
Hari yang ditunggu itu pun tiba, hari dimana Ardi akan menikah dengan Marsya. Aku masih duduk ditepi tempat tidur, menatap Bara yang sudah siap untuk menghadiri pesta pernikahan adiknya.
"Kenapa sayang? Apa yang kau lamun kan?" tanya Bara sambil mencium pipiku.
"Tidak. Aku hanya sedikit tidak enak badan!"
"Apa kau tidak ingin menghadiri pesta pernikahan Ardi? Apa kau belum bisa melepaskannya?" tanya Bara membuat sepasang mataku melotot menatap kearahnya.
"Aku..."
"Haha... Aku bercanda sayang! Mana mungkin, istri tercintaku masih memendam perasaan cinta pada adikku. Iya, kan!" tawa Bara, namun aku merasa tersindir dengan kata-kata Bara. Apa benar, hatiku sejahat itu mengkhianati suamiku yang begitu baik padaku. Tuhan, hilangkanlah perasaan untuk Ardi dihatiku. Biarkan aku hanya mencintai suamiku saja, hanya Bara saja!
"Kalau tidak enak badan, tidak usah datang saja! Biar aku sendiri yang menghadiri pesta pernikahan Ardi sendiri. Kau istirahat saja!" ucap Bara sambil mencium keningku.
"Terimakasih," ucapku sambil tersenyum, lalu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
Bara menutupi tubuhku dengan selimut, lalu berjalan keluar dari kamar menuju pesta pernikahan Ardi.
Aku menutup mataku, mencoba untuk menenangkan hatiku. Aku pasti bisa menghilangkan perasaanku pada Ardi. Aku tidak boleh punya perasaan seperti ini pada adik ipar ku.
Satu jam kemudian, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ardi menelponku, tapi mau apa?
Aku mengangkat panggilan telepon itu, aku mendengar suara Ardi yang terdengar kesal padaku.
"Kau yang menginginkan pernikahan ini, tapi kau tidak hadir ke pesta pernikahanku. Kenapa? Apa kau takut melihatku menikah dengan wanita lain? Apa hatimu tidak rela? Katakan, kenapa?" teriak Ardi dari seberang telepon.
"Maaf... Aku tidak enak badan!" ucapku.
"Tidak enak badan atau tidak sanggup melihat aku menikah dengan wanita lain?"
"Ardi, aku..."
"Datang kesini Chika! Atau aku akan membatalkan pernikahan ini," ancamnya.
Aku menggigit bibirku, perasaanku campur aduk. Ada rasa bahagia, melihat Ardi bisa melanjutkan hidupnya dan menikah dengan Marsya. Tapi sebagian hatiku, tidak ingin menatap secara langsung pernikahan itu. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, kalau hatiku benar-benar sakit.
"Kenapa diam? Aku akan batalkan pernikahan ini!" ucap Ardi.
"Aku akan datang!" ucapku.
"Aku tidak akan memulai pernikahanku sebelum kau datang!" ucap Ardi sambil mematikan ponselnya.
Aku beranjak bangun dari tempat tidur, mengganti bajuku dan segera pergi ke pesta pernikahan Ardi.
Aku naik sebuah taksi, dan berhenti tepat didepan rumah orang tua Ardi. Sebuah pesta pernikahan mewah dengan dekorasi yang sangat menakjubkan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membendung kesedihanku. Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah itu.
Bara langsung datang menghampiriku saat tahu, aku datang ke pesta itu. Bara tersenyum sambil memelukku.
"Sayang, kau datang? Tadi kau bilang, tidak enak badan?" tanya Bara.
"Badanku sudah enakan! Aku juga ingin melihat adik ipar ku menikah," tawaku.
"Ya sudah. Ayo kita menemui mereka!" bisik Bara sambil menuntunku mendekat kearah Marsya.
Marsya tersenyum, lalu memelukku penuh kebahagiaan. Terlihat dia begitu bahagia dengan pernikahan ini.
"Aku akan segera menikah dengan Ardi. Terimakasih untukmu, Chika! Ardi bilang, kau yang memintanya untuk menikahi ku," ucapnya masih memelukku.
"Semoga kau bahagia bersama Ardi," ucapku sambil tersenyum.
"Aku bahagia sekali, Chika!" ucap Marsya melepaskan pelukannya.
"Mana Ardi?" tanya Bara.
"Tadi dia bilang, mau ke toilet!" ucap Marsya.
Aku hanya diam, menatap sosok Ardi yang menghampiri kami. Matanya menatap tajam kearah ku, ada kesedihan dan kekecewaan dimatanya.
"Ardi, lihatlah Chika dan Bara ingin mengucapkan selamat pada pernikahan kita!" ucap Marsya bahagia.
