
Adegan hot, sedia kipas angin...
Bara berpamitan pulang pada Ayah dan Ibunya, lalu menuntunku masuk kedalam mobil.
"Mas, aku ingin ajak Alghi pulang!" ucapku pelan.
"Ibu, apa kami boleh bawa Alghi pulang?" tanya Bara. Ibu hanya tersenyum sambil memberikan Alghi padaku.
"Terimakasih, Ibu!" ucapku senang.
"Sering-sering main kesini ya!" ucap Ibu.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu melangkahkan kaki masuk kedalam mobil Bara. Bara mulai menjalankan mobilnya. Dia fokus dengan kemudinya, bahkan tidak menoleh kearah ku.
"Ma... Ma... Ma..." Alghi mengoceh bahasa bayi yang membuatku tertawa, begitupun dengan Bara.
"Anak tampan Ayah, belajar bicara ya!" ucap Bara sambil menoleh kearah ku dan Alghi.
"Lucu sekali, dia sangat menggemaskan!" ucapku sambil mencium pipi Alghi.
"Seperti aku," tawa Bara.
Aku mengerutkan kening, menatap kearah Bara yang tersenyum manis.
"Cium aku juga! Jangan membuat aku cemburu dengan keberadaan Alghi!" tawa Bara.
"Apa maksudmu? Kau cemburu dengan anakmu sendiri?"
"Cium aku, Chika!" ucap Bara sambil menatap penuh ancaman.
Cup...
Satu kecupan mendarat di pipi Bara, tawa kepuasan terpancar dari wajah Bara. Bara kembali menoleh kearah ku, tawa nakal itu kembali menghiasi bibirnya.
"Aku mau dicium lagi!" bisik Bara.
"Kau sedang menyetir. Jangan melakukan hal yang aneh!" ucapku sambil tertawa.
"Sampai dirumah, aku akan menagih ciuman itu!" tawa Bara.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, menatap sepanjang jalan raya menuju rumah kami yang cukup jauh. Sampai didepan rumah, aku keluar dari mobil Bara. Tangan Bara meraih tanganku dan membawaku kedalam pelukannya.
"Ada apa?" tanyaku sok polos.
"Alghi tidur?"
"Heeh."
"Tidurkan dia ditempat tidurnya!" ucap Bara sambil menunjuk kamar kosong, disamping kamar kami.
"Alghi tidur sendiri?" tanyaku terkejut.
"Iya. Hanya sementara! Sampai aku puas dengan servis cintamu," tawa Bara.
Bara merebut Alghi dari tanganku, lalu menidurkannya di kamar terpisah dengan kamarku dan Bara. Bara mengapit Alghi dengan dua guling, disisi kiri dan kanan. Lalu keluar dari kamar itu sambil menarik tanganku.
"Mau apa?"
"Bercinta!"
"Tapi ini masih sore."
__ADS_1
"Jika aku menginginkannya, kapanpun itu, kau harus siap!" bisik Bara sambil menutup pintu kamar kami.
Bara menarik tubuhku, menciumi pipiku penuh cinta. Saat hendak mencium bibirku, tiba-tiba Bara mendorong lembut tubuhku. Aku cukup terkejut, ada apa dengan Bara?
"Kenapa?" tanyaku.
Bara mengambil sapu tangannya, lalu dicelupkan sedikit air. Sapu tangan itu digunakan Bara untuk membersihkan bibirku. Bara terlihat begitu serius dengan hal yang dia lakukan padaku.
"Aku ingin, menghapus bibir adikku yang menempel di bibirmu. Sejujurnya aku sakit sekali, mengingat hal yang dilakukan Ardi padamu. Tapi aku bisa apa? Sepertinya, kau juga suka dicium adikku!" ucap Bara masih memberikan bibirku dengan sapu tangan yang dia bawa.
"Sakit sekali!"
"Apa aku membersihkannya terlalu keras. Apa aku melukai bibirmu?" tanya Bara.
"Bukan bibirku yang sakit tapi hatiku, Mas! Aku tadi hanya terkejut saat Ardi mencium bibirku."
