
Aku terus berjalan di area asrama santri putri.
Langkah ku tiba-tiba terhenti kala merasakan sesuatu yang membuat ku menjadi tak semangat lagi.
"Bosan juga lama-lama aku di sini, aku kan pengen sekolah seperti dulu, tapi Azam masih belum mau membantu ku, tunggu dulu alasannya apa sih kok aku penasaran ya, aku yakin sih kalau Azam tau caranya, kenapa dia malah menyiksa ku begini, apa yang sebenarnya terjadi" kata ku sendiri yang ingin sekali tau alasan sebenarnya.
"Andai aja aku tau bagaimana cara untuk bisa kembali ke dalam raga, mungkin aku tidak akan bosan seperti ini, aku cari Azam aja deh, aku mau minta izin buat jenguk raga aku di rumah sakit" kata ku.
"Tapi kalau Azam gak ngizinin aku bagaimana, aku harus paksa dia, aku ingin sekali ke rumah sakit, aku mau melihat perkembangan tentang raga ku yang di rawat di sana, sekarang aku harus temui Azam" kata ku lalu berjalan menuju sekolahan tempat Azam mengajar.
Aku menemukan Azam yang sedang mengajar di sekolahan tepatnya di kelas 5.
"Nah itu orang yang aku cari-cari sejak tadi, aku harus samperin dia" kata ku lalu berjalan masuk ke dalam kelas tanpa permisi terlebih dahulu.
"Zam aku mau jenguk raga aku sebentar di rumah sakit boleh ya" kata ku berdiri di depannya.
"Duh gadis ini, kenapa dia berdiri di sini sih, kenapa dia harus bertanya di waktu dan keadaan yang tidak tepat begini, aku kan jadi gak bisa jawab" batin Azam yang tidak bisa menjawab pertanyaan ku karena di depannya banyak sekali santri-santri yang sama sekali tidak bisa melihat ku.
Jika sampai dia menjawab maka mereka semua akan menganggapnya aneh.
"Woy kenapa diam, aku ingin ke rumah sakit, boleh ya, plis cuman sebentar doang kok, aku janji akan kembali lagi ke sini" kata ku memohon berharap Azam memperbolehkannya karena aku ingin sekali melihat keadaan raga ku.
"Kenapa kok Ustadz diam?" tanya santri-santri yang melihat Azam yang tiba-tiba diam di pertengahan materi yang saat ini tengah Azam tulis di papan.
"Enggak, kalian terusin tulisnya, saya mau keluar sebentar, awas jangan berisik" peringatan Azam.
"Baik tadz" jawab semua santri itu.
__ADS_1
Azam berjalan keluar dari dalam kelas meninggalkan aku sendirian yang hanya bisa menatap aneh ke arahnya.
"Kenapa dia malah keluar, benar-benar aneh" kata ku tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
Aku lalu berjalan mengikutinya dari belakang, sebisa mungkin aku ingin merayu Azam agar dia mau mengizinkan ku untuk pergi ke rumah sakit.
Langkah Azam terhenti setelah berada di luar, ia lalu menghadap ke arah ku yang berada tepat di belakangnya.
"Boleh ya zam, sebentar saja" mohon ku berharap dia mau setuju.
"Boleh, tapi jangan lama-lama, awas aja sampai nanti malam kamu gak balik ke pesantren lagi, aku gak akan mau bantuin kamu, lagian kamu mau ngapain ke sana juga, lebih baik di sini aja" jawab Azam.
"Bosen di sini, kalaupun aku gangguin mereka juga kamu akan marahin aku" kata ku menunjuk pada santri-santri yang sedang belajar.
"Lebih baik aku gangguin suster-suster yang ada di rumah sakit, sekalian aku mau melihat raga ku, aku mungkin nanti malam gak akan pulang ke sini, aku mau ke kos-kosan ku aja, aku rindu banget sama kos-kosan aku, boleh ya" kata ku dengan sangat memohon.
"Iya zam, aku besok akan pulang kok, aku juga masih belum kembali ke dalam raga ku, jadi terpaksa datang ke sini lagi, tenang aja aku gak akan ngilang, dah aku mau pergi dulu, bye" pamit ku hendak pergi meninggalkan Azam namun tiba-tiba langkah ku terpaksa terhenti.
"Bye bye bye salamnya mana" kata Azam menarik baju ku.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Ustadz Azam yang ganteng, dah aku mau pergi" jawab ku lalu pergi meninggalkan Azam dengan penuh semangat yang berkobar karena apa yang aku inginkan akhirnya terkabul juga.
"Wa'alaikum salam" kata Azam menatap punggung ku dengan tersenyum.
"Gadis yang aneh" kata Azam lalu kembali ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.
Aku berjalan menuju rumah sakit dengan penuh gembira.
__ADS_1
Setibanya di sana tiba-tiba telinga mungil ku menangkap gosip yang sedang ramai di perbincangkan.
"Iya kemarin itu ada suster baru yang bilang kalau dia ganggu sama hantu" kata suster.
"Siapa ya yang jadi hantu, memang sih yang meninggal itu banyak, kok aku jadi merinding ya" kata temannya.
"Mau gimana lagi, pekerjaan kita ini memang berdampingan dengan yang namanya hantu, gak bisa kita menjadi seorang suster tanpa di ganggu sama hantu, di rumah sakit ini banyak sekali yang meninggal, penghuninya juga banyak, jadi wajar saja kalau ada yang melihat atau di ganggu oleh hantu di antara kita" kata temannya lagi.
"Takut tau kalau semisal ada hantu yang menampakkan dirinya dengan wajah seram, iih ngeri" kata suster begidik ngeri.
"Kok aku jadi merinding sih, moga aja aku gak di ganggu sama hantu itu, aku gak mau panas dingin tiap hari" kata temannya.
"Apa yang suster-suster ini bicarakan, kenapa dia malah membahas ada suster yang di ganggu hantu, apa jangan-jangan mereka lagi membahas suster yang aku ganggu kemarin ya" kata ku sadar jika ulah ku kini menjadi viral di kalangan para petugas medis.
"Kayaknya sih iya, kemarin kan dia lari sambil teriak-teriak, haha ternyata apa yang aku lakukan bisa viral begini" kata ku yang malah senang bukannya merasa bersalah.
"Dah lah malas aku dengarin orang ghibah, lebih baik aku ke raga ku aja, aku mau tau bagaimana perkembangannya sekarang" kata ku berjalan mencari kamar tempat raga ku berada.
Setelah aku menemukan kamar yang aku cari-cari, tanpa menunda-nunda waktu aku langsung masuk ke dalam kamar itu.
"Loh kok gak ada di sini sih, kemarin jelas-jelas raga ku berada di sini, kemana dia sekarang, aku harus cari tau, aku nanya sama siapa ini, hmm nanya sama suster yang jaga bagian administrasi deh" kata ku lalu berlari ke depan.
Pikiran ku sudah tidak enak lantaran keberadaan raga ku masih belum di ketahui.
Dari kejauhan aku melihat jika suster yang menjaga bagian administrasi tengah sendirian.
Dengan cepat aku langsung menemuinya untuk bertanya sesuatu padanya.
__ADS_1