Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Terpaksa di usir


__ADS_3

"Kenapa suara itu mirip seperti suaranya Rina, apa jangan-jangan hantu itu beneran Rina, tapi kenapa tubuhnya hancur lebur seperti itu" kata pak poci masih belum yakin sepenuhnya.


"Tolong, pak kyai tolong kami" teriak keduanya.


"Pak kyai tolong kami dari hantu itu" teriak mereka hampir mendekati rumah pak kyai.


tok


tok


tok


tok


tok


Mereka berdua mengentuk pintu dengan membabi buta.


"Pak kyai tolong kami hiks hiks" tangis mereka.


Mereka sudah sangat ketakutan dengan Rina yang begitu menyeramkan di mata mereka.


"Maria hantu itu datang, bagaimana ini, kenapa pak kyai tak kunjung membuka pintu huhu" tangis Fatimah.


Mendengar hal itu Maria menjadi panik sekali.


tok


tok


tok


"Pak kyai tolong kami" teriak mereka semakin di landa kepanikan.


"Kalian tidak akan bisa lari dari ku, aku akan memberi kalian pelajaran karena sudah berani bermain-main dengan ku" kata Rina sinis.


Rina mendekati mereka dengan sorot mata tajamnya.


"Pak kyai tolong kami huhu" tangis mereka.


"Kalian jangan berisik" bentak Rina.


"Akkkh jangan dekati kami, mundur kau" teriak Fatimah.


"Pak kyai tolong kami, dia akan membunuh kami, tolong pak kyai" teriak Maria sekencang mungkin.


"Diam jangan berisik" bentak Rina mendekat.


"Pak kyai tolong kami huhu" tangis Fatimah.


"Sudah ku bilang jangan berisik, kenapa kalian masih berisik" hardik Rina marah besar.


"Aku tidak mau, pergi kau dari sini, jangan ganggu kami" teriak Maria.


"Tak akan aku biarkan kalian hidup setelah kalian membuat tubuh ku hancur lebur seperti ini" bentak Rina.


"Itu balasan untuk mu, kau jangan dekati kami, diam di sana, jangan bergerak lagi, singkirkan pisau itu" teriak Maria.


"Haha tak akan aku mendengarkan ocehan tak jelas mu itu, aku tidak mau menuruti mu, kau harus mati di tangan ku" jawab Rina dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Pergi jangan dekati kami huhu" tangis Fatimah.


"Pak kyai tolong kami, dia akan membunuh kami, tolong kami pak kyai" teriak Maria.


Rina tersenyum sinis ia memegang pisau yang sudah siap mengarah pada mereka.


"Hahaha tak akan ada yang membantu kalian walau satupun, aku jamin itu" tawa Rina menggelegar.


Tangis mereka semakin pecah mendengar ancaman Rina yang tidak dapat di remehkan.


tok


tok


tok


tok


tok


Tak henti-hentinya mereka mengetuk pintu.


Rina semakin mendekati mereka dan-


"Akkkhh pak kyai tolong kami" kata mereka saat pintu terbuka.


Pak kyai itu mematung melihat hantu yang berdiri dengan tubuh yang hancur lebur sambil memegang pisau.


Darah-darah mengalir di sela-sela anggota badan Rina yang tidak bersatu secara sempurna.


"Pak kyai apakah kau mengingat ku?" tanya Rina.


"Yah aku Rina, kau tau kan aku siapa dan kenapa aku meninggal?" tanya Rina.


"Mengapa kau ada di sini, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak kyai.


"Saat kematian ku datang, aku tak kembali ke alam selanjutnya, aku masih berkeliaran di sekitar sini, kau tau, aku juga yang telah membuat para santri-santri mu berhenti secara tiba-tiba, aku hebat bukan" jawab Rina dengan tersenyum penuh makna tersirat di dalamnya.


"Pak kyai tolong kami, dia akan membunuh kami" kata mereka berdua bersembunyi di belakang pak kyai.


"Apa mau mu?" tanya pak kyai.


"Aku mau dua anak itu untuk ku habisi" jawab Rina.


"Mengapa kau ingin mengahabisi mereka?" tanya pak kyai.


"Pertama mereka telah menghina ku, kedua mereka yang sudah membuat tubuh ku hancur lebur seperti ini, aku tak akan membiarkan mereka hidup, menyingkir kau, aku akan menghabisi mereka jangan halangi jalan ku" jawab Rina.


