
Fatimah berlari bersama Maria.
"Ayo Fatimah, kita harus bisa selamat dari hantu itu" teriak Maria yang sangat ketakutan.
"Aku sudah tidak kuat untuk berlari lagi Maria, aku capek" jawab Fatimah.
"Kamu harus kuat, kita harus bisa selamat, jangan sampai hantu itu melakukan hal yang tidak-tidak pada kita ayo kamu harus bisa, lebih cepat lagi Fatimah" teriak Maria memberikan semangat pada Fatimah yang sudah kelelahan karena sejak tadi terus berlari.
"Aku sudah capek Maria, aku lelah, aku sudah tak kuat untuk lari lagi, aku menyerah" jawab Fatimah.
"Hei kau jangan menyerah, ayo kita harus bisa selamat, jangan menyerah dulu, ingat itu baik-baik" kata Maria terus berlari.
Mereka berdua terus berlari meski rasa lelah terus menghampiri.
"Aaarrrrggh" teriak keduanya sangat terkejut kala melihat Rina yang muncul di depannya.
"Kalian tidak akan bisa lari lagi dari ku, aku tak akan biarkan kalian lari haha" tawa Rina berdiri menghadang mereka.
Rina memegang pisau yang siap mengarah pada keduanya.
"Kau pergi, jangan ganggu kami, tak bisakah kau diam saja hah" kata Maria dengan gemetaran.
"Mana bisa aku diam saja saat kalian dengan terang-terangan menghina ku begitu saja, aku tak akan tinggal diam akan hal itu, kalian sudah salah besar menghina ku, kalian kira aku akan diam saja, tentu saja tidak" jawab Rina penuh penekanan.
"Aku mohon lepaskan kami, aku ingin pergi, jangan ganggu kami" tangis Fatimah yang sudah sangat ketakutan.
"Aku tidak akan mengganggu kalian, jika kalian juga tidak mengganggu ku, namun, sayangnya kalian yang memulai semuanya maka dari itu kalian harus menanggung segalanya" jawab Rina yang tak akan memberi ampun pada mereka berdua.
Mereka berdua tercekat kala melihat Rina yang pelan-pelan mendekatinya.
"Kau mundur, jangan dekati kami" kata Maria terus saja mundur perlahan-lahan.
"Aku tidak mau, kalian berdua harus mati, aku tak akan membiarkan kalian hidup, kalian harus mati seperti kedua teman kalian itu" jawab Rina.
"APA TEMAN KAMI" kaget mereka tercekat.
"Iya, teman kalian itu sudah mati, kalian tak lihat darah yang mengalir di pisau ini, aku baru saja menusuk perut teman kalian yang bercerita tentang kejelekkan ku itu" jawab Rina dengan menunjuk pisau yang lebih dengan darah.
"Amaira maksud kamu?" tanya Maria berjalan mundur.
"Aku tidak tau siapa namanya, yang jelas dia adalah gadis yang menceritakan tentang kematian ku pada Kelian semua, dia sekarang pasti sudah mati di jemuran" jawab Rina.
"Tak mungkin dia mati, kau pasti berbohong" kata Fatimah tak percaya.
"Aku tidak pernah berbohong, aku berkata dengan sejujurnya, dia sudah mati, aku tadi menusuk perutnya dengan pisau ini, lalu memberikan dia berada di jemuran sendirian, aku yakin dia pasti sudah mati haha" jawab Rina tertawa terbahak-bahak.
"Kau gila, kenapa kau membunuh Amaira, apa salahnya?" tanya Maria tak habis pikir dengan Rina.
Seketika tawa Rina berhenti dan melihat tajam ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Salahnya satu yaitu menjelekkan diri ku di depan kalian semua dan aku berjanji akan membuat kalian mati bersamanya, aku berjanji akan hal itu" jawab Rina tersenyum bengis.
Rina terus mendekati mereka yang membuat mereka tercekat.
"Jangan dekati kami, aku mohon maafkan kami, kami tidak sengaja" kata Fatimah.
"Aku tidak peduli ini semua adalah kesengajaan atau tidak, aku tidak peduli itu yang penting sekarang itu kalian berdua harus mati, itu saja" jawab Rina semakin mendekati mereka dengan tatapan menakutkannya.
"Tolong kami, dia akan membunuh kami" teriak keduanya berharap ada orang yang membantu mereka.
"Mbk tolong buka, bantuin kami terbebas dari makhluk ini, aku mohon huhu" tangis Fatimah menggedor-gedor pintu kamar santriwati.
"Hentikan, mereka tidak akan ada yang bangun, mereka sedang tertidur nyenyak, tak akan mereka mendengar suara kalian, walaupun kalian berteriak sekencang apapun" kata Rina.
