
"Kalau sudah tau, kenapa masih nanya" kata ku.
"Judes banget sih" kata Azam.
"Hai anak manis, siapa nama mu?" tanya ku.
"Dia masih belum punya nama, dia baru lahir" jawab Azam dingin.
"Permisi, mas bicara sama siapa?" tanya suster yang menjaga ruangan ini.
"Mati, aku harus jawab apa ini" batin Azam.
"Sama aku lah, sama siapa lagi, gimana sih kau ini, masa tidak melihat ku di sini, tega sekali kau mengabaikan aku" jawab ku.
"Bukan siapa-siapa suster" jawab Azam.
Suster itu tak bertanya lagi lalu pergi meninggalkan kami.
"Keluar yuk, jangan di sini, biar debay ini bobok, kita keluar aja jangan ganggu mereka" ajak Azam.
"Iya ayo" jawab ku.
Kami berdua keluar dari ruangan bayi itu.
"Oh ya mumpung kamu ada di sini, ayo bantuin aku aja, aku juga di rawat di rumah sakit ini, aku akan tunjukkan ruangan perawatan aku" ajak ku.
"Aduh bagaimana ini, aku tidak mau dia pergi, ya Allah tolonglah hamba, hamba tidak mau kehilangan dia secepat ini, hamba mohon datangkan lah penyelamat yang bisa membebaskan hamba kali ini, plis hamba mohon pada mu" batin Azam.
"Kok diam, ayo kita ke ruangan aku, aku akan tunjukkan di mana raga aku berada dan kasih tau aku bagaimana caranya aku bisa kembali ke dalam raga lagi" kata ku.
"Anu-
"Anu apa, ayo gak usah pakai anu-anuan, langsung aja ke ruangan perawatan aku dan bantuin aku" kata ku.
"Aduh bagaimana ini ,masa iya semuanya akan berakhir hari ini, aku tidak rela, aku mohon datanglah penyelamatan dan bebaskan aku" batin Azam.
"Woy kenapa diam sih, ayo cepatan kita ke sana, aku akan tunjukkan di mana raga aku biar kamu tau" ajak ku lagi.
"Rai-
__ADS_1
"Azam" panggil seseorang.
"Yes akhirnya sang penyelamat datang juga, terimakasih ya Allah" batin Azam senang.
Azam membalikkan badannya.
"Iya pak kyai" jawab Azam.
"Kamu ngapain ke sini, ayo kita ke ruangan perawatan Ria sama Amaira saja" ajak pak kyai.
"Baik pak kyai" jawab Azam.
Azam mengikuti pak kyai dari belakang.
"Ishh kenapa pak kyai itu pake acara datang sih, aku kan gagal yang mau ngajak Azam lihat raga aku, gak bener dia ini, sialan memang dia" kesal ku.
Azam hanya tersenyum mendengar kekesalan ku.
"Maaf Raisa, aku rasa takdir juga tidak mau memisahkan kita, kamu yang sabar ya, aku pasti akan bantuin kamu, tapi nanti" batin Azam.
Sampai di ruangan perawatan.
"Baiklah, tapi kamu jangan biarkan Rina datang ke sini ataupun hantu-hantu lain, kasihan mereka, mereka pasti trauma sama kejadian yang baru saja menimpa mereka" jawab pak kyai.
"Baik pak kyai" kata Azam.
"Saya pulang dulu, besok saya akan datang ke sini sama Ummi" jawab pak kyai.
"Iya apa kyai" kata Azam.
"Kamu hati-hati di sini, kalau ada apa-apa kamu pinjam hp suster atau siapa yang kamu temui untuk telpon pondok, nanti saya akan datang ke sini assalamualaikum" pamit pak kyai.
"Wa'alaikum salam, iya saya akan kasih tau pak kyai, pak kyai tenang saja" jawab Azam.
Pak kyai pulang ke pesantren meninggalkan Azam sendirian.
