Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 40


__ADS_3

Aku berjalan pelan tak tentu arah, sampai tiba-tiba aku pingsan. Aku masih mendengar suara Alesha menangis, sampai aku tidak sadarkan diri.


Saat aku bangun, aku berada didalam kamar rumah Bara. Aku menatap wajah sendu itu melamun, entah memikirkan apa? Kenapa Bara membawaku pulang ke rumah kami ini? Bukankah tadi dia memintaku pergi?


Dia menatapku tapi tidak bicara apa-apa, aku benar-benar rindu pelukan itu. Pelukan hangat yang biasanya Bara berikan untukku. Aku merasa sesak di bagian dadaku, jika memikirkan fitnah keji yang dibuat Ardi padaku. Apa Bara masih marah padaku? Apa Bara membenciku?


Aku menangis menatap Bara yang begitu dingin dan acuh padaku. Aku bahkan tidak berani berbicara. Mataku hanya menatap suamiku yang terlihat begitu kecewa.


Setelah cukup lama, Bara berdiri lalu menghampiri ku.


"Apa kau baik-baik saja? Ada yang sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?" ucapnya lembut.


Aku tidak menjawab, aku memeluk tubuh Bara sambil menangis. Air mataku tumpah ruah, mendengar kekhawatiran Bara. Setelah semua fitnah Ardi padaku, juga tuduhan Ibu padaku, Bara masih bersamaku. Bagaimana mungkin aku tidak terharu dengan cintanya?


"Maafkan aku, Mas!" ucapku, masih memeluk erat tubuh Bara. Bara mengusap punggungku lembut, lalu menatap wajahku sambil menghapus air mataku.


"Aku yang harus minta maaf padamu. Harusnya aku selalu bersamamu, disaat suka maupun duka. Bukan malah meninggalkanmu seperti tadi," ucap Bara sambil tersenyum.


"Jujur, sampai detik ini aku tidak tahu kebenarannya. Tapi aku rela bertengkar hebat dengan keluargaku hanya untuk membelamu.Aku tidak ingin kita berpisah. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian. Itu adalah janjiku padamu." Kata Bara.


Air mataku kembali mengalir membasahi pipiku, aku benar-benar terharu mendengar ucapan dari bibir Bara. Kenapa aku selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat Bara kecewa?


"Ini sangat berat untukku Chika. Disaat Ibuku memintaku memilih antara kau dan dia, kau tahu siapa yang ku pilih? Kau... Kau... Chika," ucap Bara sambil menangis.


"Mungkin semua orang akan mengatakan aku bodoh karena cintaku padamu. Tapi, aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai maut memisahkan kita. Percayalah, apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu," ucap Bara.



Aku hanya bisa memeluk Bara sambil menangis. Keadaan ini membuatku menyadari, begitu besarnya rasa cinta Bara padaku.


****


Keesokan harinya setelah kejadian itu, aku mulai bersemangat untuk menjalani hidup. Aku merasakan lagi cinta dan kasih sayang Bara padaku, aku begitu sangat bahagia. Bara mencium keningku lalu mengusap lembut wajahku.


"Buatkan sarapan untukku. Aku mau pergi ke kantor," bisiknya ditelinga ku.


Aku segera beranjak bangun dan keluar kamar menuju arah dapur. Aku mulai memasak makanan untuk sarapan. Tapi tiba-tiba Bara datang dan mulai menggangguku. Dia mengecup bibirku beberapa kali sampai aku tertawa.


"Apa yang kau lakukan? Aku sedang masak!" tawaku.


"Tapi, aku mau mengganggumu! Bukankah ini adalah tugasku, mengganggu istriku di pagi hari," tawa Bara.


"Tugas macam apa itu?" tawaku.


Bara tanpa aba-aba mencium bibirku penuh nafsu, aku bahkan sudah tidak perduli dengan nasib masakan ku.


