Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 74


__ADS_3

Aku dan Bara pulang kerumah, melewati jalan raya yang cukup ramai. Aku menatap wajah Bara yang serius mengemudikan mobil.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Bara, membuat Bara terkejut. Lalu bibir Bara tersenyum menatap kearah ku.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang menggodaku?" tawa Bara.


"Sepertinya!" tawaku sambil tersenyum.


"Kau tahu, sekarang aku bahkan tidak bisa berpikir jernih. Kau benar-benar membuatku tidak bisa mengendalikan diriku. Kau harus bertanggung jawab," ucap Bara.


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, aku cukup terkejut dengan hal yang dilakukan Bara kali ini. Tak butuh waktu lama, aku dan Bara sampai di depan rumah kami.


Bara langsung menggendongku masuk kedalam kamar. Bara tidak bicara, dia terus berjalan masuk kedalam kamar kami.


"Mau apa?" tanyaku.


"Menyelami surga," bisik Bara sambil tersenyum menggoda.


"Surga mana yang akan kau selami?" tanyaku pura-pura polos.


"Menyelami surga milikmu! Jika kau terus bicara, aku akan menambah ronde permainan," ancam Bara.


Bara bahkan tahu, jika aku bertanya untuk mengulur-ulur waktu. Tapi kata-kata terakhirnya, membuat bibirku bungkam seketika.


Bara merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, lalu mengunci pintu kamar kami. Bara sudah membuka jas dan kemejanya, lalu mendekat kearah ku. Bara menyerang ku tanpa aba-aba, menggigit bibirku lembut, sementara tangannya aktif menyusuri setiap bagian tubuhku.


Mataku terpejam menatap wajah Bara yang berubah menjadi begitu buas. Tapi setiap permainannya begitu lembut, tak sedikitpun menyakitiku. Aku memeluk tubuh Bara, saat sesuatu masuk kedalam pertahanan milikku.


"Ahhhhhhh..."


Aku berteriak, namun bibir Bara buru-buru melum*t bibirku dengan penuh nafsu. Ternyata suara erangan yang aku hasilkan, membuat Bara lebih bernafsu memburuku.


Aku hanya bisa memeluk tubuh Bara, memegangi pundaknya untuk menahan sensasi rasa nano-nano yang ditimbulkannya, akibat gesekan-gesekan yang dilakukan Bara. Berkali-kali Bara menggigit bibirku, menatapku yang terus menggeliat, membuat Bara lebih efektif untuk memburu bibirku.


"Sakit..." bisikku pelan.


"Aku tahu ini sakit, tapi nikmatilah!" bisiknya.


"Sudah..." ucapku pelan sambil memegang wajah Bara yang masih bernafsu memburuku.


"Sedikit lagi. Aku akan bermain lebih lembut," ucapnya sambil mengusap keringat di keningku.


Suara erangan ku terus terdengar memenuhi ruangan. Rasa dasyat yang membakar seluruh tubuhku, membuatku benar-benar tidak sanggup menahan erangan yang keluar dari bibirku.


"Sayang, berhentilah mengerang seperti itu! Jika kau terus mengerang, maka permainan ini tidak akan pernah berakhir," bisik Bara.


Aku mencoba menahan sensasi rasa yang diberikan Bara padaku. Aku menutup mulutku agar bibirku berhenti mengeluarkan suara erangan. Sesekali, aku malah menggigit jariku sendiri, untuk menahan rasa sakit juga kenikmatan yang bercampur jadi satu.


Keringatku bercucuran, namun Bara masih belum selesai dengan hasrat birahinya. Aku sudah lelah, ternyata suamiku benar-benar kuat sekali diatas ranjang. Aku menutup mataku begitupun juga mulutku, rasanya milikku sudah perih akibat tangguhnya permainan Bara.

__ADS_1


Setelah sekian lama bertempur, akhirnya Bara menyerah. Dia mencapai klimaksnya, lalu berbaring disampingku. Bibirnya beberapa kali mengecup ku. Seolah permohonan maaf, karena sudah membuat pertempuran sengit padaku.


"Aku mencintaimu, maafkan aku karena aku suka sekali melakukan ini padamu," bisiknya sambil merapikan rambutku dan memainkan jari-jarinya di wajahku.


"Ambilkan aku minum, aku haus!" pintaku.


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa bangun, semua karena ulah mu!" bisiknya.


Bara tersenyum manis sambil membelai rambutku. Bara bangun dari tidurnya lalu memakai handuk piyamanya. Bara menutupi tubuhku dengan selimut, lalu mengecup keningku.


Bara keluar dari kamar, untuk beberapa saat aku diam tak bergerak. Perih terasa dibeberapa bagian tubuhku. Aku bahkan enggan, walau hanya sekedar menggeser posisi tidurku.


Bara kembali, membawa segelas air putih untukku. Aku bangun dan duduk, walau terasa ngilu di bagian sensitif ku. Aku mencoba menahan perih dan sakit yang kurasa. Aku haus, aku ingin minum!


Tak butuh waktu lama, air di gelas itu berpindah ke perutku. Aku mengusap perutku yang lapar. Bara tertawa, lalu mengecup bibirku.


"Kenapa? Apa kau lapar, sayang?" tanya Bara.


"Iya." ucapku.


"Ya sudah, kau mandi dulu sana! Aku akan memasak untukmu, istri kesayangan ku!" tawa Bara.


