
Aku masih menyaksikan, Bara bersama dengan wanita itu. Tapi Bara memintaku untuk tetap berada disampingnya. Bukankah ini lebih menyakitkan untukku? Saat aku harus menyaksikan secara langsung, suamiku memperhatikan wanita lain didepan mataku.
Aku menangis, aku tidak bisa membendung air mataku menyaksikan semua ini. Wanita itu tersenyum pada Bara. Sampai seorang suster masuk, untuk memberikan bubur dan obat untuk Naina.
"Aku tidak mau minum obat!" ucapnya.
"Kau harus minum obat Naina!" ucap Bara.
"Nona harus minum obat ya! Sebelum minum obat, makan buburnya dulu. Biar saya suapi!" ucap suster itu.
"Tidak. Aku tidak mau makan!" teriak Naina.
"Jika kau ingin sembuh, makan dan minumlah obatnya." Bara kesal.
"Baiklah. Aku akan makan dan minum obat itu! Tapi aku ingin, kau yang menyuapiku," ucap Naina.
"Apa?"
"Kenapa? Kalau tidak mau, aku tidak usah minum obat. Biarkan aku mati saja!" ucap Naina.
Bara menoleh kearah ku. Aku hanya bisa menangis kelu saat menyaksikan Bara menyuapi Naina. Aku berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Aku menangis sambil berjalan keluar dari rumah sakit. Aku pulang ke rumah tanpa menunggu Bara yang masih sibuk bersama wanita itu. Aku tidak sanggup, jika harus terus berada disana. Menyaksikan secara langsung, suamiku bersama wanita lain.
Aku sampai rumah, aku langsung masuk kedalam kamar. Mandi dan mengganti bajuku. Aku terus menangis sampai tiba-tiba ponselku berbunyi. SMS dari Bara yang memintaku mengantarkan pakaian ganti ke rumah sakit.
Aku masih cukup sabar kali ini. Aku membawa baju Bara dan mengantarkannya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, aku dikejutkan dengan kelakuan Bara bersama Naina. Naina masih berbaring sambil melingkarkan tangannya keleher Bara. Aku benar-benar shock, aku tidak sanggup menatap semua itu.
"Aku bahagia bisa bersama denganmu, Bara! Ini adalah mimpiku selama ini. Aku mencintaimu, Bara!" ucap Naina.
"Lepaskan, Naina!"
"Izinkan aku merasakan dicintai juga olehmu. Aku hanya ingin bersamamu, memelukmu, sampai akhir hayat ku," ucap Naina yang mulai menarik wajah Bara mendekat kearah wajahnya.
Sontak aku berlari menjauh dari rumah sakit itu. Aku menangis, ingin rasanya aku menjerit keras untuk meluapkan kesedihanku. Apa aku harus terus diam seperti ini? Bukankah aku ini istri Bara? Tapi kenapa, Bara lebih memilih bersama wanita itu?
Ya Tuhan, bagaimana bisa aku kuat menghadapi ujian Mu kali ini! Aku tidak bisa terima ini. Disaat aku hamil, aku mengalami banyak hal buruk. Entah sampai kapan aku bisa bertahan hidup dengan segala ujian ini.
Aku berjalan keluar dari rumah sakit. Menyusuri jalan, tanpa arah dan tujuan. Aku hanya bisa menangisi jalan hidupku. Aku selalu berusaha sabar, tapi ujian hidupku semakin berat. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti dihadapan ku. Seorang laki-laki keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Ardi..." ucapku terkejut.
"Chika. Kenapa kau menangis seperti ini?" tanya Ardi cemas.
Aku hanya menangis tanpa berbicara apa-apa. Air mataku mengalir deras mengingat hal buruk yang menimpaku.
"Kenapa? Kenapa diam? Apa yang dilakukan Kak Bara padamu? Katakan!" teriak Ardi marah.
"Aku..." Aku tidak melanjutkan kata-kataku, air mataku tumpah ruah. Hatiku sakit, sakit sekali!
Ardi memeluk tubuhku, mencoba untuk menenangkan hatiku.
"Jangan menangis! Aku tidak rela, kau bersedih!" ucap Ardi.
"Aku antar kau pulang!" ucap Ardi.
Aku tidak menjawab, tapi Ardi menuntunku masuk kedalam mobilnya. Sepanjang perjalanan, aku hanya menangis membayangkan semua hal yang terjadi di rumah sakit. Bara dan Naina, apa yang mereka lakukan?
"Berhentilah menangis! Aku tahu. Ini pasti ada hubungannya dengan Kak Bara. Ceritakan padaku, ada apa?" ucapnya.
"Naina."
Aku hanya mengangguk, tidak ingin menjabarkan lebih banyak pada Ardi. Sungguh, aku tidak bisa terima semua ini. Naina memanfaatkan penyakit yang dialaminya, untuk bisa mendapatkan cinta Bara.
