Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Mendatangi Azam


__ADS_3

Aku terus berjalan di sekitar asrama santriwati karena Azam tak mengizinkan aku untuk mendatangi sekolah itu lagi.


"Hai pak poci" sapa ku kala melihat pak poci yang ada di dekat koperasi.


"Hai, gimana kamu sudah mendatangi nek Sundu belum?" tanya pak poci.


"Sudah sih, tapi Azam malah narik aku, katanya jangan ganggu nek Sundu itu karena dia akan menyihir ku, mangkanya aku mau ikut pergi meninggalkan sekolahan bersamanya" jawab ku.


"Kenapa Azam bilang seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi, aku harus tanya sama Azam" batin pak poci.


"Aku ada urusan, kamu jangan diri baik-baik ya, jangan gangguin santri yang belajar di sini oke" kata pak poci.


"Iya, kalau aku gak lupa hehe" tawa ku yang tak yakin bisa diam tanpa menyusahkan orang lain.


"Dasar kau ini, jangan macam-macam nanti di marahin sama Azam, kamu mau dia ceramah panjang lebar" kata pak poci.


"Kagaklah, malas lah aku dengerinnya, tenang pak poci, aku gak akan gangguin anak-anak kok cuman usilin dikit kalau aku bosan boleh ya" kata ku yang suka sekali mengganggu orang lain seperti layaknya makhluk halus.


"Boleh tapi jangan keterlaluan, nanti kamu yang di marahin sama Azam, nanti Azam gak mau bantuin kamu gimana, kamu juga yang repot pastinya" jawab pak poci.


"Aku bisa merayunya, lama-lama dia juga pasti akan bersedia untuk membantu ku, sana pergi katanya ada urusan" kata ku.


"Aku pergi dulu bye" jawab pak poci meloncat-loncat meninggalkan aku.


Pak poci menghampiri Azam yang sedang menuju ke sekolahan.

__ADS_1


"Azam kenapa kamu bilang seperti itu pada Raisa, dia kan cuma ingin kembali ke dalam raganya, kenapa kamu malah melarang Raisa untuk bertanya pada nek Sundu cara untuk kembali ke dalam raga, apa yang sebenarnya terjadi pada mu, kenapa kau menjadi seperti ini?" tanya pak poci sangat penasaran.


"Aku menyukainya dan aku tidak akan membiarkan dia pergi meninggalkan aku sendirian di sini" jawab Azam.


"Kau salah Azam, jika kau menyukainya seharusnya kau bantu saja Raisa biar segera kembali ke dalam raganya, nanti kalian juga bisa bersatu setelah itu" kata pak poci.


"Itu menurut mu, menurut ku beda, aku takut Raisa akan melupakan semuanya setelah dia siuman, dia pasti tidak akan mengenal ku, aku tak mau hal itu terjadi" jawab Azam terus berjalan menuju ke sekolahan.


Pak poci itu diam perkataan Azam ada benarnya.


"Sampai kapan kau akan membiarkan Raisa terus bergentayangan di mana-mana seperti ini, dia juga pasti ingin kembali ke dalam raganya, kau jangan egois Azam" kata pak poci.


"Aku tau aku egois, tapi aku mohon ini keputusan ku, aku akan terima dampaknya, aku yakin kok kalau raga Raisa masih kuat,dia tidak akan pergi meninggalkan sukmanya, tenanglah pak poci, aku pasti akan membantu Raisa, tapi nanti setelah aku siap untuk berpisah dengannya" jawab Azam.


"Aku yakin zam kalau Raisa pasti akan mengingat mu setelah dia siuman, kau boleh melakukan hal ini, tapi jangan terlalu lama, kasihan raganya, dia pasti tersiksa" kata pak poci.


"Cinta yang aneh, tapi syukurlah anak itu bisa jatuh cinta juga setelah sekian banyak wanita yang berdatangan, tapi hanya Raisa saja yang berhasil membuat Azam jatuh cinta, hebat kau Raisa, semoga kalian dapat bersatu balik di dunia maupun di akhirat" kata pak poci tersenyum.


"APA Azam suka sama Raisa, wah ini gak bisa di biarkan, aku harus buat Raisa kembali ke dalam raganya, aku tak mau dia mengambil Azam dari ku" kata Rina yang tak sengaja mendengar percakapan mereka dari kejauhan.


"Lihat aja Raisa, kau sudah berani-beraninya mau mengambil Azam dari ku, aku akan buat kau menderita, aku harus mendatangi nek Sundu, aku yakin dia tau caranya" kata Rina lalu menghilang.


Rina muncul di hadapan nek Sundu.


"Ada apa, kenapa kau menemui ku?" tanya nek Sundu tak bersahabat.

__ADS_1


"Katakan bagaimana caranya ngembalikan sukma yang terpisah dari raga secepatnya, aku ingin membantu Raisa untuk segera kembali ke dalam raganya, kasihan dia, dia pasti tersiksa karena hal ini" jawab Rina.


"Kenapa tiba-tiba Rina dermawan sekali, aku rasa Rina sudah tau kalau Azam mencintai Raisa, ini tidak bisa di biarkan, aku tidak boleh memberitahukan caranya pada Rina, dia pasti akan membuat Raisa kembali ke dalam raganya dan membuat Azam terluka" batin nek Sundu yang tau rencana Rina.


"Aku tidak tau kau jangan bertanya pada ku" kata nek Sundu.


"Kau jangan berbohong nenek tua, cepat katakan aku ingin dengar" teriak Rina yang merasa nek Sundu tengah berbohong.


"Aku tidak tau Rina, kau jangan bertanya pada ku, kau tanya saja sama Azam sana, dia pasti tau tentang hal ini" jawab nek Sundu.


"Kau jangan berbohong, aku yakin kau tau caranya, ayo cepat katakan saja, aku ini berniat baik loh untuk membantu orang, kenapa kau malah tidak mau Raisa kembali ke dalam rangka sih" kata Rina.


"Aku bukannya tidak mau, hanya saja aku tidak tau caranya kau jangan mendatangi ku, aku tidak tau apa-apa tentang masalah ini" jawab nek Sundu.


"Dasar nenek tua, susah sekali mengatakan iya, benar-benar menyebalkan kau ini sama seperti Azam, tidak mau Raisa pergi dari sini, apa sih yang Azam lihat dari Raisa, dia itu gak ada apa-apanya, masih cantikan aku kok dari pada dia" pekik Rina yang sudah sangat kesal dengan nek Sundu.


"Cantik itu penting, tapi yang lebih penting itu akhlak, walaupun berwajah cantik tapi berhati kotor itu juga tidak menarik" jawab nek Sundu lalu menghilang setelah mengatakan hal itu.


Rina begitu sangat marah karena apa yang nek Sundu katakan benar-benar membuatnya tersindir.


"Iihh kenapa nek Sundu itu malah ceramah saja seperti pak kyai menyebalkan" pekik Rina yang sangat-sangat kesal.


"Lama-lama ku tendang aja dia dari pesantren ini, tapi bagaimana caranya, aku sebenarnya ingin sekali mengusirnya dari sini, namun aku tidak punya caranya sama sekali" kata Rina yang sudah sangat-sangat membenci nek Sundu.


"Andi saja dia tidak ada di pesantren ini, mungkin usaha ku untuk mendapatkan Azam bisa di mudahkan" kata Rina.

__ADS_1


"Aku harus bisa membuat Raisa pergi dari sini, tak akan aku biarkan dia mengambil Azam dari ku, aku berjanji" kata Rina dengan sorot mata penuh dendam yang berkobar.


Rina kemudian menghilang dari sana.


__ADS_2