
...**إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ...
...Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un...
...Artinya, “Sungguh kami milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali**.”...
Keysha tak kuasa menatap kepergian Ayah, Ibu dan Adik Tirinya secara bersamaan.
Keysha sejatinya selalu menerima Ibu dan Adik tirinya selayaknya keluarga.
Meski pada kenyataannya Ibu maupun Adik tirinya selalu dan selalu berbuat jahat pada Keyhsa.
Betapa tidak, Keyhsa yang Subuh tadi diberitahukan Abimanyu bahwa ketiganya telah tiada.
Abimanyu menjelaskan kronologi bagaimana ketiganya bisa meninggal secara bersamaan.
Keysha tak mampu menahan airmata kesedihannya mendengar penuturan Abimanyu.
Dipenjara membuat Ibu tiri Keysha depresi hingga menyebabkan gangguan mental, hari itu mencoba kabur dari dalam jeruji besi Lapas.
Sinta mengetahui Mamanya akan kabur mencoba mencegahnya dengan segala cara.
Sinta berada di lapas yang sama namun sel berbeda dengan sang Mama berusaha sebisa mungkin mencegah Mama nya agar tidak bunuh diri.
Namun karena mental dan jiwa Mama sudah terganggu hingga ia tak mengenali bahwa itu Sinta putrinya, Mama menusuk Sinta dengan pisau yang dibawanya.
"Keysha mati kamu, Mama benci sama kamu! Mama benci!" Itulah yang diteriakan oleh Mama tiri Keysha saat menusuk Sinta hingga Sinta kehilangan nyawanya akibat pendarahan yang tak bisa dihentikan.
Petugas Lapas mengejar Mama Tiri Keysha yang memang kembali kabur menerobos dinding penjara.
Berhasil naik keatas bangunan tertinggi di Lapas kini Mama tiri Keysha berdiri disana dengan tubuh gontainya.
Hingga saat Mama Keysha mencoba melompat, Ia terpeleset dari ketinggian gedung kira-kira 100 meter dan jatuh dalam keadaan kepala terlebih dahulu hingga pecah dan menyemburkan banyak darah segar.
Darah segar mengalir dari Kepalanya dan ia mati seketika.
Sementara saat peristiwa kekisruhan yang ditimbulkan Ibu dan Anak tersebut petugas Lapas menghubungi Firman.
Dengan cepat Firman menuju Lapas guna melihat kondisi Istri dan Anaknya.
Betapa terkejutnya Firman saat melihat Istrinya menusuk anak nya Sinta namun memekikkan kebencian menyebut nama Keysha.
__ADS_1
Firman begitu terkejut. Dadanya sesak seketika. Firman yang memang sebenarnya sudah pernah terkena serangan jantung namun saat itu berhasil diselamatkan.
Kini Firman dengan segala himpitan yang ada, perasaan bersalah kepada anak-anak dan istrinya, serta banyak dosa yang ia lakukan teringat akan kesalahannya terhadap keysha dan mendiang istrinya kala itu.
Firman ambruk tak sadarkan diri segeranya oleh petugas lapas dibawa menuju RS.
Namun Allah berkehendak lain.
Firman meninggal tepat sampai di IGD RS.
Kini dalam pusara dihadapan mata Keysha yang didampingi Abimanyu, Daddy, Mommy, dan Bule Lastri terdapat 3 jasad yang bersemayam Ayah Keysha, Ibu dan Adik tiri Keysha.
Kesyha mengusap nisan ketiganya.
Menatap nanar akan saat terakhir kepergian ketiganya dengan cara yang tragis.
Keysha tak mampu menutupi kesedihannya.
Saat mendengar hingga akhir ibu tirinya masih menyimpan kebencian kepadanya hingga menusuk Sinta yang merupakan anaknya sendiri.
Keysha begitu terpukul karena Keysha merasa ia membuat Ibu, Adik dan Ayahnya kini pergi selama-lamanya.
Abimanyu menenangkan Keysha. Abimanyu membenamkan Keysha dalam pelukannya. Keysha menangis menumpahkan segala kesedihannya dalam dekapan Abimanyu.
