku hanya terkejut!" ucapnya.
Bara menatap sekilas wanita itu, tiba-tiba mereka tertawa.
"Kau Marsya kan? Apa kabar?" tanya Bara antusias.
__ADS_1
"Baik. Kau Bara kan!" ucapnya.
"Iya. Kau tinggal dimana?"
"Aku mengontrak rumah. Bagaimana keadaan Ardi?" tanyanya.
"Baik. Kenapa? Kau ingin menemuinya? Ayo, ikut aku!" tawa Bara.
"Ah, tidak! Dia pasti masih marah padaku!" ucap Marsya.
"Masalah foto-foto Ardi yang kau jual pada teman-teman kampusmu? Itukan sudah lebih dari tiga tahun, dia pasti sudah memaafkan mu," tawa Bara.
"Bara, kau itu tidak mengenal dengan baik, sifat adikmu ya! Pria angkuh sepertinya, mana mungkin semudah itu memaafkan aku," ucapnya cemas.
"Haha... Minta maaf saja dulu. Siapa tahu dia memaafkan kesalahanmu!"
"Tidak. Aku tidak berani!"
"Dasar Marsya!"
"Aku yakin dia tidak mungkin memaafkan aku. Melihatku saja, pasti tidak sudi."
"Haha... Kenapa berpikir begitu?"
"Dia membenciku setelah kejadian tiga tahun lalu."
"Lalu, kau tidak ingin meminta maaf pada adikku?"
"Tidak. Lebih baik aku menghindarinya," ucap Marsya.
"Hei, kau mau kemana?"
"Aku mau pergi, sampai kan saja maaf ku pada adikmu, Bara!" ucap wanita itu sambil melambaikan tangan, berlalu dari hadapan kami.
"Siapa dia?" tanyaku, saat wanita itu pergi.
"Wanita itu cantik sekali," ucapku.
"Kau tahu, wanita itu pernah bertengkar hebat dengan adikku. Tapi sudahlah, ayo kita pulang!" kata Bara sambil masuk kedalam mobil.
Aku masih penasaran dengan sosok wanita bernama Marsya itu. Entah kenapa, aku begitu tertarik mendengar cerita tentang wanita itu. Apa dia bisa menjadi kekasih Ardi untuk menggantikan ku?
"Mas, aku ingin kau menceritakan, siapa Marsya!" ucapku.
"Kenapa kau sangat antusias sekali?"
"Apa Ardi dan Marsya pernah punya hubungan?"
"Tidak. Kalau punya masalah, iya!" tawa Bara.
"Masalah apa?"
"Marsya pernah mencuri foto-foto Ardi dikamarnya, lalu menjual foto-foto itu pada teman kampusnya. Ardi marah, dan memaki Marsya di depan kampus. Sampai akhirnya karena malu, Marsya keluar dari kampus. Aku dengar cerita ini dari Ardi. Memang Marsya agak kelewatan!" tawa Bara.
"Mencuri? Dia masuk kedalam kamar Ardi, diam-diam?" tanyaku bingung.
"Heeh. Lewat jendela kamar Ardi!"
"Berani sekali dia!"
"Saat itu Ardi baru lulus SMA, dan mulai daftar kuliah di kampus yang sama dengan Marsya. Marsya adalah senior Ardi di kampus. Dia di minta seseorang, untuk mendapatkan foto-foto Ardi yang sedang tersenyum. Kau tahu kan, adikku itu angkuh dan tidak banyak bicara. Dia lebih suka diam dan menyendiri," ucap Bara.
"Lalu? Setelah Marsya berhasil mendapatkan foto-foto Ardi, apa yang terjadi?"
"Dia menjualnya, dengan harga mahal sekali. Tapi, dia juga harus membayar mahal semua itu. Saat Ardi merebut foto-fotonya itu dan memaki Marsya didepan umum."
"Lalu?"
"Marsya merasa bersalah. Tapi, Ardi bahkan tidak ingin melihatnya. Ardi tidak pernah mau bertemu dengannya, walau dia datang ke rumah untuk meminta maaf. Sudahlah, aku sendiri tidak tahu secara lengkap. Karena saat itu aku ada diluar negeri bersamamu. Jadi, aku tidak tahu hal ini secara pasti!"