Bara menerkam bibirku dengan bibirnya, beberapa kali dia menggigit lembut bibirku, memainkan lidahnya didalam mulutku tanpa kendali. Aku hanya bisa pasrah, menutup mataku dan berusaha untuk mengimbangi permainan Bara.

__ADS_1



Ciuman panas itu terus berlanjut, rasanya aku mencium bau gosong dari masakan ku. Aku segera menyudahi semuanya, sebelum dapur benar-benar kebakaran.


Aku menatap nasi goreng dan telur dadar buatan ku gosong. Ini semua ulah suami kesayanganku. Dia suka sekali menggangguku, apalagi di pagi hari. Sepertinya, aku memang harus punya pelayan yang membantuku membuat sarapan pagi.


Bara kembali menarik tanganku, memelukku dalam dekapannya.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Masakan ku gosong, karena ulah mu!" tawaku.


"Kenapa aku? Bukankah ulah kita berdua? Jangan hanya menyalahkan aku, kau juga menikmatinya kan tadi?" tawa Bara.


Aku hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari bibir Bara. Ya benar sih, ini memang salah kami. Aku juga tidak pernah bisa menolak bibir Bara.


Akhirnya aku membuat roti bakar, karena akan butuh waktu lama jika harus mengulang masakan dari awal. Alesha sudah bangun, dia langsung duduk dimeja makan.


"Kak, aku mau rotinya," ucap Alesha.


"Mau pakai selai apa? Coklat atau kacang?" tanyaku.


"Rasa coklat Kak," teriak Alesha.


"Kalau Mas Bara mau rasa apa?" tanyaku.


Tapi Bara malah menarik tanganku, lalu berbisik pelan ditelinga ku.


Aku langsung melotot menatap kearah Bara, suamiku benar-benar nakal!


Setelah selesai sarapan, aku kembali kedalam kamar. Tapi tiba-tiba Bara menutup pintu kamar, lalu menguncinya. Tawanya menyeringai, seperti sudah siap untuk menerkam ku.


Bara menggendong ku lalu menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur. Mulai menciumi bibirku tak terkendali. Menghisap dan melum*t bibirku penuh nafsu, sampai suara ponsel Bara berdering.


"Siapa pengganggu yang menelpon pagi-pagi begini?" ucap Bara sambil meraih ponselnya.


Aku beranjak bangun, tapi tangan Bara mencegahku.


"Mau kemana? Tunggu sebentar, aku belum selesai denganmu pagi ini," tawa Bara sambil menarik tubuhku kedalam pangkuannya. Kini aku berada dipangkuan Bara, menatap wajah Bara yang sedang asyik menelpon.


Aku tidak mendengarkan perbincangan mereka, aku malah asyik menatap wajah Bara. Sesekali kecupan Bara mendarat dibibir dan pipiku dengan senyum yang menggoda.


Bara mematikan ponselnya, lalu kembali menatap kearah ku.


"Kenapa kau suka sekali menggodaku?" ucap Bara.


"Menggoda apa? Aku tidak melakukan apa-apa?" kataku.

__ADS_1


"Wajahmu, senyummu, bahkan tatapan matamu, itu sudah suatu godaan besar untukku. Cium aku cepat!" tawanya.


Aku mengecup bibir Bara, tapi Bara menatap kearah ku kesal.


"Hanya itu?" Bara terlihat kecewa.


"Memangnya kau mau apa?" tanyaku.


Bara langsung memelukku dari belakang, menciumi pipiku yang terus menjalar ke area leherku. Tangan-tangan nakalnya menggerayangi bagian tubuhku. Tak butuh waktu lama, dia sudah melepaskan pakaian di tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku ini, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Bara. Aku benar-benar menyukai permainan lembut itu. Rasanya aku tidak ingin menyudahi semuanya. Bibir kami terus beradu, melampiaskan hasrat dibenak kami masing-masing.


Setelah hampir satu jam, akhirnya Bara mengakhiri permainannya. Bara segera masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi dan berangkat kekantor. Sementara aku masih berbaring ditempat tidur dengan selimut yang melilit ditubuh ku.