__ADS_1
Ardi tersenyum kelu, menyambut kedatangan aku dan Bara. Ardi menarik tanganku, memelukku erat didepan semua orang.
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku mencintaimu, Chika! Aku hanya mencintai dirimu!" ucap Ardi masih memelukku erat.
Semua mata tertuju kepada kami, namun tidak membuat Ardi melepaskan pelukannya. Dia bahkan semakin erat memelukku.
Aku menatap Bara, tangannya sudah mengepal menahan kesal. Namun dia masih berusaha untuk sabar menghadapi sikap adiknya padaku.
"Ardi lepaskan!" ucapku sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Ardi.
"Aku mencintaimu," ucap Ardi sambil melepaskan pelukan di tubuhku.
Mata Ardi kini menatap kearah ku, ada kesedihan yang mendalam dari tatapan matanya. Tiba-tiba Ardi mencium bibirku, menggigit lembut bibirku. Semua orang yang hadir di pesta itu, terkejut dengan hal yang dilakukan Ardi. Di pesta pernikahannya, dia malah mencium Kakak iparnya.
Bara menarik tangan Ardi, matanya menatap tajam kearah adiknya. Terlihat murka besar di mata Bara, menatap sosok Ardi dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras? Kau mencium Chika didepan semua orang? Kau ini adik macam apa? Kau tega menusukku dari belakang!" ucap Bara.
"Aku mencoba untuk mengikhlaskan dia untukmu, tapi pada kenyataannya, aku masih sangat mencintai Chika!" ucap Ardi.
PLAKKK...
Bara memukul wajah Ardi, dia sudah tidak sanggup membendung kemarahannya. Sikap Ardi yang sudah melewati batas kesabaran, membuat Bara melupakan hubungan darahnya dengan Ardi.
"Pukul aku lagi! Habisi aku bila perlu. Bukankah kau itu bisa melakukan apapun yang kau mau, Kak? Kau merebut cintaku, kau merebut kasih sayang orang tua kita, kau sudah menghancurkan hidupku. Bunuh aku! Aku sudah tidak ingin hidup di dunia ini!" ucap Ardi kesal.
BRUK... BRUK...
Beberapa pukulan keras diberikan Bara pada Ardi. Luka di sekujur tubuh Ardi membuatku menjerit keras.
"Sudah, cukup!" teriakku.
"Kenapa kau hentikan? Biarkan Kakakku melakukan hal yang dia mau," ucap Ardi.
Aku memeluk tubuh Bara, memohon agar Bara berhenti memukuli Ardi. Hatiku sakit, melihat pertengkaran mereka, apalagi kini semua orang melihat pertengkaran itu.
Marsya membantu Ardi bangun, namun Ardi menatap sinis pada wanita itu.
"Tapi kau terluka!" ucap Marsya.
"Luka ini tidak sesakit, luka hatiku! Kau tidak usah khawatir, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini," ucap Ardi meninggalkan aku dan Bara.
"Mas, maafkan aku!" bisikku sambil menangis.
"Kau tidak salah. Adikku memang sudah sangat keterlaluan!" ucap Bara, mengusap air mataku dengan kedua tangannya.
"Jangan menangis! Aku tidak marah padamu!" ucap Bara sambil tersenyum.
Aku memeluk tubuh Bara, begitu pun Bara yang mencium keningku penuh cinta. Ibu dan Ayah mendekat kearah kami.
"Apa yang terjadi? Kenapa Ardi bisa mencium Chika didepan semua orang?" tanya Ibu.
"Mungkin Ardi belum merelakan pernikahan Chika dan Bara!" ucap Ayah.
"Tapi Bara dan Chika sudah menikah hampir lima bulan. Apa Ardi masih belum bisa merelakan Chika untuk Bara?" ucap Ibu kesal.
"Coba kau memikirkan sedikit saja perasaan Ardi. Aku tidak ingin membelanya. Namun, melupakan kenangan itu tidak mudah. Sama seperti kau yang belum bisa melupakan mendiang Ayah Bara. Apa aku pernah marah padamu karena itu? Tidak, aku selalu berusaha untuk bisa mengikuti permintaanmu," ucap Ayah Ardi.
"Tapi Ardi mencium istri Kakaknya didepan umum. Bukankah itu sudah kelewatan?" teriak Ibu marah.
"Aku tahu, kau menyayangi Bara, begitupun aku yang juga menyayanginya. Tapi Ardi itu juga anakmu. Kenapa kau tidak pernah berpihak padanya. Kenapa kau terus membedakan caramu menyayangi mereka? Ardi dan Chika berpacaran lebih dari tiga tahun, melupakan itu pasti tidak mudah untuk Ardi. Pahami dia, dukunglah dia, agar dia tidak berpikir kau hanya perduli pada kebahagiaan Bara!" ucap Ayah Ardi.
