Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 38


__ADS_3

Ardi terus mengetuk jendela kamarku, aku benar-benar takut. Apa yang akan terjadi, jika Ardi berhasil membuka jendela itu?


Aku buru-buru menelpon ponsel Bara, tapi ponselnya tidak diangkat. Bagaimana ini?


Aku pun keluar kamar itu, saat Ardi terlihat mencungkil jendela kamarku. Aku berlari keluar rumah, lalu bertemu dengan pelayan itu.


"Mau kemana Mbak?" tanyanya.


Aku tidak menjawab, aku terus berlari menuju gerbang rumah itu. Ardi yang sudah berhasil membobol jendela kamarku, menoleh kearah ku dengan wajah geram. Aku terus berlari menuju rumah Viva dan Dhea yang berada disebelah rumahku.


Aku berhenti berlari, saat aku sampai di depan rumah Dhea dan Viva. Aku mengetuk pintu rumah mereka. Viva yang membuka pintu, terkejut dengan wajahku yang ketakutan.


"Chika? Kenapa?" tanya Viva.


Aku tidak menjawab, aku langsung masuk kedalam rumah itu lalu mengunci pintu rumah itu. Viva masih bingung dengan apa yang aku takutkan, dia mulai bertanya lagi saat aku mulai agak tenang.


"Ada apa Chika?" tanya Viva.


"Laki-laki itu, dia mau melakukan hal buruk padaku!" ucapku gemetar.


"Laki-laki mana?"


"Laki-laki yang sedang mengejar ku," ucapku.


Viva menatap kearah jendela, namun dia tidak menemukan siapa-siapa. Benarkah Ardi tidak mengejar ku lagi? Syukurlah!


"Aku boleh beristirahat disini sampai suamiku pulang?" tanyaku.


"Boleh. Istirahatlah di kamarku," ucap Viva sambil membawaku masuk kedalam kamarnya.


"Kemana Dhea?"


"Dia sedang berbelanja ke pasar," katanya.


"Viva, aku mohon tolong aku ya! Jika ada laki-laki yang mencariku, jangan katakan aku ada disini!" ucapku memohon.


"Baiklah, kau istirahat saja!" kata Viva sambil keluar dari kamarnya.


Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu, Viva lalu membuka pintu itu. Wajahnya terkejut, terkesima melihat tamu yang datang kerumahnya. Ardi tersenyum manis, menatap kearah Viva. Viva melotot, tak percaya dengan laki-laki tampan yang bertamu ke rumahnya.


"Boleh aku masuk?" tanyanya sambil tersenyum.



"Silahkan," ucap lembut Viva.


"Sebenarnya kedatangan aku kemari, mau mencari Kakak iparku," ucap Ardi.


"Kakak ipar? Siapa?"


"Chika."


Aku mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Semoga saja, Viva benar-benar tidak mengatakan dimana aku bersembunyi.


"Chika? Oh, jadi kau adiknya Bara? Tampan sekali," senyum Viva kegirangan.


"Terimakasih pujiannya, Nona! Tapi, kau benar-benar tidak melihat Chika?" tanya Ardi.


"Benar?"


"Sungguh?"


"Iya, tampan. Aku benar-benar tidak lihat Chika. Lagipula untuk apa mencari Chika? Cari aku saja." Tawa Viva.


Ardi tersenyum pada Viva, lalu berdiri dari duduknya.


"Ya sudah kalau tidak ada. Aku pamit ya," ucap Ardi sambil keluar dari rumah Viva.


Viva segera menutup pintu, lalu berlari menemui ku didalam kamarnya.


"Laki-laki itu yang sedang kau hindari? Laki-laki itu yang membuat kau ketakutan setengah mati? Tidak waras!" teriak Viva.


"Dia itu mantan pacarku," bisikku pelan.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku hanya terkejut! Lalu, mau apa dia mencari mu?"


"Dia masih menganggap aku ini kekasihnya."


"Laki-laki tadi bilang kalau dia adik Bara. Apa itu artinya, Bara dan adiknya memperebutkan cintamu? Bagaimana bisa?" tanya Viva terkejut.


"Sudahlah ceritanya panjang. Terimakasih, kau sudah membantuku lepas dari laki-laki itu," ucapku.


"Iya, sama-sama."


