Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Selamat tinggal


__ADS_3

Azam merasa sedikit lega."Terima kasih Raisa, sekarang kamu istirahatlah, aku janji Rai aku gak akan pernah lupain kamu, seumur hidup aku akan terus mengingat mu"


Aku tersenyum mendengar pernyataan itu.


"Aku pergi dulu Azam, selama tinggal" kami melambaikan tangan dengan tersenyum manis.


"Selamat tinggal" Azam membalasnya.


Kami berdua pelan-pelan menghilang dari hadapan Azam.


Azam langsung terduduk di bawah saat tubuh ku tak bisa lagi di lihatnya.


"Raisa maafkan aku, karena aku kamu pergi, aku orang yang patut di salahin di sini, tolong maafin aku" tangis Azam yang kehilangan Raisa dan kini ia merasa hampa, sebab orang yang ia cintai sudah pergi untuk selamanya.


"Raisa aku berjanji pada mu aku tidak akan pernah lupain kamu, selamanya aku akan mencintai mu"


Ning Aisfa yang mendengar penuturan itu diam.


Azam berhenti menangisi Raisa saat merasa ada seseorang yang berdiri di hadapannya, ia mendongak melihat siapa yang kini berada di hadapannya.


"Ning Aisfa" ning Aisfa tersenyum, ia tau pemuda itu sedang terluka setelah kematian Raisa.


"Mari kita bercerai" Azam tercengang mendengar permintaan ning Aisfa.


"Kenapa ning?"


"Aku tau kamu mencintai orang lain, aku tidak bisa maksa kamu bersama ku, walaupun sekarang kamu menjadi suami ku, tapi aku hanya memiliki raga mu saja tidak untuk hati mu, lebih baik kita berpisah saja, karena aku tau kebahagiaan mu ada bersamanya" Azam mengangguk.


Mereka benar-benar berpisah, Azam kini merasa hidupnya sepi dan sunyi, hanya ada kehampaan di setiap hari-harinya berjalan.

__ADS_1


Orang yang ia cintai sudah pergi dari dalam hidupnya, tidak ada lagi gadis kecil yang merengek-rengek untuk di bantu olehnya, namun bukannya senang dia malah sedih.


Saat ini ia sangat merindukan gadis itu, gadis yang tidak akan pernah kembali lagi, hanya moment-moment indah yang di lewati bersamanya yang terus Azam ingat, dia segalanya baginya, tidak ada satupun orang yang bisa menggantikan posisinya.


Hari hilir mudik berganti, minggu-minggu berlalu, bulan-bulan bertukar, tahun-tahun berubah, sudah 10 tahun Raisa pergi meninggalkan Azam namun sampai selama itu Azam masih sendiri, ia tidak ada niatan menikah dan hidup bahagia sama sekali, karena yang ada di hatinya tetaplah Raisa.


Azam semakin hari semakin cuek dan dingin, tidak ada satu wanita pun yang dapat menarik perhatian Azam, ia benar-benar menutup diri dan juga hatinya semenjak Raisa pergi.


Setiap hari entah itu pagi, siang, sore ataupun malam Azam pasti datang berkunjung ke tempat di mana kekasihnya beristirahat selama ini, ia selalu datang dengan membawa bunga mawar.


Azam meletakkan bunga mawar putih itu di pusaran Raisa.


"Assalamualaikum Raisa aku datang, aku bawain bunga mawar putih untuk mu, aku gak tau bunga apa yang kamu sukai, aku hanya menyukai bunga ini saja, aku berharap kamu suka"


"Raisa bagaimana kabar kamu, kamu istirahat yang tenang ya di sana, aku di sini tetap ingat sama kamu seperti yang kamu inginkan, sudah 10 tahun ya kamu pergi, gak nyangka baru kemarin kamu pergi, sekarang sudah 10 tahun aja"


"Raisa selama ini aku masih belum bilang sama orang tua kamu kalau kamu sudah meninggal, habis ini aku akan ke rumah orang tua mu, mereka patut tau Rai, mereka berhak tau, kamu jangan marah ya kalau aku ngasih tau mereka, aku lakuin ini agar kamu bisa lebih tenang di sana walaupun kamu gak minta aku buat ngasih tau mereka, tapi aku tau Rai, aku tau kamu ingin mereka tau kalau kamu anak mereka yang sebenarnya, dan hari ini aku akan bilang sama mereka"


Makam Raisa sangat terawat, tidak ada satu rumputpun yang tumbuh, makam Raisa selalu penuh dengan bunga hingga tanah tak terlihat walau sedikitpun.


Azam selalu menjaga makam itu selama ini, ia mengadukan segala yang terjadi di hidupnya pada Raisa, pasti setiap hari ada aja cerita yang Azam bawakan untuk Raisa, ia sungguh merindukan gadis itu namun semesta sudah mengambilnya lebih dulu.


Azam sampai di depan rumah orang tua Raisa yang besar dan megah, ia menatap rumah itu, kini tatapannya jatuh pada dokter Kevin dan juga bu Hana yang berada di halaman rumah bersama Jihan dan anak-anak Jihan.


Mereka tampak bahagia, senyuman dan tawa terus terukir di wajah mereka.


Azam mengambil napas lalu membuangnya secara perlahan, ia kemudian berjalan mendekati rumah itu.


"Ada apa mas, mas perlu sama siapa?" Azam melihat ke arah satpam yang menjaga rumah ini selama ini.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini pak, tolong beri tau pada beliau, ini penting pak"


"Baik mas, mas tunggu di sini sebentar, saya minta izin dulu" pak satpam itu berlari mendekati nyonya dan tuannya.


"Pak bu ada orang yang ingin bertemu dengan kalian, dia bilang dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, apakah dia boleh masuk?"


"Suruh masuk saja mang" jawab dokter Kevin yang kini berada di ruang tamu.


"Baik tuan" pak satpam itu kembali mendekati Azam.


"Silahkan masuk mas, tuan dan nyonya ngizinin mas masuk" Azam mengangguk sopan dan masuk ke dalam rumah itu, ia langsung mendekati dokter Kevin dan bu Hana.


"Silahkan duduk dulu" bu Hana mempersilahkan Azam duduk.


Azam mengangguk dan duduk di ruang tamu.


"Ada apa kamu datang ke sini, siapa kamu, saya tidak kenal kamu, dan kenapa kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?" Azam tersenyum, ia melihat ke arah Jihan dan berganti pada bu Hana.


"Benar-benar mirip" batin Azam.


"Perkenalkan nama saya Azam, saya adalah orang yang sangat mencintai putri bapak dan ibu selama ini"


Mereka bertiga terkejut, karena mereka berpikir Azam mencintai Jihan sedangkan saat ini Jihan sudah memiliki dua orang anak dan sudah hidup bahagia bersamanya suaminya.


"Bagaimana mungkin kamu mencintai anak ku, dia sudah menikah, dia juga sekarang sudah punya anak?" terkejut dokter Kevin menatap tak percaya ke arah Azam.


"Maaf pak, bapak jangan salah paham dulu, saya memang mencintai anak bapak, tapi bukan dia" lirikan mata Azam jatuh pada Jihan.


"Maaf kami cuman punya satu orang anak saja, mungkin kamu salah alamat" pikir bu Hana.

__ADS_1


"Tidak bu, saya tidak salah alamat, saya memang datang ke rumah orang tua orang yang saya cintai"


__ADS_2