
Bara membuka pintu rumah itu, menatap Marsya menangis. Aku berjalan pelan kearah mereka, tiba-tiba saja Marsya memeluk tubuhku erat. Air matanya tumpah ruah, meluapkan kesedihan dan kekecewaannya.
"Chika! Aku mau pisah saja dengan Ardi!" ucap Marsya penuh kesedihan.
"Tenangkan dirimu dulu. Ayo masuk!" ucapku sambil menuntun Marsya untuk masuk dan duduk di sofa.
Aku mengambil teh hangat untuk Marsya. Aku melihat wajah khawatir dan ketakutan dari raut wajah Marsya.
"Apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Ardi padamu?" tanya Bara.
"Aku ingin pisah. Aku tidak mau jadi istrinya lagi!" ucap Marsya sambil menangis.
"Tenanglah! Apapun keputusanmu, kami akan ada untuk mendukungmu!" ucapku sambil memeluk tubuh Marsya.
"Aku tidak mau bersama dengan Ardi. Tidak mau!" ucapnya sambil menangis.
Tiba-tiba Ardi datang menatap kearah kami, dia hanya tersenyum lalu mendekat kearah kami.
Ardi menatap kearah ku, tiba-tiba...
Cup...
Ardi mengecup pipiku, matanya menatap tajam kearah ku.
"Aku merindukanmu, Chika!" ucapnya sambil mengusap pipiku. Aku menepis tangan Ardi kasar.
"Jangan berani menyentuh istriku!" teriak Bara.
"Istrimu, kekasih kesayanganku! Apa kau lupa Kak?" tawa Ardi.
"Cukup! Lebih baik kau pergi dari sini!" teriak Bara dengan wajah kesal.
"Sabarlah Kak! Aku hanya ingin memberikan ini pada Marsya," ucap Ardi sambil memberikan sebuah amplop coklat.
Marsya membuka amplop itu, ternyata itu surau cerai dari Ardi. Ya Tuhan... pernikahan mereka bahkan belum gelap satu bulan, tapi kenapa harus berakhir setragis ini!
"Aku pamit!" ucap Ardi sambil masuk kedalam mobilnya.
"Hiks... Hiks... " Marsya terus menangis.
"Sudah cukup! Ini lebih baik daripada kau harus hidup dengan laki-laki yang tidak mencintaimu!" ucap Bara.
Aku tidak bicara, namun aku memeluk erat tubuh Marsya. Dan hari itu adalah hari perpisahan antara Marya dan Ardi.
****
Enam bulan kemudian, Bara tersenyum mendekat kearah ku. Perutku sudah besar, di bulan ini anakku akan lahir.
__ADS_1
Bara mengusap-usap perutku sambil menciumi pipiku. Hari kelahiran yang akan menjadi awal kebahagiaan untuk aku dan Bara.
"Bagaimana keadaan anakku?" bisik Bara masih menciumi pipiku.
"Baik. Sepertinya dia sudah sangat aktif! Dia menendang keras perutku. Mungkin dia ingin segera menatap dunia," ucapku sambil tersenyum.
"Apa aku tidak usah berangkat ke kantor ya? Sepertinya hari ini anakku akan lahir," tawa Bara.
"Huh... Itu alasanmu saja! Jika kau ada dirumah, kau akan membuat pertarungan menakutkan. Lebih baik berangkat kekantor saja!" tawaku.
"Sayang, apa kau tidak suka berduaan denganku? Ayolah, izinkan aku bersamamu hari ini," rengek Bara.
Aku mengusap rambut suamiku yang manja bak anak umur lima tahun. Aku tersenyum menatap kearah Bara.
"Berangkat kekantor! Jika memang hari ini aku melahirkan, aku akan meminta bantuan tetangga untuk menghubungi mu!" ucapku.
"Baiklah. Aku pergi kekantor sekarang! Apa kau puas?" bisik Bara lalu mengecup bibirku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu mengantar Bara masuk kedalam mobilnya. Bara melambaikan tangan kearah ku, lalu mobilnya melaju meninggalkan rumah kami.
Setelah Bara berangkat, aku menatap Alghi kecil sudah bangun dan berjalan menghampiri ku. Iya, Alghi sudah bisa berjalan. Usianya sudah satu tahun lebih tiga bulan.
"Alghi, anak Ibu! Kau sudah bangun, Nak?" ucapku sambil tersenyum.
Alghi berjalan pelan menghampiri ku, lalu memelukku dan mencium pipiku. Aku mengusap lembut rambut Alghi.
"Alghi benar-benar mewarisi sifat Ayah Bara ya, sukanya cium-cium Ibu!" tawaku.
"Apa ini?" tanyaku sambil tersenyum.
"Bu... Bu... Cu... Cu...Agi" oceh Alghi dengan bahasa bayi.
"Ibu buat susu untuk Alghi? Apa Alghi lapar? Mau Ibu buatkan bubur?"
