
Bara berjalan sambil menuntunku menuju mobilnya. Aku tersenyum, saat Bara menoleh kearah ku.
"Aku pergi kekantor ya!" ucap Bara.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, menatap Bara yang berjalan masuk kedalam mobilnya. Bara melambaikan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya, bak seorang anak remaja yang baru berpacaran.
Aku tersenyum senang, lalu masuk kedalam rumah. Tiba-tiba wanita itu datang, aku cukup kaget melihat kehadirannya di rumahku.
"Naina, mau apa kau kemari?" tanyaku menatap kesal kepada wanita itu.
"Aku ingin bicara padamu. Ini soal penyakit ku!" ucap Naina.
"Itu penyakitmu. Jangan libatkan aku dan suamiku!" ucapku ketus.
"Tapi... Hidupku tidak akan lama lagi. Apa kau tidak kasihan padaku?"
"Kasihan? Iya, aku kasihan padamu, tapi tidak sekarang! Kau ingin merebut suamiku dengan memanfaatkan penyakitmu itu kan?" ucapku sambil menggelengkan kepala.
"Chika. Kau itu seorang wanita, pasti kau tahu seperti apa hati dan perasaanku. Aku sudah lama sekali mencintai Bara. Aku ingin, disisa hidupku yang singkat ini, bisa bersama Bara."
"Aku wanita, kau pun juga wanita kan? Kau tahu, seperti apa hati wanita saat melihat suaminya bersama wanita lain. Aku kecewa padamu, Naina! Aku pikir kau itu baik, tapi sepertinya aku mengerti apa maksudmu menolongku waktu itu. Kau ingin aku merelakan suamiku untuk bersamamu. Iya kan!"
"Iya. Aku menolong mu waktu itu karena aku ingin meminjam suamimu. Percayalah, ini tidak akan lama. Waktuku hidup hanya tinggal beberapa bulan saja!" ucap Naina sambil meneteskan air mata.
"Aku bahkan tidak akan mengizinkan Bara bersamamu walau hanya satu detik. Kau tahu, aku saat ini tengah mengandung anak Bara. Apa karena kau mau mati, aku harus membagi cintaku untukmu? Tidak, Naina. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku akan mempertahankan apa yang memang milikku, dan Bara itu milikku. Jangan pernah berani mengusik milikku."
"Kau jahat, Chika! Wanita egois! Kau bahkan tidak mengizinkan aku bersama orang yang aku cintai disisa hidupku. Apa yang harus aku lakukan? Agar kau bisa memberikan aku waktu untuk bisa menyimpan kenangan bersama Bara sebelum aku mati!" ucap Naina sambil mengusap air matanya.
"Sudahlah, lebih baik kau pulang! Aku tidak akan pernah membiarkan Bara bersamamu. Terserah kau mau bilang apapun tentangku. Aku tidak perduli!" ucapku sambil masuk kedalam rumah.
Tiba-tiba...
BRUK...
Naina jatuh pingsan didepan pintu rumahku, sontak membuat aku kembali mendekat kearahnya. Ada darah yang keluar dari hidungnya, membuat aku semakin panik.
"Tolong... Tolong..."
Aku berteriak keras meminta pertolongan pada warga sekitar. Para warga berdatangan ke rumahku. Mereka membantuku untuk membawa Naina ke rumah sakit.
"Mbak Chika. Siapa ini? Kenapa bisa pingsan didepan rumah Mbak?" tanya Bu Karsih.
"Naina namanya, wanita yang menyukai suamiku!" ucapku penuh kekesalan.
"Menyukai suamimu? Lah, untuk apa ditolong! Biarkan saja, biar dia tahu rasa!" ucap wanita bernama Susi.
"Udah Mbak Chika, gak usah ditolong! Saya yakin, wanita ini pasti punya niat jahat!" ucap warga yang lain.
"Jangan seperti itu. Aku mohon, bantu aku membawa wanita ini ke rumah sakit," ucapku.
Tak selang waktu lama, warga membantuku membawa Naina ke rumah sakit. Aku berjalan masuk kedalam rumah sakit besar itu ditemani Susi dan Bu Karsih.
"Aduh..." Tiba-tiba aku meringis menahan rasa sakit di perutku. Aku menghentikan langkahku, sambil memegangi perutku yang sakit.
"Kenapa Mbak?" tanya Susi.
"Perutku sakit." Aku masih meringis kesakitan, lalu Bu Karsih menuntunku untuk duduk dan beristirahat dulu.
"Mbak Chika mungkin kelelahan! Lebih baik, Mbak Chika pulang bersama Susi. Biar wanita tadi, saya yang urus disini!" ucap Bu Karti.
"Maaf ya Bu, aku jadi merepotkan!"