"Viva, aku boleh minta air putih? Aku haus," ucapku.


"Tunggu sebentar," kata Viva sambil mengambil segelas air di dapur.


"Apa suamimu tahu, kalau adiknya masih mengejar cintamu?" tanya Viva masih penasaran.


"Iya. Bara menikahi ku, saat aku masih berpacaran dengan adiknya."


"Apa? Bara kenapa bisa sejahat itu pada adiknya sendiri?"


"Ada hal yang menjadi alasan besar, kenapa orang tua Bara menikahkan aku dengannya. Alasan yang kuat, bahkan awalnya aku pun menolak pernikahan ini," kataku.


"Bagaimana rasanya? Menjadikan mantan pacar sebagai adik ipar? Kalau aku jadi kau, aku akan menikahi dua-duanya," tawa Viva.


"Itu kan kau! Aku, cukup Bara saja," kataku sambil tersenyum.


"Apa kau sangat mencintai Bara?"


"Tentu. Saat ini, bahkan aku sedang hamil anak Bara," kataku.


"Hamil? Benarkah? Selamat untukmu Chika," kata Viva sambil memelukku.


Tiba-tiba suara pintu diketuk lagi, aku langsung panik dan meminta Viva untuk menutup pintu kamarnya.


"Sudah, buka pintunya! Jika laki-laki itu kembali, jangan katakan aku ada disini!" bisikku.


Viva mengangguk, lalu berjalan untuk membuka pintu. Terlihat sosok tampan yang sangat dia kenal. Viva berteriak keras.


Aku segera keluar dari kamar, lalu mendekat kearah Viva berdiri. Aku menatap wajah Bara, terlihat wajahnya panik.


"Sayang, kau tidak apa-apa? Apa yang dilakukan Ardi kali ini?" tanya Bara sambil memelukku.


"Tidak ada. Aku berhasil menghindar darinya. Tapi sampai kapan aku begini? Aku lelah hidup dalam ketakutan," ucapku.


"Tenanglah! Tadi aku sudah memecat pelayan wanita itu. Awalnya dia tidak mengaku, tapi saat aku memperlihatkan foto yang kau kirim, dia langsung mengakuinya. Jadi mulai besok, aku akan mencari satpam untuk menjaga rumah kita," ucap Bara.


"Kalau begitu aku pamit Viva! Terimakasih, karena kau sudah membantuku tadi," ucapku.


"Iya, Chika!" ucap Viva sambil tersenyum.


Aku dan Bara masuk kedalam rumah kami, terlihat Alesha keluar dari kamarnya. Alesha menatap kesal kearah ku. Tapi kenapa?


"Kak Chika dari mana saja? Alghi dari tadi nangis terus di kamarku," teriak Alesha.


"Sekarang Alghi dimana?" tanya Bara sambil mengusap rambut Alesha.


"Ada dikamar kalian. Sekarang dia sudah tidur! Tadi aku yang buatkan susu untuk Alghi, makanya dia berhenti nangis," kata Alesha dengan senyum bangga.


"Wah, hebatnya! Sekarang Alesha sudah besar ya. Kamu bisa bantu Kak Chika dan Kak Bara jaga Alghi," senyum Bara.


"Iya."


"Ya sudah. Sekarang, Alesha main dikamar. Kak Chika dan Kak Bara mau istirahat dulu ya!" ucap Bara sambil tersenyum.


Aku berjalan masuk kedalam kamar, lalu berbaring ditempat tidur. Rasanya aku hanya bisa tenang, saat Bara ada disampingku. Tapi tidak mungkin, Bara terus bersamaku.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Bara.


"Aku ingin lepas dari adikmu. Aku tidak mau seumur hidupku selalu ketakutan seperti ini," ucapku.


"Aku mengerti, maafkan aku sayang!" ucap Bara sambil merebahkan tubuhnya disampingku. Bara memeluk lembut tubuhku, lalu mengecup keningku.


"Aku pikir, setelah kita pindah rumah, aku akan terbebas dari Ardi. Ternyata tidak!" ucapku.

__ADS_1


"Aku juga bingung. Bagaimana caranya agar Ardi bisa menerima kenyataan, kalau kau sudah menjadi istriku," kata Bara sambil mengusap rambutku lembut.