"Bukankah, kau masih mencintai adikku," tanya Bara sambil menghentikan usapan di bibirku.
"Tidak. Aku hanya akan mencintai satu laki-laki, hanya dirimu pemilik hatiku!" ucap Chika sambil tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Bara sambil mencium keningku.
Tangan Bara menarik lembut tubuhku, membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Ciuman dibibir Bara yang bergejolak menyentuh hatiku. Sentuhan demi sentuhan, seolah seperti candu yang membuatku selalu ingin melakukannya bersama Bara.
"Ahhhhh....."
Suara keluar dari bibirku yang tidak sanggup menahan gelora cinta Bara yang menggebu. Bara semakin bersemangat melanjutkan aksinya, meluapkan hasrat cintanya ditubuh ku. Kecupan terus menjalar menelusuri setiap bagian tubuh. Aksi Bara benar-benar membuatku kewalahan menghadapinya.
"Ahhhh......"
Suara erangan ku terus terdengar, membuat Bara melum*t bibirku penuh nafsu. Desahan demi desahan terdengar jelas dari bibirku dan bibir Bara. Sampai akhirnya, Bara melepaskan hasratnya yang berkobar menuju klimaks nya.
"Kau hanya milikku, sayang! Aku tidak ingin membagi cintamu dengan siapapun, termasuk dengan adikku sendiri. Jangan pernah ada lagi, nama adikku diantara hubungan kita," ucap Bara.
"Iya, aku minta maaf!"
Aku bangun dari tidurku, lalu masuk kedalam kamar mandi. Aku terkejut saat Bara ikut masuk kedalam kamar mandi itu.
"Kau? Mau apa?" ucapku terkejut.
"Mau mandi bersamamu!"
"Tidak. Aku bisa sendiri!"
"Jangan menolak. Apa yang ingin kau sembunyikan dariku? Bahkan aku hafal betul bentuk tubuhmu tanpa busana!" tawa Bara.
Aku tidak bisa bicara, hanya diam saat Bara mengunci pintu kamar mandi. Benar juga? Apa yang ingin ku sembunyikan dari Bara? Bahkan hampir setiap hari Bara menghabiskan waktunya hanya untuk menggerayangi tubuhku.
Bara menyalakan air shower, aku dan Bara mandi bersama dibawah air shower itu. Bara mengambil sabun, lalu mengusap sabun itu keseluruhan tubuhku. Tidak ada bagian tubuhku yang terlewat untuk di sabuni olehnya.
"Gantian!" pintanya.
Entah kenapa, aku tertawa sendiri. Rasa canggung tidak bisa aku tutupi. Aku tidak pernah mengusap sabun pada tubuh laki-laki manapun, selain Alghi.
Aku mulai menggosok tubuh Bara dengan sabun, Bara menikmati sentuhan demi sentuhan yang ku berikan di tubuhnya. Saat aku selesai mengusap sabun ke seluruh tubuh Bara, tiba-tiba Bara kembali menarik tubuhku.
Bibir merah Bara yang menggoda, dibasahi air shower membuatku menutup mataku. Aku takut hilang kendali, menatap bibir Bara. Jika itu terjadi, maka akan ada ronde tambahan yang akan dibuat Bara padaku.
"Kenapa menutup mata?" tanya Bara.
"Aku tidak mau melihat bibirmu!"
__ADS_1
"Kenapa dengan bibirku? Banyak wanita bilang, bibirku ini sangat manis," tawa Bara.
"Apa semua wanita itu pernah mencobanya? Mereka menciumi bibirmu?" Aku melotot menatap kearah Bara.
"Hahaha... Bukan begitu! Bibirku ini seksi. Banyak wanita yang mengaguminya. Tapi hanya kau yang memilikinya, hanya kau yang boleh menyentuhnya," ucap Bara sambil menarik tanganku agar menyentuh bibir eksotisnya.
Aku berdebar, getaran kuat mengguncang dadaku. Bara bahkan bisa melihat ekspresi panik ku, saat tanganku menyentuh bibirnya. Bibir merah memukau, membuat desiran darahku mengalir. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya asyik menikmati sentuhan tanganku dibibirnya.
