Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Tamat


__ADS_3

Mereka menatap Azam dengan wajah bingung.


"Pak Kevin apakah anda ingat pada Raisa Vallensia, gadis kecil berusia 17 tahun yang merupakan pasien anda yang meninggal dunia pada 10 tahun yang lalu?"


Dokter Kevin diam, ia mencoba mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.


"Dia kecelakaan bus, di antara seluruh penumpang hanya dia yang berhasil selamat, apa pak Kevin tidak ingat padanya?"


"Raisa Vallensia, kecelakaan bus, oh iya aku ingat padanya, dia gadis yatim piatu yang sempat selamat dari kecelakaan maut itu meski pada akhirnya dia juga ikut menyusul teman-temannya, kenapa dengan dia, apa hal ini ada hubungannya dengannya?"


"Tentu saja ada, dia adalah anak kandung mu yang asli, bukan dia" lirikan mata Azam kembali jatuh pada Jihan yang kini sudah panas dingin.


"Bagaimana mungkin, ini anak ku, dia anak kandung ku yang hilang 17 tahun yang lalu, bukan gadis itu, kamu jangan asal ngomong ya"


"Pak Kevin, bu Hana, Raisa Vallensia itu adalah anak kalian, dia sedari kecil di asuh oleh orang yang hidup sederhana jauh dari kaya raya, namun dia sangat bahagia hingga suatu hari takdir merenggut kedua orang


tua sambungnya, setelah itu dia hidup sendiri di usianya yang masih sangat kecil, dia berjuang di dunia ini sendiri, sampai kecelakaan maut itu terjadi, dia terpisah dari raganya, ibu sama bapak mau percaya atau tidak silahkan, tapi saya mengatakan hal ini dengan sejujur-jujurnya"


"Lalu apa yang terjadi padanya?"


"Dia di pertemukan dengan nek Sumbi, dari nek Sumbi dia tau kalau kalian adalah orang tua kandungnya, namun belum sempat ia ingin datang dan mengatakan hal itu pada kalian, semesta malah mengambilnya dari kalian, tepat di hari dia datang ke dalam kehidupan kalian" sekali lagi lirikan mata Azam jatuh pada Jihan.


"J-jadi kamu bukan anak kami?" tak percaya bu Hana saat tau kenyataan pahit ini.


"Mama maafin aku, aku terpaksa ngelakuin ini, sungguh aku sangat terpaksa ma, aku tidak berniat menggantikan posisinya" sesal Jihan yang merasa bersalah selama ini.


Tangis bu Hana tumpah, ia tak menyangka akan kembali di permainkan oleh manusia.


"Ibu bapak sebenernya dia tidak minta saya untuk memberi tau hal ini pada kalian, tapi saya tau kalau dia ingin sekali punya orang tua yang lengkap selama ini, namun sayangnya takdir tak memihak padanya"


"Huhu sekarang dia ada di mana, aku ingin bertemu padanya?"


"Dia sudah tertidur untuk selamanya bu, dia sudah berpulang meninggalkan segalanya, ibu dan bapak tidak usah ngusir gadis ini, karena berkat gadis ini dia tidak lagi khawatir meninggalkan kalian untuk selamanya, lantaran dia berpikir kalian akan bahagia setelah menemukan anak yang kalian cari-cari walaupun faktanya dia bukan anak kalian"

__ADS_1


Tangis mereka bertiga pecah, mereka tak menyangka Raisa akan seterluka itu sehingga ia membiarkan Jihan hidup bersama mereka.


"Nak kenapa kamu tidak datang dari awal, kenapa kamu baru datang sekarang?"


"Saya baru berdamai dengan keadaan ibu, sudah dari lama saya ingin berada di posisi ini, namun baru kali ini apa yang saya inginkan tercapai juga"


Tangis mereka semakin pecah.


