
Raisa sudah selesai di makamkan, para pelayat meninggalkan pemakaman satu persatu hingga menyisakan Azam dan Adam di sana.
"Kak aku balik ke pondok duluan" Azam mengangguk dengan pandangan yang masih terus tertuju pada makam Raisa.
Adam menghela napas, ia tau kakaknya masih sedih karena kehilangan Raisa, Adam membiarkan kakaknya berada di pemakaman karena ia tau kakaknya butuh waktu sendiri saat ini.
Kini di pemakaman ini hanya tersisa Azam seorang.
Tatapan Azam terus menatap ke arah makam Raisa, ia mengelus batu nisan Raisa dengan air mata yang sesekali mengalir tanpa aba-aba.
"Raisa maafkan aku, aku tau aku egois, andai aku tidak egois kamu pasti bisa menghirup udara saat ini, Raisa tolong maafkan aku, aku sungguh menyesal" penyesalan Azam kini sia-sia karena Raisa tidak akan bisa kembali lagi, dia sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Maafkan aku Raisa" lirih Azam yang masih bisa ku dengar.
Azam memeluk batu nisan itu dengan air mata yang terus mengalir, ia terisak di sana.
"Yeaay"
"Yeaay"
Sorakan gembira seseorang yang suaranya tak asing itu membuat tangisan Azam terhenti, ia melihat ke arah dua orang yang sedang bercanda di pemakaman umum ini.
"Raisa" Azam melihat ku yang bercanda dengan Rina di kuburan, ia bergegas mendekati ku.
"Azam aku tidak sakit lagi, aku sekarang sudah sembuh, aku tidak merasakan sakit lagi" teriak ku yang begitu gembira namun Azam malah diam mematung dengan hati yang hancur.
Aku mendekati Azam dengan wajah yang cerita meskipun pucat."Azam aku sekarang sudah sembuh, aku tidak sakit lagi, aku sembuh Azam"
Pemuda itu masih diam mematung, tubuhnya terasa terguncang saat ia tak bisa menyentuh ku, tangannya tak bisa menyentuh ku lagi seperti dulu.
__ADS_1
Azam menutup mata dengan kedua jadinya ia sungguh tak percaya kalau aku benar-benar sudah menjadi arwah bukan lagi sukma.
"Raisa kenapa kamu ninggalin aku?"
Aku diam dengan menunduk, sebenarnya aku tidak mau pergi meninggalkannya namun raga ku sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu lagi sehingga dia menutup mata untuk selamanya.
"Azam aku sebenernya gak ada niatan ninggalin kamu, tapi tadi dada aku sakiiit banget" pemuda itu malah semakin terisak.
"Aku gak kuat nahan, ya sekarang gini deh jadinya, tapi gak apa-apa Azam, aku sekarang sudah gak sakit lagi, aku sudah sembuh" aku menyunggingkan senyum padanya yang terus menangis.
"Raisa kenapa kamu tega ninggalin aku, kenapa kamu tidak nahan rasa sakit itu, apa kamu tidak bisa, demi aku?"
"Maaf Azam, aku tidak bisa, rasa sakit itu begitu luar biasa, aku tidak bisa menahannya lagi, sekarang kamu kan sudah punya istri, kamu pasti akan hidup bahagia setelah ini karena orang yang selalu gangguin kamu sudah pergi, mulai dari detik ini aku tidak akan ganggu kamu lagi, kamu bisa hidup bahagia bersama istri mu" rasanya sakit saat mengatakan hal itu namun aku masih berusaha untuk tersenyum di saat hati yang hancur.
Pemuda itu terus menggeleng."Tidak Raisa, kamu jangan pergi, aku tidak mau kamu pergi"
"Aku tidak bisa berada di sini lagi Azam, di sini bukan tempat lagi, aku harus pergi, aku akan pergi bersama Rina, dia gak akan gangguin kamu dan juga santri-santri di ponpes lagi, kamu bisa hidup tenang setelah ini Azam, ya kan Rina" Rina mengangguk dengan di sertai senyuman manis.
Azam masih terus menangis, tubuhnya bergetar hebat.
"Azam aku sama Rina pergi dulu ya, kamu hati-hati di sini, jangan lupa bahagiain istri mu, jangan sakiti dia"
"Rai" lirih Azam.
"Secepat ini kamu akan pergi?"
Aku mengangguk dengan di sertai senyuman."Iya Azam, aku memang harus pergi, di sini bukan lagi tempat ku"
"Apa kamu tidak ingin apa-apa lagi?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin apa-apa lagi, tidak ada orang yang aku khawatirkan karena kepergian ku, kamu sudah punya istri, dia pasti akan menjadi teman hidup mu dan akan selalu menemani mu, aku tidak khawatir lagi pergi meninggalkan mu karena sekarang akan ada orang yang akan selalu kamu jaga dan aku yakin kamu gak akan biarin dia terluka"
"Raisa bagaimana dengan orang tua mu?"
Sontak aku langsung diam.
"Apa mereka tau kalau kamu sudah meninggal?"
"Mereka tidak tau, percuma ngasih tau mereka karena saat ini mereka sudah nemuin orang asing yang wajahnya sama persis seperti mama saat masih muda dan bodohnya mereka langsung percaya begitu saja ketika orang asing itu masuk ke dalam keluarga mereka, mereka sangat senang karena pada akhirnya anak yang mereka cari-cari ketemu, andai mereka tau kalau aku adalah anak kandungnya, aku tak akan sanggup melihat tangisan mereka, karena kini aku tidak akan bisa bersama mereka"
Jleb!
"J-jadi karena masalah ini Rais milih untuk nutup matanya selamanya, ya Allah seegois ini ku hingga tanpa sadar tindakan ku telah menyakiti hati salah satu hamba mu, maafkan aku ya Allah, maafkan aku" batin Azam.
"Zam sudah waktunya aku sama Rina pergi, kamu jaga diri baik-baik ya, walaupun kamu sekarang sudah punya istri, plis jangan lupain aku" pertahanan ku runtuh, aku yang sedari tadi berusaha untuk tetap tegar dan tidak akan menangis kini semuanya hancur.
"Raisa aku tidak akan pernah lupain kamu, seumur hidup ku aku tidak akan pernah lupain kamu walau sedetik pun, kamu tidak usah khawatir akan hal itu" jawab Azam dengan air mata yang terus mengalir.
Aku memeluk tubuh pemuda itu untuk yang terakhir kalinya namun tidak bisa, aku tidak bisa menyentuh Azam dan Azam juga tidak bisa menyentuh ku.
Alhasil kami menangis bersama, hari ini kami sadar kalau semesta memang tidak menakdirkan kami untuk bersama.
Kami menangis untuk beberapa menit di pemakaman yang sepi ini.
"Azam aku pergi dulu ya" Azam mengangguk dengan air mata yang sesekali mengalir.
"Kamu jaga diri baik-baik"
"Maafin aku Raisa" aku tersenyum, aku tau dia merasa bersalah atas kepergian ku.
__ADS_1
"Kamu tidak salah apa-apa, tidak yang patut di salahin dalam hal ini, ini sudah menjadi jalan akhir hidup ku, semesta sudah menulisnya sebelum aku lahir ke dunia ini"