Bara mendekatkan bibirnya, membuat aku terkejut dan mundur menyandar didinding kamar mandi. Bara menatap tajam kearah ku, dan semakin mendekatkan bibirnya padaku.
Bibir eksotis Bara berhasil mencium bibirku. Ciuman yang membuatku, mengingat awal pernikahan kami. Ciuman yang selalu aku tunggu, ciuman yang selalu membuatku hilang akal.
Lidah Bara bermain lincah dimulutku, awalnya aku tidak bisa mengimbangi gerakan lidah Bara, namun lama-kelamaan, justru aku yang menyerang dan lebih ganas dari Bara.
Bara mulai panas, tangannya kembali menyusuri tubuhku yang sudah polos tanpa pakaian. Bara melepaskan bibirnya di bibirku, lalu berbisik.
"Aku mau tambah ronde ya!" bisik Bara sambil tersenyum, memamerkan bibir eksotisnya sambil menggigit ujung bibirnya sendiri.
Aku mengangguk pelan, aku mengiyakan semua yang diinginkan Bara. Tanganku mencengkram erat pundak Bara, saat Bara berhasil menjebol pertahanan ku.
"Sakit..." bisikku ditelinga Bara.
"Aku akan pelan-pelan sayang!" ucap Bara sambil mencium kembali bibirku.
Setelah hampir satu jam lebih melakukan pertarungan sengit, akhirnya Bara kembali mengakhiri permainannya. Bara mencium bibirku lembut, matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan bibirnya di bibirku. Kali ini hanya ciuman lembut, sesekali bibir Bara menggigit lembut bibirku.
Aku mendorong tubuh Bara, aku yakin jika terus dilanjutkan, akan ada ronde baru, lagi dan lagi!
Bara tersenyum puas, menikmati kekesalan yang terpancar di wajahku. Dibawah air shower itu, Bara membasahi seluruh tubuhnya lalu menarik tubuhku mengarah kearahnya. Mata kami saling beradu, Bara memeluk tubuhku sambil menatap wajahku dengan tatapan takjub.
Mohon maaf nih, Author mau tanya? Itu Chika sama Bara gak takut masuk angin apa? Mandi sama berjam-jam gitu. Hahaha... Lanjut ke mereka yang lagi dimabuk cinta. Sorry, Author mengganggu momen romantis, cuma mau ngingetin, takut masuk angin!
"Aku mencintaimu, Chika!" ucap Bara.
"Aku juga," ucapku.
"Kau hanya akan jadi milikku, jangan pernah lagi berani mencintai laki-laki lain selain diriku. Aku akan melakukan apapun, agar aku tetap bisa bersama dengan dirimu seumur hidupku," ucap Bara masih menatapku dengan tatapan takjub.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu meraih handuk yang tergantung di pintu kamar mandi. Aku segera keluar dari kamar mandi dan memakai baju tidurku.
Aku berbaring ditempat tidur, lalu Bara mendekatiku masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Sayang, aku kedinginan!" bisik Bara sambil tertawa.
"Peluk aku!" ucapnya lagi.
"Pakai bajumu. Nanti masuk angin!"
"Pakaikan!"
"Tidak. Kau sudah membuatku lelah hati ini. Aku mau tidur sekarang!" ucapku sambil menutup mataku.
Aku terlelap dalam tidurku, sampai pelukan hangat Bara membangunkan aku. Aku menatap wajah tampan Bara yang sudah terlelap dalam tidur. Dia memelukku erat, sampai aku kesulitan bernapas. Aku melepaskan pelukan Bara di tubuhku. Lalu mengambil ponselku yang berada dimeja. Aku memfoto wajah Bara yang sedang tidur berulang kali, agar disaat dia pergi kekantor nanti, aku bisa menatap wajah Bara sepanjang hari.
Beri dukungan Kak, Komen, Like dan Votenya buat cerita Chika dan Bara, agar Author semangat. Terimakasih, yang sudah memberikan dukungan buat aku.🙏
Dukungan kalian, jadi motivasi tersendiri untuk Author. Terimakasih.💕💕
__ADS_1