
"Halo suster, di mana ruangan tempat raga aku sekarang, kok dia sudah tidak ada di kamar kemarin?" tanya ku yang sangat yakin sekali jika dia tau segalanya.
Suster itu diam, tak sama sekali mendengarkan apa yang aku katakan dan malah fokus membaca sesuatu yang ada di dalam buku yang saat ini ada di depannya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku menepuk jidat ku.
"Bodoh dia kan tidak bisa melihat ku, bagaimana bisa dia memberitahu ku, aku harus apa ini, masa iya aku berkeliling di rumah sakit ini hanya karena ingin mencari raga ku" kata ku.
"Rumah sakit ini besar, gak ketemu kalau aku gunakan cara seperti itu, bisa lama nemuinnya" kata ku.
Tiba-tiba pandangan ku jatuh pada buku yang besar dan biasanya berisikan nama-nama pasien yang di rawat di rumah sakit ini.
"Aku harus lihat buku itu, aku yakin nama ku ada di sana pastinya dan itu akan memudahkan aku untuk bisa menemukan raga ku" kata ku lalu membuka buku itu.
Suster itu sangat kaget melihat keanehan yang terjadi di depannya.
"H-hantu" teriak suster itu kaget.
Dengan terbirit-birit dia berlari saat melihat halaman buku terbuka dengan sendirinya.
"Hei, aku bukan hantu, kenapa kau teriak-teriak seperti ini" omel ku sangat kesal dengannya.
"Dasar suster tidak benar, seenaknya dia bilang kalau aku hantu, dia buta apa, sampai tidak bisa membedakan mana hantu, mana bukan iih benar-benar menyebalkan" kata ku.
Aku terus membuka halaman buku itu dan mencari nama ku.
"Di mana sih, kenapa gak ketemu juga, wahai nama ku kau ada di mana?" tanya ku yang masih tak kunjung menemukan nama serta ruangan tempat raga ku di rawat.
Mata ku membulat sempurna kala melihat nama ku yang berada di ruangan yang benar-benar membuat ku langsung shock.
"Ruangan ICU, jadi raga aku sedang berada di ruangan itu, jadi kondisi aku parah dong, sampai-sampai aku di rawat di sana, aku harus lihat ke sana" kata ku lalu berlari ke ruangan ICU untuk melihat keadaan raga ku.
Sampai di ruang ICU, aku mematung kala melihat tubuh ku yang di kasih banyak selang dan alat bantu pernapasan.
__ADS_1
Aku terkejut melihat raga ku yang seperti itu.
"Kemarin selang-selang itu sedikit, kenapa sekarang bertambah banyak saja, apa kondisi aku parah ya" kata ku yang sangat cemas.
"Bagaimana dengan kondisi pasien bernama Raisa Vallensia?" tanya dokter yang tak sengaja ku dengar.
"Kondisinya masih sama dok, tidak ada perubahan, selama pemantauan pasien ini masih belum ada tanda-tanda akan siuman" jawab suster.
"Ini keluarga dari pasien kemana, kenapa tidak ada satupun yang datang menjenguk?" tanya dokter.
"Menurut pihak sekolah, pasien ini anak yatim piatu, dia sudah tidak punya keluarga lagi, dia hidup sendiri selama ini" jawab suster.
"Kasihan sekali anak ini, masih kecil sudah di tinggal pergi sama ayah dan ibunya, kalau di lihat-lihat anak ini pasti seusia anak ku yang hilang sejak kecil, kalau gak salah umurnya pasti sama dengan anak ini" kata dokter itu melihat ke arah raga ku yang terbaring lemas di atas brankar.
"Yang sabar dok, anak mu pasti ketemu, berdoa saja semoga dia baik-baik saja, meski dia masih belum di ketahui keberadaannya" kata suster menatap iba.
"Saya tau, andai saja dia masih berada di dekat saya, mungkin rumah saya tidak akan sepi dan istri saya tidak akan terus-menerus memikirkan dia yang hilang sejak masih bayi" jawab dokter.
"Aku ke bapak sama ibu dulu ah, udah lama aku tidak ke makam mereka" kata ku lalu pergi dari ruangan ICU meninggalkan raga ku yang masih di rawat di sana.
Aku terus berjalan dengan langkah santai seperti tidak ada beban.
Aku menyebarang jalan tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi.
"Arrrrgghh jangan tabrak aku, aku masih mau hidup" kata menstop pengendara motor itu dengan berteriak sambil memejamkan mata karena terkejut.
"Hei, kenapa kau berada di tengah jalan kalau kau masih mau hidup, kalau mau nyebrang itu lihat-lihat biar gak tertabrak" kata pengendara motor itu memarahi ku.
"Loh kok kamu bisa lihat aku sih, aku ini kan bukan manusia dan juga bukan makhluk halus?" tanya ku terkejut.
"Terus kalau kau bukan manusia dan juga bukan makhluk mengapa kau masih takut di tabrak" kata pengendara itu.
"Iya juga ya, bodoh aku ini, eh kok kamu bisa lihat aku, kamu anak indigo ya" tebak ku.
__ADS_1
"Bukan, aku anak Indomie" jawab pengendara itu.
"Haha kau masih ngelak, aku sudah tau kali, kau jangan menipu ku, aku tidak mudah tertipu" kata ku.
"Kalau kau sudah tau, kenapa kau masih bertanya lagi" jawab pengendara itu.
"Apa salahnya aku bertanya, kau ini baru juga ketemu sudah cuek aja, emang ya anak indigo itu modelannya kayak gini, gak ada apa anak indigo yang baik hati murah senyum dan peduli gitu?" tanya ku.
"Tidak ada, modelannya anak indigo memang seperti ini, ayo minggir kau, aku mau lewat" tintah pengendara itu mengusir ku.
"Hai tuan, bisakah kau membantu ku" kata ku.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya pengendara itu menghela napas karena masih tak bisa melanjutkan perjalanan.
"Aku ingin kembali ke dalam raga ku, bagaimana caranya, kau tau gak?" tanya ku berharap dia bisa membantu ku karena aku sudah sangat ingin kembali ke dalam raga.
"Kau bukan makhluk halus, kau masih belum meninggal?" tanya pengendara itu kaget.
"Ya masih lah, aku ini belum meninggal, tubuh ku ada di dalam rumah sakit, aku saat ini masih belum bisa kembali ke dalam raga ku" jawab ku.
"Aku memang anak indigo, tapi kalau untuk ngembalikan sukma ke dalam raga, aku belum pernah melakukannya karena aku tidak tau sama sekali caranya" kata pengendara itu.
"Ck dasar kau indigo payah, masa cuma ngembalikan sukma ke dalam raga saja tidak bisa, gimana sih kau ini" amuk ku padanya yang tidak bisa di andalkan sama sekali.
Pengendara itu langsung panas setelah mendengar kalimat hinaan itu.
"Hei, sudah menghalangi jalan ku sekarang kau malah mengatai ku, dasar kau ini, tidak berguna, menghambat perjalanan ku saja, minggir sana, aku mau lewat, aku buru-buru ini" usir pengendara itu.
"Sana pergi saja, tak berguna aku meminta bantuan pada mu, kau juga payah" hina ku.
Pengendara itu mulai panas di katain seperti itu oleh ku.
"Sialan kau ini, awas saja sampai aku ketemu lagi dengan mu, akan aku cingcang kau itu, biar kau tau rasa" kata pengendara itu lalu melajukan motornya kembali meninggalkan aku sendirian.
__ADS_1