Tiba-tiba Ibu Bara masuk kedalam kamar, dia menatap tajam kearah ku. Dia mendekat ke arahku, lalu duduk disampingku.


"Ternyata, kau menyogok Bara dengan tubuhmu. Pantas saja, Bara selalu menolak saat aku memintanya menceraikan mu. Dasar wanita licik!" ucap Ibu.


Aku hanya diam, kenapa Ibu Bara ada di rumah ini? Bahkan sepagi ini, aku harus menerima kata-kata tidak enak dari bibir Ibu Bara.


"Apa kau juga melakukan hal yang sama pada Ardi? Itulah kenapa, Ardi sampai detik ini tidak bisa melupakanmu. Kau tahu kan! Ardi anakku itu tampan, baik, bahkan dia cukup mapan. Tapi yang membuatku heran, kenapa dia bisa begitu menggilai mu? Apa yang kau berikan pada Ardi? Coba ceritakan? Apa kau juga memberikan servis yang memuaskan pada adiknya Bara juga?" ucapnya.


Air mataku mengalir mendengar ucapan dari bibir Ibu Bara. Awalnya aku pikir dia benar-benar baik, dan mengganggap ku seperti anaknya sendiri, tapi ternyata bibirnya benar-benar membuatku sakit hati. Aku bahkan merasa lebih rendah dari seorang pelac*r.


"Kenapa diam? Dasar wanita murahan! Ibu sudah salah memilihmu jadi menantuku. Bara bahkan lebih memilihmu, ketimbang aku Ibunya sendiri. Apa yang kau lakukan pada dua anakku? Sampai mereka bertekuk lutut padamu?" tanyanya dengan wajah geram.


"Maaf..." hanya itu yang mampu aku ucapkan.


"Maaf? Aku sudah menganggap kau anakku sendiri, tapi kau mengecewakanku. Aku tidak terima kau menyakiti hati kedua anak laki-lakiku." kata Ibu.


"Lebih baik kau berpisah dari Bara, pergi jauh dari kehidupan kami. Aku menyesal, sudah memintamu untuk menikahi putraku. Kau lihat foto ini? Sebelum ada kau, Bara dan Ardi saling menyayangi. Tapi setelah kehadiranmu, semua berubah. Bara dan Ardi sering bertengkar. Bahkan mereka sering berkelahi untuk memperebutkan cintamu," kata Ibu sambil memberikan sebuah foto padaku.



"Kau harus sadar, kalau pertengkaran mereka selama ini, karena kau! Kaulah penyebabnya," teriak Ibu.


Bara yang selesai mandi langsung mendekat kearah kami. Bara terlihat marah menatap kearah Ibunya.


"Jangan pernah menyalahkan Chika! Aku mencintai Chika, Bu."


"Heh, cinta macam apa? Ibu ingin kau tinggalkan wanita itu. Pulang dengan Ibu sekarang, Nak!"


"Aku sudah menikah. Aku ingin membuat keluarga kecilku sendiri. Kalau Ibu ingin lihat Bara bahagia. Pergi dari hidup Bara, jangan pernah meminta Bara meninggalkan istri Bara! Bara sangat mencintai Chika!" ucap Bara.


"Kau mengusir Ibumu sendiri? Hanya demi wanita seperti Chika? Ibu benar-benar kecewa padamu Bara!" ucap Ibu sambil meninggalkan kami.


Bara memeluk tubuhku erat, mengusap dan menciumi pipiku.


"Kau tidak usah mendengarkan ucapan Ibu. Aku bahagia bisa menjadi suamimu," ucap Bara.

__ADS_1


Meleleh gak tuh, diperlakukan seperti Bara memperlakukan Chika? Biarlah, orang mau bilang apa! Bara akan selalu ada untuk Chika, tidak perduli dengan orang-orang nyinyir disekelilingnya. Like dan Vote ya Kak..💕


Terimakasih.😉😘


__ADS_2