Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 54


__ADS_3

Bara mematikan ponselnya, aku tidak mendengar apa yang dia bincang kan ditelepon. Bara kembali masuk mendekat kearah ku, dia tersenyum manis, sambil mengusap kepalaku lembut.


"Sayang, sudah malam. Ayo tidur!" ucap Bara sambil menuntunku masuk kedalam kamar.


Bara berbaring disampingku, dengan senyum misterius. Ada apa? Kenapa dia?


"Tidurlah! Sini, biar ku peluk! Agar kau nyaman dalam tidurmu!" ucap Bara memelukku sambil mengecup keningku.


"Siapa yang menelepon?"


"Tadi? Itu rekan kerjaku!"


"Kau tidak menyembunyikan apapun padaku kan?"


"Tidak. Aku tidak sembunyikan apa-apa!" ucap Bara masih memelukku erat.


"Tidurlah sayang! Ini sudah malam. Apa kau mau aku melakukan itu lagi? Jangan sungkan, jika kau menginginkannya!" tawa Bara.


Aku memukul dadanya dan melepaskan pelukannya. Aku menatap tajam kearah Bara dengan ekspresi kesal. Bukannya marah padaku, Bara malah tertawa.


"Apa arti tatapan itu? Kau benar-benar mau lagi ya?" tawa Bara sambil menarikku kedalam pelukannya.


"Tidak. Aku tidur saja! Aku lelah," ucapku sambil memeluk Bara dan menenggelamkan wajahku didalam dadanya.


Bara mengusap lembut rambutku, beberapa kali mencium keningku. Rasanya aku merasa bahagia, menjalani hari-hari bersama Bara.


****


Keesokan harinya, aku mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Tiba-tiba Bara mendekat, dia memelukku lalu mencium keningku.


"Mau kemana? Kenapa sudah rapi? Ini masih pagi, Mas!" ucapku.


"Aku mau ke kantor. Ada hal penting yang harus ku selesaikan," ucap Bara.


"Aku ikut!"


"Tidak. Kau dirumah saja, sayang! Sampai bertemu nanti malam!" ucap Bara sambil berlalu meninggalkanku.


Ada yang aneh, kenapa dia terlihat terburu-buru begitu? Ada apa sebenarnya?


Aku kembali memasak, entah untuk siapa, karena Bara sudah berangkat ke kantor. Aku membersihkan rumah, dan melakukan rutinitas harian ku. Aku lelah dan mengantuk, sampai aku tertidur di kursi ruang tamu.


Aku menatap jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Ya Tuhan, aku benar-benar ketiduran!


Bara belum pulang, padahal biasanya suamiku itu tidak pernah lembur malam. Sejak kejadian buruk yang dilakukan Ardi padaku, Bara memutuskan untuk tidak ambil lembur malam. Tapi hari ini, kenapa tiba-tiba saja Bara pulang malam tanpa mengabari aku.


Aku sangat cemas, aku mencoba menghubungi ponselnya. Aku telepon berkali-kali, tapi tidak diangkat. Kemana suamiku? Aku jadi khawatir!


Aku mulai gusar,menggigit ujung telunjukku sambil terus memikirkan suamiku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada pesan singkat dari nomor tidak dikenal.


Jika kau ingin menemui suamimu, temui aku di ujung perbatasan desa.


Siapa yang mengirim pesan ini? Apa terjadi sesuatu dengan Bara? Ya Tuhan, lindungi suamiku!


Aku mandi dan mengganti bajuku, aku segera pergi ketempat yang dimaksud pengirim SMS tadi. Bagaimana jika itu Ardi? Apa yang akan dia lakukan padaku?


Aku berjalan cepat menyusuri desa yang sunyi. Mataku menatap kearah sebuah tempat indah disana. Ada sebuah bangunan yang disulap begitu indah.

__ADS_1


Ini kan, perbatasan desa yang dimaksud? Tapi dimana orang yang mengirim SMS itu?


Aku berjalan masuk kedalam ruangan itu, tiba-tiba seorang pelayan menghampiriku.


"Nona Chika ya! Andai sudah ditunggu, didalam!" ucap pelayan itu.


Aku semakin gemetar, apa maksud semua ini? Siapa yang menungguku didalam? Aku mohon, jangan pertemukan aku dengan Ardi lagi!



Aku masih menatap takjub pada tempat itu, tapi mana laki-laki yang dimaksud pelayan itu? Ruangan ini kosong!


Aku duduk di kursi, masih mencari orang yang sudah mengirimi aku SMS itu. Sebenarnya dimana Bara? Apa mungkin Ardi menjebak ku lagi?


Aku tidak bisa menahan kepanikan di wajahku. Aku harus waspada! Biar bagaimanapun, Ardi itu sangat nekat. Dia bisa melakukan hal buruk padaku!


Aku menatap seorang laki-laki berjalan kearah ku, menutupi wajahnya dengan rangkaian bunga ditangannya. Siapa dia?



Aku terkejut, saat laki-laki itu menurunkan rangkaian bunga yang menutupi wajahnya. Sontak membuatku terkejut!


"Bara! Kau..." Aku mendekat, lalu memukul dada Bara menatap kesal kearahnya.


"Kau tau tidak! Aku sangat panik, aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu! Tapi kau, mengganggap semua ini lelucon?" ucapku masih kesal.


"Maaf sayang!" ucap Bara sambil tersenyum.


