
Setelah waktu yang cukup panjang, akhirnya waktunya tiba. Aku harus bersiap untuk menatap wajahku yang dirias Bara. Aku yakin, pasti hasilnya tidak akan memuaskan. Tapi aku tahu, Bara pasti sudah berusaha keras.
"Kenapa? Ayo buka matamu, lihat hasil riasan ku," tawa Bara.
Aku menatap wajahku di cermin, aku sangat takjub dengan hasil riasan Bara. Apa Bara pernah kursus merias wajah, sampai riasannya sebagus ini?
"Kenapa? Kau suka tidak?" tanya Bara.
"Bagus," senyumku sambil bergaya didepan cermin.
"Syukurlah," tawa Bara.
"Kau pernah kursus merias wajah ya?" tawaku.
"Iya. Aku sudah dua Minggu dibantu kawanku kursus merias hanya untuk hari ini. Aku ingin istriku cantik dengan hasil riasan ku," ucap Bara.
"Mana mungkin? Jangan-jangan, kau memang suka berdandan ya," tawaku meledek Bara.
"Heh, kau meledekku ya? Padahal, aku melakukan ini untuk istri tercintaku. Tapi bukan berterima kasih, kau malah meledekku," gerutu Bara.
"Maaf, jangan marah!" ucapku sambil memeluk tubuh suamiku.
"Sudah, kau mandi dulu sana! Kapan kita berangkat kencannya?" ucapku.
"Aku mandi. Kau hapus make up mu itu. Ganti juga bajumu!"
"Kenapa? Aku sudah rapi dan secantik ini?" teriakku kesal.
"Kecantikan mu itu hanya untuk diperlihatkan dihadapan ku, bukan dipamerkan ke seluruh dunia. Aku tidak rela!" tawanya sambil mengusap wajahku dengan tisu basah. Bara benar-benar menghapus semua make up yang ada di wajahku. Terlihat sangat konyol! Dia yang merias, dia juga yang menghapusnya.
Aku mengganti bajuku, Bara yang bahkan memilih bajunya. Aku prustasi dengan sikap suamiku. Kenapa kami hanya membuang waktu didalam kamar, melakukan hal konyol seperti ini.
Setelah menurutnya bagus, Bara baru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Cukup lama aku menunggu, hampir setengah jam. Dia mandi atau semedi sih!
Setelah selesai mandi, Bara menatap kearah ku. Tawa terpancar dari wajahnya.
"Jangan terlalu cantik jika keluar rumah! Aku tidak rela, jika ada laki-laki yang mengganggu istriku nanti," tawa Bara.
"Iya aku mengerti!" ucapku.
"Jangan merias wajahmu. Biarkan kau tampil alami, begitu saja sudah sangat cantik!" ucap Bara sambil mencium pipiku.
"Ayo berangkat! Sampai kapan kita berada didalam kamar ini? Ayo Mas, cepat!" ucapku sambil menarik lembut tangan Bara.
Bara hanya tersenyum menatap kearah ku dengan senyuman yang sangat manis, membuatku tak henti menatapnya. Sadarlah Chika!
Bara membuka pintu mobilnya, lalu memintaku masuk kedalam mobil dengan senyum ramah yang terpancar diwajahnya.
"Silahkan masuk, ratuku!" ucap Bara.
Aku masuk dengan senyuman di bibirku, sementara Bara sudah mulai melajukan mobilnya. Kami sesekali saling tatap, persis seperti anak sekolah yang masih pacaran.
Ada getaran hebat yang kurasakan saat bersama Bara, padahal kami ini bukan pengantin baru, kami sudah menikah hampir tiga bulan. Namun rona merah itu muncul di wajah kami, seolah menunjukkan jika kami masih merasa malu satu sama lain.
__ADS_1
"Sayang, kau mau kita kemana?" tanya Bara.
"Terserah. Aku ikut saja!"
"Kalau kita menginap di hotel, lalu melanjutkan ronde baru, apa kau juga mau?" tawa nakal Bara.
"Huh... Tidak!" teriakku marah.
"Haha... Tadi kau bilang terserah!"
"Tapi tidak menghabiskan waktu di hotel juga. Apa bedanya dengan menghabiskan waktu didalam kamar seharian bersamamu!" gerutu ku. Bara tertawa, lalu mengusap lembut wajahku.
"Itu karena aku sangat mencintaimu. Aku hanya ingin terus bersamamu saja!"
Aku tersenyum mendengar ucapan dari bibir Bara. Manis sekali suamiku ini!