Aku hanya diam, memeluk Bara dan menenggelamkan wajahku didalam dadanya. Rasanya nyaman, aku merasa tenang saat bersama Bara.


****


Malam harinya, kami sudah rapi untuk pergi ke rumah Ibu Bara. Alesha dan Alghi juga ikut. Ada rasa senang saat akan datang ke rumah itu. Karena kami ingin memberitahukan kabar gembira pada Ayah dan Ibu Bara tentang kehamilanku.


Mobil Bara berhenti di depan rumah, terlihat Ibu dan Ayah menyambut kami dengan hangat. Kami diajak masuk untuk makan malam bersama.


"Alesha, tambah lauknya yang banyak!" ucap Ibu.


"Iya, Bu!" kata Alesha makan dengan lahap.


"Alesha, setelah makan kita main ya!" kata Marcell.


"Oke."


"Kalau sedang makan, tidak boleh ngobrol. Selesaikan makan dulu, setelah itu baru kita boleh bicara," kata Cindy.


Kami mulai makan, rasanya kami begitu bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarga Bara. Tapi tiba-tiba Ardi datang, dia langsung memilih kursi yang berada dekat denganku. Matanya menatap kearah ku sambil tersenyum manis. Mau apa dia?


Aku yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, langsung berbalik membelakangi Ardi, hanya fokus menatap Bara.


"Kamu mau tambah sayang?" tanya Bara.


"Tidak, aku sudah kenyang!" bisikku.


Setelah selesai makan, aku dan keluarga Bara berkumpul diruang tengah. Kami menonton televisi bersama keluarga Bara. Dan di sanalah, Bara memberikan informasi tentang kehamilanku.


"Ibu, Ayah, aku punya kabar gembira untuk kalian!" ucap Bara.


"Apa?" tanya Ibu.


"Chika hamil," ucap Bara.


Tapi tiba-tiba saja Ibu terlihat shock, dia langsung menarik tanganku menjauh dari tempat itu.


"Kau hamil?" tanya Ibu.


"Iya, Bu!"


"Anak siapa? Laki-laki mana yang sudah tidur denganmu? Atau itu anak Ardi?" tanya Ibu, membuat aku terkejut dan sedih. Bagaimana bisa, Ibu Bara yang baik itu berpikir sekeji itu padaku. Aku menangis, mendengar ucapan dari bibir Ibu Bara. Cibiran pedas yang membuatku sakit hati.


"Kenapa diam? Ibu tanya, siapa Ayah dari anak yang kau kandung itu, Chika?" teriak Ibu kesal.


"Ini anak Bara, Bu!"


"Tidak mungkin! Kau jangan membodohi Ibu. Kau sudah baca hasil tes medis Bara kan? Sebentar aku ambil," kata Ibu Bara sambil masuk kedalam kamarnya.


Dia membawa kertas yang pernah dia tunjukkan kepadaku, tentang alat reproduksi Bara yang mengalami kerusakan. Ibu memberikan kertas itu padaku.


"Baca baik-baik Chika! Bara itu tidak mungkin Ayah dari anak yang kau kandung. Dengan laki-laki mana, kau pernah melakukan hubungan seperti itu," ucap Ibu dengan senyum sinis.


"Demi Tuhan, Bu! Aku hanya melakukan itu dengan Bara," tangisku.


"Kau pikir aku percaya?"


"Ibu, kenapa Ibu bisa berpikiran seburuk itu padaku?"


"Karena kau pernah melakukan hubungan itu bersama Ardi. Jadi bisa saja itu terulang lagi kan!"


Jahat sekali, kata-kata yang diucapkan oleh Ibu Bara. Rasanya aku seperti wanita yang tidak memiliki harga diri dimatanya.


Tiba-tiba Bara datang menghampiri kami, lalu merebut surat yang berada di tanganku.


"Kertas apa ini?" tanya Bara sambil membaca isi kertas tes medis itu.


Aku dan Ibu Bara panik, bagaimana reaksi Bara jika tahu tentang isi surat itu?


Ayo kaya gimana, reaksi Bara? Apakah akan marah? Atau percaya pada Chika?


Tinggalkan jejak Like dan Vote ya Kak...


Terimakasih.💕💕

__ADS_1


__ADS_2