Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku

Terpaksa Menikahi Kakak Pacarku
Episode 73


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Aku mendengar suara Alghi menangis, entah karena lapar, atau mungkin karena popoknya penuh.


Aku mengganti popok Alghi lalu membuatkannya susu, setelah menghabiskan susunya, kini Alghi mulai mengoceh dengan bahasa bayi.


"Ma... Ma... Ba... Ba..."


Alghi terus mengoceh, membuatku tertawa hingga membangunkan Bara yang sedang tidur.


"Apa yang membuat istriku begitu bahagia?" ucap Bara sambil mencium pipiku.


"Alghi terus mengoceh, entah apa yang dia bicarakan!" tawaku.


Bara menatap wajahku, jari-jari tangan Bara bermain di bagian pipiku hingga menimbulkan rasa geli.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.


"Menggoda istriku? Bukankah tugas seorang suami hanya melakukan itu?" tawa Bara.


"Tugas yang kau buat sendiri!" ucapku sambil tersenyum.


"Hari ini aku tidak masuk kantor," ucap Bara.


"Kenapa? Bekerjalah dengan rajin, untuk biaya persalinan ku nanti," ucapku.


"Aku akan menemanimu untuk periksa kandungan, sekaligus melakukan USG. Aku ingin melihat kondisi bayiku didalam kandungan mu!" ucap Bara.


"Aku kira, aku akan menghabiskan waktu dikamar berdua bersamamu seharian!" gumam ku pelan.


"Itu bonusnya. Bersiaplah, setelah pulang dari rumah sakit, kita bercinta sepanjang hari," bisik Bara di telingaku, membuatku mengerutkan kening.


"Bagaimana jika setelah pulang dari rumah sakit, kita kencan saja! Jalan-jalan atau melakukan hal yang lainnya. Aku tidak mau seharian dikamar bersamamu!" ucapku sambil menggigit jariku.


"Hahaha... Tidak! Aku hanya ingin melakukan hal itu sepanjang hari. Jangan coba lari dariku, apalagi menolak keinginanku," tawa Bara sambil berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Aku menyiapkan baju Bara, lalu berjalan keluar dari kamar untuk membuat sarapan. Namun aku menatap Ibu Bara sedang menangis didalam kamarnya, aku mencoba mendekatinya lalu duduk disampingnya.


"Ada apa Ibu?" tanyaku.


"Ibu hanya merindukan Ayah, rasanya begitu menyakitkan berpisah dengan orang yang kita cintai. Mungkin seperti ini rasanya hati Ardi, saat dia harus kehilangan orang yang dia cintai. Hati Ibu benar-benar hancur, Nak! Ibu tidak bisa hidup tanpa Ayah Arman," ucap Ibu masih menangis sedih.


"Maafkan Chika, Bu! Chika benar-benar minta maaf!" ucapku sambil memeluk tubuh Ibu.


"Tidak, Nak! Ini semua bukan kesalahanmu, Ibu yakin, Ibu kuat menghadapi ini semua. Berikan Alghi pada Ibu, bukankah hari ini kau akan memeriksa kandungan mu? Jangan terlalu banyak pikiran, percayalah Ibu tidak apa-apa!" ucap Ibu Bara sambil mengusap air matanya.


Aku memberikan Alghi yang berada dalam gendongan ku, pada Ibu. Lalu aku segera bersiap untuk pergi memeriksa kandunganku bersama Bara.


Aku menatap suamiku yang sedang bersiap, Bara memakai setelan kantor yang biasa dia gunakan untuk bekerja. Bara merapikan rambutnya sambil sesekali tersenyum menatap cermin sambil bergaya. Aku yang menatap tingkah laku Bara sontak tertawa, membuat Bara menoleh kearah ku.


"Apa yang lucu sehingga kau tertawa bahagia seperti itu?" tawa Bara mendekat kearah ku.


"Hahaha... Aku tidak mengira, ternyata suamiku suka bergaya juga rupanya!"


"Apa menurutmu itu lucu?"


"Tidak, tidak, kau itu tampan! Jadi siapapun pasti tahu kalau kau suka bergaya didepan cermin. Lakukan lagi, aku mau lihat!" tawaku keras.



"Akan ada hukuman, karena kau berani menggodaku hari ini!" ucap Bara sambil memeluk tubuhku.


