Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Menunggu malam


__ADS_3

"Aku harus cek gadis itu, dia masih ada di sana atau tidak, semoga saja dia masih berada di dalam kamar ku, kalau sampai dia pergi dari sana, kemungkinan besar aku tidak akan bisa menolongnya untuk keluar dari dalam tempat ini" kata Shaka berjalan terburu-buru menuju kamarnya untuk menemui ku.


Shaka berhenti tepat di depan kamarnya, ia melihat ke kanan dan kiri sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Saat sudah memastikan tidak ada orang yang terlihat, Shaka kemudian membuka pintu.


Aku yang melihat pintu terbuka langsung terkejut.


"Hah apa jangan-jangan pangeran itu tau kalau aku berada di sini" kaget ku yang sangat tercekat melihat gagang pintu yang bergerak.


Aku di landa rasa panik saat pintu itu perlahan-lahan terbuka.


"Arrrrgghh tolong jangan bunuh aku, aku masih mau hidup, aku tidak mau mati" teriak ku dengan mata yang terpejam.


"Sstt jangan berisik, ini aku bukan pangeran" kata Shaka dengan suara pelan.


Aku langsung berhenti berteriak dan melihat siapa yang masuk ke dalam kamar ini.


"Kau" kaget ku.


"Iya, ini aku, kau jangan kaget seperti itu" jawab Shaka.


"Aku mohon pada mu tolong keluarkan aku dari sini, aku tidak mau berada di sini selamanya, di sini bukan tempat ku, aku ingin pulang" tintah ku berharap dia mau membantu ku untuk keluar dari tempat aneh ini.


"Aku akan membantu mu tetapi tunggu malam hari tiba, karena hanya waktu-waktu seperti itu, aku bisa membawa mu keluar dari dalam alam ini" kata Shaka.


"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya ku.


"Tidak bisa Raisa, kalau aku membawa mu keluar dari dalam alam ini sekarang juga, aku hanya takut paman dan anggota kerajaan lainnya tau kalau kamu berada di dalam kamar ku, bisa-bisa kamu akan di tangkap oleh mereka, gak cuman kamu, tetapi aku juga pasti akan terima masalah, jadi sekarang mengertilah" jawab Shaka.


"Baiklah kalau seperti itu, yang penting kau mau kan bantuin aku?" tanya ku memastikan kembali.


"Iya, aku akan membantu mu, untuk itu kamu harus berada di dalam kamar ini, jangan sekali-kali berani keluar dari dalam kamar ini karena situasi di luar sedang tidak aman" peringatan Shaka.


"Baik, aku akan tetap berada di sini sampai malam hari tiba, aku mohon pada mu keluarkan aku dari sini, aku tidak mau berada di sini, aku masih mau hidup, aku tidak mau mati" kata ku.

__ADS_1


"Aku akan nolongin mu, kamu tidak usah cemas, kamu tetaplah berada di sini, aku mau melihat situasi dulu, jangan sekali-kali kamu berani keluar dari dalam kamar ini" kata Shaka.


Aku mengangguk patuh.


"Iya, aku tidak akan pergi dari sini" jawab ku.


"Aku mau pergi dulu, jangan keluar walaupun ada orang yang ngetuk pintu karena itu bukan aku, mengerti" kata Shaka.


"Mengerti" jawab ku.


"Ingat jangan keluar" peringatan Shaka.


Aku hanya mengangguk patuh, kemudian Shaka keluar dari dalam kamar ini.


"Syukurlah Shaka tidak berkhianat seperti yang aku bayangkan, semoga saja dia bisa membantu ku untuk keluar dari dalam alam ini, aku tidak mau berada di sini selamanya, aku masih ingin hidup di dunia dan menggapai cita-cita ku" kata ku yang sudah tak betah sama sekali berada di alam yang sangat aneh ini.


"Azam tolong bantu aku keluar dari alam ini, aku mohon pada mu" tintah ku berharap Azam datang dan membantu ku.


Aku duduk di kasur menunggu Shaka kembali untuk mengajak ku keluar dari dalam alam gaib ini.


Di sisi lain.


"Ayo cepat bawa aku ke sana, aku harus tolong Raisa, dia pasti butuh bantuan ku" kata Azam yang sudah tidak sabaran.


"Iya kak" jawab Adam.


Adam terus memapah kakaknya itu untuk sampai di sekolahan terbengkalai itu.


"Azam"


Panggil seseorang yang membuat langkah keduanya terhenti.


Mereka berdua berbalik badan menghadap ke belakang.


"Pak kyai"

__ADS_1


Terkejut keduanya yang baru tau kalau suara panggilan itu dari pak kyai.


Pak kyai menghampiri mereka berdua.


"Kalian ngapain berada di sini?" tanya pak kyai.


"Anu" gagap Azam.


"Anu apa?" tanya pak kyai.


Keduanya diam tak bergeming karena saat ini di otak mereka tidak terdapat ide satupun.


"Bagaimana ini, aku harus jawab apa, tak mungkin aku bilang yang sebenernya pada pak kyai, dia tidak akan percaya pada ku dan malah melarang ku untuk pergi mencari Raisa di dalam sekolahan terbengkalai itu" batin Azam yang panas dingin.


"Jawab, ngapain kalian berada di sini, di sini itu tempat terlarang, kalian tidak boleh berada di sini, ayo kembali ke asrama, jangan berada di sini" ajak pak kyai.


"Baik pak kyai" jawab keduanya.


Kedua kakak itu kemudian berjalan mengikuti pak kyai dari belakang.


"Raisa, aku harus cari Raisa, tapi bagaimana caranya aku bisa nyari dia sedangkan aku tidak memiliki alasan apapun untuk ku berikan pada pak kyai sehingga beliau bisa setuju aku masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu untuk mencari Raisa" batin Azam.


"Aku khawatir sekali padanya, aku takut ada apa-apa dengannya, tapi apa yang harus aku lakukan untuk bisa pergi" batin Azam yang terus memikirkan cara.


Adam melihat kakaknya yang tidak tenang dan terlihat sangat cemas.


"Adam aku ingin pergi ke sekolahan itu, aku harus cari Raisa" bisik Azam dengan suara yang sangat pelan.


"Aku tau kau ingin mencarinya, tetapi untuk saat ini jangan dulu, karena aku hanya takut pak kyai curiga, bakalan panjang masalahnya jika sampai pak kyai tau kalau kita mau mencari Raisa di dalam sekolahan terbengkalai itu" jawab Adam.


"Tapi Adam Raisa sedang butuh bantuan ku, dia pasti ketakutan berada di sana, aku harus bantuin dia Adam, aku tidak bisa biarkan dia terjebak selamanya di dalam sekolahan terbengkalai itu" kata Azam.


Adam menghembusakan napas ia tau kalau kakaknya sangat cemas pada ku tetapi saat ini keadaan sedang tidak mendukung untuknya dan Azam pergi ke sekolahan terbengkalai itu.


"Nanti kita cari Raisa, sebelumnya kita harus pikirkan cara sebelum masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu, karena aku merasa bakalan ada banyak rintangan yang akan kita hadapi saat masuk ke dalamnya, kita harus memikirkan rencana matang-matang sebelum masuk ke dalamnya, karena takutnya kita juga tidak bisa keluar dari dalam sekolahan terbengkalai itu seperti layaknya santri-santri yang dulu hilang di sana" kata Adam.

__ADS_1


"Iya, nanti kita cari cara sebelum masuk ke sana" jawab Azam.


Keduanya terus berjalan mengikuti pak kyai.


__ADS_2