Mobil Ardi berhenti, lalu berjalan menuju toko bunga. Aku ikut turun dari mobil itu, sambil menyandarkan tubuhku di pintu mobil. Tiba-tiba Ardi mendekat, sambil memberikan setangkai bunga mawar.
"Bunga untukmu, Chika!" ucap Ardi sambil tersenyum.
Aku mengambil bunga dari tangan Ardi, tapi Ardi menarik kembali bunga itu sambil tertawa.
"Ada satu syarat yang harus kau lakukan!" tawanya.
"Apa?" tanyaku.
"Tersenyumlah, untukku!" ucap Ardi.
Aku mencoba tersenyum walau hatiku benar-benar kelu. Ardi memberikan bunga mawar itu, sambil menuntunku masuk kedalam mobilnya.
Ardi mengantarku sampai ke depan pintu rumah. Aku bahkan enggan turun dari mobil itu. Untuk apa aku di rumah, sementara Bara bersama wanita lain di rumah sakit. Apa wanita itu lebih penting, daripada hati dan perasaanku?
__ADS_1
Ardi membukakan pintu mobilnya, dia tersenyum sambil menuntunku keluar dari mobil.
"Beristirahatlah. Jaga dirimu! Aku akan kembali besok!" ucap Ardi, lalu pergi meninggalkan rumahku.
Aku berjalan masuk kedalam rumah, tiba-tiba Ibu memanggil.
"Chika... Bara mana?" tanya Ibu.
Aku hanya diam sambil tersenyum getir, lalu masuk kedalam kamar, mengunci diri. Aku menyimpan bunga mawar yang diberikan Ardi di atas meja rias. Lalu menghempaskan tubuhku ditempat tidur.
"Aku mau lihat, Mas! Jika malam ini, kau benar-benar menginap di rumah sakit untuk Naina. Jangan salahkan aku, jika aku juga menerima kehadiran Ardi lagi di hidupku," ucapku bicara sendiri menahan kesal.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Air mataku masih mengalir deras. Entah sudah berapa lama aku menangis dan menunggu Bara pulang. Aku benar-benar sakit hati padamu, suamiku! Kau memilih menjaga perasaan wanita lain daripada menjaga perasaan istrimu sendiri.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuatku sedikit tenang. Mungkin Bara masih perduli denganku dan calon anak kami. Tapi saat membuka pintu, aku mendapati Ardi berada didepan pintu.
"Kak Bara tidak pulang ya?" tanya Ardi.
Aku hanya mengangguk pelan, berusaha untuk membendung air mataku.
"Kau disini? Ada apa?" tanyaku.
"Aku di telepon Ibu. Dia bilang, sejak pulang kau belum makan apa-apa! Aku bawa makanan untukmu," ucap Ardi sambil menyerahkan bungkusan makanan padaku.
"Aku sedang tidak berselera."
"Karena Kak Bara? Kau itu sedang hamil, Chika! Jangan egois! Pikirkan juga kondisimu dan kondisi janin yang ada didalam kandungan mu. Tidak usah pikirkan Kakakku. Biar nanti, aku yang memberi pelajaran padanya. Aku menyerahkan mu untuknya, bukan untuk melihat kau menderita seperti ini," ucap Ardi sambil mengepalkan tangan menahan marah.
Aku dan Ardi keluar dari kamar menuju meja makan. Tidak mungkin kami berada didalam kamar berdua, kan!
Aku duduk di kursi meja makan, lalu Ardi mulai menyuapiku penuh kasih sayang. Senyumnya terpancar lebar, seolah dia bahagia menyuapiku.
Di sana Bara menyuapi Naina, dan disini Ardi menyuapiku. Kenapa takdir begitu rumit? Sampai akal sehat dan nalar ku tidak mampu untuk mencerna keinginan takdir.
"Wanita yang sedang hamil itu, harus mendapatkan perhatian dan banyak kasih sayang. Dia tidak boleh banyak menangis, apalagi banyak pikiran! Jangan pernah berpikir kau sendiri. Ada aku disini yang akan selalu ada untukmu," ucap Ardi sambil tersenyum.
Aku membalas senyumannya, entah kenapa hatiku merasakan ketenangan. Aku memang begitu mengkhawatirkan Bara, tapi sepertinya, Bara tidak mengkhawatirkan keadaanku. Dia sibuk bersama Naina. Rasanya aku ingin menarik Bara dan membawanya pulang bersamaku. Tapi untuk apa? Kalau Bara memang mencintaiku, harusnya dia lebih memilih aku daripada wanita itu.
Tinggalkan jejak Komen, Like, atau Jempol juga Vote untuk dukung Author ya.
Terimakasih.💕💕
__ADS_1