
Bara pulang dari kantor, wajahnya terlihat lelah sekali. Dia tidak tersenyum saat menatapku. Ada apa dengan suamiku?
Aku tidak berani bertanya, hanya diam menatap kearah Bara yang masuk kedalam kamar mandi. Aku menyiapkan makan malam untuk Bara. Lalu menunggu Bara di meja makan.
Tak lama Bara datang menghampiriku, dia mencium keningku, walau wajahnya masih kusut. Kenapa dengan Bara?
"Ada apa?" tanyaku.
"Masalah kantor!" ucapnya.
"Kenapa?"
"Sedang ada masalah! Kepalaku sakit sekali," ucap Bara sambil memegangi kepalanya.
Aku tersenyum, lalu berdiri dibelakang kursi yang Bara duduki. Aku memijat kening Bara, dan terlihat Bara menikmati pijatan itu.
"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan!" ucapku.
"Ini masalah serius. Ada yang menggelapkan uang perusahaan, dan aku belum bisa mengungkap siapa dalangnya!" ucap Bara.
"Siapa yang memegang bagian keuangan?" tanyaku.
"Biasanya Tiara. Tapi sudah satu bulan ini, Naina yang memegangnya!" ucap Bara.
"Jangan-jangan Naina yang menggelapkan uang perusahaan itu," ucapku.
"Entahlah, aku bingung! Masalahnya, aku tidak punya bukti apa-apa! Semua seolah baik-baik saja, tapi setelah ditelusuri, kerugiannya mencapai milyaran rupiah," ucap Bara.
"Sabar, Mas!"
"Pasti Kakek akan marah padaku," ucap Bara.
"Tidak, dia pasti akan mengerti!" ucapku sambil memeluk tubuh Bara dari belakang kursi.
"Terimakasih, sayang! Setidaknya, hatiku merasa sedikit lega dengan semua ucapan mu!" ucap Bara sambil tersenyum.
"Aku buatkan teh hangat ya?" ucapku sambil tersenyum.
Bara ikut tersenyum sambil menopang dagunya. Rasanya aku sedih, melihat Bara seperti ini. Ya Tuhan, berikan jalan keluar untuk masalah Bara.
Aku kembali mendekat kearah Bara, lalu memberikan secangkir teh. Bara tersenyum, walau terlihat agak dipaksakan. Kenapa aku ikut sedih, melihat suamiku sesedih ini.
"Apa kau akan terus seperti ini?" tanyaku sedih.
Bara meminum teh yang kuberikan padanya, lalu menatapku dengan senyum nakal. Tangannya menarik tubuhku, membawaku kedalam pangkuannya.
Sesaat hening, kami hanya saling menatap beberapa waktu. Wajah rupawan dengan senyum ketulusan terpancar indah di wajah Bara. Tak luput aku menatap bibir seksi dan eksotis milik Bara. Jari-jari nakal ku menyelusuri bibir manis Bara. Bara hanya diam, menikmati setiap sentuhan tanganku dibibirnya.
"Apa kau mau mencium ku?" tanya Bara dengan senyum manisnya.
"Apa boleh?"
"Apa yang ada pada diriku, semua hanya milikmu. Kau tidak perlu meminta izin, untuk melakukan hal apapun padaku," ucap Bara sambil merapikan rambutku, lalu mencium keningku.
"Aku mau..."
"Lakukanlah!" ucap Bara dengan pasrah, walau terlihat jelas dia tak sabar menunggu serangan maut ku.
"Tutup matamu."
"Kenapa? Kenapa harus tutup mata?"
"Karena aku ingin menikmati itu, tanpa terganggu dengan mata indah mu!" ucapku.
Bara tersenyum sumringah, lalu menuruti permintaan ku untuk menutup matanya. Tanganku mulai memegang kedua pipi Bara, lalu mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Aku mencium bibir Bara, tapi tak ada perlawanan dari sang pemilik bibir. Sepertinya Bara hanya ingin menikmati ciumanku, tanpa perlawanan. Lidahku kini bergerak bebas didalam mulut Bara. Sementara Bara masih memejamkan kedua matanya.
Aku masih terus memainkan lidahku didalam mulut Bara, sesekali menggigit lembut bibir tipis bagian bawah, milik Bara. Candu ku semakin menggila, rasanya aku ingin mencium Bara, lebih lama.
Bara yang awalnya diam, kini mulai terangsang untuk menyerang ku. Tangan-tangan nakalnya mulai menyusuri setiap bagian tubuhku.
__ADS_1
Aku menggeliat, saat Bara memindahkan bibirnya kearah lekuk leherku. Desahan nafasku terdengar jelas sampai ke telinga Bara. Bara menghentikan aktivitas bibirnya, yang melahap habis bagian lekuk leherku.
