Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Meminta bukti


__ADS_3

"Tidak sekarang juga, kamu sabar saja dulu, aku pasti akan bantuin kamu, ayo kita kembali ke rumah sakit saja" ajak Azam.


"Ck kok kamu malah nunda-nunda terus, aku kan mau kembali ke dalam raga ku, kenapa kamu malah gak mau bantuin aku sih" kata ku.


"Sstt diamlah, nanti aku juga akan bantuin kamu, tapi nanti oke, ayo kita kembali ke rumah sakit, nanti pak kyai marahin aku" ajak Azam.


"Ish menyebalkan sekali orang ini, awas saja sampai dia tidak mau ngembaliin aku ke dalam raga, akan aku hajar dia" batin ku.


"Maaf Raisa, aku terpaksa bilang kalau aku tidak bisa membantu mu saat ini, aku memang bisa, tapi aku tak mau kamu pergi secepat ini, aku mohon mengertilah keadaan ku ini" batin Azam.


Kami terus berjalan hingga akhirnya kami sampai di rumah sakit juga.


"Assalamualaikum pak kyai, pak kyai sudah lama berada di sini" kata Azam.


"Wa'alaikum salam, baru saja kami sampai di sini, kamu kembali saja ke pesantren sana, biar mereka berdua di jaga oleh dua santri ini" suruh pak kyai.


"Baik pak kyai, saya pamit dulu assalamualaikum" kata Azam.


"Wa'alaikum salam" jawab mereka.


Azam berjalan meninggalkan mereka.


"Azam itu raga aku" tunjuk ku.


"Aku tau, aku sudah melihatnya kemarin, kamu gak punya ayah dan ibu?" tanya Azam.


"Punya, aku punya dua ayah, dua ibu, orang tua yang merawat aku sejak kecil sudah meninggal dunia, hanya tinggal dua orang tua kandung aku saja, kau lihat dokter itu, ternyata dia ayah kandung aku" jawab ku dengan menunjuk ke arah dokter Kevin.


"Aku tidak mengerti maksudnya bagaimana?" tanya Azam.


"Begini dulu saat aku lahir di dunia ini, aku hilang dari sisi orang tua kandung ku, lalu aku di temukan oleh dua orang baik yang menjadi bapak dan ibu ku, mereka juga yang telah merawat ku selama ini, sampai pada akhirnya mereka berdua harus pergi menghadap sang ilahi, tak sengaja kemarin aku mendengar kalau sebenarnya aku ini anak dokter itu yang hilang, kamu paham gak" jawab ku.


"Paham, apa dokter itu tau kalau kamu anaknya?" tanya Azam.


"Tidak sama sekali, dia tidak tau, mangkanya aku mau segera kembali ke dalam raga ku untuk memberitahukan hal ini padanya, kau tau, banyak orang-orang, khusunya anak perempuan yang mengaku-ngaku menjadi diri ku dan berusaha untuk masuk ke dalam keluarga dokter itu" jawab ku.


Azam diam tak bergeming.

__ADS_1


"Jadi ini alasan Raisa begitu ingin sekali kembali ke dalam raganya, tapi aku masih tidak mau dia pergi dulu, setidaknya aku tau sekarang kalau Raisa masih punya orang tua dan juga tak akan ada yang mencabut alat bantu pernapasannya, aku bisa lega sekarang, maaf Raisa kau harus menunggu beberapa waktu dulu" batin Azam.


"Woy kenapa kau diam, ayo bantuin aku" kata ku.


"Aku tidak mau, ayo kita kembali ke pesantren saja, jangan di sini, sudah ku bilang aku akan membantu ku, tapi nanti, kenapa kamu tidak sabaran sama sekali" jawab Azam.


"Dasar kau sialan, aku tidak mau menikah dengan mu" kata ku.


Azam tersenyum."Kau harus mau tidak boleh menolak, ayo kita kembali ke pesantren, ada hal yang harus aku urus soalnya" ajak Azam.


"Hal apa?" tanya ku.