Waktu terus berjalan, perjalanan yang cukup panjang untuk kami. Karena hampir empat jam kami berada didalam mobil. Saat senja datang, sampailah kami disebuah tempat yang sangat romantis.
Bara membukakan pintu mobil, lalu menuntunku masuk kedalam sebuah tempat terindah yang pernah ku datangi.
"Kejutan untuk istriku tercinta," ucapnya sambil mencium pipiku.
Aku menatap takjub pada tempat itu, rasanya hatiku begitu bahagia diperlakukan istimewa oleh suamiku kesayanganku.
"Bagaimana? Kau suka tidak?" tanya Bara.
"Sangat..." ucapku masih menatap takjub pada tempat itu.
"Iya. Aku ingin membahagiakan istriku dengan semua hal indah yang bisa kuberikan untukmu," ucapnya sambil menuntunku duduk di kursi.
Aku menatap foto pernikahan kami di atas meja, dengan bunga-bunga yang menghiasi meja itu.
Aku menatap sebuah surat dalam amplop, lalu membuka surat itu.
"Untuk istriku tercinta. Semoga kau menyukai, kejutan yang sudah ku siapkan untukmu."
Aku tersenyum membaca surat kecil itu, lalu menatap wajah Bara yang terlihat malu-malu. Bara membuang pandangan, seolah menutupi wajahnya dariku. Dia bahkan bisa melakukan hal seromantis ini?
"Terimakasih," ucapku sambil memeluk tubuh Bara.
"Iya sayang! Syukurlah, jika kau suka dengan kejutan yang ku buat untukmu."
Wanita mana yang akan menolak mendapatkan perlakuan istimewa seperti Bara memperlakukan ku. Aku masih memeluk tubuh Bara, ada air mata haru yang jatuh membasahi pipiku.
"Kenapa menangis?" tanya Bara cemas.
"Aku terharu," bisikku sambil mencubit pipi Bara.
"Benarkah?" Bara mengecup bibirku.
"Nakal," ucapku sambil tersenyum.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Bara.
__ADS_1
"Aku ingin mengingat masa lalu, saat kita kuliah di luar negeri dulu. Aku masih penasaran. Bagaimana bisa, Farel senior tampan itu bisa menyukai upik abu sepertiku," tawaku.
"Karena kau sempurna di mataku."
"Jelaskan! Aku tidak paham," ucapku sambil bersandar di dada Bara.
"Apa kau begitu ingin tahu tentang itu? Bukankah sekarang kita sudah menikah dan hidup bersama," tawa Bara.
"Ceritakan. Atau aku marah!" ucapku sambil cemberut.
"Jangan seperti itu! Wajahmu mirip Alesha jika sedang marah. Bahkan kelakuanmu pun mirip dengan anak umur 8 tahun," tawa Bara.
"Huh..." Aku kesal, lalu menjauh dari Bara dengan wajah kesal.
Bara tertawa melihat tingkahku. Entahlah, sebenarnya aku ini bukan seorang wanita manja. Tapi sejak aku hamil, aku selalu ingin dapat perhatian lebih dari suamiku.
Bara menarik lembut tanganku agar duduk mendekat kearahnya. Dia memeluk tubuhku dan menjatuhkan aku dalam pangkuannya.
"Aku akan ceritakan semua padamu. Tidak akan ada hal yang akan aku tutupi lagi darimu," bisik Bara.
"Ayo ceritakan!" ucapku tak sabar.
"Awal pertama pertemuan, saat kau pertama kali menjadi mahasiswi baru di Universitas itu. Aku sudah menaruh hati padamu. Wajahmu, senyummu, bahkan sikap dan tingkah laku mu, benar-benar tive wanita yang selama ini aku cari."
"Sampai tiba-tiba Tuhan memberiku kesempatan dekat denganmu, saat kau kehilangan dompet dan semua uangmu waktu itu. Aku menawarkan uang tabunganku untuk kau pakai, agar kau bisa bertahan hidup selama berada disana. Sebenarnya itu hanya alasanku saja, agar kau terikat denganku, dan tidak bisa menolak kehadiranku di hidupmu," tawa Bara.
"Kau tahu, itu awal pertama kali aku mencintai seorang wanita. Itulah kenapa, aku begitu perhatian padamu. Aku selalu mengantar dan menjemputmu dengan alasan, kau belum punya teman dekat disana." Bara tertawa sejenak, "Sebenarnya bukan! Itu hanya alasanku saja. Aku ingin selalu bersamamu, dan menghabiskan waktu berdua dengan orang yang aku cintai." ucap Bara sambil mencium keningku.
