
Aku menatap wajah laki-laki berseragam kantor itu, laki-laki yang memberikan sapu tangannya untukku. Sontak aku terkejut, tapi laki-laki itu malah duduk disampingku.
Ya... Itu Ardi! Laki-laki itu terus menatap wajahku lekat. Aku buru-buru berdiri, namun Ardi lebih dulu meraih tanganku.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau menyusul Bara didepan. Aku mohon pulanglah! Bukankah kau masih sakit pasca kecelakaan itu? Luka di tanganmu cukup parah. Beristirahatlah!" ucapku sambil berjalan menjauh.
Tapi, Ardi kembali meraih tanganku. Digenggamnya erat jari jemariku. Kenapa aku harus selalu dipertemukan dengannya? Apa sebenarnya rencana takdir padaku?
Aku mencoba melepaskan tanganku yang digenggam erat oleh Ardi. Rasanya aku ingin segera pergi meninggalkan dia disini. Aku tidak ingin, rasa itu muncul lagi, dan akan membuatku melakukan kesalahan yang sama pada Bara.
"Kenapa? Apa kau ingin pergi lagi dariku? Kenapa denganmu? Bukankah kemarin malam, hubungan kita sudah baik-baik saja?" tanya Ardi.
"Ardi, tolong! Jangan buat aku semakin menyakitimu. Aku ini istri Kakakmu. Kita ini tidak boleh punya hubungan apa-apa. Aku hanya akan menganggap mu, adik dari suamiku. Itu saja!" ucapku sambil melepaskan tangan Ardi yang masih menggenggam erat tanganku.
"Tapi aku tidak ingin menganggap mu Kakak iparku, aku akan tetap menganggap mu kekasih kesayanganku," ucapnya sambil tersenyum.
"Lepaskan Ardi! Aku bisa kasar padamu jika kau terus begini," kataku.
"Mau apa Chika? Apa yang akan kau lakukan padaku?"
"Apa kau tidak lihat, banyak orang yang menatap kearah kita! Apa kau tidak malu?" ucapku.
"Kenapa harus malu? Mereka pasti mengira kita pasangan yang cocok!" tawanya.
Tiba-tiba Bara datang dan langsung menarik tangan Ardi yang menggenggam tanganku. Wajah Bara marah, menatap kearah adiknya penuh kebencian. Sementara Ardi malah tersenyum, dia melepaskan tangan Bara yang menarik kasar tangannya.
"Kenapa? Kakak marah padaku?" ucap Ardi.
"Jelas aku marah! Kenapa kau tidak pernah berhenti mengganggu istriku?"
"Karena aku mencintainya Kak. Dia itu pacarku, yang terpaksa menerima pernikahan gila yang dibuat orang tua kita!" teriak Ardi.
"Tapi dia sudah menjadi istriku sekarang. Apa kau masih akan terus mengganggunya?"
__ADS_1
"Aku akan merebut, apa yang seharusnya menjadi milikku! Chika itu kekasih yang sangat aku cintai. Kenapa tidak Kakak saja yang mengalah. Tinggalkan Chika untukku. Cari wanita lain untuk kau jadikan istrimu." Ardi semakin kesal, meluapkan isi hatinya. Sementara Bara, tangannya sudah mengepal bersiap untuk memukul Ardi.
Plakk..
Satu tamparan keras dilayangkan Bara ke wajah adiknya. Terlihat Ardi menatap tajam kearah Bara sambil mengusap pipinya yang sakit.
"Apa katamu? Kau memintaku meninggalkan istriku? Lancang!" ucap Bara geram.
"Kau lupa aku ini Kakakmu!" ucap Bara lagi.
"Kakak? Kakak macam apa yang membiarkan adiknya hancur demi kebahagiaannya semata? Kau bahkan tidak pantas dipanggil Kakak!" ucap Ardi kesal.
"Sudah jangan berkelahi! Aku mohon hentikan ini!" teriakku.
Namun kemarahan mereka sudah memuncak ketitik tertinggi, hingga teriakkan ku tidak mereka dengar. Baku hantam terjadi. Aku melihat Ardi memukul Bara dan begitupun sebaliknya. Aku teriak minta tolong pada orang-orang yang berada disana untuk memisahkan mereka.
"Kau mengaku Kakakku. Kakak macam apa yang merebut kekasih adiknya sendiri, lalu menikahinya! Bunuh aku jika itu bisa membuatmu puas, Kak!" teriak Ardi saat perkelahian itu dipisahkan warga.
Bara diam, terlihat dia mencerna kata-kata dari bibir Ardi. Ya, semua ucapan yang diucapkan Ardi benar adanya. Tidak ada satupun orang yang akan menerima jika harus mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami Ardi.
Ardi adalah laki-laki yang sulit jatuh cinta. Dia tidak bisa dengan mudah menerima kehadiran wanita didalam hidupnya. Kehilangan cintaku, mungkin ada hal yang paling menyakitkan untuknya. Aku pun bisa merasakan rasa sakit yang Ardi alami. Tapi aku tidak mengira, jika sampai detik ini dia belum bisa menerima takdir, kalau aku ini bukan jodohnya.
Ya Tuhan, aku harus apa? Aku sudah berusaha pergi dari bayang-bayang masa laluku bersama Ardi, tapi takdirMu terus saja mempertemukan ku dengannya.