"Bapak ibu saya mohon walaupun sekali datanglah ke makam Raisa, dia pasti ingin sekali orang tuanya mendatangi makamnya"


"Iya nak, kami akan datang ke sana"


"Maaf bu pak dan mbknya saya tidak bisa lama-lama di sini, saya masih ada urusan, maaf saya tidak bermaksud membuat kalian nangis"


"Tidak apa-apa nak Azam, kami tidak apa-apa, kami malah berterima kasih pada nak Azam, karena nak Azam masih sempat bilang kebenaran ini walaupun saat ini Raisa sudah berpulang"


"Iya bu, semuanya saya pamit dulu assalamualaikum"


Azam keluar dari dalam rumah itu, bertapa leganya hatinya saat ia kini sudah menyampaikan kebenaran yang sudah terpendam selama 10 tahun lamanya.


"Raisa aku sudah bilang pada orang tua mu, kamu senang kan di sana, sekarang kau istirahatlah dengan tenang, tidak ada lagi rasa khawatir yang aku pikirkan selama ini" Azam menyunggingkan senyum setelah lama ia hidup dalam dunia penuh kesepian, tidak ada lagi warga yang menghiasi hidupnya setelah kepergian Raisa.


Azam pulang ke rumahnya, ia sudah sangat lega setelah menyampaikan kebenaran itu.


"Om" teriak Aini anak Adam dan ning Aisfa.


Adam menikah dengan ning Aisfa setelah satu tahun ning Aisfa dan kakaknya bercerai.


Azam menggendong anak ketiga Adam yang baru berusia 2 tahun itu.


"Om sudah pulang?" Divia yang berada di ruang tamu melihat kedatangan Azam.


"Sudah"

__ADS_1


"Kamu duduk di sini dulu ya" Aini mengangguk dan duduk di ruang tamu bersama kedua kakaknya.


"Kakak sudah bilang pada orang tua Raisa?" Azam mengangguk.


"Sudah, mereka sekarang sudah tau kalau Raisa meninggal, sekarang aku sudah merasa sedikit lega setelah tak menyimpan rahasia itu lagi"


"Kak, ini sudah 10 tahun, apa kakak tidak ada niatan untuk menikah?" Azam terdiam mendengar ucapan itu, ia tersenyum paksa.


"Bagaimana aku bisa menikah dan hidup bahagia di saat hati ku tak mau melupakan dia walaupun sedetikpun, aku tidak ingin menikah Adam, aku ingin sendiri selamanya, kini aku hanya tinggal menunggu ajal ku tiba"


Adam menghela napas, ia tau kalau kakaknya tak bisa melupakan Raisa walaupun kepergian Raisa sudah 10 tahun yang lalu, tetapi Azam masih tetap hidup sendiri, tak ada niatan untuk mencari pengganti Raisa sama sekali.


"Terserah kakak, aku hanya bisa mendukung keputusan kakak" Azam tersenyum.


"Aku ke kamar dulu" mereka mengangguk lalu Azam berjalan menuju kamarnya.


Azam masuk ke dalam kamarnya, kamar itu penuh dengan foto Raisa, ia mendapatkan semua foto-foto itu dengan susah payah.


Azam mengambil foto Raisa yang tersimpan rapih dalam figura.


"Raisa istirahatlah yang tenang di sana, Azam mu akan selalu berada di sini dan akan tetap di sini, aku tidak akan pernah kemana-mana, kamu tidak usah khawatir pada ku lagi"


"Kamu sekarang istirahat yang tenang di sana, aku mencintai mu Raisa" Azam terus memandangi foto itu dengan wajah yang terukir sebuah senyuman.


Tak ada lagi air mata yang jatuh karena sudah cukup ia menangis, ia kini tersenyum dengan hati yang lega, tak ada beban lagi yang ia pendam setelah ini.


"Raisa aku mencintai mu" kalimat itu terus terucap di bibir Azam.


Dia sangat mencintai Raisa namun takdir tak berpihak padanya, tapi dia akan tetap mencintainya dan yakin dia akan bersama dengan Raisa di akhirat kelak.


...TAMAT...


Jangan lupa mampir di karya author yang berjudul Di Nodai Genderuwo, dan Rumah Hantu ya

__ADS_1


__ADS_2