
Aku masuk ke dalam mobil dokter Kevin yang melaju dengan cepat menuju jalan melati yang di sana ada orang yang sudah nyulik aku sejak aku masih kecil.
Terlihat guratan kecemasan yang terpancar di wajah dokter Kevin namun aku malah tersenyum melihat hal itu.
"Ternyata papa sangat menyayangi ku, hanya saja takdir memisahkan kita sehingga aku tak dapat melihat kasih sayangnya"
"Pa aku akan berusaha untuk kembali ke dalam raga lagi, kau tunggulah aku kembali"
Dokter Kevin terus melajukan mobil hingga berhenti tepat di depan rumah yang sederhana yang berada di jalan melati.
Dokter Kevin dengan terburu-buru keluar dari dalam mobil dan mendekati seseorang yang sangat ia kenal.
"Bahar di mana anak ku?" om Bahar tidak menjawab, ia menatap linglung ke arah dokter Kevin.
"Bahar jawab pertanyaan ku, di mana anak ku yang sudah kamu culik?" dokter Kevin menaikan volume suaranya ia nampak geram sekali pada om Bahar yang sudah menculik ku saat aku masih kecil.
"Aku tidak tau, aku tidak tau" dokter Kevin mengerutkan alis saat melihat jika om Bahar seperti orang yang tidak waras.
"Tidak mungkin kau tidak tau, cepat katakan di mana kau nyembunyiin anak ku?" titah dokter Kevin tegas.
"Aku ambil dia rumah sakit, lalu aku taruh di gerobak sampah, aku tidak tau lagi setelah itu" jawab om Bahar dengan wajah linglung.
Dokter Kevin mengacak rambutnya kasar, walaupun orang yang sudah menculik ku selama ini sudah ketemu namun percuma, dia tidak memperoleh apapun yang ia mau.
"Di mana kau menaruhnya?" om Bahar diam, ia mencoba mengingat lagi peristiwa yang terjadi 17 tahun yang lalu.
"Aku tidak tau Kevin, aku tidak ingat lagi, aku lupa" dokter Kevin berteriak dengan nyaring di sana, ia begitu frustasi saat anaknya benar-benar tak di temukan.
"Maafkan aku Kevin, aku tak bermaksud ngelakuin ini pada mu, aku waktu itu hanya ingin ngambil jabatan mu saja, mangkanya aku ngelakuin ini, namun hal itu sia-sia, aku tidak bisa ngambil jabatan mu, kini aku menyesal karena ngelakuin itu" sesal om Bahar teman baik dokter Kevin selama ini, namun siapa sangka kalau om Bahar ternyata musuh di dalam selimut.
__ADS_1
"Walaupun kau sudah menyesal kau tidak bisa ngembaliin anak ku, anak satu-satunya yang aku miliki, di mana hati mu Bahar, kenapa kau tega sekali pada ku, kau teman macan apa hah!" geram dokter Kevin pada om Bahar.
"Aku minta maaf Kevin, aku ngaku salah, tolong maafkan aku, aku tidak akan ngulangi kesalahan ku lagi" om Bahar tersipu di kaki dokter Kevin.
Dokter Kevin berjongkok menyamai tingginya dengan tinggi om Bahar."Aku memaafkan mu, karena aku tau marah pada mu tak akan bisa ngembaliin putri ku"
Senyuman terbit di wajah om Bahar."Terima kasih Kevin, terima kasih"
"Sama-sama, jaga diri mu baik-baik, aku pergi dulu" om Bahar mengangguk kemudian dokter Kevin masuk ke dalam mobil putih dan melesat pergi meninggalkan rumah om Bahar yang sederhana.
Om Bahar terus memperhatikan mobil itu yang kini sudah hilang dari pandangannya.
"Maafkan aku Kevin, maaf aku sudah membuat mu jauh dari putri mu, andai aku sadar lebih dulu, mungkin kau tidak akan sekacau ini karena kehilangan anak mu, ku doakan semoga kau bisa bertemu dengan anak mu lagi" harapan om Bahar.
