Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Panik


__ADS_3

Amaira berlari tanpa henti untuk menghindari Rina yang sedang marah besar terhadapnya karena tanpa sengaja dia dan teman-temannya membuat luka di hati Rina kembali pedih.


"Kok bisa santriwati yang sudah meninggal beberapa tahun lalu bisa ada di sini" kata Amaria tak habis pikir, ia masih terus berlari tak memikirkan apapun lagi.


"Kenapa dia masih bisa berada di dalam pesantren ini, apa benar jika rumor gangguan gaib itu berasal dari dia" kata Amaria yang pernah mendengar jika ada banyak santri yang memutuskan untuk berhenti mondok karena di ganggu oleh hantu yang sangat seram.


"Dia kan sudah meninggal, kenapa masih berkeliaran di pesantren ini, iih wajahnya malah seram lagi" kata Amaira begidik ngeri.


"Aku harus sembunyi di mana ini, aku harus bisa menghindar dari hantu itu, aku gak mau dia menangkap ku" kata Amaira sangat ketakutan kala teringat dengan Rina yang sangat-sangat seram.


"Mau kemana kau" kata Rina muncul di hadapan Amaira.


"Aarrrgghh hantu" teriak Amaira terkejut melihat tindakan Rina itu.


Amaira hampa aba-aba langsung kembali berlari, ia rasa tegang menyatu dalam tubuh Amaira kala matanya melihat jelas hantu yang saat ini ingin ia hindari.


"Tolong,tolong aku" teriak Amaira berlari secepat kilat.


Rina mengejar Amaira yang terus berlari hanya karena untuk menghindarinya.


"Kau tidak akan bisa lari dari ku, suruh siapa kau sudah berani bermain-main dengan ku, kau harus aku beri pelajaran, biar kau tidak lagi seenaknya menghina orang" kata Rina terbang di atas Amaira yang di serang rasa panik.


"Aarrrgghh tidak, aku tidak mau" teriak Amaira terus berlari.


Tubuh Amaira di serang rasa takut yang begitu sangat kala Rina hantu yang paling seram kini tengah mengejarnya.


"Huaa hantu tolong ada hantu, tolong aku" teriak Amaira histeris kala tak sengaja matanya melihat mata seram Rina yang melotot.


"Mau pergi kemana kau, aku tidak akan melepaskan mu, aku akan buat kau bernasib sama seperti ku, biar kau tidak terus menerus menghina ku" teriak Rina penuh penekanan.


Tubuh Amaira di serang rasa panik kala mendengar kalimat yang barusan Rina ucapakan.


Wajah Amaira mendadak panik kala melihat di depannya adalah jalan buntu.


"Aku harus kemana ini, aku gak boleh di sampai di tangkap olehnya, aku gak mau dia mencelakai ku, aku masih mau hidup" kata Amaira di serang rasa panik.


Tiba-tiba penglihatan Amaira tertuju pada tangga yang tebus pada jemuran.

__ADS_1


"Aku harus ke sana, aku harus bisa pergi dari dia" kata Amaira.


Dengan cepat Amaira naik ke atas tangga tersebut.


"Gawat, aku harus kemana lagi ini, aku tidak bisa lari, aku terjebak" kata Amaria yang di serang rasa panik.


Wajah Amaira pucat pasi kala dirinya tak bisa lari kemanapun lagi.


"Mau kemana kau" kata Rina.


Amaira langsung tegang mendengar suara itu.


Pelan-pelan Amaira melihat ke belakang dengan sangat ketakutan.


"Kau tidak akan bisa pergi kemanapun lagi" kata Rina dengan menatap tajam ke arah Amaira yang sudah memucat.


Amaira menelan ludah melihat Rina yang begitu menyeramkan baginya.


"Tolong jangan dekati aku, pergi kau dari sini" teriak Amaira ketakutan kala melihat Rina yang sudah tak jauh darinya.