"Kau ingin aku seperti apa? Meminta Bara menceraikan Chika, lalu menikahkan Chika dengan Ardi? Chika itu tengah mengandung anak Bara, apa kau ingin semua orang mencemooh keluarga kita? Biarkan Ardi menikah dengan Marsya. Aku yakin, lambat laun mereka akan saling mencintai!" ucap Ibu.
"Terserah kau saja!" ucap Ayah Ardi berjalan meninggalkan kami.
Pesta pernikahan Ardi dan Marsya pun selesai. Kini Ardi dan Marsya telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Senyum terpancar dari wajah Marsya, tapi tidak dengan Ardi. Matanya masih menatap kearah ku, yang berada jauh dari pesta itu.
Bara mendekat kearah ku sambil memberikan Alghi untuk ku gendong. Alesha pun ikut bersama Bara.
__ADS_1
"Sayang, Alghi merindukan Ibunya!" ucap Bara sambil tersenyum.
"Baby Alghi, anak Ibu!" ucapku sambil menggendong dan mencium Alghi.
"Aku mencintaimu!" bisik Bara.
Aku tersenyum mendengar bisikan Bara di telingaku. Lalu Bara memberikan bunga mawar yang dibawa Alesha ditangannya. Aku tersenyum menerima bunga mawar yang diberikan Bara padaku.
"Kak Chika, aku juga ingin punya pacar seperti Kak Bara!" ucap Alesha.
"Ya sudah. Mulai sekarang Alesha berpacaran dengan Kak Bara ya!" tawa Bara sambil menggendong Alesha.
"Tapi kau sudah punya Kak Chika!"
"Tidak apa-apa. Kak Bara bisa mencintai dua wanita sekaligus," tawa Bara masih menggoda Alesha.
"Apa Kak Chika mengizinkan aku jadi pacar Kak Bara?" tanya Alesha sambil tersenyum.
"Tidak." tawaku.
"Kenapa? Kau pelit sekali Kak!" tawa Alesha.
"Kau masih kecil! Sekolah dulu, baru pikirkan tentang pacaran!" ucapku sambil mencubit pipi Alesha.
"Kenapa kau mencubit pipiku? Kak Bara yang merayuku tadi!" ucap Alesha sambil tertawa.
"Kak Chika juga akan mencubit Kak Bara," ucapku sambil memegang pipi Bara.
"Jangan dicubit. Cium saja! Berapa kali pun kau menginginkannya, aku tidak akan menolak!" tawa Bara sambil mendekatkan bibirnya kearah bibirku.
Cup...
Satu kecupan mendarat tepat dibibir ku, Alesha langsung tertawa menatap kearah kami.
"Apa yang kalian lakukan?" tawa Alesha.
"Mencium Kakakmu!" bisik Bara.
"Jangan lakukan hal itu didepan anak dibawah umur!" ucap Alesha sambil mencubit pipi Bara.
"Memangnya kenapa?" tawa Bara.
"Karena kau memberikan contoh yang tidak baik untukku!" ucap Alesha.
Aku dan Bara tertawa mendengar ucapan dari bibir Alesha.
"Lepaskan adikku! Kau mau mengajarkan hal seperti itu padanya?" ucapku sambil tertawa.
"Memangnya kenapa? Biarkan dia belajar sejak kecil," tawa Bara.
"Kau..." Aku mencubit tangan Bara. Sampai Bara menyerah dan menurunkan Alesha dari gendongannya. Alesha tertawa sambil berlari meninggalkan kami.
"Gendong Alghi sebentar! Aku mau ke toilet!" ucapku sambil menyerahkan Alghi pada Bara.
"Apa kau tidak ingin mengajakku? Aku bisa membantumu nanti!" tawa Bara.
"Nakal. Aku bisa sendiri!"
"Aku akan tetap ikut! Aku ingin mengintip sedikit saja!" tawa Bara sambil berjalan mengikuti ku kearah kamar mandi.
"Apa kau sudah tidak waras? Aku mau ke toilet, kau benar-benar mau ikut?" tawaku menatap kesal pada Bara.
"Aku akan menunggu diluar pintu toilet! Aku akan menjagamu 24 jam. Aku tidak ingin ada laki-laki yang berani mengganggu istriku!" ucap Bara.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, sambil tersenyum menatap Bara.
__ADS_1
"Jika itu membuatmu bahagia, lakukanlah! Aku mau masuk kedalam toilet!" ucapku sambil tersenyum.
Bara siaga jaga Chika, sampai ke toilet aja istrinya dikawal. Mohon dukungannya Kak, beri Like dan Votenya. Kasihanilah Author ini, tanpa dukungan kalian, Author bukan apa-apa. Terimakasih yang sudah memberi Vote untuk karyaku. I Love You... 😍