Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Menemui nek sundu


__ADS_3

Pagi harinya.


Setelah selesai sholat subuh Azam langsung berangkat menuju ke sekolahan yang tak seberapa jauh itu.


"Aku harus cepat-cepat sampai di sekolahan sebelum nek Sundu memberitahu Raisa tentang cara untuk bisa kembali ke dalam raga" kata Azam berjalan terburu-buru.


Azam sebisa mungkin tak akan membiarkan aku kembali ke dalam raga ku.


"Ustadz" panggil seorang santri.


"Ada apa?" tanya Azam dingin.


"Saya ada kesulitan tentang masalah pelajaran tadz, ada beberapa yang masih belum saya mengerti" jawab santri itu.


"Nanti akan saya ulang kembali, saya ada urusan sebentar, permisi" kata Azam lalu kembali berjalan meninggalkan kedua santri itu.


"Kenapa sih Ustadz kok terburu-buru gitu, ini kan masih pagi, ngapain beliau ke sekolahan?" tanya santri itu penasaran.


"Gak tau juga, ayo kita kembali ke asrama saja, kita tunggu Ustadz Azam di depan kamarnya" jawab temannya.


"Iya ayo, kita tunggu di sana saja" setuju santri itu.


Mereka berdua melangkah menuju asrama.


Di sisi lain.


Aku sudah berada di dalam sekolahan tengah mencari nek Sundu yang pocong maksudkan tadi malam.


Di sekolah ini banyak sekali penghuninya namun tak ada orang yang tengah aku cari-cari.


"Mana sih yang namanya nek Sundu, kok di sini hantu-hantunya anak-anak kecil semua, apa nek Sundu ada di atas ya, hmm aku harus ke sana" kata ku melihat ke arah kelas yang ada di atas.


Aku dengan cepat langsung menaiki tangga untuk bisa sampai di sana.


Beberapa menit aku habiskan untuk melewati anak tangga yang benar-benar banyak itu.


Kini aku sudah berada di lantai dua.


Dari di sini aku melihat ada seorang nenek-nenek dengan memegang tongkat yang berjalan dengan langkah pelan.


"Eh kayaknya dia deh yang namanya nek Sundu, lihat itu hanya dia seorang yang paling tua yang aku temui sejak tadi, ku rasa memang dia orangnya, aku harus ke sana" kata ku lalu berlari menghampirinya.


"Apa ini benaran nenek Sundu?" tanya ku.


"Iya, ada apa" jawab nek Sundu.

__ADS_1


"Nek Sundu aku Raisa, aku ke sini mau minta tolong sama nenek" kata ku mengutarakan maksud tujuan ku.


"Apa yang bisa nenek bantu?" tanya nek Sundu.


"Aku ingin kembali ke dalam raga ku, bagaimana caranya, apakah kau tau?" tanya ku berharap nek Sundu mengetahuinya.


"Oh masalah itu, caranya itu hanya-


"Stop" kata seseorang menghentikan perbincangan kami.


Kami berdua menoleh ke asal suara dengan sangat terkejut.


"Ada apa zam?" tanya ku penasaran.


"Ayo ikut aku, kita harus pergi dari sini secepatnya" kata Azam lalu menarik ku untuk pergi dari sana.


"Lepasin zam, aku belum selesai bertanya pada nek Sundu, kamu jangan main tarik-tarik aja" kata ku berusaha terlepas dari cengkeraman keras tangan pria gila itu.


Azam diam dan masih terus menarik tangan ku untuk menjauhi nek Sundu.


"Azam lepasin tangan ku, kenapa kau jadi seperti ini sih" kata ku tak habis pikir dengannya.


Azam membawa ku turun dari balkon, ia tak sama sekali menghiraukan teriakan ku.


"Maaf" kata Azam.


"Kenapa kamu tarik-tarik aku, aku kan tadi mau nanya sama nek Sundu tentang cara untuk kembali ke dalam raga, tapi kau, kau malah datang dan menghancurkan segalanya" amuk ku yang sudah sangat kesal dengan sikapnya.


"Diam, kau itu tidak bisa kembali ke dalam raga mu secepat ini, ada waktunya" jawab Azam.


"Kapan waktunya?" tanya ku.


"Masih lama, kamu jangan ganggu nek Sundu, dia bisa menyihir mu dan membuat mu pergi ke alam gaib, apa kau mau hah" jawab Azam yang membuat ku bergidik ngeri.