Aku menatap wajah Bara yang berada tepat dihadapanku. Terukir senyum indah di wajah Bara yang membuatku seketika terkesima padanya. Wajah tampan suamiku, benar-benar bisa membuat wanita terhipnotis dengan ketampanan dan wibawanya. Aku tidak bisa berkata apa-apa jika sudah berhadapan dengannya.


"Cium aku sebelum aku benar-benar marah!" bisiknya di telingaku.

__ADS_1


"Tidak."


"Cium aku! Atau kau ingin aku yang mulai mencium mu duluan?" ucap Bara sambil tersenyum nakal.


"Jangan..."


"Jangan sebentar," tawa Bara.


"Tidak..."


"Tidak sabar dicium?" tawa Bara, aku memukul lembut dada Bara.


"Auuuu... Kau melukaiku!" ucap Bara sambil memegangi dadanya.


Aku langsung panik, aku mendekat kearah Bara sambil mengusap bagian dadanya yang tadi aku pukul.


"Maafkan aku, Mas! Apa sangat sakit sampai kau menjerit sekeras itu?" tanyaku panik.


"Auuuu... Sakit!"


"Mas, maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja," ucapku panik.


"Berikan aku obat!"


"Obat? Obat apa? Aku akan mencarinya dikotak obat!" ucapku sambil berjalan meninggalkan Bara, namun tangan Bara menahan ku untuk pergi.


.


"Obatnya ada disini," bisiknya.


"Apa?"


"Senyummu."


"Apa kau hanya pura-pura sakit? Kau tahu, kalau aku begitu panik dengan keadaanmu tadi? Kau mau buat aku jantungan?" teriakku kesal.


"Aku mencintaimu," bisiknya.


Bibir merah yang eksotis itu mendekat kearah bibirku. Ciuman lembut diberikan Bara padaku, sampai kami sama-sama terhanyut dalam buaian cinta.


Mata Bara terpejam menikmati sentuhan bibirku dibibirnya. Sementara aku menatap wajah Bara, wajah laki-laki yang begitu aku cintai.


Tiba-tiba saja aku mengingat sosok Ibu yang saat ini sedang bersedih karena mengorbankan pernikahannya untuk kebahagiaan kami. Tiba-tiba saja air mataku menetes membasahi pipiku. Bara yang menyadari pipiku basah, langsung membuka matanya.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Maafkan aku! Apa aku menyakitimu?" tanya Bara sambil memeluk tubuhku.


"Kau tidak pernah salah, kehadiranku yang dari awal menjadi penyebab masalah! Jika suatu saat nanti, aku tidak lagi bersamamu, aku ingin kau tahu satu hal, aku sangat mencintaimu!" ucapku sambil menangis.


Bara segera melepaskan pelukannya, ada air mata yang jatuh di pelupuk matanya. Bara menatap penuh tanya ke arahku.



"Apa yang kau bicarakan? Apa kau berniat meninggalkan aku? Apa kau punya rencana untuk pergi dari hidupku?" ucap Bara, dengan air mata yang menetes di pipinya.


Aku hanya diam, air mataku kembali membasahi pipiku. Sementara Bara kembali memelukku erat.


"Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari hidupku. Aku akan terus bersamamu, kita akan bersama sampai maut memisahkan kita," ucap Bara sambil menangis.


"Maafkan aku. Aku tidak pernah ingin meninggalkan mu!"


"Lalu apa? Apa maksud kata-katamu tadi? Setiap kali bersamamu, aku begitu sangat bahagia. Tapi seketika itu pula, kau jatuhkan aku. Kau seperti sedang bermain-main dengan hatiku. Apa kau tidak sadar, jika laki-laki yang ada dihadapan mu ini juga punya hati? Apa kau tidak pernah memikirkan tentang hatiku?" ucap Bara masih memelukku erat.

__ADS_1


"Jangan pernah mencoba lari dariku! Aku akan selalu menjadi pemilik hatimu. Tidak ada siapapun yang berhak mencintaimu, kecuali aku!" ucap Bara sambil mengecup keningku tanpa melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku..."


"Jangan pernah berniat pergi dariku! Jangan pernah!" ucap Bara sambil mengusap air mata di pipiku.


