
Malam tiba.
Malam semakin larut pesantren ini bagikan kota mati saat di jam segini.
"Kok tidak ada manusia satupun yang keluar sih apa mereka pada tidur semua heis bete lah aku di sini" kata ku.
"Aku cari Azam aja deh mungkin aja dia belum tidur" kata ku mencari.
"Di mana sih tuh anak kok ngilang aja nah itu anaknya" kata ku melihat Azam di depan kamar.
"Azam" panggil ku.
"Ada apa lagi kau menemui ku, bisa gak kamu itu gak usah nyariin aku, aku ini ingin hidup tenang gitu" jawab Azam.
"Emang selama ini kamu gak bisa hidup tenang?" tanya ku.
"Ya kagak lah, orang hantu-hantu pada hilir mudik berganti mendatangi aku, mana bisa aku hidup tenang kalau kayak gini" jawab Azam.
"Nasib mu itu, kau harus terima, jangan marah-marah terus nanti cepet tua loh, nanti gak ada yang mau nikah sama kamu, jadi bujang lapuk mau?" tanya ku.
"Kagak" jawab Azam.
"Ya udah kagak sudah marah-marah, senyum aja tapi jangan senyum terus nanti di sangka gila sama orang-orang" kata ku.
"Enak saja dia ngomong" batin Azam.
"Kamu itu bisa terpisah dari raga mu itu kenapa?" tanya Azam.
"Begini aku kan masih kelas 3 SMA, aku ceritanya akhir semester ganjil ini sama teman-teman sekelas ku mau piknik, di perjalanan rem busnya blong, kecelakaan lah tuh, di antara mereka semua hanya aku seorang yang selamat, tapi sayangnya aku masih koma, raga ku masih ada di rumah sakit sedangkan sukma ku bergentayangan di mana-mana begini, mangkanya aku tadi ngikuti kamu karena hanya kamu yang bisa ngelihat aku dalam wujud seperti ini, ayolah bantu aku" jawab ku.
"Ustadz Azam kok belum tidur sih?" tanya santriwati yang menghentikan pembicaraan kami.
"Pergi sana, jangan ganggu saya" jawab Azam cuek.
"Kenapa sih Ustadz Azam garang amat, nanti gak nikah-nikah loh" kata santriwati.
__ADS_1
"Itu terserah saya, bukan urusan anda juga, pergi jangan ganggu saya, apa kalian mau saya hukum" ancam Azam.
"Ish Ustadz garang lah, ayo pergi dari sini" kata Satriwati itu.
"Iya ayo" jawab temannya pergi.
"Kenapa kamu malah usir mereka, mereka kan cuman mau dekat dengan mu saja, emang kamu gak ada rasa apapun gitu?" tanya ku.
"Enggak ada, mereka itu hanya ingin mengganggu ku saja, aku tidak suka di ganggu" jawab Azam.
"Apa kamu sudah punya pacar sehingga kamu menolak mereka mentah-mentah?" tanya ku.
"Tidak, aku tidak pernah berpacaran" jawab Azam.
"Oh gitu, aku mau nanya kenapa kamu bisa melihat makhluk tak kasat mata?" tanya ku.
"Tidak tau, aku begini sejak aku masih kecil, mangkanya orang tua ku mengirim ku ke pondok pesantren, biar mereka tidak terus-menerus mengganggu ku" jawab Azam.
"Mereka bisa masuk loh ke dalam pesantren" kata ku.
"Tapi kata Rina, dia itu meninggal tertabrak di depan pesantren, seharusnya dia tidak akan bisa masuk dong ke dalam pesantren ini?" tanya ku.
"Dia tidak tertabrak, kau telah di bodohi olehnya, dia itu meninggal karena meloncat dari atas balkon, dia memang gila dia melakukan itu hanya karena patah hati saat aku menolaknya, karena tak dapat menahan malu, dia lantas meloncat dari balkon tanpa pikir panjang dulu" jawab Azam.
"Segitunya dia tergila-gila mu sampai-sampai dia malah melakukan tindakan bunuh diri, kenapa kau tidak terima saja sih, kasihan dia?" tanya ku.
