
Bara meremas kertas yang ada ditangannya, lalu menatap kearah ku geram. Apakah dia juga tidak percaya padaku?
Air mataku mengalir deras, melihat amarah yang sangat besar dari wajah Bara. Bagaimana jika Bara juga tidak percaya padaku? Apa yang akan terjadi padaku?
"Kenapa kalian sembunyikan hal penting ini dariku? Jawab!" teriak Bara.
"Ibu hanya tidak ingin melihat kau kecewa. Ibu ingin melihat anak-anak Ibu bahagia. Maafkan Ibu, Nak!" tangis Ibu.
"Kalau aku bukan Ayah dari anak yang kau kandung. Lalu siapa Ayah anak itu?" teriak Bara.
"Aku..." tiba-tiba saja Ardi menyahut.
Aku melotot mendengar pertanyaan Ardi yang mengaku kalau anak yang ada dikandungan ku adalah anaknya. Bara mendekat kearah ku, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Bukankah kita pernah berkali-kali melakukan itu bersama?" tawa Ardi, memancing amarah Bara.
"Apa benar? Apa benar Ardi adalah Ayah dari anak yang ada di perutmu itu?" teriak Bara penuh amarah.
"Kau menuduhku berselingkuh dengan adikmu? Apa kau juga berpikir aku ini wanita murahan? Aku punya harga diri. Aku tidak mungkin melakukan itu dengan laki-laki lain selain denganmu, Mas!" ucapku sambil menangis.
"Tapi kertas yang ku baca tadi menyatakan, kalau aku tidak bisa memiliki keturunan. Lalu bagaimana bisa kau hamil anakku?" teriak Bara.
"Serendah itu kah aku di matamu? Kau menuduhku mengandung anak laki-laki lain. Kau tidak percaya padaku? Kalau kau tidak mau mengakui anak ini, aku akan pergi jauh dari hidupmu selamanya!" ucapku sambil berjalan keluar dari rumah itu.
Bara berlari mengejar ku, menarik lembut tanganku lalu memelukku dalam dekapannya. Air mataku terus mengalir, mewakili rasa sakit dihatiku.
"Aku pikir, kehamilanku ini adalah kabar baik untuk kita. Tapi ternyata, kehamilanku malah membuat kesalahpahaman yang besar," ucapku masih dalam pelukan Bara.
"Maafkan aku," ucap Bara.
"Aku tidak akan sesakit ini, jika hanya Ibumu yang menuduhku. Tapi hatiku begitu sakit, saat kau juga tidak percaya kepadaku. Apa selama aku menjadi istrimu, aku ini wanita yang nakal?" Air mataku terus mengalir.
Tiba-tiba, Alesha keluar rumah lalu menghampiri kami.
"Kak, Ibu pingsan!" teriak Alesha.
Aku dan Bara buru-buru masuk untuk melihat kondisi Ibu. Ibu terlihat begitu lemah dan tak sadarkan diri. Ya Tuhan, kenapa jadi begini?
Aku menghela nafas, Bara yang melihatku panik segera memeluk tubuhku.
"Ibu mungkin shock, aku sudah menelpon dokter. Sebentar lagi dokter itu akan datang!" ucap Bara.
__ADS_1
"Maafkan aku. Apa ini semua salahku?"
"Tidak. Kau tidak bersalah! Mungkin Ibu hanya belum bisa percaya, jika kau bisa mengandung anakku." ucap Bara.
"Sekarang kau istirahat dikamar ya! Aku antar," ucap Bara sambil menuntunku menuju kamar.
Aku masuk kedalam kamar, lalu berbaring di atas tempat tidur. Bara duduk ditepi tempat tidur sambil mengusap rambutku.
"Jangan khawatir ya. Semua akan baik-baik saja!" ucap Bara sambil tersenyum.
"Jangan pernah tinggalkan aku!" ucapku.
Bara tersenyum, lalu mengecup keningku.
"Beristirahatlah, aku akan menjagamu!" kata Bara.
Aku menutup mataku, merasakan kelembutan hati Bara. Biarlah, seluruh dunia tidak mengakui anak ini anak Bara. Biarlah, seluruh dunia mengatakan aku wanita murahan. Asalkan Bara percaya, jika anak yang aku kandung ini adalah anaknya, itu saja sudah cukup untukku! Hiks... Hiks... Hiks...
****
Pagi harinya, seluruh keluarga besar itu berkumpul didalam kamar Ibu. Ibu sudah sadar dari pingsannya. Ibu menatap kearah ku, dengan tatapan penuh kebencian. Aku mengerti dan aku bisa terima.
"Nak, kemarilah!" ucap Ibu memanggil Bara agar mendekat kearahnya.
"Ada apa Ibu?" tanya Bara.
"Ibu mau kau ceraikan Chika!" ucap Ibu sambil menoleh kearah ku.
"Tidak Ibu. Chika sedang mengandung anak Bara, mana mungkin Bara tega menceraikan Chika?"
"Tapi Ibu tidak mau punya menantu yang tidak bisa dipercaya. Dia sudah mengkhianatimu, Nak! Perpisahan itu adalah jalan yang terbaik!" ucap Ibu.