Amaira memundurkan tubuhnya perlahan-lahan.


Rina mendekati Amaira yang terus saja mundur dengan memegang pisau yang sudah siap mengarah pada Amaira.


"Jangan dekati aku, aku mohon pada mu huhu" tangis Amaira yang sudah sangat ketakutan dengan ular Rina.


"Suruh siapa kau menghina ku tadi, kau kira aku tidak mendengar mu apa, hei aku masih punya telinga, aku masih bisa denger dengan jelas, jangan kau anggap aku tidak dengar apa yang kau katakan tadi" kata Rina terus mendekati Amaira yang di serang rasa panik.


"Aku minta maaf pada mu, ku mohon maafkan aku, aku berjanji, aku tidak akan menghina mu lagi" jawab Amaira dengan tangisan yang mengiringi.


"Aku tidak butuh janji mu, yang aku butuhkan itu kau tidak boleh menyukai Azam lagi, aku tidak suka itu, aku tidak akan membiarkan satupun orang yang menyukai Azam kecuali aku" kata Rina yang sangat berambisi.


"Aku tidak akan menyukai Ustadz Azam lagi, aku berjanji pada mu, yang penting kau jangan melukai ku dengan pisau itu" tangis Amaira yang sangat takut pada pisau yang Rina pegang.


Rina tersenyum kecut mendengar apa yang barusan Amaira katakan.


Sorot mata Rina terus menatap tajam.

__ADS_1


"Aku sudah berjanji, bisakah kau melepaskan aku, aku mohon pada mu huhu" tangis Amaira turus memundurkan tubuhnya.


"Aku mohon jangan sakiti aku" tintah Amaira sangat ketakutan kala Rina sudah berada tepat di depannya dengan memegang benda yang saat ini sangat ia takuti.


Rina memberikan tatapan paling tajam pada Amaira seakan hatinya tidak memiliki rasa iba sama sekal.


Amaira menelan ludah melihat mata Rina yang begitu menyeramkan tiba-tiba.


"Aaarrrrggh" teriakan Amaira panjang.


Pisau itu menusuk perut Amaira, darah keluar dari dalamnya dengan deras membuat Amaira meraung kesakitan.


"Aarrrgghh sakit mama tolong aku hiks hiks" teriak Amaira kesakitan.


"Huhu tolong ak, ku mohon siapapun itu, tolong aku sakit" teriak Amaira meraung kesakitan.


"Tak akan ada yang menolong mu, kau jangan berteriak-teriak, percuma" kata Rina.


"Mama tolong aku sakit huhu" tangis Amaira terduduk di bawah.


Dengan air mata yang terus mengalir Amaira melihat ke arah Rina yang sangat menyeramkan.


"Kenapa kau melakukan ini, aku masih mau hidup, mengapa kau keji sekali, aku dengar kau itu santri yang paling aliw, masa kau tidak memiliki hati nurani sehingga kau membuat ku seperti ini, plis tolong aku huhu" tangis Amaira yang sangat kesakitan berharap Rina mau menolongnya.


Namun hal itu terasa mustahil terjadi.


"Aku tidak alim, aku hanya berpura-pura saja, kau jangan menjadikan hal itu sebagai alat untuk ku menolong mu, tidak aku tak akan mau menolong mu, kau sudah kurang ajar, kau harus merasakan rasa sakit itu" jawab Rina yang hatinya sudah di penuhi dendam semata.


"Tega, kau tega sekali huhu" tangis Amaira sedikit berteriak.


"Aku memang tega, kau jangan berisik, nanti ada orang yang datang ke sini" kata Rina lalu menghilang begitu saja.


"Huhu mama, aku mohon tolong aku, aku tidak mau mati" tangis Amaira.


Amaira menangis sejadi-jadinya di atas jemuran yang tidak ada satupun orang yang terlihat.


Hanya dirinya yang berada di sana dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

__ADS_1


__ADS_2