Kapan semua ini menjadi mudah untuk ku lewati? Melihat mereka berkelahi seperti tadi, rasanya aku ingin pergi saja dari hidup mereka berdua. Agar tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkan cintaku. Aku ingin mereka kembali bersama. Hidup rukun seperti sebelum pernikahan aku dan Bara terjadi.
Maafkan aku suamiku, aku selalu membuat hatimu terluka dengan kehadiran Ardi diantara kita. Aku berusaha menghindar darinya, tapi aku tidak bisa melawan takdir yang terus mempertemukan kami.
Bara membawaku kedalam rumah, dia memintaku duduk di sofa ruang tamu. Aku mengikuti setiap perintah Bara. Aku bisa lihat, amarah yang ada diwajahnya.
"Apa yang kau lakukan bersama Ardi? Apa kau senang bisa bertemu dengannya lagi? Atau kau memang sudah membuat janji, bertemu dengannya disana?" Bara terus berbicara, terlihat begitu kesal menatapku.
Aku diam, apa yang bisa kukatakan? Semakin ku hindari, takdir terus mempertemukan aku dengan Ardi. Aku sudah berusaha pergi, tapi aku bisa apa, jika takdir yang justru mempertemukan kami.
"Aku mau tanya. Apa kau masih mencintai adikku?" tanya Bara sambil menatap tajam kearah ku.
"Tidak."
__ADS_1
"Bohong. Aku bisa lihat dari matamu, kau masih mencintai adikku."
"Aku sudah bilang, aku tidak lagi mencintai Ardi. Aku tidak ingin kembali dengannya. Aku mencintaimu, hanya mencintaimu."
"Bagaimana jika aku melepasmu untuk kembali bersama Ardi," ucap Bara yang membuat aku terkejut.
Aku mengambil kotak obat, aku tidak memperdulikan ucapan Bara padaku. Mana mungkin aku kembali pada Ardi. Aku sudah sangat mencintaimu suamiku. Aku tidak ingin berpisah dari Bara.
Aku mengobati luka di wajah Bara, membersihkan lukanya dan memberikan plester. Aku menatap wajah Bara, terlihat dia menatap sedih kearah ku. Tiba-tiba Bara memelukku diiringi tangis.
"Kembalilah pada adikku! Aku relakan jika kau menginginkannya!" bisik Bara sambil memeluk tubuhku erat.
Ada air mata yang mengalir deras di pipiku. Ada haru yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Apa Bara benar-benar akan melepas ku? Apa Bara akan meninggalkanku? Kenapa harus seperti ini? Kenapa?
Aku melepaskan pelukan Bara, menatap kearah Bara dengan air mata yang terus mengalir. Aku tidak percaya dengan apa yang ku dengar, kenapa dia tega melakukan ini padaku? Aku memalingkan pandanganku, lalu berjalan masuk kedalam kamar. Hatiku sakit sekali mendengar ucapan dari bibir Bara tentang perpisahan.
Aku hanya bisa menangisi semuanya, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak berdaya melawan takdir. Takdir selalu melakukan hal yang dia mau, dan akulah yang selalu menjadi korbannya.
Bara masuk kedalam kamar, menatap kearah ku yang masih menangis ditepi tempat tidur. Kenapa Bara bisa mengucapkan kata-kata perpisahan itu? Apa dia sudah tidak mau bersamaku lagi? Apa dia sudah menyerah mencintaiku?
Bara duduk disampingku, tangannya mengarahkan wajahku kearah wajahnya. Kami saling tatap, terlihat jelas ada air mata yang jatuh di pipinya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya terbawa emosi dengan kata-kata yang diucapkan Ardi. Maafkan aku!" bisik Bara sambil mengecup bibirku.
Aku hanya diam, air mataku terus mengalir. Rasanya begitu sakit mendengar bibir manis Bara, mengucapkan kata-kata perpisahan. Apa selama ini, semua yang kami lewati tidak cukup untuk membuat Bara bertahan bersamaku? Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? Kenapa?
Bara memeluk erat tubuhku, membelai lembut rambut panjangku. Aku merasakan kesedihan itu sedikit berkurang. Aku merasakan ketenangan berada dalam pelukan Bara.
"Jangan pernah memintaku meninggalkanmu, itu sama saja kau ingin membunuhku. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau!" bisikku.
Bara mengecup keningku, mengusap air mata di wajahku. Senyum terukir indah diwajahnya.
"Maafkan aku! Aku sangat mencintaimu Chika. Aku sangat takut, jika suatu saat nanti, kau kembali kedalam pelukan adikku. Aku tidak sanggup menerima kenyataan buruk itu. Aku takut kehilanganmu," ucap Bara.
Aku memeluk tubuh Bara, rasanya aku tidak ingin takdir memisahkan aku dengan Bara. Aku tidak mau, kehilangan orang yang aku cintai. Tidak, untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali saja, aku pernah merelakan cinta Ardi pergi dari hidupku. Aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan aku dengan Bara. Aku akan berjuang untuk cintaku. Aku akan bersama Bara, melalui semua rintangan cinta kami...
__ADS_1
Beri dukungan Kak, tinggalkan Vote, Like atau Jempol untuk dukung Author atau penulis ya.
Terimakasih.💕💕