"Owh jadi tubuh Rina hancur karena mereka, apa sih sebenarnya yang terjadi sehingga Rina semarah itu sama mereka berdua, aku harus cari tau" kata pak poci melihat dari kejauhan.


"Pergi kau Rina jangan ganggu santri di sini, kau sudah meninggal sejak dulu, kenapa kau masih tak kunjung pergi ke alam mu, apa yang kau tunggu lagi?" tanya pak kyai.


"Aku masih menunggu Azam menerima cinta ku, aku tak akan pergi kembali ke alam selanjutnya, aku belum puas berada di sini, kau jangan halangi jalan ku, menyingkir lah, aku menginginkan dua santri tak berguna itu" jawab Rina.


"Jangan ganggu mereka, pergi kamu dari sini" kata pak kyai.


"Aku tidak mau, kau jangan mengusir ku, aku tak akan pernah pergi" jawab Rina.


"Jika kau tidak mau di usir dengan baik-baik, terpaksa saya akan mengusir mu dengan cara saya sendiri" kata pak kyai.

__ADS_1


"Lakukan saja, aku ingin lihat cara apa yang akan kau lakukan" enteng Rina.


"Bismillahirrahmanirrahim Allahu laa ilahaa huwal hayul qayyum laa ta' khudzuhuu sinataw walaa naum" kata pak kyai membaca ayat kursi.


"Akkkh panas jangan teruskan, hentikan" teriak Rina meraung kepanasan.


"Lahuu maa fissamaawati wa maafil ardli man dzal ladzii yasyfa'u indahuu illaa biidznih" kata pak kyai.


"Berhenti panas" teriak Rina.


"Ya' lamu maa baina aidihim wamaa kholfahum wa ala yuhuithuuna bisyai'im min ilmihi illaa bi maa syaa" kata pak kyai.


"Akkkhh berhenti jangan lanjutkan, panas" teriak Rina.


"Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya'uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal aliyyul adhiim" kata pak kyai.


"PANAS" teriak Rina kencang.


Pak kyai melanjutkan membaca surah Al-Ikhlas al-Falaq dan An-Nas sampai selesai.


"Pergi dari sini dan jangan ganggu santri ini lagi" usir pak kyai.


Rina lalu menghilang meninggalkan mereka.


"Huhu" tangis mereka berdua.


"Sudah nak, jangan nangis, dia sudah pergi" kata Bu nyai menenangkan.


"Kalian duduk dulu di sana" kata pak kyai.


Mereka menuruti perintah.


"Kenapa Rina bisa mengejar kalian berdua, ada apa sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan?" tanya pak kyai.


"Begini pak kyai, sebelum kami tidur salah satu teman kami yang bernama Amaira menceritakan tentang seorang santriwati yang rela bunuh diri karena cintanya di tolak oleh Ustadz Azam" jawab Maria.


"Lalu?" tanya Bu nyai.


"Dia menceritakan semuanya, kami tadi tak sengaja menghinanya lalu hantu itu muncul dan mengejar kami semua" jawab Maria.


"Ini yang namanya Amaira?" tunjuk pak kyai pada Fatimah.


"Bukan pak kyai, nama saya Fatimah, saya bukan Amaira" jawab Fatimah.


"Kemana yang namanya Amaira?" tanya Bu nyai.


"Saat berlari kita terpisah, kata hantu itu Amaira berada di jemuran, dia telah menusuk perut Amaira, tolong dia pak kyai" jawab Maria.


"Kalian cuman bertiga saja?" tanya Bu nyai.


"Kami berempat Bu nyai, saya tidak tau kemana satunya, yang jelas dia juga terluka gara-gara hantu itu" jawab Maria.


"Kalian tunggu saja di sini, Ummi jaga dua santri ini, Abi mau membangunkan Azam dan santriwan lainnya untuk mencari dua santri itu" tintah pak kyai.


"Baik Abi" jawab Bu nyai.


Pak kyai melangkah memasuki asrama santriwan.


"Kalian tenang ya, in sya Allah kalian aman di sini, minum dulu biar tidak tegang" kata Bu nyai.

__ADS_1


"Terimakasih Bu nyai" jawab mereka berdua meminum air.


__ADS_2