Terpaksa Menikahi Tuan Muda Kejam

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Kejam
Bab 57 Tanda Lahir


__ADS_3

"Nak Jo boleh Bule bertanya sesuatu yang pribadi?" Bule Lasti mencoba memberanikan diri mengenai sesuatu hal yang bersifat pribadi.


"Silahkan Bule." Jo tampak merasakan ramuan dingin dibalurkan pada luka dipunggungnya.


"Bagaimana Nak Jo bisa mengenal keluarga Pak Satria Nugraha. Maaf kalau Bule lancang bertanya." Bule Lastri begitu hati-hati.


" Tidak apa-apa Bule. Begini awalnya Bule." Sekretaris Jo mulai bercerita.


Sekretaris Jo menjelaskan dari awal saat pertama ia bertemu Tuan Muda Abimanyu, Lalu sebelumnya ia dirawat bersama siapa dan ia hanya tahu kalau orang tuanya memberikan ia sebagai ganti dari hutang ayahnya saat beliau lahir pada seorang rentenir dan rentenir itu menjualnya pada gembong pencopet dan disanalah Jo bertemu Abimanyu saat mencopet dompet Abimanyu namun naasnya Jo tertangkap oleh Abimanyu saat sedang menyerahkan dompet Abimanyu ke gembong atau boss copet tersebut. Tak puas dengan apa yang Jo dapatkan, Jo disiksa oleh gembong copet itu, dan Tuan Muda Abimana menyelamatkannya. Kemudian Jo diselamatkan Tuan Muda dibawa ke kediaman Keluarga Tuan Besar Satria Nugraha. Sejak saat itu Tuan Besar dan Nyonya Besar merawat Saya. Saya disekolahkan, diberikan pendidikan yang baik, dikuliahkan hingga Tuan Besar meminta Saya untuk mendampingi Tuan Muda hingga kini menjadi Sekretaris beliau.


Bule Lastri tertegun daan mendengarkan setiap penjelasan Sekretaris Jo. Namun menariknya adalah soal rentenir.


Bule Lastri tertarik kembali bertanya lebih dalam soal rentenir tersebut?


"Maaf Nak Jo kalau Bule lancang, Apakah rentenir itu bernama Tuan Wilson Lalengke dan istrinya bernama Nyonya Gendis yang tinggal di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan?" Bule menyebutkan sebuah nama.


Sekretaria Jo menoleh kepada Bule Lastri menatap heran.


"Bule bagaimana tahu tentang Tuan Wilson dan Nyonya Gendis?"


Bule Lastri beranjak kesebuah lemari tua diruangan kerjanya di Toko Javenir.


Bule Lastri mengeluarkan sebuah kotak kayu jati kecil bergembok.


Bule Lastri membawa kotak tersebut ke hadapan Sekretaris Jo.


Jo menatap Bule Lastri dengan heran melihat Bule Lastri mengelurkan 3 foto seorang bayi laki-laki.


"Nak Jo lihatlah." Bule Lastri menunjukkan ketiga foto yang sudah usang kepada Sekretaris Jo.


Foto pertama bayi tersebut baru lahir, Foto kedua san ketiga membuat Jo melihat dengan seksama.


Bule Lastri angkat suara.


"Nak Jo maaf jika Bule tak sopan. Apakah tanda melingkar dipunggung nak Jo juga ada dibagian paha sebelah kiri?" Bule Lastri menunjukkan ciri di foto ketiga.

__ADS_1


Sekretaris Jo terkejut seolah tak percaya.


"Bagaimana Mungkin." Jo masih tak percaya mengapa Tanda lahirnya yang Jo miliki bentuk dan letaknya sama dengan bayi di foto tersebut.


Bule Lastri kemudian membuka laci lemari dan mengambil sebuah album foto yang sedikit berdebu.


Bule Lastri membuka lembaran album foto dan menunjukkan sebuah foto seorang perempuan muda yang mirip dengan Bule Lastri memakai kebaya, dan seorang pria bertelanjang dada dengan topi caping dengan latar persawahan.


Sekretaris Jo melihat sebuah tanda lahir dipunggung pria itu yang sama persis dengan dirinya.


Bule Lastri berkata dengan nada rendah.


"Itu almarhum suami Bule, Mas Arman. Saat foto ini diambil Bule sedang mengandung 4 bulan. Kala itu ada tukang foto keliling, Suami Bule mengajak foti. Bule awal tidak mau, wong seadanya begitu dan ia pun habis membajak sawah. Tampilan kami seadanya." Kenang Bule Lastri.


