Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Mengendap-endap


__ADS_3

"Paman ini kuncinya, sekarang kamar ku bisa di buka, terima kasih paman sudah minjamin kunci ini pada ku" Shaka memberikan kunci itu pada raja.


Raja mengambilnya."Sekarang istirahatlah, ini sudah malam, oh ya di mana pangeran, kenapa aku tidak melihatnya?"


"Pangeran berada di kerajaan sebelah paman, dia tadi ngajak aku ke sana karena dia ingin menemui putri Nurmala, sekarang dia masih berada di sana, dia bilang dia ingin nginap di sana malam ini" jawab Shaka.


"Ya sudah kalau begitu, besok jemput dia, paman tak mau ada apa-apa yang terjadi padanya di perjalanan" tintah raja.


"Baik paman, besok pagi-pagi sekali aku akan langsung berangkat ke kerajaan sebelah" jawab Shaka.


"Sekarang kamu istirahatlah" Shaka mengangguk lalu keluar dari dalam kamar raja.


Dengan terburu-buru Shaka memasuki kamarnya.


Aku dan Adam yang melihat Shaka kembali terkejut, kami mengira itu prajurit atau putri yang masuk ke dalam kamar ini.


"Ayo kalian ikut aku, kalian lewat pintu belakang saja, di sana tidak ada orang, aku sudah meriksanya tadi" ajak Shaka.


"Iya, ayo Raisa kita harus pergi dari sini secepatnya" aku mengangguk lalu keluar dari dalam kamar Shaka dengan mengendap-endap.


"Ayo cepatan, usahakan jangan mengeluarkan suara sedikitpun, biar gak ada yang curiga" kami berdua mengangguk lalu terus berjalan menuju pintu belakang.


Shaka terus membawa kami menuju pintu belakang, suasana kerajaan begitu sepi sehingga kami bisa bebas berkeliaran namun kami harus tetap waspada, karena takutnya ada prajurit atau dayang yang tak sengaja melihat kami.


Setelah beberapa saat kami sampai di depan pintu belakang.


Sebelum membuka pintu Shaka melihat ke kanan dan kiri.


"Aman, ayo kita keluar" Shaka membuka pintu dan keluar dari dalam istana di susul oleh kami semua.


Keadaan di belakang istana sangat gelap gulita, tak ada penerangan sedikitpun, yang kami lihat ada hanya tanaman-tanaman liar saja.


"Gelap banget, ini mau kemana lagi Shaka?"


"Ke jurang" jawab Shaka.


"KE JURANG"


Terkejut kami yang mendengar hal itu.


"Sebenernya kamu mau bantu kami apa mau bunuh kami?"


"Mau bantu kalian lah, masa mau bunuh kalian" jawab Shaka.


"Lalu kenapa kamu mau bawa kami ke jurang?" tak habis pikir Adam pada Shaka.

__ADS_1


"Gini jurang itu bukan jurang biasa, dia adalah jurang pemisah antara alam gaib dengan alam manusia, jika kalian masuk ke dalam jurang itu, maka kalian akan kembali ke dalam alam manusia" jelas Shaka.


"Seperti itu, ayo kita ke sana saja, aku sudah gak sabar kembali ke alam manusia, aku udah gak betah sama sekali berada di sini, aku ingin ke alam manusia"


"Ayo ikuti aku" kami mengikuti Shaka dari belakang.


Di sepanjang perjalanan hanya kegelapan yang kami terima, sungguh tak ada satupun lampu yang dapat menerangi kami.


Suara burung-burung menakutkan terdengar di telinga kami saat kami berjalan menuju jurang pemisah itu.


"Adam aku takut" aku memenangi lengan Adam sebagai penguat.


"Udah jangan takut, ada aku di sini, kamu jangan takut, kita akan pulang setelah ini" jawab Adam terus menenangkan ku yang masih ketakutan.


Aku mengangguk dengan terus berjalan menuju jurang pemisah itu.


"Shaka apakah masih lama lagi kita sampai di sana?"


"Tidak Raisa, sebentar lagi kita pasti akan sampai di sana, kamu tidak usah takut, gak akan ada yang bakal gangguin kamu" mendengar jawaban Shaka aku pun sedikit tenang meski hawa mencekam yang di timbulkan oleh hutan ini masih sangat terasa.


