
Pak kyai yang melihat Rina yang begitu mengenaskan shock berat.
"Rina" tercekat pak kyai.
Pak kyai dengan bergegas langsung mendekati Rina yang sudah terluka parah dan sangat mengkhawatirkan.
"Periksa dia" kata pak kyai yang masih sangat shock dengan kejadian yang terjadi di depan matanya.
Seorang santri memeriksa Rina.
"Innalilahi wa innalilahi roji'un, dia sudah meninggal" kata santri itu.
Pak kyai shock berat mendengar itu semua, ia sampai memegangi dadanya saking shocknya.
"Pak kyai" panggil santri lain yang khawatir pada kondisi pak kyai yang hampir saja pingsan, beruntung mereka langsung bergerak cepat sehingga kejadian tersebut bisa di hindarkan.
"Pak kyai lebih baik istirahat saja, saya yang akan menghandle ini semua" kata Ustadz Agam yang juga ada di lokasi.
"Iya-iya" jawab pak kyai yang sudah linglung karena begitu shock.
"Kalian, bawa pak kyai ke kediamannya" tintah Ustadz Agam.
"Baik tadz" jawab mereka.
"Mari pak kyai" kata ketua santri tersebut.
Pak kyai mengikuti dua santri itu, mereka berdua memegang tangan pak kyai karena saat ini pak kyai masih shock berat.
"Kalian, bawa jenazah dia ke kediaman pak kyai, saya akan hubungi pihak keluarganya tentang kondisinya" suruh Ustadz Agam.
"Baik tadz" jawab mereka.
Mereka semua lalu membawa Rina ke kediaman pak kyai.
Ustadz Agam lalu menuju ke ruangannya untuk memberitahukan berita ini pada pihak keluarga Rina.
Azam hanya memperhatikan itu semua dari atas balkon.
Setelah puas ia lalu melangkah untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Di tengah perjalanan tiba-tiba seorang santri menghampirinya.
"Assalamualaikum Ustadz, Ustadz di panggil pak kyai sekarang" kata seorang santri itu dengan menundukkan kepalanya.
"Wa'alaikum salam, iya saya akan ke sana" jawab Azam yang sudah tau jika hal ini akan terjadi.
Santri itu mengangguk.
"Ya sudah kalau seperti itu, saya permisi tadz assalamualaikum" kata santri itu.
"Wa'alaikum salam" jawab Azam.
Santri itu kemudian melangkah meninggalkan Azam yang masih diam di tempat.
Setelah beberapa saat terdiam, Azam lalu berjalan menuju ke kediaman pak kyai.
"Assalamualaikum" kata Azam yang sudah sampai di ke kediaman pak kyai.
"Wa'alaikum salam, duduk di sini" jawab pak kyai tak bersahabat.
Azam menuruti permintaan pak kyai.
"Saya tidak ingin menyakitinya pak kyai, karena saya tau kalau saya menerimanya tanpa adanya unsur cinta di dalamnya, lantas dia tau, maka dia juga yang akan terluka nantinya, mangkanya saya tidak mau mengambil resiko, saya tidak mau menyakiti hati seseorang, apalagi hati seorang wanita" jawab Azam yang memikirkan dampak terburuknya.
"Terus kalau sudah seperti ini bagaimana, kamu tanpa sengaja sudah menyakitinya Azam" kata pak kyai.
"Ini yang terbaik pak kya,i anda bukan saya, mangkanya anda berkata seperti itu, jika anda yang menjadi saya, saya yakin anda akan mengerti" jawab Azam.
"Kalau saya yang menjadi kamu, saya akan menerima Rina dari pada dia harus meninggal cuman gara-gara hal ini" kata pak kyai.
"Terus anda menikahinya lalu tanpa sengaja anda menemukan seorang gadis yang memang di takdirkan untuk anda, lalu anda menikahinya juga, anda memprioritaskan gadis itu, terus bagaimana dengan nasib Rina, dia pasti terluka kan, itu yang saya maksud, memang benar cinta akan datang dengan seiringnya waktu berjalan, namun kalau tidak di takdirkan untuk bersama, mau sekeras apapun berusaha kita juga akan berpisah" jawab Azam.