Aku tersenyum walau sebenarnya aku tidak sanggup menghadapi ujian ini. Kenapa aku mengorbankan banyak perasaan orang lain, hanya untuk tetap bersama Bara. Apakah ini adil untuk Ibu Hana? Apa pantas jika dia berkorban untuk kebahagiaanku?


Bara menuntunku masuk kedalam mobil, kami berangkat menuju rumah sakit. Sampai disana, Bara terus mendampingiku. Dari pemeriksaan kehamilan sampai saat aku melakukan USG.


Senyum terpancar dari wajah Bara, begitu senangnya dia mendengar kata-kata dokter yang bilang, bahwa anak dalam janinku dalam keadaan sehat. Beberapa kali kecupan dilayangkan Bara di keningku. Jutaan kebahagiaan terlihat jelas dimatanya.


"Aku tidak sabar menjadi Ayah untuk anak kita nanti!" ucap Bara.


"Aku juga," ucapku sambil mengusap lembut wajah Bara.


Jari-jari tanganku bermain di wajah Bara, aku begitu menikmati wajah suamiku yang begitu bahagia. Hanya tinggal beberapa bulan lagi, bayi aku dan Bara akan lahir. Semoga semua berjalan lancar tanpa halangan.


Dokter memberikan hasil USG nya, dia juga memberikan penjelasan tentang hasil USG tersebut.


"Semuanya normal, bahkan posisi bayinya juga bagus. Dari hasil pemeriksaan, diperkirakan bayi nona Chika berjenis kelamin perempuan. Tetap jaga kondisimu, nona! Jangan terlalu banyak pikiran dan jangan terlalu lelah," ucap dokter itu.


Bara mengusap lembut bagian perutku, sementara bibirnya menciumi pipiku.


"Hanya kurang dari enam bulan, aku akan menjadi seorang Ayah untuk Alghi dan Chika kecil," tawa Bara.


"Kenapa Chika kecil?"


"Karena anak kita perempuan, pasti dia akan secantik Ibunya!" tawa Bara.


"Dan akan sebaik Ayahnya!" bisikku sambil tersenyum.


Dokter kembali menghampiri kami, lalu memberikan beberapa resep obat dan vitamin untukku. Setelah semua pemeriksaan selesai, aku dan Bara keluar dari rumah sakit itu.


Aku dan Bara berkeliling taman bunga, mataku menatap takjub pada hamparan bunga yang begitu indah disana.


"Ada apa sayang? Apa kau ingin pergi kesana?" tanya Bara.


"Apa boleh?"


"Tentu saja!" ucap Bara sambil memarkirkan mobilnya.


Aku dan Bara keluar dari mobil, lalu berjalan masuk kedalam taman bunga itu. Aku benar-benar melotot, rasa takjub melihat indahnya pemandangan hamparan bunga disana.


Aku mengambil beberapa foto bunga-bunga disana, masih asyik sendiri tanpa menghiraukan kehadiran suami tampanku yang mulai jenuh.



Harum wangi bunga, begitu menyengat di hidungku. Wangi alami yang membuatku enggan untuk pulang. Sementara Bara, dia duduk disebuah kursi di taman itu sambil menatap kearah ku.


Sesekali senyumnya terpancar, menatap kekonyolan yang aku buat. Namun aku tidak perduli, karena ini pertama kalinya aku masuk kedalam taman bunga ini.


Aku menghampiri Bara setelah puas dengan keinginanku menciumi wangi bunga itu satu persatu.


"Apa kau sudah puas?" tawa Bara.


"Sudah!"


"Beri aku ciuman. Aku sudah mengajakmu ketempat indah ini!" tawa Bara.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyodorkan bibirku pada Bara. Seperti wanita tidak tahu malu, aku mencium bibir Bara ditempat umum.


Terserah dengan ucapan dan kata-kata orang tentang kami. Mungkin aku dan Bara pasangan yang tidak tahu malu, tapi kami menikmati kebersamaan kami selama ini.

__ADS_1


Kami hanya tahu beberapa hal, kami saling mencintai, kami saling menyayangi, dan kami tidak ingin terpisahkan. Aku memohon pada takdir cintaku, semoga semua ujian cinta itu dapat kami hadapi bersama.


Beri jejak Like, dan Vote untuk Bara dan Chika. Terimakasih.💕💕


__ADS_2