
Kania dan Jo akhirnya duduk berdua.
Kania masih memilih mode diam.
Jo menyerahkan sebuah rekaman video kepada Kania.
"Lihatlah." Jo memberikan ponselnya kepada Kania.
"Untuk Apa?" Kania bertanya.
"Kamu akan mengetahui sendiri." Jo meletakkan HP ketangan Kania.
Kania membuka beberapa video, gambar, dan rekaman suara.
Kania tampak tak asing dengan suara ketiga orang itu.
Kania memutar sebuha video yanh menampilkan Aditya, Liana dan Albert!
Beberapa foto Kania melihat dan membuatnya terkejut.
Kania melihat urutan tanggal Video, Gambar dan rekaman suara tersebut.
1 bulan. Jo mengikuti Kania 1 Bulan.
"Kamu menguntitku Jo!" Kania seolah tak percaya dengan video yang dilihatnya.
Aditya, Liana dan Albert mereka bekerjsama sengaja membuat perpecahan di kubu Abimanyu agar dengan mudah bisa menjatuhkan Kakaknya Abimanyu.
"Aku melakukan semua ini untuk menjelaskan semua padamu bahwa apa yang kamu lihat selama ini tengtang ku tidak benar." Jo menahan penderitaan akan sikap Kania yang terus menghindarinya dan tatapan penuh kebencian.
"Terima kasih sudah memberitahuku Jo. Kamu memang orang kepercayaan Kak Abi yang paling setia. Aku berterima kasih. Aku pamit." Kania hendak beranjak.
"Tunggu Kania!"
Kania kembali duduk.
__ADS_1
"Apalagi yang kamu inginkan Jo, aku sudah berterima kasih. Atau kamu mau imbalan apa?" Kania dengan nada kesal.
"Jelaskan padaku, mengapa kau menjauhiku? kenapa kau marah saat Liana mengaku pacarku? Katakan sejujurnya Kania, Kau menyukaiku, Kau cemburu?" Jo dengan tatapan tajam pada Kania.
"Jangan karena Liana mengejar-ngejarmu, Kau anggap semua perempuan menyukaimu! Cemburu? Kau berlebihan!" Kania tersenyum mencibir.
"Aku memang berlebihan. Karena aku mencintaimu!" Jo kini bergerus terang mengenai perasaannya kepada Kania.
"Aku tak butuh belas kasihanmu Jo." Kania dengan sarkas.
"Sejak kejadian itu bahkan dari sebelumnya, aku memang mencintaimu Kania." Jo paham arah pembicaraan Kania.
"Kau hanya iba denganku Jo, Mana mungkin kamu mencintaiku, kamu paling tahu kejadian saat itu. Cukup Jo aku muak selama ini kamu bersikap seolah-olah aku perduli padaku padahal kau hanya kasihan kan?" Kania merasa apa yang Jo lakukan selama ini hanyalah bentuk iba karena malam itu Jo melihat semua perbuatan Albert pada Kania.
"Maafkan Aku Kania bila selama ini aku tak jujur terhadap perasaanku, aku takut Kania. Aku sadar siapa aku dan kamu siapa! Aku mencoba menghilangkan perasaanku padamu tapi aku semakin tersiksa. Aku semakin cemburu saat kamu semakin dekat engan Aditya tapi semakin menghindariku. Aku Cemburu Kania!" Jo kini dengan suara tinggi dan tatapan menusuk jantung Kania.
Kania menutup wajahnya.
Teringat kejadian malam itu hampir saja Albert merenggut sesuatu hal yang sangat berharga.
Kania menyadari kebodohannya kembali terulang dengan membiarkan Aditya mendekatinya.
"Kania, lihatlah aku." Jo menggenggam tangan Kania.
Wajah Kania menunduk tak mau menatap Jo.
Jo mengankat wajah Kania.
Pipi Kania basah airmata.
Perlahan dengan lembut Jo mengusap airmata itu.
"Kania perasaanku padamu buka rasa iba, bukan kasihan. Aku mencintaimu, Aku tidak bisa jauh darimu. Jangan pernah dekat pria lain, aku tak suka kamu tersenyum pada pria lain. Aku cemburu Kania. Bolehkan aku menjadikan kamu satu-satunya wanita dalam hidupku?" Jo dengan segala rasa didada yang selama ini tertahan.
"Kamu melihat semuanya Jo, Aku bukan wanita yang teoat untukmu. Aku gagal menjaga harga diriku sendiri. Aku tak mau mengecewakanmu. Carilah wanita yang mampu menjaga dirinya dengan baik, Aku terlalu malu dengan apa yang terjadi padaku." Kania menunduk.
__ADS_1
"Kania, tatap aku. Bukan salahmu, Mereka yang salah. Kamu tetap berharga Kania. Mereka yang kotor! Bagaimana mungkin aku mencari wanita lain sementara wanita yang aku cintai kini berada dihadapanku. Wanita yang aku inginkan menjadi putri cantik ibuku. Bukankah pernah lamu katakan, ingin menjadi menantu ibuku?" Jo mengingatkan Kania akan ucapannya kala itu.
Kania tersipu malu mengingat ucapannya kala itu yang asal ngomong.
"Bule Lastri apa kabar?" Kania mengalihkan.
"Kamu tidak mau mengganti panggilannya menjadi Ibu?" Jo sekarang sudah terang-terangan gaspoll.
"Aku malu Jo, aku tak pantas. Bule Lastri berhak memiliki menantu yang sempurna dariku. Bukan aku dengan segala kekuranganku." Kania menyadari kekurangan pada dirinya.
"Bagaimana jika Ibu sendiri juga menginginkanmu menjadi menantunya? Maukah kamu menikah denganku?" Tepok Salute buat mamas Jo yang udah blong rem nya.
"Jangan bercanda Jo, aku tidak suka!" Kania melepaskan tangan Jo.
"Haruskah aku membawa ibu sekarang juga untuk melamarmu pada Tuan Satria?" Jo tanpa main-main.
"Slowly but sure Jo." Kania meminta.
"I've been waiting for you too long, I can't stop myself from loving you anymore. I want to make you the only woman in my life. Kania, will you marry me?" Jo memberikan permen Lollipop dihadapan Kania.
Kania tertawa Jo melamarnya dengan setangkai lermen Lollipop Bulat warna warni.
"Aneh banget si Jo! Mana ada orang ngelamar ngasihnya permen Lollipop" Kini senyum yang Jo rindukan kembali ia lihat.
"Akhirnya senyum itu kembali untukku." Mamas Jo udah pinter gombal.
"Aku tak punya stok jantung jika kamu menolakku Kania?" Jo menanti jawaban Kania.
"Haruskah aku menjawabnya?" Kania mengambil Lollipop tersebut membukanya dan memakannya.
Kania menikmati permen Lollipopnya itu. "Seharusnya kamu Bawakan pabriknya Jo, Kau pelit sekali." Kania dengan asal bicaranya.
"Yes i will, if you are willing to marry me." Jo tersenyum.
Ah Jo dan Kania pasangan aneh, Malu Tapi Mau, Gengsi tapi Cinta, Benci tapi Rindu.
__ADS_1
Kakak dan Adek sama-sama Gengsian.
Untung Endingnya Happy.