"Huhu aku mohon jangan dekati kami, aku mau hidup, kau jangan membunuh ku, aku ke sini hanya ingin mencari ilmu tidak lebih" tintah Fatimah yang sudah sangat ketakutan.
"Jika kau memang ingin mencari ilmu mengapa kerjaan mu setiap hari hanya berghibah hahh, apakah kau mendapatkan ilmu mondok di sini selama ini?" tanya Rina terus mendekati mereka.
Mereka berdua diam.
"Tidak kan, aku tau kalau kalian itu tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mangkanya kalian tidak mendapatkan apa-apa meski sudah mondok bertahun-tahun" kata Rina.
"Aku janji setelah ini aku akan mondok dengan bersungguh-sungguh, tak akan main-main lagi, tolong lepaskan aku" tangis Fatimah terus saja mundur.
"Sayangnya aku tidak mau lagi melihat mu ada di sini, aku harus mengirim mu ke dalam alam kubur, biar kau tau rasanya hidup dengan siksaan yang sesungguhnya haha" tawa Rina terus mendekati Fatimah.
"Aku bukan Allah yang maha pengampun, aku hanya manusia biasa aku tak akan bisa memaafkan mu, aku bukan maha pemaaf, jangan mohon ampunan pada ku" jawab Rina.
Keduanya terus saja mundur perlahan-lahan.
"Kalian harus mati, tak akan aku biarkan kalian hidup di muka bumi ini, itu janji ku pada kalian berdua haha" tawa Rina terbahak-bahak sambil memejamkan mata seraya menghayati.
Slash
Slash
Slash
Slash
Slash
Maria mengambil kesempatan dia mengambil pisau itu lalu menebas tubuh Rina berulang kali.
Kepala, tangan dan kaki Rina terpisah dari tubuhnya.
Darah hitam mengalir dari tubuh Rina, darah itu berbau busuk yang menyengat.
Seketika tawa Rina yang menggelegar dahsyat itu berhenti.
__ADS_1
Kepala Rina terbang ke udara mata, Rina melotot tajam.
Fatimah tercekat melihat keberanian Maria.
"Beraninya kau melakukan ini semua" teriak Rina dengan mata melotot tajam.
Slash
Maria melempar pisau itu hingga mengenai mata Rina.
"Aarrrgghh" teriak Rina yang matanya terbelah.
"Ayo Fatimah kita harus pergi dari sini" ajak Maria berlari menggandeng tangan Fatimah.
Mereka berlari dengan secepat kilat.
"Ayo Fatimah, lebih cepat lagi kita harus terbebas darinya, sebelum dia membunuh kita, ayo semangat, kamu gak boleh menyerah" kata Maria.
"Maria jangan ke sana, kita datang kediaman pak kyai saja, minta pertolongan beliau, jangan terus-terusan lari tidak jelas begini, nanti bisa-bisa hantu itu kembali menghadang kita" teriak Fatimah saat berlari.
"Ayo kita langsung ke sana saja" jawab Maria yang merasa ucapan Fatimah ada benarnya juga.
Mereka berdua berlari tanpa henti.
Suara langkah kaki mereka memecah keheningan.
Fatimah melihat ke belakang, entah kenapa wajahnya langsung memucat.
"Gawat Maria hantu itu ngejar kitw, ayo kita harus sampai di kediaman pak kyai secepatnya" kata Fatmah di serang rasa panik.
"Iya ayo, sambil lalu kita harus berteriak biar ada santri yang menolong kita" jawab Maria.
Fatimah mengangguk setuju.
"Tolong, tolong kami" teriak mereka berdua kompak.
"Tolong, plis tolong kami" teriak mereka berdua.
"Tolong, siapapun tolong kami" teriak mereka lagi.
"Ada apa ini, kenapa dua santri itu berlarian sambil berteriak-teriak seperti ini" kata poci yang tak sengaja melihat mereka berdua.
"Tolong kami dari hantu itu" teriak mereka.
"HANTU, hantu siapa yang mereka maksud, mengapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya, apa dia hantu baru, tapi tak mungkin ada hantu baru yang bisa masuk ke dalam pesantren, apa dia mengikuti Azam ya, perasaan seharian ini Azam tidak kemana-mana, dia masih tetap ada di pesantren, tidak keluar sedikitpun" kata pak poci yang melihat hantu yang tubuhnya hancur mengikuti mereka berdua.
"Tolong dia akan membunuh kami" teriak mereka.
"Yaah aku akan membunuh kalian berdua, aku berjanji itu, tak akan aku biarkan kalian berdua hidup, aku bersumpah akan melenyapkan kalian" teriak Rina mengejar keduanya tanpa rasa lelah.
__ADS_1