"Bunga untukmu, istriku tercinta!" ucap Bara sambil memberikan bunga yang berada ditangannya.


"Heeh."


Bara menarik lembut tubuhku, mengarahkan wajahku kearah wajahnya. Sorot mata yang begitu mengagumkan, hidung mancung, dan bibirnya yang merah melengkapi kesempurnaan diwajahnya.


Aku tertegun, menatap laki-laki yang berada dihadapan ku. Ada rasa bahagia terpancar dari wajahnya.


"Kau tahu ini hari apa?" bisik Bara.


"Hari Kamis!" ucapku.


"Maksudku di tanggal ini?"


"Entahlah. Aku tidak ingat!"


"Ini tanggal yang sama, saat pertama kali kita bertemu di Universitas XX waktu kuliah di Australia. Aku tidak akan melupakan hari itu. Hari dimana pertama kali, aku mengenalmu! Wanita cantik, mempesona, menggemaskan, dengan senyum manis diwajahnya. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Bahkan sampai saat ini!" ucap Bara sambil mengecup bibirku.


Aku bahkan tidak ingat tentang tanggal yang Bara maksud. Ternyata, Bara benar-benar mencintaiku sampai sedalam itu. Kenapa tidak dari dulu saja, aku jatuh cinta padamu, kenapa baru sekarang!


Bara memintaku untuk duduk di kursi yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Bara mengajakku makan bersama. Pelayan berdatangan menyiapkan makanan di meja kami.


Tiba-tiba lampu dimatikan, hanya ada cahaya lilin yang menjadi penerang. Dalam sinar cahaya lilin, Bara menatapku lekat. Dia tersenyum sambil mengusap wajahku.


"I love you, Chika! Aku akan menjadikanmu ratu dihatiku," ucap Bara sambil mencium tanganku penuh ketulusan.


Aku terenyuh, hatiku merasa terharu dengan cinta yang diberikan Bara padaku. Ada butiran air mata yang terjatuh di pipiku. Aku bahagia, aku sangat bahagia!


Bara menyuapi makanan ke mulutku, mengusap bibirku yang belepotan dengan tisu. Aku diperlakukan bak seorang putri oleh Bara. Aku memeluk tubuh Bara, aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaanku dengan kata-kata. Aku ingin selamanya berada disisi Bara. Menjalani sisa hidupku, hanya bersamanya!

__ADS_1


Setelah selesai makan, Bara menuntunku untuk berdiri. Alunan musik indah melengkapi keromantisan malam itu.


"Aku ingin berdansa denganmu!" ucap Bara.


"Apa?"


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa menari!"


"Pelan-pelan saja. Ikuti gerakan ku!" ucap Bara.


Awalnya, aku agak kesulitan menari. Tapi akhirnya, aku merasa nyaman. Bara masih berdansa dengan sepenuh hati, berkali-kali dia membisikkan kata cinta ditelinga ku.


"Kau tahu. Aku dulu selalu bermimpi, ingin mengajakmu berdansa seperti ini! Tapi hari ini, impian itu menjadi nyata! Aku sangat bahagia!" ucap Bara sambil terus berdansa bersamaku.


"Terimakasih. Untuk cintamu, Mas!" ucapku sambil tersenyum.


"Sudah cukup. Aku tidak mau, kau terlalu lelah. Kasian anak yang ada didalam kandungan mu! Aku hanya ingin, impian lamaku bisa terwujud. Itu saja!" tawa Bara.


"Lalu, kita mau apa sekarang?" tanyaku.


"Kita pulang. Ini sudah malam!" ucap Bara sambil merangkul ku menuju mobilnya.


Sampai dirumah, aku masih senyum-senyum sendiri. Mengingat hal romantis yang baru saja diberikan Bara padaku. Ada rasa bahagia yang terpancar di wajahku! Senyum dibibir ku merekah indah.


"Kenapa?" tanya Bara sambil memeluk tubuhku.


"Aku bahagia! Cintamu padaku, membuatku merasa istimewa!" ucapku.


"Benarkah?"


"Iya."


"Bersiaplah. Untuk kejutan lainnya!" ucap Bara sambil mengecup bibirku.


Bara menarik ku lembut menuju kamar. Dia bahkan menggantikan bajuku dengan baju tidur.


"Kau mau apa?" tanyaku.


"Mengganti bajumu dengan baju tidur ini!"


"Tidak usah. Aku bisa sendiri!"


"Jangan menolak. Aku suamimu! Jangan pernah malu padaku! Milikmu milikku juga, dan begitu sebaliknya!" tawa Bara.


Apa maksud ucapan Bara? Aku harus bahagia, atau tertawa?


Bara sukses mengganti bajuku, lalu menggendongku dan merebahkan ku di atas tempat tidur.


"Tidurlah sayang! Maaf ya, aku tadi pagi bohong padamu. Aku sengaja pergi pagi-pagi untuk menyiapkan kejutan untukmu. Maafkan aku!" ucap Bara sambil mengecup keningku.


"Aku bahagia dengan kejutan yang kau berikan untukku! Terimakasih, suamiku!" ucapku sambil memeluk tubuh Bara.


So sweet gak tuh! Kalau udah sweet gini, enaknya ngapain mereka?


Tinggalkan jejak Like, Komen positif dan Vote untuk dukung Author. Terimakasih.💕💕

__ADS_1


__ADS_2