Aku tersenyum mendengar penuturan Bara yang cukup membuatku merasa dicintai. Tapi kenapa aku dengan polosnya percaya pada Farel waktu itu. Aku bahkan menganggap Farel, malaikat pelindung untukku karena dia selalu datang, disaat aku membutuhkannya. Aku tidak pernah tahu, kalau Farel mencintaiku. Kalau saja aku tahu, mungkin tidak akan ada tempat untuk Ardi dihatiku. Ya, mungkin takdir ingin adik Bara yang menjadi jembatan untuk cinta kami. Tapi kenapa harus mengorbankan adik Bara?
"Kau masih ingat tidak, saat aku menunggumu didepan pintu kelas mu? Aku bahkan rela dimarahi dosen karena bolos, agar aku bisa mengantarmu selamat sampai tempat kosan mu. Banyak hal gila yang kulakukan untuk mencuri perhatianmu, tapi kau tetap tidak peka!" ucap Bara kesal.
"Haha... Mana aku tahu? Kau bahkan tidak pernah menyatakan cintamu padaku," tawaku.
"Saat aku ingin menyatakan cinta waktu itu, tiba-tiba saja kau pulang ke negara ini. Aku menunggumu selama kuliah disana. Tapi kau tak kunjung kembali. Sampai aku memutuskan untuk pulang setelah selesai mendapatkan gelar sarjana," Bara menghela nafas, "Aku mencari mu tapi tidak pernah ku temukan. Aku menutup hatiku saat itu, berharap suatu saat Tuhan mempertemukan kita kembali. Tiba-tiba saja, secara tidak sengaja, Ibu menemukan fotomu di meja kamarku. Ibu tersenyum padaku, lalu bertanya tentang wanita difoto itu. Aku menceritakan semua pada Ibu, bahwa aku mencintai wanita yang ada di foto itu."
Mungkin itu, foto yang Ibu Bara pernah ceritakan padaku. Foto yang dia temukan, didalam kamar Bara. Ibu sudah mengenalku waktu itu, sebagai kekasihnya Ardi. Aku sering diajak main ke rumah Ardi, bahkan aku dan Ibu sering memasak makanan bersama.
Memang, aku tidak pernah bertemu dengan Bara, karena Ibu bilang, Kakak Ardi itu seorang pekerja keras. Dia akan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, lalu pulang larut malam. Aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya, pertemuan pertamaku dengan Bara saat kami akan menikah saja!
"Kenapa diam? Masih mau dengar cerita ku?" tanya Bara.
"Iya. Ceritakan lagi!" ucapku.
"Saat aku melakukan dinas keluar kota tiba-tiba saja aku mengalami kecelakaan besar. Aku mengalami koma selama dua Minggu, Ibu dan Ayah terus mendampingiku hingga aku sadar. Dan setelah kejadian itu, Ibu bilang, akan menemukan wanita yang aku cintai, dan menikahkannya denganku. Aku pikir Ibu bohong, sampai beberapa bulan kemudian, aku bertemu denganmu di hari pertunangan kita. Ibu baru menceritakan, bahwa kau adalah pacar Ardi padaku, karena Ibu takut aku membatalkan pertunangan itu."
"Setelah lebih dari tiga tahun, akhirnya takdir mempertemukan aku denganmu. Wanita yang begitu aku cintai dan selalu aku tunggu. Walaupun aku tahu, kehadiranku menjadi orang ketiga dalam hubungan kau dan Ardi. Tapi aku bisa apa? Aku begitu menginginkan cintamu, aku tidak ingin kehilanganmu, Chika!" ucap Bara sambil mengusap air matanya.
"Aku menatap kebencian dari sorot matamu, bahkan kau tidak pernah sekalipun menatap wajahku. Aku sebenarnya tidak ingin melihat kau sedih dan terluka, tapi aku tidak sanggup jika membayangkan harus melihat kau menikah dengan Ardi suatu saat nanti." ucap Bara sambil mencium kembali keningku.
"Tapi, saat sumpah pernikahan itu terucap di bibirku, aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan membahagiakanmu, mencintaimu dengan seluruh perasaan yang aku miliki. Aku hanya mencintaimu, sekarang dan selamanya," ucap Bara sambil memeluk tubuhku lebih erat.
Air mata haru membasahi pipi kami, rasanya aku benar-benar tidak percaya, takdir cintaku dengan Bara serumit itu. Tapi setidaknya, kini aku dan Bara bersama, kami bahagia dan dapat saling mencintai.
Beri dukungan untuk Author, tinggalkan jejak Komen, Like, dan Vote.
__ADS_1
Terimakasih.💕💕💕