"Hidup dan Mati manusia Allah yang menentukan Sayang, tak ada satupun yang mampu melawan takdir Allah. Jadikan pelajaran dari apa yang mereka alami. Dan maafkan segala yang telah terjadi." Abimanyu sambil memeluk Keysha dengan rasa sayang.
Orang bijak mengatakan, siapa yang menabur angin, maka dia akan menuai badai, bila kita kaji lebih lanjut, ini adalah suatu penjabaran dari hukum sebab akibat yang bisa diartikan apabila kita ingin mendapatkan akibat hasil yang baik, kita harus berbuat sebab yang baik.
Sebaliknya apabila perbuatan kita buruk atau telah melakukan sebab yang buruk akibat nya tentu akan buruk juga.
Yang berkaitan dengan hukum sebab akibat disini adalah bahwa semua perbuatan dan tindakan kita didunia ini, sebenarnya langsung kembali kepada diri kita sendiri.
Hal ini dapat kita ketahui, kalau kita bisa mengambil hikmah dan menganalisa setiap kejadian yang kita alami dan menghubungkannya dengan perbuatan-perbuatan yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Dalam Islam, hukum sebab akibat itu dapat digambarkan apabila kita mengalami suatu musibah, maka itu disebabkan karena perbuatan kita sendiri, hal ini seperti tertulis dalam firman Allah SWT sebagai berikut:
... “**Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri.” ...
...(QS Asy-Syuura [42] : 30**)....
Dan perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini:
__ADS_1
...“**Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” ...
...(QS. Ar-Ruum [30] : 41**)...
Sebenarnya alam telah memberi contoh kepada kita, bahwa apa yang diterima alam, itulah yang akan diberikan ke manusia. Contohnya, ada banjir karena keseimbangan alam terganggu, penebangan hutan, buang sampah ke sungai, dan lain-lain.
Begitupun dalam pergaulan dengan sesama manusia, kita akan menerima apa yang telah kita berikan. Jika kebaikan yang kita berikan, balasannya adalah kebaikan juga. Dan kalau kejahatan yang kita berikan, maka akibat dari kejahatan itu, akan kembali kepada kita sendiri.
Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:
...“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,……”...
...(QS. Al Isra [17} : 7)...
Apabila kita mampu menyadari bahwa kebaikan bukan sekadar dalam tuntutan pergaulan hidup, tapi lebih sebagai bekal untuk hari kemudian (akhirat), maka kita akan menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya, melakukan amal shaleh, berbuat baik kepada siapa saja, yang sebenarnya itu merupakan investasi atau tabungan yang terbaik untuk akhirat kita kelak.
Perhatikan firman Allah SWT berikuit ini:
...“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ...
...(Al-Hasyr [59] :18)...
Mungkin ada dari kita yang kadang melupakan, bahwa bagaimana kehidupan kita di dunia ini, akan sangat menentukan kehidupan kita di akhirat kelak.
Perumpamaan hidup kita di dunia ini seperti seorang petani yang bercocok tanam, dan memetik hasil panennya nanti di akhirat.
Apabila kita menanam kebaikan maka diakhirat nanti, kita pun akan menuai kebaikan juga. Dan bila kita menanam kejahatan, maka keburukanlah yang kita akan petik diakhirat kelak.
Namun bagi beberapa orang, kadang kesadaran itu larut dalam gemerlap dunia yang serba materialistis ini. Dimana kesuksesan diukur dari harta kekayaan yang dimiliki.
Semua ini menyebabkan kita lebih banyak memikirkan dan berbuat untuk dunia kita saja. Inilah akhirnya, yang menyebabkan kita miskin bekal untuk akhirat nanti. Jika itu yang terjadi, maka penyesalanlah yang didapat.
...Padahal Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:...
... “**Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” ...
...(Al-Zalzalah:7-8**)...
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Karena dunia ini adalah rangkaian episode yang dijalani dan akan dilewati, tempat bekerja, berjuang dan tempat kita bercocok tanam.
Bila kita menanam amal baik, maka buah yang akan dipanen pun akan baik pula. Begitupun sebaliknya, jika amal buruk yang kita semai, maka buah keburukan yang akan kita dapatkan.
__ADS_1
Karena itu, marilah kita menanam amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk kita panen di akhirat kelak.
...****************...