" Tidak usah sungkan, Nak! Kita hidup bertetangga harus saling tolong menolong," ucap Ibu Karsih sambil tersenyum.
Aku berjalan pelan keluar dari rumah sakit itu dituntun oleh Susi yang menggandeng tanganku. Kami menunggu taksi, namun tidak ada yang kosong.
"Mbak, telepon Pak Bara," ucap Susi padaku.
Aku mencoba menghubungi Bara, namun ponselnya tidak diangkat. Lalu ada pesan masuk dari Bara, aku segera membukanya.
Aku sedang meeting dengan klien sayang! Maaf ya, nanti aku hubungi jika sudah selesai.
__ADS_1
Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan sakit yang kurasakan diperut ku.
"Bagaimana Mbak?"
"Dia sedang meeting!" ucapku kecewa.
"Apa tidak ada sanak saudara, yang bisa dimintai tolong?"
"Saudara?"
"Iya, saudara! Adik atau Kakak Mbak Chika, mungkin!"
"Adikku baru berumur 8 tahun dan aku tidak punya sanak saudara di kota ini."
"Mungkin Pak Bara punya! Adiknya yang tampan itu, Mbak. Yang tempo hari mengantar Mbak Chika pulang!" ucap Susi.
"Tapi..."
"Sudah Mbak! Cepat hubungi dia," ucap Susi antusias.
Aku menelepon Ardi, telepon itu langsung diangkat olehnya.
"Halo..." ucap Ardi dari seberang telepon.
"Halo, Ardi!"
"Iya Chika! Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Ardi terdengar begitu bahagia saat menerima telepon dariku.
"Apa kau bisa menjemput ku sekarang? Aku ada didepan rumah sakit besar didekat arah rumahku. Entah kenapa tiba-tiba saja, perutku merasakan sakit sekali," ucapku.
Ardi diam sejenak, lalu aku mendengar suara Ardi berbicara dengan seseorang diseberang telepon.
"Aku mau pergi sebentar! Ada urusan penting yang harus aku lakukan. Tolong kau batalkan pertemuan dengan Pak Yudistira," ucap Ardi.
"Tapi Pak, dia pasti akan marah pada perusahaan kita. Bagaimana jika dia membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita?" kata seseorang yang berbicara bersama Ardi.
"Aku tidak perduli hal lain, selain keselamatan wanita yang ku cintai!" ucap Ardi.
Aku merasa terharu mendengar ucapan dari bibir Ardi. Hatiku tersentuh, aku merasakan sakit sekali mendengar penuturan Ardi. Tentang hatinya, tentang perasaannya.
Aku duduk ditepi jalan, masih menahan rasa sakit di perutku. Aku mengusap lembut perutku beberapa kali, untuk menghilangkan nyeri di perutku.
"Mbak Chika, apa katanya?" tanya Susi.
"Dia ada dijalan, dia akan segera kemari!" ucapku sambil tersenyum.
"Adik Pak Bara itu perhatian sekali ya denganmu, Mbak! Aku jadi curiga, jangan-jangan dia suka padamu!" tawa Susi, tapi aku malah merasa tersindir. Andai kau tahu, jalan ceritanya mungkin kau akan mengerti. Kenapa adik Bara begitu perduli padaku!
Tak lama, Ardi sampai dan segera turun mendekatiku. Wajahnya terlihat panik dan ketakutan.
"Ada apa, Chika?" tanya Ardi panik.
"Perutku sakit! Apa kau bisa mengantarku pulang?" tanyaku.
"Kau sudah periksa ke dokter?"
Aku menggelengkan kepalaku, sambil memegangi perutku.
"Aku tidak apa-apa! Aku hanya sedikit lelah!" ucapku.
"Ya sudah. Ayo aku antar!" ucap Ardi sambil menuntunku masuk kedalam mobilnya diiringi Susi yang duduk dibelakang.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Ardi.
Aku diam tidak menjawab, tapi Susi antusias untuk menjawab.
"Tadi ada wanita yang pingsan didepan rumah Mbak Chika. Wanita yang menyukai Pak Bara! Mbak Chika minta warga untuk menolong wanita itu, lalu membawanya ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja, perut Mbak Chika sakit! Mungkin karena kelelahan dan banyak pikiran," ucap Susi.
Ardi menoleh kearah ku, ada rasa sedih yang dia bendung mendengar penuturan Susi.
"Andai saja, aku yang jadi suamimu! Aku tidak akan pernah menghadirkan wanita lain di hidupku," bisik Ardi.
__ADS_1
Aku menatap kekesalan di wajah Ardi, ada kekecewaan yang tersirat diwajahnya mengingat Bara yang seolah membiarkan kehadiran Naina disisinya.