Aku sudah merasa sesak mendengar ucapan dari bibir Ibu. Kenapa dia tega, meminta Bara menceraikan aku? Padahal saat ini aku tengah mengandung anak Bara. Kenapa mereka tidak percaya, jika anak didalam perutku ini adalah anak Bara. Aku memilih pergi meninggalkan kamar Ibu, agar hatiku tidak terus merasakan sakit hati dengan ucapannya.
Tiba-tiba Ardi menarik tanganku, matanya menatap tajam kearah ku.
"Aku akan buat Kakakku percaya jika anak yang kau kandung itu anak kita! Aku akan melakukan berbagai cara agar Kak Bara menceraikan mu!" ucap Ardi.
Aku langsung berlari masuk kedalam kamar, aku harus menghindari laki-laki itu. Aku tidak mau Bara percaya dengan kebohongan yang akan dibuat oleh Ardi.
Aku berbaring ditempat tidur, memikirkan semua ucapan Ibu yang meminta agar aku bercerai dengan Bara. Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Apa aku harus kehilangan suamiku disaat aku tengah mengandung anak Bara?
Rasanya air mataku tak henti mengalir jika membayangkan hal buruk itu terjadi padaku. Kenapa Ibu bisa mengucapkan kata-kata sekeji itu padaku. Tuduhan yang tidak pernah aku lakukan, namun dia begitu meyakininya.
__ADS_1
Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan, bisa mengetuk pintu hati Ibu Bara, agar bisa mempercayai bahwa anak didalam kandunganku ini adalah anak Bara. Mungkin karena aku lelah, aku tertidur lelap kamar itu.
****
Keesokkan paginya, Bara masuk kedalam kamar itu dengan kunci cadangan yang dia bawa. Tapi tiba-tiba Bara berteriak keras penuh amarah. Mendapati aku tidur bersama Ardi didalam kamar itu.
Sontak Bara menarik tanganku, lalu menatap kearah ku dengan wajah marah.
"Apa yang kau lakukan dikamar bersama Ardi? Kau meminta aku percaya padamu. Tapi kau malah melakukan ini bersama Ardi. Kau tidur berdua dengannya? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?" teriak Bara.
Aku benar-benar tidak tahu. Kenapa Ardi ada didalam kamarku. Yang aku ingat, aku tidur sendiri semalam, aku juga mengunci pintu kamar rapat-rapat tapi kenapa bisa jadi begini?
"Bangun kau!" Bara menarik tangan Ardi dengan kasar.
Plakkk...
Tamparan keras mendarat di pipi Ardi hingga menimbulkan luka darah diujung bibirnya.
"Kenapa? Kau marah Kak?" tawa Ardi.
"Kau... Apa yang kau lakukan dengan istriku?"
"Kenapa kaget? Aku kan sudah bilang, aku ini sering tidur bersama istrimu. Tapi kau tak percaya! Aku sudah bilang, anak dalam kandungan Chika itu adalah anakku. Ceraikan Chika segera!" teriak Ardi sambil pergi meninggalkan kamar itu.
Sementara Bara, masih menatap wajahku dengan air mata. Terlihat raut wajah kecewa dari wajahnya. Tapi aku bisa apa? Aku bahkan dijebak oleh Ardi. Mungkin inilah akhir dari pernikahanku bersama Bara, aku pasrah! Aku menyerah!
"Kau benar-benar mengecewakanku Chika! Aku percaya padamu, tapi kau terus menyakitiku. Aku selalu sabar dan memaafkan semua kesalahanmu. Tapi apa kau pernah berpikir tentang perasaanku? Jika kau memang masih mencintai adikku, kembalilah padanya!" teriak Bara sambil menangis.
Aku hanya bisa menangis, percuma aku menjelaskan semuanya, Ardi sudah membuat Bara percaya dengan kebohongan yang dibuatnya. Ya Tuhan, jika aku harus berpisah dengan suamiku. Tolong, jangan biarkan fitnah ini yang menghancurkannya. Bantulah aku memperbaiki nama baikku yang sudah dirusak oleh Ardi. Aku tidak mau Bara mengenang ku sebagai istrinya yang buruk.
"Pergi!!!" ucap Bara diiringi air mata.
Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkan Bara, tapi semua hal yang dilakukan Ardi membuat Bara tidak lagi ingin melihatku. Aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah itu bersama Alesha. Entah seperti apa rasa sakit hatiku saat ini.
Hatiku benar-benar hancur, aku benar-benar hancur! Aku harus berpisah dari Bara karena fitnah keji yang dibuat oleh Ardi. Aku kehilangan suamiku, aku kehilangan semuanya.
Langkah kakiku terus berjalan tak tentu arah, air mataku terus mengalir tak mampu ku hentikan. Andai saja tidak ada Alesha disini, mungkin aku sudah akan mengakhiri hidupku. Aku tidak sanggup menghadapi semua ini sendirian.
Kasian Chika! Dia bakalan pergi kemana ya? Ditengah hamilnya, dia harus mengalami cobaan berat.
Like dan Vote ya, dukung author.
__ADS_1
Terimakasih.💕💕