"Aku tidak menyukainya, mengapa aku harus menerimanya, nanti aku sendiri yang akan tersiksa" jawab Azam.
"Jadi ini ceritanya kamu mau gak bantuin aku, aku ini ingin kembali ke raga ku, aku sudah cepak berkeliaran di sini, aku ingin sekolah dan melanjutkan perjuangan ku yang ingin mewujudkan cita-cita ku selama ini, meski aku kehilangan teman seperjuangan ku karena kejadian ini" kata ku.
"Bagaimana ini, aku tidak mau dia pergi secepat ini, aku menyukainya, iya tau ini hal yang gila, aku memang baru melihatnya tapi hanya gadis ini yang membuat jantung ku tak aman di setiap saat, mangkanya aku terus mengusirnya" batin Azam.
"Aku tidak tau caranya, kau berkeliaran saja dulu, nanti aku sambil lalu akan mencari tau bagaimana cara untuk membuat sukma kembali ke dalam raga lagi, aku mau tidur, kau jalan-jalan saja di sekitaran sini" jawab Azam lalu masuk ke dalam kamar.
"Ishh Azam ini, kenapa sih gak mau bantu aku, aku kan ingin kembali ke dalam raga, apa susahnya dia ngasih tau caranya, aku yakin dia tau, gak mungkin dia gak tau" kata ku kesal.
__ADS_1
Aku menghela napas kesal.
"Dari pada aku di sini, lebih baik aku lihat suasana di asrama santriwati aja deh" kata ku pergi dari sana.
Aku berjalan mengelilingi kamar-kamar santriwati di malam yang semakin larut ini.
Tiba-tiba seseorang menghampiri ku.
"Hai kau siapa, anak baru ya?" tanya pak poci yang tak sengaja melihat ku.
"Bukan, aku masih hidup, hanya saja sukma ku terpisah dari raga, mangkanya aku bisa berkeliaran seperti mu di sini" jawab ku.
"Owh begitu, apa kau ke sini itu karena mengikuti Azam?" tanya pak poci yang sudah bisa menebaknya.
"Benar, aku ke sini hanya ingin meminta bantuannya saja, hanya dia yang bisa melihat aku di sini" jawab ku.
Wajah ramah pak poci tiba-tiba menjadi serius tanpa sebab.
"Hati-hati sama Rina, dia itu gadis yang cukup gila, hampir 6 tahun dia masih belum mau kembali ke alam selanjutnya, asal kau tau saat dia mendengar ada santriwati yang mencintai Azam, dia langsung menampakkan dirinya yang membuat banyak sekali santriwati di pondok pesantren ini memutuskan untuk keluar karena tak sanggup di teror setiap malam oleh dia" kata pak poci itu dengan nada serius.
"Apa Rina sekejam itu, dia kan sudah mati, masa dia tidak berpikir kalau dirinya tak akan bisa kembali menjadi manusia, apalagi bersatu dengan Azam, itu hal yang mustahil bukan" jawab ku yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rina.
"Aku tau, tapi aku sudah lelah menceramahinya, kalau semisal dalam usaha mu membujuk Azam untuk ngembaliin sukma mu ke dalam raga tidak berhasil, kau temui saja nenek Sundu di sekolahan itu, dia bisa membantu mu" kata pak poci itu menunjuk ke arah sekolah yang sangat besar.
"Terimakasih" jawab ku senang.
"Sama-sama" kata pak poci lalu meloncat-loncat meninggalkan aku.
"Nek Sundu, hmm boleh juga aku minta bantuan padanya, dia pasti mau membantu ku, aku gak usah capek-capek ngemis-ngemis sama Azam lagi, besok deh aku akan ke sana" kata ku senang karena masalah ku sudah terpecahkan.
Aku kembali melanjutkan berkeliling di pesantren ini.
Azam belum tidur, dia mengikuti ku dari belakang tanpa aku sadari.
"Tak akan aku biarkan gadis itu kembali ke dalam raganya secepat ini, aku harus minta nek Sundu untuk jangan membantu Raisa, apapun yang terjadi, aku tidak mau Raisa pergi meninggalkan aku" kata Azam lalu kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1