"Ayo Azam kita ke raga aku, aku akan tunjukkan di mana dia berada" ajak ku.
"Aku ngantuk Raisa, besok aja, aku juga cepak belum istirahat sama sekali, kamu ngertiin ya" jawab Azam pura-pura ngantuk.
__ADS_1
Aku menghela napas berat.
"Ya sudah besok kamu harus mau ke sana, sampai kamu gak mau, aku akan cari pengendara motor itu saja" kata ku.
"Pengendara motor ,ngapain kamu mau nyariin dia, emang siapa dia?" tanya Azam.
"Dia itu gak sengaja aku temui tadi siang dan dia adalah orang kedua yang bisa liat aku selain kamu, kalau kamu gak mau bantuin aku juga, terpaksa aku akan cari dia saja, aku yakin dia bisa membantu ku untuk kembali ke dalam raga ku" jawab ku.
"Gawat, aku akan kehilangan Raisa kalau sampai Raisa di bantu oleh pengendara motor itu, tak akan aku biarkan hal itu terjadi, aku tak akan biarkan dia pergi, Raisa besok kau tak akan berkutik, lihat saja nanti siapa yang menang, aku atau kamu" batin Azam.
"Hmm" kata Azam memejamkan mata.
"Dasar menyebalkan, aku kan belum selesai ngomong, kenapa dia malah tidur, huft membosankan sekali, lebih baik aku lihat saja anak-anak bayi di box dari pada menjaga orang tidur ya kan" kata ku berdiri.
Tiba-tiba sebuah tangan mencekal pergelangan tangan ku.
"Jangan pergi, tetaplah di sini, kalau kamu masih mau pergi, aku tak akan mau ikut dengan mu esok" kata Azam dengan mata yang masih tertutup.
"Ck manusia ini, menyebalkan sekali" jawab ku terpaksa menurut.
"Iya aku tidak akan pergi, awas saja sampai kau berbohong, ku hajar kau ya" ancam ku.
"Dasar gadis ini, berani sekali dia mau mengancam ku, dia tak tau apa siapa yang dia ancam" batin Azam tersenyum.
Aku kembali duduk di kursi tunggu itu lalu Azam meluruskan tubuhnya ia tidur dalam pangkuan ku.
Aku mengacak rambutnya pemuda tak berperasaan itu yang malah tidur terlelap.
"Kalau di lihat-lihat dia memang ganteng sih kalau sedang tidur, kalau enggak tidur beh gak jadi gantengnya, dia pasti akan langsung mengusir aku dan membuat ku kesal setiap saat, andai aja dia kalem gitu, baik hati, tidak marah-marah pasti ganteng" kata ku sendiri.
"Tapi faktanya tidak sama sekali, dia sukanya marah-marah, cueknya Masya Allah, dinginnya seperti es di kutub selatan, apalagi ya hmm, dia tidak punya hati tega, tak mau membantu ku sama sekali, apa sih susahnya cuman bantu aku doang, tidak akan menghilangkan nyawa juga, tapi kenapa dia susah sekali sih cuman bantuan aku doang, benar-benar menyebalkan, iih kau ini" kata ku mengacak-acak rambutnya.
"Menyebalkan sekali, mana ada orang mau sama dia kalau modelannya seperti batu kayak gini, gak ada orang yang mau, pantesan dia belum kawin-kawin juga, kalau memang ada yang berhasil mengambil hati pria batu ini, dia benar-benar hebat, sangat hebat, aku akan memujinya seumur hidup ku, iiih kesalnya, aku ini mau kembali ke dalam raga ku, kenapa dia tidak mengerti sih" kata ku.
"Akkkh nasib-nasib" kata ku pasrah.
Tanpa ku sadari pemuda yang tertidur lelap di pangkuan ku ini mendengarnya.
"Besok kau akan lihat perubahan yang sesungguhnya, siap-siap saja kau akan ternganga nantinya" batin Azam lalu tertidur dengan sempurna.
__ADS_1