"Adadeh, nanti kamu juga tau, ayo cepetan kita pergi dari sini, sebelum ada hantu yang ngikutin aku sampai ke pesantren" jawab Azam.


"Baiklah ayo jalan"


Kami berdua berjalan beriringan menuju pesantren.


"Zam" panggil ku.


"Kamu beneran kan akan lamar aku setelah aku kembali ke dalam raga ku?" tanya ku.


"Beneran lah, kamu gak percaya emang" jawab Azam.


"Antara iya dan tidak, aku kan baru kenal sama kamu, masa iya kamu langsung bilang gitu, aku kan masih gak yakin gitu" kata ku.


"Kamu mau bukti?" tanya Azam.


"Yes itu perlu" jawab ku.


"Bukti yang seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Azam.


"Bukti yang nyata, seperti ngembaliin aku ke dalam raga ku, itu baru bukti yang paling aku inginkan, bisakah kau melakukan itu" jawab ku.


"Bisa, tapi nanti, sudahlah kamu jangan banyak nanya, ayo kita pulang ke pesantren, aku masih ada urusan yang harus segera di selesaikan setelah ini" ajak Azam.


Aku mengikuti Azam dari belakang.

__ADS_1


Setelah cukup lama kami berjalan akhirnya kami sampai di pesantren juga tiba-tiba.


"Adooi" pekik ku.


"Kenapa kau mengikuti kakak ku, pergi kau sana, jangan ganggu dia, berani-beraninya kau masuk ke dalam pesantren ini, kau tak tau apa kalau makhluk seperti mu itu di larang keras masuk ke sini" kata seorang pemuda yang menarik kerah baju belakang ku.


"Sialan kau, lepaskan aku, aku ini mengikutinya karena ada hal tertentu, kau jangan asal nuduh saja" jawab ku.


"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong, apa jangan-jangan kau ya yang namanya Rina itu yang sudah mencelakai santriwati tadi malam, wah kau ini harus di kurung memang ya, tak akan aku biarkan kau mencelakai orang lagi" kata pemuda itu.


"Iiih aku bukan Rina,nama ku Raisa, aku bukan hantu aku ini adalah sukma yang terpisah dari raga, kau jangan asal ngomong, aku ke sini itu mengikuti calon suami ku, bukan mau mencelakai orang" amuk ku.


"Mana ada yang mau dengan mu, memang siapa calon suami mu itu?" tanya pemuda itu.


"Dia, kamu tidak lihat calon suami ku yang berdiri di depan ku ini, bagaimana sih kamu ini, di mana otak mu itu, lepaskan aku" jawab ku.


Pemuda yang masih tak ku lihat wajahnya itu melepaskan baju ku yang di tariknya.


"Ini calon suami mu" kaget pemuda itu.


"Iya dia calon suami ku, kamu tak melihatnya apa, tanyakan saja padanya, kalau kamu masih tidak percaya" jawab ku.


"Kak apa itu semuanya benar?" tanya pemuda itu.


"Iya, apa yang dia katakan itu benar, kamu jangan kaget begitu" jawab Azam.


"Dengerin itu baik-baik, jangan asal menuduh orang saja, dasar kau ini tidak berguna" amuk ku.


"Maaf, aku tidak tau kebenarannya" jawab pemuda itu.


Aku melihat wajah orang yang sudah membuat ku emosi.


"Eh eh eh kalau gak salah kau ini bukannya indomie itu kan, si anak indigo yang payah itu yang kemarin hampir saja menabrak ku" kata ku mengenalinya.


"Ooh kau, aku ingat sekarang, dari tadi aku seperti tidak asing dengan mu, ternyata oh ternyata kamu gadis bodoh waktu itu" jawab pemuda itu.


"Enak bener ngatain orang ya, sialan kau ini, kenapa aku harus ketemu lagi dengan mu, aku ini malas melihat mu lagi, iiih bener-bener menyebalkan" kata ku.

__ADS_1


__ADS_2