
Aku kembali mencari Azam, namun di sekolahan ini tidak ada dirinya, aku sudah mencarinya kemanapun, tapi tetap saja tidak ada.
"Di mana Azam, kenapa gak ada di sini, apa dia lagi ada di rumah sakit jagain santri-santri itu?" aku menghembuskan napas lesu.
"Aku kan baru dari rumah sakit, masa aku ke sana lagi, lebih baik aku tunggu aja Azam di depan kamarnya, nanti dia juga akan pulang"
"Iya, aku lebih baik tunggu di sana aja, Azam nanti juga akan pulang"
Aku melangkah menuju kamar Azam.
Belum sempat aku sampai di kamarnya, mata ku tak sengaja menangkap seorang wanita cantik sekali yang berjalan menunduk.
"Siapa wanita itu, kenapa aku baru lihat dia di sini?"
"Eh tunggu-tunggu kenapa dia masuk ke sini, apa dia gak takut di hukum?"
Aku terus memperhatikan wanita itu yang sebaya dengan Azam berjalan menuju ke kediaman pak kyai.
"Mau apa di ke sana, aku harus ikutin dia"
"Aku rasa dia punya tujuan tertentu datang ke sini, aku harus cari tau apa tujuannya datang ke sini" aku membuntuti wanita cantik itu yang berjalan menuju ke kediaman pak kyai dengan terus menunduk.
Semua kaum adam yang berpapasan dengannya berhenti dan langsung memundurkan pandangan.
"Kenapa mereka semua pada nunduk, siapa wanita itu sebenarnya?"
"Kenapa aku merasa dia orang yang terpandang, sepertinya dia memang bukan wanita sembarang, aku harus ikutin dia dan cari tau siapa dia sebenarnya" aku terus membuntuti wanita itu yang berjalan menuju ke kediaman pak kyai yang sudah tidak jauh lagi.
"Assalamualaikum abi ummi mas Azam" salam wanita cantik itu ketika sampai di ke kediaman pak kyai.
"Wa'alaikum salam ning Aisfa" jawab Azam dengan terus menunduk.
"Duduk sini nak" titah bu nyai.
Ning Aisfa menurut, ia duduk di samping bu nyai.
__ADS_1
"Oh jadi namanya Aisya" aku manggut-manggut ketika tau siapa nama wanita yang membuat ku penasaran sehingga aku mengikutinya sampai ke sini.
Aku berdiri di ambang pintu, mereka tengah berkumpul di ruang tamu, Azam terus saja menunduk tak menatap wajah ning Aisfa sedikitpun.
"Azam Aisfa sudah lulus pondok, waktu itu kamu pernah janji akan menikahinya setelah dia lulus dari pondok bukan?" Azam mengangguk, ia dulu pernah berjanji akan menikahi ning Aisfa saat ning Aisfa sudah lulus pondok.
"Besok pernikahan kalian akan di selenggarakan, saya mau kamu menikahi Aisfa secepatnya"
"Baik pak kyai, besok saya akan menikahi ning Aisfa" jawab Azam.
DEG!
Hancur rasanya hati ku saat mendengar kalimat itu yang keluar dari bibir orang yang ku cintai.
Setetes air mata mengalir tanpa aba-aba.
Aku melangkah mundur dengan hati yang hancur saat tau bahwa Azam akan menikahi wanita lain.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi, ini tidak boleh terjadi" lirih ku dengan terus berjalan mundur.
Aku tak sanggup berada di sini lebih lama lagi, aku berlari pergi dari sana dengan air mata yang terus mengalir.
Aku keluar dari dalam pondok pesantren dan berlari ke rumah sakit.
"Baik pak kyai besok saya akan menikahi ning Aisfa" ucapan Azam terus terngiang-ngiang di benak ku.
Aku menangis di pinggir jalan yang sepi, aku memegangi dada ku yang terasa sakit saat mendengar kalau dia akan menikahi orang lain.
"Azam jahat, Azam tega, aku benci padanya, aku benci" teriak ku dengan memukul pohon yang berada di depan taman.
"Dia tega, dia buaya, aku benci, aku benci padanya, aku benciii" teriak ku sekeras yang ku bisa.
Aku menangis dengan memukul pohon itu untuk melampiaskan segalanya.
"Arrrrgghh" teriak ku lalu terduduk di bawah dengan bersandar pada pohon itu.
__ADS_1
"Aku benci padanya, dia bilang dia mencintai ku, tapi rupa-rupanya dia sudah berjanji akan menikahi wanita lain, lalu apa maksudnya selama ini, apa dia cuman menjadi ku sebagai permainan?"
Aku memukul tanah itu dengan kesal."Kenapa aku tidak sadar selama ini, kenapa aku bodoh sekali, aku bodoh, aku memang bodoh, dan sekarang aku menanggung segalanya dari kebodohan ku, aku memang bodoh, aku bodoh" aku terus berteriak dengan air mata yang terus mengalir.
"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa?"
"Aku benci padanya, aku benci, aku benciiii"
Aku terus menangis di bawah pohon rindang itu, aku tak menyangka jika Azam akan membuat ku seterluka ini, aku kira dia akan menjadikan ku ratu seperti janjinya dulu, namun aku salah, jatuh cinta padanya adalah kesalahan terbesar ku.
"Kenapa dia tega, kenapa dia tega sekali, dia tega, aku benci padanya, aku benci, aku benci pada mu Azam" lirih ku yang terus terisak di bawah pohon rindang itu.
Aku menangis sejadi-jadinya di sana, semua ku tumpahkan di sana, tidak ada orang yang melihat ku, aku bebas berteriak dan menangis semau ku.
"Raisa, Raisa Raisa, tenangkan diri mu, kamu harus tenang, kamu tidak boleh gini, kamu harus bisa tenang" aku berusaha mengendalikan diri ku yang saat ini sedang kacau.
"Lupakan Azam, ayo sekarang kamu ke rumah sakit, kamu berusahalah sendiri untuk bisa kembali ke dalam raga lagi, ayo kamu harus ke sana, kamu harus bisa kembali"
Aku menyeka air mata dan berlari menuju rumah sakit yang masih sangat jauh.
Rasa lelah tak terasa sama sekali di dalam diri ku, air mata mengalir di sepanjang perjalanan, ingatan pada ucapan Azam barusan dan seluruh moment-moment yang ku alami bersamanya terus berputar-putar di benak ku.
Sesekali aku berhenti, tubuh ku perlahan-lahan mulai melemah, aku mengira itu terjadi karena aku terus menangis.
"Arrrrgghh" teriak ku frustasi.
Aku tidak pernah membayangkan akan berada di titik ini, aku mengira saat aku kembali ke dalam raga, aku akan merasakan kebahagiaan, keinginan itu belum terjadi kini aku sudah di sambut dengan luka yang hebat.
"Aku benci padanya, aku benciii" teriak ku di tengah jalanan yang ramai, banyak kendaraan yang hilir mudik berlalu lalang namun aku tidak peduli, aku tidak peduli mereka mendengar ku atau tidak, aku tidak peduli sama sekali.
Aku kembali berlari menuju rumah sakit, saat sampai di sana aku langsung masuk ke dalam ruangan ICU menemui raga ku.
Tangis ku kembali pecah saat raga ku masih terbujur kaku seperti mayat hidup dan tak akan tanda-tanda akan siuman.
Dengan tangan gemetaran aku mendekati raga ku.
__ADS_1
"Aku harus bisa kembali ke dalam raga, aku harus bisa, aku harus bisa kembali, aku harus bisa" aku menyeka air mata dan menatap ke arah raga ku.