"Udah jangan takut lagi, gak akan ada hewan buas yang bakal lenyapin kamu, mereka itu gak mau makan daging kamu yang alot itu" aku langsung memukul lengan Adam yang masih sempat-sempatnya mengatai ku di saat-saat seperti ini.


"Iih kamu berisik deh ah, lama-lama aku hajar kamu itu"


"Bisa, nanti kamu akan lihat apa yang akan aku lakuin, kamu siap-siap aja"


"Baiklah, aku akan tunggu" jawab Adam.


"Udah jangan pada berantem, sekarang kita udah sampai, kalian loncat ke dalam jurang itu cepat" tunjuk Shaka pada jurang yang sangat dalam dan gelap itu.


Kami berdua ternganga melihat jurang itu.


"S-shaka ini benar kita akan loncat ke sini, kamu gak boong kan?" aku masih agak ragu untuk masuk ke dalam jurang itu.


"Iya Shaka, jurang ini dalam banget, bagaimana kalau kita akan mati setelah loncat ke dalam" Adam juga masih takut untuk melakukan apa yang Shaka suruh.


Shaka tersenyum."Itu tidak akan terjadi, kalian tidak akan kenapa-napa, percaya saja pada ku, setelah kalian loncat ke dalam jurang ini, kalian akan kembali ke alam manusia"


"T-tapi Shaka aku takut"


"Kamu tidak usah takut Raisa, tidak akan ada terjadi pada mu, sekarang cepat loncat ke dalam jurang itu sebelum ada orang yang melihat kita di sini" suruh Shaka.


Kami berdua masih diam tak bergerak dengan pandangan mata yang terus tertuju pada jurang yang sangat dalam dan gelap itu.


"Tunggu apa lagi, cepat kalian loncat, jangan khawatir, tidak ada apa-apa yang terjadi pada kalian, aku berani jamin" suruh Shaka yang melihat kami masih diam.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Adam untuk meminta pendapatnya.


"Adam coba kamu duluan, kalau aman, aku akan ikut juga"


"Enak saja kamu ini, masa nyuruh, kamu saja dulu, baru aku" jawab Adam.


"Enggak mau, kamu duluan yang loncat, aku paling belakang"


"Enggak, pokoknya aku gak mau loncat duluan, kamu duluan aja Raisa, kamu kan pengen banget ketemu kakak aku, kalau kamu loncat nih ye kamu pasti bisa cepat ketemu sama kakak aku"


Aku hendak bicara.


Khikhikhikhik


Tiba-tiba telinga kami mendengar suara kuda yang mendekat.


"Gawat ada orang yang akan ke sini, cepat kalian loncat ke dalam, aku mau kembali ke istana sebelum dia liat aku" setelah mengatakan hal itu Shaka berlari meninggalkan kami yang masih diam di tempat.


"Shaka" teriak kami yang bercampur panik karena tak harus melakukan apa.


"Gimana ini Adam, apa yang harus lakukan, aku gak mau mati di sini, aku masih mau hidup"


Aku melihat ke arah jurang itu."Tapi untuk masuk ke dalam jurang itu aku takut"


"Aku gak tau Raisa, kamu jangan nanya sama aku, aku juga gak tau harus melakukan apa" bingung Adam yang juga panik.


Kami semakin terkejut saat melihat pangeran yang ternyata pemilik kuda itu.


"G-gawat Adam"


"Kalian mau kemana, kalian tidak boleh ke sana, kembalilah ke istana" pangeran mendekati kami.


"Tidak, aku tidak mau ke sana, pergi kau dari sini"


Pangeran tetap tak mendengarkan ku, dia terus berjalan mendekati kami.


"Adam bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, pangeran semakin mendekat" rasa panik menyerang ku saat pangeran terus berjalan mendekati kami.


Adam melihat ke arah pangeran yang terus mendekat, kami di landa rasa panik yang teramat sangat.


"Raisa sini" Adam menarik ku ke dalam jurang pemisah itu.


"Arrrrgghh"


Teriak kami yang masuk ke dalam jurang itu.

__ADS_1


__ADS_2