Alghi hanya tersenyum sambil mengangguk lalu menarik tanganku menuju dapur. Aku segera membuatkan susu untuk Alghi. Setelah diberikan susu olehku, si kecil Alghi masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya memegang erat botol susu, benar-benar anak yang cerdas.
Aku kembali ke dapur, aku membuat bubur untuk Alghi. Aku juga menyapu, mengepel dan mencuci piring-piring kotor.
Hampir beberapa jam, aku berkutat di dapur. Bubur sudah matang, dan semua pekerjaan rumah sudah beres. Aku berjalan keluar dapur, tiba-tiba perutku sakit.
Aku memegangi perutku menahan sakit diarea perutku. Aku sampai menangis menahan rasa sakit dan mulas itu.
"Tolong... Tolong..."
Aku berteriak keras, berharap ada tetangga yang mendengar teriakkan ku. Si kecil Alghi berjalan mendekat kearah ku. Alghi mengusap air mata yang jatuh di pipiku.
"Alghi, tolong Ibu, Nak! Panggil seseorang untuk menolong Ibu," ucapku pada si kecil Alghi.
Aku tidak tahu, apa mungkin anak sekecil Alghi paham dengan ucapanku. Semoga saja, Alghi benar-benar bisa membawa seseorang untuk membantu membawaku ke rumah sakit.
__ADS_1
Tak selang beberapa lama, Alghi datang menuntun seorang laki-laki yang sangat aku kenal. Laki-laki itu menghampiriku, lalu memelukku erat.
"Chika? Ada apa?" tanya Ardi.
"Tolong aku! Sepertinya aku mau melahirkan," ucapku sambil terus memegangi perutku.
Dengan sigap Ardi menggendongku, sementara baby Alghi mengikuti dari belakang. Ardi membawaku masuk kedalam mobilnya. Lalu Ardi menggendong Alghi ikut masuk kedalam mobil di bagian belakang.
"Mas, Mbak Chika mau lahiran? Telepon suaminya!" ucap Susi.
"Tidak usah. Biar saya yang akan menemani Chika disaat dia melahirkan nanti, " ucap Ardi.
"Hah... Apa maksudmu? Kau berbicara seolah kau itu suami Mbak Chika." ucap Susi. Namun Ardi tidak perduli, dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sampai dirumah sakit aku segera dibawa masuk kedalam ruang bersalin. Ardi dan Alghi menunggu diluar ruangan.
Tak selang beberapa lama, Bara datang dengan wajah panik. Bara langsung menggendong Alghi kedalam pelukannya.
"Bagaimana keadaan Ibumu, Nak?" tanya Bara pada Alghi kecil.
"Bu... Bu... Ma... Ma... Agi... Bubu...Mbem."
Alghi mengoceh seolah menceritakan kejadian yang terjadi padaku. Bara hanya mengusap kepala Alghi, lalu menatap kedalam ruangan ku dari jendela.
"Owe... Owe... Owe..."
Bayi aku dan Bara lahir ke dunia, rasanya bagai mimpi untuk kami. Akhirnya mimpi kami terkabul, mimpi bisa memiliki anak dari rahimku sendiri.
Bayi cantik berjenis kelamin perempuan itu kini telah lahir ke dunia. Dokter mengizinkan Bara, Alghi dan Ardi masuk kedalam ruangan.
Bara menurunkan Alghi dari gendongannya lalu berjalan mendekat kearah ku. Bara mengusap lembut wajah bayi perempuan kami. Lalu Bara menggendongnya dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Bayi Ayah sudah lahir! Tetap sehat ya, Nak! Selamat datang di dunia, anak perempuan Ayah!" ucap Bara dengan wajah senang.
Ada butiran air mata kebahagiaan jatuh membasahi pipiku. Setelah ujian yang amat besar dalam hidup kami, akhirnya aku dan Bara mendapatkan kebahagiaan kami.
Disaat dokter berkata bahwa Bara tidak mungkin memiliki keturunan. Pada kenyataannya, kuasa Tuhan melebihi apapun. Aku dan Bara kini memiliki seorang anak perempuan, adik perempuan untuk Alghi. Aku merasa, lengkaplah sudah kebahagiaan ku.
Sampai aku menyadari kehadiran Ardi diantara kami. Laki-laki yang kini menjadi ancaman untukku. Aku masih ingat ancaman Ayah Arman, dimana saat anak perempuan ku lahir, disaat itu waktu untuk Ibu Hana habis. Surat cerai akan diberikan Ayah Arman untuk Ibu Hana. Sungguh ini bukan hal yang aku harapkan.
Ibu Hana dan Alesha sudah hampir satu bulan kembali kerumah Ayah Arman. Entah seperti apa kondisinya. Aku tidak tahu!
Ya Tuhan...
Tolong berikan keluargaku kebahagiaan. Jangan biarkan ada kata perpisahan diantara kami dan keluarga kami.
Maaf ya, aku baru Up lagi 🙏
__ADS_1
Lengkaplah sudah kebahagiaan Bara dan Chika dengan kelahiran bayi perempuannya. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tinggalkan jejak Like, Komen dan Vote juga ya! Terimakasih ❤️❤️❤️