__ADS_1
"Bagaimana, jika kita bantu mereka berbaikan? Siapa tahu saja, Marsya bisa menjadi kekasih Ardi," ucapku.
"Haha... Kau akan lihat mereka bertengkar hebat, jika bertemu!"
"Memangnya kau pernah melihat mereka bertemu setelah kejadian itu?"
"Pernah. Ardi memakinya dengan kata-kata pedas. Lalu wanita itu pergi!"
"Lihat saja. Aku akan membuat kebencian itu menjadi cinta," tawaku.
"Kenapa kau sangat ingin menjodohkan Ardi dengan Marsya?"
"Karena aku ingin, Ardi segera melupakanku. Aku ingin lihat Ardi bahagia," ucapku.
"Baiklah. Aku akan meminta seseorang untuk mencari informasi tentang Marsya, agar kau bisa bertemu langsung dengannya. Marsya itu baik, jadi kau tidak perlu khawatir. Aku mengenalnya cukup baik waktu di SMA dulu."
Mobil Bara pun berhenti didepan rumah kami, aku segera keluar dari mobil Bara. Bara menarik tanganku lembut, matanya menatap tajam padaku.
"Jangan memaksakan Ardi, jika dia tidak menginginkan Marsya ya! Biarkan dia menemukan cintanya sendiri," ucap Bara.
"Iya. Aku mengerti!" ucapku sambil masuk kedalam rumah.
Aku menidurkan Alghi dalam keranjang bayinya, lalu berjalan menuju dapur. Aku membuat bubur untuk Ardi. Lalu membawa bubur itu kedalam kamar.
"Makan dulu, Ardi!" ucapku sambil menyuapi bubur ke mulut Ardi. Ardi menurut lalu membuka mulutnya.
"Kak Bara kemana?"
"Dia kembali ke kantor," ucapku.
"Dia tidak takut, jika aku melakukan hal buruk lagi padamu?"
"Memangnya kau bisa melakukan itu sekarang? Berdiri saja, kau pasti tidak sanggup," tawaku.
Ardi ikut tertawa, walau masih terlihat agak lemah.
"Kau kenapa bisa sampai begini?" tanyaku.
"Tidak tahu. Tiba-tiba aku tidak enak badan, karena takut mati, aku memilih kemari untuk melihatmu dan meminta maaf padamu," ucapnya.
"Jadi kau berubah, karena kau takut mati?" tawaku.
Ardi ikut tertawa, Ardi memegang tanganku sambil tersenyum.
"Terimakasih, kau sudah menolongku."
"Kenapa berterima kasih? Kau itu adik Bara. Berarti, kau juga adikku."
Ardi tersenyum menatap dengan mata sendu, ada penyesalan terlihat jelas dimatanya. Aku masih menyuapi bubur itu ke mulutnya.
"Kau kenal wanita bernama Marsya? Tadi aku dan Bara bertemu dengannya? Dia cantik sekali ya!" ucapku.
Ardi hanya mengerutkan keningnya, saat aku membahas tentang Marsya.
"Kenapa diam?Marsya itu cantikan?" tanyaku lagi.
"Cantik. Tapi menyebalkan!" ucapnya pelan.
"Kenapa?"
"Dia pernah membuatku malu di kampus. Dia mencuri beberapa foto di kamarku untuk dijual pada kawan-kawannya. Padahal, awalnya aku lumayan nyaman dengannya. Walau umur Marsya tiga tahun lebih tua dariku."
"Maafkan saja! Itu kejadian lama. Aku rasa, dia juga sudah menyesalinya." ucapku.
"Begitu kah, menurutmu?"
"Beri dia kesempatan. Siapa tahu saja, kalian berjodoh!"
"Jadi, kau berniat menjodohkan Marsya denganku?" tanya Ardi terkejut.
Berhasilkah Chika dengan misinya itu? Akankah Ardi mau membuka hati untuk Marsya? Tetap tunggu kelanjutan cerita mereka, jangan lupa Like dan bantu Vote juga untuk cerita ini. Terimakasih.💕💕
__ADS_1