Pak kyai itu terdiam mengerti maksud Azam sebenarnya.
"Saya melakukan hal ini itu untuk kebaikan dia juga, tapi sayangnya dia tidak mengerti, dia terlalu buta dengan semuanya, dia tidak pikir panjang terlebih dahulu sehingga dia malah melakukan tindakan konyol ini, cinta itu tidak butuh bukti, jika saya mencintainya saya juga pasti akan langsung melamar, tak perlu berdrama seperti ini" kata Azam.
"Ketahuilah pak kyai dia itu cuman ingin di katakan hebat karena bisa mendapatkan saya, di dalam asrama santriwati juga ada banyak yang menyukai saya, mereka sampai berlomba-lomba hanya karena ingin mendapatkan saya, tapi saya merasa mereka bukanlah jodoh saya, jodoh itu sana pak kyai, jika memang salah satu di antara mereka adalah jodoh saya, itu akan terlihat dari sikapnya, bukan wajahnya" kata Azam yang membuat pak kyai diam membisu.
"Memang ada dua orang yang bertentangan di satukan dalam sebuah hubungan pernikahan, tapi itu hanya sebagai ujian saja, contohnya Fir'aun dengan Asiyah, satunya ahli surga, satunya ahli neraka, mereka memang di satukan di dalam sebuah hubungan pernikahan, tapi itu semua hanya ujian bagi Asiyah saja, tidak lebih" jawab Azam.
__ADS_1
"Pendapat saya dengan pendapat anda berbeda pak kyai, saya memikirkan kedepannya, sedangkan anda memikirkan apa yang akan terjadi padanya saat ini, jika saya tidak menerimanya, anda tidak memikirkan kedepannya akan bagaimana, itu saja" kata Azam.
"Saya mengerti, kembalilah ke dalam kamar mu sana, masalah Rina saya yang akan menyelesaikannya, kamu tak usah khawatir" jawab pak kyai.
"Makasih pak kyai" kata Azam.
"Sama-sama" jawab pak kyai.
"Saya permisi assalamualaikum" kata Azam.
"Wa'alaikum salam" jawab pak kyai.
Azam lalu kembali ke dalam kamarnya.
"Begitulah ceritanya, kenapa ada santriwati yang rela bunuh diri karena cintanya di tolak sama Ustadz Azam, miris kan" kata Amaira.
"Miris sekali, dia sampai seperti itu hanya karena ingin membuat Ustadz Azam menjadi miliknya, sungguh dia benar-benar gila" jawab Fatimah tak habis pikir dengan jalan pikiran Rina yang benar-benar sempit sehingga melakukan tindakan seperti itu.
"Untung saja Ustadz Azam tidak menerimanya, kalau Ustadz Azam sampai menerimanya, sungguh Ustadz Azam benar-benar akan mematahkan hati semua umat" kata Maria sangat bersyukur.
"Tak mungkinlah Ustadz Azam menerimanya, untung saja dia sudah mati" kata Amaira.
"Iya kalau dia tidak mati, dia akan melakukan hal yang lebih gila lagi hanya untuk mendapatkan Ustadz Azam" kata Ria.
"Bikin malu saja dia" kata Fatimah.
"Mencoreng nama baik santriwati aja" kata Amaria.
"Sok suci lagi" kata Maria.
"Tidak tau diri" kata Ria.
Rina yang mendengar itu semua melotot tajam, tangannya mengepal kuat, kata-kata yang keluar dari bibir mereka berempat membuat Rina langsung emosi.
"Beraninya mereka menghina ku dan berkata seperti itu, mereka tidak tau apa kalau mereka dalam bahaya saat ini, lihat saja apa yang akan aku lakukan nona" kata Rina menatap tajam dengan senyuman sinis.
"Dia itu tidak tau malu" kata Amaria.
"Siapa yang tidak tau malu?" tanya Rina menampakkan diri dengan wajah seramnya pada mereka semua.
__ADS_1
Mereka semua sontak menoleh ke asal suara.