Aku melotot mendengar ucapan dari bibir Bara. Apa dia benar-benar bisa masak? Atau dia hanya ingin dipuji olehku saja?


Bara menggendong tubuhku kedalam kamar mandi, karena melihatku masih duduk dan tak berpindah posisi. Sampai dikamar mandi, Bara memandikan aku seperti seorang anak kecil. Dia memberikan sampo di rambutku dan sabun di seluruh tubuh ku. Begitupun dengan tubuhnya sendiri, Bara memintaku menggosok tubuhnya dengan sabun, walau sambil jongkok.


Setelah selesai, Bara menggendong tubuhku lagi, keluar kamar mandi. Bara mengeringkan tubuhku lalu memakaikan aku baju. Sepertinya aku sudah terbiasa, aku tidak malu lagi diperlakukan seperti ini oleh suamiku. Dia benar-benar berhak atas diriku, dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Aku menatap wajah Bara, dia terlihat begitu manis saat ini. Aku pokus menatap wajahnya, hanya pokus pada wajahnya!


"Apa yang kau lihat di wajahku?" tanya Bara.


"Cinta dan ketulusan yang begitu besar!" bisikku.


"Lalu, apa setelah ini kau masih berniat pergi dariku?" tanya Bara.


"Aku..."


"Kau tidak boleh pergi meninggalkan aku, ini perintah yang harus kau patuhi!" ucap Bara sambil menurunkan aku di kursi meja makan.


"Kau mau makan apa?" tanyanya lagi.


"Apa yang kau bisa buat?"


"Spaghetti. Apa kau suka?"


"Boleh. Tapi pindahkan kursi ini ke dapur, aku mau lihat kau memasak!" tawaku.


Bara mengambil satu kursi, lalu meletakkan kursi itu di dapur. Bara kembali menggendongku, duduk di kursi itu.

__ADS_1


"Lihat Koki Bara beraksi!" ucapnya penuh rasa bangga.


Jujur aku tidak percaya, apa mungkin semua hal bisa dilakukan Bara? Jika dia benar-benar bisa masak, aku sungguh sangat beruntung memiliki dia sebagai suamiku.


Bara menarik nafasnya sebelum memulai memasak. Dia lalu mengeluarkan beberapa bungkus spaghetti, lalu mulai memasaknya. Aku menatap Bara begitu cekatan dan piawai dalam memasak. Apa dia benar-benar laki-laki sempurna? Dia bisa melakukan hal apapun dengan sangat baik.



Bara masih mengaduk spaghetti hingga matang, lalu mulai meracik bumbu untuk spaghetti itu.



"Jika masakan ku enak, maka bersiaplah untuk hukuman ciuman yang akan aku berikan padamu! Aku akan membuat corak merah yang banyak di tubuhmu," tawa Bara.


Aku menelan ludahku, merasa ngeri dengan hukuman yang akan diberikan Bara padaku. Habislah bibirku ini!


Setelah hampir setengah jam berkutat di dapur, akhirnya masakan buatan Bara pun jadi. Bara mendekat kearah ku, lalu mulai meniup spaghetti yang ada di sumpitnya. Setelah dirasa tidak panas, Bara menyuapi spaghetti itu ke mulutku.


Aku memakan masakan Bara itu, rasanya sangat enak. Tapi aku tidak mungkin memujinya, bisa-bisa aku dapat hukuman dari Bara. Apa tadi dia bilang? Akan membuat corak merah di seluruh tubuhku. Tenang Chika, katakan saja masakannya tidak enak, dan kau akan selamat!


"Apa rasanya? Enakkan?" tawa Bara.


"Bumbunya kurang, tidak enak!" ucapku.


"Tidak mungkin!" ucap Bara sambil mencicipi rasa masakannya.


"Ini enak! Kau pasti sedang mengerjai ku ya!" tawa Bara.


"Tidak." ucapku sambil menutup mulutku.


"Chika, kau harus mengakui kalau kau itu kalah! Bersiaplah untuk corak merah, tanda cintaku padamu," tawa Bara.


Alesha dan Marcell keluar dari kamar, mencium wangi masakan yang dibuat Bara. Kedua anak itu mengusap perut sambil menjaga air liurnya agak tidak menetes.


"Wangi sekali masakannya!" ucap Alesha.


"Aku mau makan!" ucap Marcell.


Bara tertawa, lalu memberikan piring berisi spaghetti itu pada Alesha dan Marcell. Lalu si bocah berlari duduk di kursi meja makan.


Sementara aku, Bara masih menyuapiku penuh cinta. Senyumnya terukir indah membuatku tak berhenti menatap wajahnya.


"Aku memang tampan, jika kau mau mencium ku, cium lah! Aku pasrah!" ucap Bara sambil menyodorkan bibir eksotisnya.


"Huh... Aku lapar! Kau selalu saja bersikap seperti adikmu, Marcell. Merengek dan merengek!" tawaku.


"Tapi kau harus akui, jika suami tampan mu ini, bisa masuk kedalam kategori suami sempurna!" tawa Bara.


"Iya sayang! Kau sempurna," tawaku.


Bara mencubit pipiku lembut, lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku. Tiba-tiba, suara ketukan pintu membuat Bara mengurungkan niatnya untuk menciumku.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Siapa yang bertamu ke rumah Bara dan Chika? Tetap tunggu kelanjutan ceritanya ya! Terimakasih.💕💕


__ADS_2