Aku melihat kalau om Bahar benar-benar merasa bersalah."Walaupun dia sudah misahin aku dari papa dan mama ku, tapi melihat keadaannya yang seperti ini, aku tidak jadi marah padanya, mungkin inilah lika-liku kehidupan ku"
Tiba-tiba aku teringat sesuatu."Aku harus ke pondok, aku harus temuin Azam, dia pasti tau kenapa aku tidak bisa kembali ke dalam raga lagi, aku masih hidup, tapi kenapa raga ku menolak saat aku hendak masuk ke dalamnya, dia pasti tau alasannya, sekarang aku harus pergi ke sana"
Di jalanan banyak sekali kendaraan roda dua dan empat yang memenuhinya, di bawah teriknya matahari aku terus berjalan dengan langkah santai, tak terburu-buru karena yang penting selamat sampai tujuan.
Setelah 34 menit waktu ku habiskan untuk berjalan, kini aku berhenti tepat di depan pondok pesantren Al-ikhlas yang menjulang tinggi itu.
"Aku harus cari Azam, aku harus nanya sama dia" aku masuk ke dalam pondok pesantren itu dengan leluasa, tidak ada orang yang marah pada ku karena mereka kebanyakan tidak bisa melihat ku.
Aku masuk ke dalam kamar Azam, namun kamar itu kosong, Azam tidak ada di sana.
"Kemana Azam, kenapa tidak ada di sini, pergi kemana dia?" panik ku kala tidak menemukannya.
"Aku harus cari dia di pondok ini, dia pasti ada di sini" aku melangkah keluar dari dalam kamar itu dan mencari keberadaan Azam di sekitar area pondok.
__ADS_1
"Di mana Azam, apa dia berada di sekolahan lagi ngajar?"
"Coba deh aku ke sana, aku harus periksa semua tempat yang ada di ponpes ini" aku melangkah menuju sekolahan dan meriksa satu persatu kelas barang kali menemukannya.
Aku mengecek satu persatu kelas namun tidak ada dia yang aku cari-cari.
"Di mana Azam sebenarnya, pergi kemana dia, kenapa dia gak ngajar, aku harus cari Indomie, dia pasti tau Azam pergi kemana" aku beralih mencari Adam.
Langkah ku tiba-tiba terhenti saat mata ku menangkap seorang wanita yang sangat aku kenali berdiri di pojokan.
"Rina"
"Jangan mendekat" teriak Rina.
"Kenapa rin?" aku melangkahkan mendekatinya.
"Ku bilang jangan mendekat" aku pun berhenti dan merasa aneh padanya.
"Ada apa rin, kenapa kamu ngusir aku, apa salah ku?"
"Salah mu banyak, aku benci pada mu, aku kira kau datang ke sini hanya karena ingin minta bantuan saja pada Azam, namun ternyata kau juga ngambil dia dari ku, aku benci pada mu Raisa"
Aku diam, aku tau Rina sangat mencintai Azam dan kehadiran ku di sini membuatnya membenci ku karena tanpa sadar aku mengambil Azam darinya.
"Maafkan aku Rina, aku tidak bermaksud"
"Pergi kamu dari sini, jangan pernah datang lagi ke sini, pergi sana" usir Rina.
Aku mengangguk."Aku akan pergi setelah Azam bersedia bantu aku kembali ke dalam raga ku, kau tidak perlu khawatir, cepat atau lambat aku pasti akan pergi juga"
__ADS_1
"Sekarang pergi kamu dari sini, jangan pernah datang lagi ke sini, aku tidak suka kau mengambil Azam dari ku, dia itu milik ku dan selamanya akan menjadi milik ku, kau jangan coba-coba rebut dia dari ku"
Aku mengangguk dengan langkah lemas aku berjalan meninggalkan Rina yang sedang marah-marah pada ku.