
"Ish aku juga tidak mau bertemu dengan mu, kau kira aku mau apa" kata ku menatap punggung pengendara itu yang perlahan-lahan menjauh dengan tatapan kesal.
"Dasar menyebalkan, menghambat perjalanan ku saja, benar-benar menyebalkan" kata ku yang begitu kesal.
Aku lalu kembali berjalan ke tempat yang aku inginkan.
Setelah sekian lama waktu telah ku gunakan akhirnya aku sampai juga ke tempat yang menjadi tujuannya.
Aku dengan tatapan melas duduk menatap dua batu nisan dari orang yang sangat-sangat aku sayangi yang saat ini sudah meninggalkan aku sendirian di dunia ini.
"Bapak ibu aku datang, bapak ibu tolong doakan aku, semoga aku bisa kembali ke dalam raga ku, aku ingin mewujudkan cita-cita ku, biar kalian bisa bangga di alam sana" kata ku menatap dua gundukan tanah itu dengan penuh rindu yang mendalam.
"Bapak ibu aku hidup kesepian tanpa kalian, kenapa sih kalian tidak membawa ku ke alam kalian" tangis ku mengusap batu nisan itu.
Sungguh hari-hari ku berjalan dengan sangat berat setelah mereka berdua pergi dari dunia ini.
"Ibu, kau tau Jia teman ku itu sudah pergi, aku kehilangan dia, tak ada dia yang setiap hari menemani ku huhu" tangis ku menceritakan kejadian yang sudah merenggut nyawa semua teman-teman dan juga guru-gurunya.
"Aku merindukan dia ibu huhu, dia tega meninggalkan aku sendirian" tangis ku semakin menjadi.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup ku berjalan tanpa adanya dia teman seperjuangan yang begitu aku sayangi.
"Aku ingin ikut bersama kalian, aku gak mau hidup sendirian di dunia ini tanpa kalian yang aku sayangi, ibu aku mohon bawa aku pergi, aku tidak mau berada di sini" tangis ku dengan memeluk batu nisan milik ibu yang begitu aku sayangi.
"Aku ingin bersama kalian, aku mohon bawa aku pergi dari sini" kata ku dengan terus menangis.
Tiba-tiba aku merasakan ada orang yang mengusap punggungnya.
Dengan cepat aku langsung berbalik badan melihat siapa yang sudah mengusap punggung ku.
"Siapa kau?" tanya ku dengan air mata yang masih mengalir.
__ADS_1
"Nak aku ini nenek mu" kata nenek-nenek itu yang tersenyum ke arah ku.
"Tidak, kau bukan nenek ku, aku tau nenek ku, dia tidak seperti mu" kata ku tak percaya.
"Nenek yang kau sayang itu bukan nenek mu, dia bukan siapa-siapa mu, sedangkan dua orang yang kau tangisi ini juga bukan siapa-siapa mu" jawab nenek itu yang membuat ku sangat terkejut.
"Maksud mu apa, mereka berdua ini orang tua ku, kau jangan asal ngomong" kata ku tak terima.
"Dia bukan orang tua kandung mu nak, orang tua kandung mu selalu menangisi mu saat kau di nyatakan hilang dan tanpa sengaja dua orang ini menemukan mu lalu merawat mu, mereka bukan orang tua kandung mu nak" jawab nenek itu.
Aku shock mendengar itu semua.
"Aku tidak percaya, mereka itu orang tua ku, mereka yang sudah membesarkan aku, tak mungkin aku bukan anak mereka" kata ku membantah keras ucapan nenek itu.
"Mereka memang yang sudah membesarkan mu, tapi mereka tidak melahirkan mu" jawab nenek itu.
Aku diam mencerna baik-baik ucapan nenek itu.
Nenek itu tersenyum ke arah ku.
"Nenek tidak berbohong, kamu memang bukan anak kandung mereka" jawab nenek.
Aku terkejut bukan main kala nenek itu mendengar suara hatinya.
"B-bagaimana kau bisa mendengar suara hati ku?" tanya ku sangat terkejut.
Nenek itu hanya tersenyum saja.
"Jangan suara hati mu, aku juga tau kalau kamu bukan anak kandung mereka berdua" jawab nenek itu.
"Apa buktinya jika aku bukan anak bapak dan ibu?" tanya ku.
__ADS_1
"Ayo ikutlah dengan nenek, nenek akan tunjukkan di mana orang tua kandung mu agar kau percaya jika nenek berkata yang sebenarnya" ajak nenek itu.
"Apakah kau tidak berbohong nenek?" tanya ku masih tak yakin dengan semua hal yang dia ucapkan.
"Terserah pada mu mau percaya atau tidak, ayo kita temui ayah dan ibu kandung mu, dia berdua sudah sangat merindukan mu yang hilang sejak dulu, mereka terus mencari namun kau masih belum ketemu juga" jawab nenek itu.
"Baiklah aku akan mengikuti mu, awas saja sampai kau berbohong, aku tak mau percaya sama kau lagi" kata ku bersedia.
Nenek itu tersenyum lalu berjalan, aku mengikutinya dari belakang.
Aku menyeka sisa-sisa air mata yang mengalir di matanya dan terus berjalan mengikuti nenek misterius itu.
Setelah beberapa lama waktu kami habiskan tiba-tiba nenek itu berhenti di depan rumah besar yang ada di pinggir jalan.
"Kenapa nenek berhenti di sini, katanya mau menunjukkan di mana orang tua aku?" tanya ku penasaran.
"Lihat pemilik rumah ini itu adalah orang tua kandung mu, kau lihat itu, dia ibu mu, dia sangat bersedih karena kehilangan mu sejak dulu" tunjuk nenek itu pada seorang wanita yang sedang menyiram tanaman.
"Tak mungkin aku lahir dari keluarga kaya raya, bapak dan ibu ku saja orang yang tidak punya, aku tak percaya" kata
ku yang menolak fakta yang sudah ada.
"Nenek berbicara yang sesungguhnya, dia ibu kandung mu dan lihat itu ayah mu baru datang" tunjuk nenek itu pada mobil berwana putih yang masuk ke dalam rumah mewah dan besar itu.
"Itu bukannya dokter yang menangani ku di rumah sakit yang barusan aku tau kalau dia kehilangan anaknya, tak mungkin dia ayah ku, aku tidak percaya" kata ku begitu terkejut kala mengenali dokter itu.
"Itu terserah mu, mau percaya atau tidak yang penting nenek sudah bilang yang sesungguhnya, setelah kau siuman datangilah mereka dan katakan kalau kau anak mereka yang hilang selama ini" kata nenek itu.
Aku tidak mendengarkan apa yang nenek misterius itu katakan karena tatapan mata ku terus tertuju pada seseorang yang begitu membuatnya penasaran.
"Eh itu kok ada anak-anak perempuan yang sebaya dengan ku, ada di depan rumah ayah dan ibu ku, mereka mau ngapain sebenarnya?" tanya ku yang begitu sangat penasaran.
__ADS_1
"Mereka itu cuman orang yang mengaku-ngaku menjadi diri mu, mereka ingin mempunyai ayah dan ibu yang kaya raya biar hidup mereka bahagia, lihat anak-anak perempuan yang sebaya dengan mu itu di dampingi oleh ibunya, nenek yakin kalau mereka melakukan ini karena desakan ibu mereka dan juga keinginan mereka yang ingin hidup bergelimang harta" jawab nenek itu.