"Sekarang, kau sudah pintar menggodaku ya? Jangan salahkan aku, jika setelah ini kau harus melayaniku sampai pagi," bisik Bara yang membuatku merinding mendengarnya.
Bara menggendong tubuhku masuk kedalam kamar. Sorot mata Bara menatap tajam kearah ku.
"Buka bajumu, sayang!" ucapnya.
"Tidak."
"Kenapa? Bukankah, kau yang menggodaku tadi?" tawa Bara.
Bara memeluk tubuhku, kembali mencium bibirku sambil memainkan tangannya menyusuri bagian tubuhku. Aku tidak melawan, aku menikmati setiap sentuhan tangan Bara ditubuh ku dan ciuman lembutnya di bibirku.
Bara berhasil dengan sukses melucuti pakaianku, lalu mulai menjalankan aksinya padaku. Aku hanya menutup mataku, meremas sprei kuat-kuat saat Bara menjebol pertahanan ku. Rasa sakit namun selalu membuatku merindukannya.
Bara semakin memanas, sampai kepuncak tertinggi nafsu birahinya. Bara menambahkan tanda merah yang genap dua puluh itu, menjadi lebih banyak. Namun aku hanya pasrah, dan menikmati semua hal yang dilakukan Bara.
Setelah selesai dengan birahinya, Bara tertidur disampingku. Bara mengusap lembut wajahku yang dipenuhi dengan keringat.
"Pasti melelahkan ya, memenuhi kebutuhan birahiku?" bisik Bara sambil tersenyum.
"Kenapa kau suka sekali melakukan itu?"
"Karena hasrat ku memuncak saat bersamamu. Aku terlalu mencintaimu, itu sebabnya aku tidak bisa menahan diri saat berada didekat mu. Aku sangat mencintaimu, Chika!" ucap Bara sambil memeluk dan mencium keningku.
Aku melepaskan diri dari pelukan hangat Bara, lalu menatap kearah wajah Bara. Tatapan teduh nan syahdu menenangkan hatiku. Berada didekatnya, adalah hal yang sangat membahagiakan untukku.
"Bagaimana keadaan anakku yang ada didalam kandungan mu? Apa dia terganggu dengan aksi cinta kita," tawa Bara.
"Sepertinya, tidak! Mungkin dia memahami, jika Ayahnya memang nakal pada Ibunya." ucapku tertawa.
"Nakal? Kau sendiri, tadi menggodaku. Bukankah kita ini sama-sama nakal!" tawa Bara sambil memeluk tubuhku.
"Aku nakal belajar dari mu, Mas!"
"Dan aku nakal, hanya kepadamu, istriku!" ucap Bara sambil mencium keningku, lalu mengecup bibirku.
"Tidurlah sayang! Kau tidak akan tahu, kapan hasrat ku kembali memuncak. Jadi, beristirahatlah!" ucap Bara.
****
Keesokan harinya, aku sudah selesai mandi dan membuat sarapan. Aku menatap Bara masih tertidur pulas.
Aku menatap kearah cermin, melihat tanda merah yang memenuhi leher dan dadaku. Aku duduk di kursi meja rias. Prustasi dengan hasil karya suamiku.
Ini adalah hari aku belanja kebutuhan rumah, tapi mana mungkin, aku keluar dengan leher seperti ini. Aku menarik syal berwarna nevi, selaras dengan warna dress yang aku kenakan. Aku keluar dari kamar, lalu kembali duduk di kursi meja makan.
Aku menenggelamkan wajahku di meja, rasanya aku benar-benar malu untuk beraktivitas diluar rumah dengan tanda-tanda cinta buatan suamiku.
Bara keluar dari kamar, sudah rapi dengan jas yang dia kenakan. Bara duduk disampingku, matanya menatap kearah ku dengan senyum yang menggoda.
"Kenapa menggunakan syal seperti ini?" tanya Bara.
"Ini ulah mu! Apa kau masih berani bertanya?"
"Hahaha... Sepertinya, aku hilang ingatan!" tawa Bara, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hilang ingatan? Setelah semalam kau menggigitku habis-habisan!" ucapku sambil memukul lembut lengan Bara.
"Aduh..." Bara menjerit sambil tertawa.
Bara berdiri dan mendekat kearah ku, tangan Bara menarik tubuhku kedalam pelukannya.
"Apa yang semalam ku gigit habis-habisan? Yang ini, yang ini atau yang ini?" Bara menunjuk semua bagian tubuhku yang ditelusuri bibirnya semalam.
Aku melotot menatap tajam kearah Bara, ternyata Bara tidak sepolos yang aku duga. Huh... Aku benar-benar merasa malu dengan hal yang dilakukan Bara.