"Aku tidak mau, tapi kau mau kan membantu ku untuk kembali ke dalam raga ku?" tanya ku.


"Iya aku akan membantu mu, tapi nanti setelah aku siap" jawab Azam.


"Yeyy makasih Azam, gitu dong dari kemarin, aku kan gak usah capek-capek mengemis-ngemis pada mu terus" kata ku senang.


"Ayo kita kembali ke asrama, nanti kamu malah gangguin santri-santri yang lagi belajar" ajak Azam.


"Enggak akan, palingan aku cuman mau usil sebentar hehe" jawab ku dengan tertawa kecil.


"Huft gadis ini ada-ada saja" batin Azam.

__ADS_1


"Ayo cepat kita pergi dari sini, aku mau ngajar setelah ini, kamu jangan kemana-mana, tetap di pesantren ini, jangan coba-coba datang ke sekolahan lagi tanpa seizin ku" kata Azam.


"Iya gak akan, aku ke sini lagi kok" jawab ku lalu ikut bersama Azam kembali ke dalam asrama.


"Azam-azam, nenek tau kenapa kau tidak membiarkan gadis itu jauh-jauh dari mu, semoga saja kau berjodoh dengannya" kata nenek Sundu melihat dari atas balkon dengan senyuman manisnya.


Aku dan Azam terus berjalan menuju asrama.


"Kok kamu bisa tau sih, kalau aku ada di sekolahan, kamu tau dari mana?" tanya ku penasaran.


"Gimana ini, aku harus jawab apa, masa iya aku bilang kalau aku kemarin malam aku nguping pembicaraan dia dengan pak poci, bisa-bisa dia akan tau lagi kalau aku mengikutinya" batin Azam panas dingin.


"Kau tak perlu tau, ayo cepat jalan, sku mau ngajar setelah ini" jawab Azam.


"Kau ngajar saja, aku mau ke rumah sakit, mau melihat raga ku sebentar, nanti aku akan kembali lagi" kata ku.


"Ngapain kamu mau ke rumah sakit, raga mu juga tidak akan bergerak, diam saja di sini, nanti aku berubah pikirkan, baru kamu tau rasa" larang Azam.


"Ishh aku kan mau lihat sebentar, kamu kenapa sih kok aneh banget, lerasaan kemarin kamu dengan terang-terangan ngusir aku, eh kok hari ini malah gak mau aku pergi" kata ku tak habis pikir dengan perubahan sikapnya yang sangat draktis.


"Udah ah, mamu turutin aja, nanti aku malah berubah pikiran biar kamu tau rasa" jawab Azam.


"Ck menyebalkan kau ini, iya deh aku akan tetap ada di sini, gak akan lari kok, sekarang lepasin tangan aku" kata ku.


Dengan cepat Azam melepaskan tangan ku ketika sadar telah mencekal lengan ku sejak tadi.


"Ingat kamu jangan kemana-mana, aku mau ngajar sebentar, awas kalau aku lihat kamu datang lagi ke sekolahan, aku usir akan kamu dari sini" ancam Azam.


"Enggak akan, kamu jangan khawatir, aku mau ke asrama santriwati aja, nye" pamit ku meninggalkan Azam.


"Maaf Raisa, terpaksa aku masih belum mau membantu mu karena aku tak mau kamu melupakan aku setelah kamu siuman, iya aku tau kalau aku egois, tapi maaf aku harus lakuin ini" kata Azam menatap punggung ku yang terus berjalan meninggalkannya.


Setelah puas menatap ku Azam lalu melangkah menuju kamarnya.


"Ustadz" panggil kedua santri itu langsung berdiri dari duduknya.


"Tunggu di kelas, jam pertama saya yang mengisi kelas kalian, nanti bilang saja apa yang belum kalian mengerti dari materi kemarin, saya mau ngambil kitab dulu" suruh Azam yang tau maksud santri itu.


"Baik tadz, kami akan ke sana, kami permisi dulu assalamualaikum" kata santri itu.


"Wa'alaikum salam" jawab Azam.


Kedua santri itu pergi meninggalkan Azam.


Azam lalu mengambil masuk ke dalam kamarnya, mengambil kitab lalu menuju sekolahan kembali.

__ADS_1


__ADS_2