"Andai aku yang jadi suamimu, dan ada wanita lain yang mencintaiku. Aku tidak akan pernah memperdulikannya. Aku hanya punya satu hati, yang tidak bisa dibagi atau di cabangkan!" gerutu Ardi.
Aku mendengar ucapan Ardi, tapi aku pura-pura membuang pandangan. Aku tidak mau Ardi melihat, mataku yang masih menyimpan sedikit cinta untuknya. Aku berusaha untuk melupakan Ardi, tapi pada kenyataannya, Ardi lah satu-satunya laki-laki yang selalu perduli padaku. Dia juga laki-laki yang tidak pernah memberikan hatinya untuk wanita lain selain aku. Wanita mana yang tidak merasa iba pada laki-laki sebaik Ardi.
Ardi memang selalu melakukan kesalahan dan hal buruk padaku. Tapi aku tahu, itu hanya bentuk kekecewaannya pada takdir. Cintanya yang begitu besar padaku, tiba-tiba saja dipaksa takdir untuk melupakannya. Ardi harus merelakan aku menikah dengan Kakaknya. Andai aku ada diposisi Ardi, mungkin aku akan melakukan hal yang sama.
Ini bukan salah Ardi, ini juga bukan salah Bara. Mungkin memang harus seperti ini jalan takdir kehidupanku. Dicintai oleh adik ipar ku sendiri, yang merupakan mantan kekasihku.
Mobil Ardi berhenti didepan rumahku, Susi keluar dari mobil sambil menuntunku. Tapi tiba-tiba Ardi, tersenyum pada Susi.
"Biar aku menggendong Kakak ipar ku ke kamarnya!" ucap Ardi.
Susi tersenyum, lalu melepaskan pegangan tangannya. Ardi menggendongku masuk kedalam rumah.
"Mbak Chika, aku buatkan teh hangat ya!" ucap Susi sambil masuk kedalam dapur.
Aku menatap wajah Ardi yang masih menggendongku. Wajah yang tidak pernah berubah. Kebaikannya, keperduliannya, masih sama seperti waktu dia menjadi kekasihku dulu. Aku meneteskan air mata, aku tidak pernah mengira, aku harus menjadikan kekasih kesayanganku itu menjadi adik ipar ku. Ini sakit, benar-benar sangat menyakitkan!
Andai bukan Bara yang aku nikahi, mungkin aku tidak akan sesakit ini. Melihat dengan mataku sendiri, mantan pacarku berada dekat denganku. Itu adalah hal sangat menyakitkan. Apalagi, mantan pacarku ini adalah orang yang pernah menggenggam hatiku dengan sangat baik, dimasa lalu.
"Kenapa menangis? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Ardi padaku.
Aku menggelengkan kepala, lalu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar disini. Aku akan menghubungi Kak Bara!" ucap Ardi.
Tak lama Susi datang menghampiriku sambil membawa segelas teh hangat.
"Minumlah!" ucap Susi.
"Terimakasih."
Aku meminum teh hangat itu, lalu membaringkan kembali tubuhku di atas tempat tidur. Tak lama, Bara pulang dari kantor, menatap cemas kearah ku.
"Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Bara.
"Aku tidak apa-apa! Tadi perutku tiba-tiba saja sakit!" ucapku.
"Aku akan segera menghubungi dokter!" ucap Bara.
"Tidak usah. Perutku sudah tidak sakit!" ucapku sambil tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya, Mas! Aku sudah baik-baik saja."
"Kalau begitu, saya permisi Pak Bara, Mbak Chika!" ucap Susi sambil tersenyum.
"Terimakasih, Susi!" ucap Bara.
"Kak, aku juga pamit ya! Aku masih ada urusan di kantor," ucap Ardi.
"Iya." ucap Bara.
"Jaga Chika!" ucap Ardi lalu pergi meninggalkan rumah ini.
Bara mengganti baju kantornya, lalu berbaring disampingku. Beberapa kali, kecupan dilayangkan di keningku.
"Maafkan aku ya! Harusnya, aku segera pulang tadi!" ucap Bara.
"Tidak apa-apa! Aku mengerti. Ada meeting penting yang tidak bisa kau tinggalkan. Iya kan!" ucapku sambil tersenyum.
"Terimakasih, atas pengertian mu!"
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum, "Peluk aku! Biasanya, sakit ku mereda saat dipeluk olehmu."
Bara memeluk tubuhku dengan senang hati, dia membuka lebar tangannya, untuk memelukku penuh cinta. Bara mengusap lembut rambutku sampai aku terlelap dalam tidurku.
Disaat kita merasa dicintai, jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya! Karena kau tidak akan pernah tahu, kapan kau akan merasakan kehilangan.
__ADS_1
Sedikit hati Chika yang berkemelut kebimbangan.
Beri jejak Komen positif, Like atau Jempol dan Vote untuk dukung author. Terimakasih.💕