
Keysha memang sudah mempersiapkan mentalnya jauh-jauh hari bahwa pernikahan akan berakhir.
Beberapa hari lalu Keysha memang sudah mengemas baju-baju yang memang hanya itu yang iya bawa saat masuk kerumah Abimanyu.
Keysha meninggalkan semua pemberian Abimanyu di kamarnya.
Saat akan melepas cincin pernikahannya Keysha ragu, dipandangi beberapa saat cincin perkawinannya yang bertuliskan nama Abimanyu.
Dengan senyum kecut Keysha membukanya meletakkan dalam kotaknya dan di tinggalkan Keysha bersama barang-barang lain pemberian Abimanyu.
Beberapa Asisten rumah tangga menanyakan Keysha hendak kemana membawa koper dan tas-tas.
Keysha hanya menjawab ia akan pergi menemani Abimayu perjalanan dinas.
Abimanyu tampaknya tidak pulang kerumah.
Keysha meninggalkan semua kenangan dan keluar dari rumah Abimanyu.
"Keputusanku sudah tepat."Keysha menaiki taksi yang dipesannya.
Keysha berbohong kepada Abimanyu bahwa dirinya tetap bekerja. Keysha terpaksa mengatakan hal tersebut agar Abimanyu tidak menghalangi kepergiannya.
Tujuan Keysha hanya satu. Ia akan ziarah ke makam ibunya.
Keysha kini menuju kota asal ibunya. Karena makam ibu Keysha berada dikota kelahiran sang ibu.
Sebelum pergi Keysha sudah meletakkan surat pengunduran dirinya di meja kerja Abimanyu.
Keysha siap menatap masa depannya memulai hidup baru dikota kelahiran ibunya.
Meski sudah lama sekali iya tidak mengunjungi daerah tersebut terlebih sejak ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya.
Keysha juga tidak mungkin balik kerumah Firman, karena sejak pernikahan keluarganya telah membuang Keysha. Keysha seakan barang yang sudah digadaikan pada orang yang memberikan hutang.
Keysha tak mampu membendung airmatanya.
Sepanjang perjalanan luar kota didalam bus yang ia naiki Keysha menangis meratapi nasibnya.
__ADS_1
Keysha senang karena akan tinggal berdekatan dengan ibunya. Meski ibunya telah wafat paling tidak Keysha bisa lebih dekat berziarah ke makam ibunya.
"Ma Keysha pulang. Mama tunggu Keysha ya, Keysha kangen sama Mama."batin Keysha sepanjang perjalanan.
Keysha mengusap dan membersihkan nisan ibunya dengan air mawar.
Keysha menaburkan bunga serta menancapkan beberapa tangkai bunga mawar putih.
Mawar putih adalah bunga favorit ibu Keysha semasa hidupnya.
Keysha menangis dan airmata nya tumpah sambil terus mengusap nisan ibunya.
"Ma Keysha ga punya siapa-siapa lagi sekarang. Papa jahat Ma. Pernikahan Keysha juga berakhir" Keysha menangis tersedu dipusara ibunya menumpahkan segala kesedihannya yang terpendam.
"Mama tenang-tenang disana ya, doakan Keysha agar bisa bangkit dan menjalani hari-hari dengan bahagia." Keysha mengusap nisan ibunya dengan tatapan sedih.
"Permisi, Adek siapa?" Seorang wanita paruh baya mendekati Keysha yang sedang menangis dihadapan pusara adik sepupunya.
Keysha menatap wanita dihadapannya. Keysha melihat wajah teduh dan tenang tersirat pada raut wajah wanita itu.
Wanita paruh baya itu menatap mata Keysha yang begitu mirip dengan almarhum adik sepupunya.
Wanita itu langsung memeluk Keysha dengan tangis haru mengusap punggung Keysha dengan kelembutan.
"Akhirnya Gusti Allah mempertemukan aku bisa bertemu dengan keponakanku, Keysha aku Bulemu, adik sepupu ibumu. Panggil aku Bule Lastri." Wanita itu tak lain adalah adik sepupu ibu Keysha bernama Lastri.
Keysha seolah menemukan keluarganya yang hilang.
"Bule" Keysha membalas pelukan bulenya dengan erat dan langsung menangis tersedu seakan ia memeluk ibunya sendiri.
Keysha merasa kini masih ada harapan. Ia tak sendiri. Bahkan ia memiliki seorang Bule yang tak lain adalah adik sepupu ibunya.
"Mari Ndok, ikut kerumah Bule." Bule Lastri membantu Keysha membawa tas-tas yang dibawa Keysha.
Keysha mengikuti Bule Lastri yang mengajak Keysha tinggal dirumahnya.
Rumah yang tampak sederhana namun asri dan sejuk kini ada dihadapan Keysha.
__ADS_1
"Masuk Ndok, maaf rumah bule kecil dan seadanya." Bule mempersilahkan masuk keponakannya.
"Enak bule adem dan nyaman." Keysha bahagia saat memasuki rumah bule Lastri.
"Mau minum apa Ndok?"Bule Lastri hendak bangkit mengambilkan Keysha minum.
"Biarkan Keysha ambil sendiri nanti bule. Bule disini saja. Keysha masih ingin ngobrol bersama bule.
Bule Lastri pribadi yang tenang dan adem.
Bule Lastri mendengar setiap jawaban Keysha dengan airmata berlinang.
Rasanya bule Lastri tak menyangka keponakan satu-satunya hidup dalam penderitaan.
Begitupun Keysha sebaliknya mengetahui bahwa Bule Lastri hidup sebatang kara.
Sepeninggal suaminya saat beliau hamil 4 bulan karena sakit jantung yang diderita pakde.
Bude Lastri juga menceritakan bahwa iya terpaksa memberikan anak yang dilahirkan kepada rentenir sebagai jaminan membayar hutang-hutang almarhum suaminya.
Saat itu Selepas melahirkan Bule Lastri didatangi Rentenir dan Preman-preman.
Rentenir tersebut mengatakan bahwa almarhum pakde menjaminkan anak yang dikandung bude Latri sebagai jaminan untuk melunasi hutang-hutang pakde semasa hidup yang kecanduan judi.
Keysha juga menceritakan bahwa apa yang bude Lastru alami dialami oleh dirinya yang dijadikan jaminan oleh Firman sebagai pelunas hutang hingga ia dinikahkan dengan Kontrak Pernikahan 100 hari.
Bude Lastri dan Keysha saling berpelukan dan saling merasakan senasib dan sepenanggungan.
Keduanya kini hidup bersama dirumah bude Lastri menatap hidup dengan harapan kebahagiaan akan datang.
Kedatangan Keysha membawa kebahagiaan bagi Bude Lastri yang hidup sebatang kara.
Keysha pun memiliki semangat untuk melanjutkan hidup karena masih ada keluarga yang bisa ia jadikan sandaran hidup berbagi kisah dan cerita hidupnya kini.
Keysha yang meski baru dilihatnya sejak terakhir saat bayi rasanya layaknya putrinya sendiri bagi Bule Lastri.
"Ndok, jika kamu bersedia tinggallah disini sampai kapanpun kamu mau. Bude senang, Bude merasa kamu layaknya anak Bude sendiri." tutur Bude Lastri yang sepanjang hidupnya merasa bersalah terhadap anak yang dulu direbut paksa oleh rentenir.
__ADS_1
"Enggih Bude, matur suwon sanget. Bude mengizinkan dan menerima Keysha untuk tinggal dirumah Bude." Keysha memeluk bude Lastri dengan linangan airmata begitupun sebaliknya bude Lastri yang mampu merasakan kepedihan hidup keponakannya.
...****************...