"Kenapa diam? Bagian mana yang semalam ku gigit habis-habisan?" tanya Bara sambil mendekatkan bibirnya kearah bibirku.
__ADS_1
Ciuman lembut diberikan Bara untukku, cukup singkat namun menggetarkan hatiku. Bara masih memeluk tubuhku sambil menatap wajahku.
"Kenapa wajahmu nakal sekali!" ucapnya.
"Kenapa dengan wajahku?"
"Wajahmu membuatku selalu merindukanmu. Kau tahu, ini agak menyiksaku! Apalagi disaat aku harus meninggalkanmu, untuk pergi ke kantor. Rasanya aku ingin membawamu ikut bersamaku. Agar disaat aku merindukanmu, aku bisa langsung mencium mu," tawanya.
"Huh... Enak untukmu, tidak enak untukku! Dalam dua hari saja, kau sudah membuat corak warna merah di sekujur tubuhku. Bagaimana jika aku terus bersamamu? Bisa-bisa habis aku!" ucapku sambil tertawa.
"Kenapa memangnya? Kau kan istriku, jadi biarkan aku melakukan apapun keinginanku padamu. Begitupun aku, aku akan pasrah dengan apapun yang akan kau lakukan pada tubuhku," tawa Bara.
"Apa?" Aku terkejut mencerna kata-kata dari bibir Bara.
"Kau boleh membalas aku jika kau mau! Kau boleh membuat tanda merah juga di tubuhku. Sebanyak apapun yang kau mau!" tawa Bara.
"Huh... Itu benar-benar mau mu! Tidak ada untungnya untukku," ucapku.
Bara tertawa sambil memeluk tubuhku, Bara mengecup keningku beberapa kali. Kepalanya menyandar di bahuku, manja. Bak anak kucing yang ingin di manja-manja dan di sayang-sayang.
"Kau mau sampai kapan begini?" tanyaku.
"Seumur hidupku," ucap Bara sambil tersenyum.
"Apa?" Aku tertawa keras.
Bara mendekat bibirnya di pipiku sambil berbisik, "Aku ingin bersamamu, seumur hidupku."
Aku tersenyum, mendengar bisikan Bara yang membuatku terhanyut.
"Kau milikku dan aku milikmu!" ucapnya.
"Lalu? Mau apa lagi?" ucapku saat Bara kembali memelukku.
"Aku ingin kau membalas ku!"
"Membalas apa?"
"Aku juga menginginkan corak merah seperti yang ada di lehermu! Buatkan juga untukku, disini, disini dan disini," ucap Bara sambil menunjuk bagian tubuhnya yang ingin diberi tanda merah.
"Iya, tapi nanti! Sekarang, cepat berangkat ke kantor! Atau akan terjadi pertempuran baru yang kau buat untukku," tawaku sambil mendorong lembut tubuh Bara.
"Tapi aku masih betah bersamamu!"
"Tidak."
"Sayang, jangan pelit begitu! Beri aku satu tambahan ronde saja!" ucap Bara yang membuat aku semakin terkejut.
"Berangkat kekantor, atau kau akan terlambat!" ucapku mendorong tubuh Bara sampai ke depan rumah.
Bara tertawa kegirangan, dia menarik tanganku agar mengantarnya sampai depan mobil. Manja sekali suamiku!
"Hati-hati sayang!" ucap Bara.
"Kau juga berhati-hati, jangan ngebut, pulanglah tepat waktu!"
"Tentu. Aku akan pulang tepat waktu, untuk menagih corak merah itu!" tawa Bara sambil mencium keningku lalu masuk kedalam mobil.
Bara melambaikan tangannya sambil tersenyum, sementara aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku melihat Ibu-ibu yang asyik menatap kearah kami.
Aku masuk kedalam rumah, lalu memandikan Alghi yang baru bangun. Alghi terlihat begitu anteng, sehingga aku tidak terlalu lelah merawatnya.
Setelah selesai memandikan Alghi, aku mengajaknya makan bubur diruang tamu. Alghi terlihat begitu lahap, memakan bubur itu.
"Pintarnya anak Ibu! Makan yang banyak ya," ucapku sambil mengusap mulut Alghi dengan tisu.
Sampai tiba-tiba....
"Chika."
Seorang wanita menghampiriku, lalu tanpa malu duduk disampingku. Aku cukup terkejut dengan kedatangan wanita itu. Mau apa dia?
__ADS_1
Siapa tuh yang bertamu pagi-pagi ke rumah Chika? Jangan bosan-bosan beri dukungan Kak, Komen, Like dan Vote agar author semangat melanjutkan cerita.
Terimakasih. 💕💕