" Suami Bule memiliki tanda lahir dipunggung dan dipaha sebelah kiri percis dengan putra Bule yang saat itu diambil paksa karena surat perjanjian yang dibuat suami Bule tanpa sepengetahuan Bule dengan jaminan anak kami setelab lahir. Sayangnya saat Bule hamil 5 bulan suami Bule meninggal karena dibunuh seorang gembong copet saat hendak menyelamatkan seseorang. Nyawanya tak tertolong karena kehabisan banyak darah akibat tusukan dibeberapa organ vital." Raut wajah Bule Lastri dengan mata berkaca-kaca.


Sekretaris Jo menatap lekat Bule Lastri kemudian bertanya.


"Bule sempat memberi nama putra Bule?" Sekretaris Jo coba menggali.


"Almarhum suami Bule aneh sekalii, sejak Bule hamil ia sering memanggil anak dikandungan Bule dengan sebutan Jojo, setelah ia meninggal, Bule pun terus memanggil Jojo mengusap perut Bule menggantikan apa yang suami Bule lakukan setiap hari." Bule Lastri tak lagi mampu menahan airmatanya.


Namun setelah Nyonya Gendis meninggal Jo diserahkan kepada Gembong copet dari sanalah awal pertemuannya dengan Abimanyu.


Sekretaris Jo segera memastikan segala tanda tanya mengenai semakin mirip dan banyak kesamaan.


"Nak Jo mau ganti celana juga, Bule keluar dulu sekalian Bule ambilkan di Toko celana baru."Bule Lastri kaget wong anak lanang sembarangan main lepas celana.


"Maaf Bule bukan Jo tak sopan, Jo hanya mau menunjukan sesuatu."


Sekretaris Jo melepas celana panjangnya, dwngan celana pendek sepaha alias boxer, Sekretaris Jo dengan canggung memperlihatkan sebuah tanda lahir dioaha kirinya sama oersis dengan yang ada dipunggung dan sama persis dengan tanda yang dimiliki putra Bule Lastri.


Bule Lastri awalnya canggung melihat Jo hanya menggunakan boxer namun Bule melihat dengan heran dan tak percaya.


Sambil menatap Sekretaris Jo Bule Lastri mengatakan satu lagi fakta yang membuat Jo tak mampu melihatnya sekedar kebetulan.

__ADS_1


"Apakah golongan darah Nak Jo AB +?"Bule Lastri menatap lekat pada Sekretaris Jo.


Sekretaris Jo seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Putra Bule bergolongan darah AB sama seperti mendiang suami Bule." Bule Lastri menepuk bahu Sekretaris Jo.


Kania sebenaenya hendak masuk dari sejak selesai menerima telpon namun melihat obrolan serius keduanya Kania memilih untuk mendengarkan pembicaraan kedua hingga habis.


Kini Baik Sekretaris Jo dan Bule Lastri tampak bingung karena banyak kemiripan dan tanda-tanda keduanya memiliki hubungan anak dan ibu.


Namun kedua tampak bingung tidak tahu bagaimana harus memulainya dan memastikan karena masih sama-sama shock.


Kania melihat keadaan itu memilih masuk dan masuk pada situasi yang tampak canggung.


"Permisi, boleh Kania masuk. Maaf bukan bermaksud lancang Kania tidak sengaja mendengat pembicaraan Bule dan Jo. Bolehkah Kania memberi saran?" Kania ingin cepat memberikan solusi agar keduanya mungkin saja merupakan ibu dan anak.


Bule dan Jo menatap Kania. Tanpa mengatakan apaoun namun sorot mata mengharapakan sebuah solusi dari keadaan mereka saat ini.


"Bagaimana kalau kalian Kania antar ke RS untuk tes DNA." Kania langsung to the point.


Kania melihat keduanya belum bereaksi, hingga Kania merasa bersalah mengatakan hal tersebut.


"Maaf kalau Kania lancang,,, tapi sekedar memastikan tidak ada salahnya dilakukan." Kania dengan perasaan takut menatap keduanya.


Jo menatap Bule Lastri dan menggenggam tangan Bule Lastri.


"Bule, izinkan Saya memiliki sedikit harapan. Selama ini Saya selaku bertanya-tanya siapa orang tua Saya. Kalaupun hasil tes DNA menunjukkan hasil yang berbesa Saya tetap hormat kepada Bule selayaknya saya menghormati Tuan Besar dan Nyonya Besar. Paling tidak Saya bisa berhenti berharap mengenai keberadaab orang tua kandung Saya."


Sekretaris Ji begitu menyiratkan kesedihan dan Bule Lastri mengangguk sebagai tanda setuju.


Kania segera mengurus hal itu.


Kini ketiga berada salam mobil menuju ke RS untuk melakukan Tes DNA.


Jangan tanya ya Readers Kok tesnya bisa cepet ga lpake nunggu, ga pake lama.

__ADS_1


Mereka adalah Keluarga Satria Nugraha, jangankan akses cepat, rumah sakit dan lab tea DNA nya juga bisa mereka beli kalua mereka mau.


...****************...


__ADS_2