
"Kalian jaga pesantren, saya mau pergi ke luar kota, untuk dua santriwati yang di rawat itu, sesekali kalian jenguk takut ada apa-apa lagi dengannya" kata pak kyai.
"Baik pak kyai, kami akan menjaga mereka dan juga pesantren ini" jawab keduanya.
"Teruntuk Rina kalian harus bisa tangkap dia, kalian tidak boleh biarkan dia berkeliaran di dalam pesantren ini, kalian gunakanlah cara apapun yang penting Rina tidak lagi berkeliaran di dalam pesantren" kata pak kyai.
"Kami akan berusaha mencari dan menangkapnya, kami akan memastikan kalau dia tidak akan bisa mengganggu orang lain lagi, pak lagi tidak usah khawatir, masalah hal itu biar kami yang ngurusnya" jawab Azam.
"Baiklah kalau begitu, saya mau pergi, kalian jaga baik-baik pesantren ini saat saya masih belum kembali" kata pak kyai.
"Baik pak kyai" jawab mereka.
"Saya permisi dulu, assalamualaikum" pamit pak kyai.
"Wa'alaikum salam" jawab keduanya.
Pak kyai berjalan menuju kediamannya baru setelah itu akan berangkat ke tempat yang menjadi tujuannya.
Mereka berdua masih diam di tempat dengan menatap punggung pak kyai yang kemudian menghilang secara perlahan-lahan.
"Pak kyai sudah pergi, ayo kita kembali ke sekolahan terbengkalai itu, kita harus tolong Raisa, dia pasti sedang kesulitan" ajak Azam.
"Tunggu dulu kak" cegah Adam.
"Kenapa?" tanya Azam mengerutkan alis.
"Kita harus atur rencana dulu sebelum masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu, di sana itu pasti ada banyak hantu, kita harus pikiran cara yang sekiranya saat kita masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu kita tidak ikut hilang seperti santri-santri yang dulu itu" jawab Adam.
"Kelamaan, ayo cepat kita ke sana saja, tidak akan ada yang terjadi pada kita, semuanya akan baik-baik saja, hantu gak mungkin nyulik kita, ayo cepat kita harus ke sana" kata Azam yang sudah tidak sabaran.
"Tapi kak" cegah Adam yang takut ada apa-apa yang terjadi padanya dan juga kakaknya jika nekat masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu.
"Tidak ada tapi-tapian, ayo kita ke sana, kita harus tolongin Raisa sebelum dia tidak bisa kembali lagi ke sini" ajak Azam.
Adam pun tak bisa menolak, ia terpaksa mengikuti kakaknya yang sudah tak sabaran untuk mencari ku yang terjebak di dalam sekolahan terbengkalai itu.
__ADS_1
"Kita harus tolongin Raisa, dia pasti butuh bantuan kita, kita jangan biarkan Raisa bernasib sama dengan santri-santri yang hilang itu, aku tidak mau dia pergi ninggalin aku" kata Azam.
"Tapi kak dia itu sukma yang terpisah dari raganya, kakak harus tolongin dia, dia juga punya kehidupan, dia pantas untuk bahagia, kakak jangan egois" kata Adam.
"Aku tau aku egois, tapi percayalah aku pasti akan tolongin dia, kamu tidak usah khawatir, dia akan aku bantu, tapi bukan sekarang, nanti setelah waktunya sudah tiba" jawab Azam.
"Iya, tapi jangan kelamaan, nanti Raisa tidak bisa kembali ke dalam raganya, kakak yang akan galau seumur hidup" kata Adam.
"Itu tidak akan terjadi, dia pasti akan kembali ke dalam raganya meski aku belum tau dia akan inget aku setelah siuman atau tidak" kata Azam yang takut sekali jika hal itu terjadi.
"Kakak berdoa saja semoga Raisa bisa ingat kakak meski sudah kembali ke dalam raganya" kata Adam.
"Semoga aja dia masih ingat pada ku" kata Azam yang tak akan bisa membayangkan jika aku tak mengingatnya ketika aku kembali ke dalam raga.
Langkah keduanya berhenti tepat di sekolahan terbengkalai.
Mereka diam dan menatap sekolahan yang terlihat angker meski dari luar.
Tanaman-tanaman liar serta cat-cat tembok yang mengelupas membuat sekolahan terbengkalai itu nampak lebih angker dan menyeramkan.
"Yakin, ayo kita masuk ke dalam, Raisa pasti butuh bantuan kita, kita tidak bisa biarkan di kenapa-napa" ajak Azam.
"Baiklah ayo kita masuk" setuju Adam.
Baru satu langkah mereka menginjak sekolahan terbengkalai itu tiba-tiba.
"Azam, Adam"
Panggilan itu membuat langkah mereka terhenti.
Mereka berbalik badan menghadap ke belakang.
"Pak poci"
Terkejut mereka saat melihat pak poci yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya pak poci.
"Kami ingin mencari Raisa pak poci, dia berada di dalam sekolahan ini" jawab Azam.
"Kalian yakin jika dia berada di sana?" tanya pak poci yang masih belum yakin sepenuhnya.
"Yakin pak poci, dia berada di sana, karena tadi sebelum dia menghilang dia sempat penasaran pada sekolahan terbengkalai ini" jawab Adam.
"Kami ingin mencari Raisa di dalam pak poci, aku merasa dia sedang kesulitan, kami harus bantuin dia" kata Azam.
"Tapi sangat berbahaya kalian masuk ke dalam sekolahan itu, di sana itu terdapat kerajaan jin, menurut nek Sundu santri-santri yang hilang telah masuk ke dalam alam gaib karena di sekolahan ini terdapat pintu masuk ke dalam alam gaib, kalian jangan nekat masuk ke dalam, aku hanya takut kalian tidak akan bisa keluar seperti santri-santri dulu itu" larang pak poci.
"Tapi pak poci kami harus bantu Raisa, kami tidak bisa biarkan dia berada di dalam sendirian, kami yakin kok kalau kami bisa keluar dari sana, pak poci tenang saja" jawab Azam.
"Resikonya besar Azam, kalau semisal kamu gak bisa keluar bagaimana, kondisi kamu lagi gak fit, kamu jangan nekat masuk ke dalam" larang pak poci lagi.
"Betul itu kak, kakak lagi sakit, kakak jangan nekat masuk ke dalam, karena takutnya kakak gak akan bisa keluar" kata Adam yang setuju dengan pak poci.
"Tapi bagaimana dengan Raisa, dia masih berada di dalam, aku tidak mau dia kenapa-napa" cemas Azam yang terus memikirkan aku.
"Begini saja, biar aku yang masuk ke dalam sekolahan ini, kakak tunggu saja aku kembali, aku akan cari Raisa dan bawa dia kembali ke sini" kata Adam.
"Emang kamu bisa bawa Raisa kembali?' tanya Azam.
"InsyaAllah aku bisa, kakak doakan saja semoga aku bisa bawa Raisa kembali" jawab Adam.
"Baiklah, aku akan izinin kamu buat nyari Raisa, ingat bawa dia kembali ke sini, bagaimanapun caranya" kata Azam.
"Iya aku akan bawa dia kembali, kakak tunggu di asrama saja, jangan berada di sini, pak poci antarkan kakak ku ke asrama" tintah Adam.
"Baik" jawab pak poci.
Adam melangkah masuk ke dalam sekolahan terbengkalai itu.
"Hati-hati Adam" teriak Azam yang khawatir takut ada apa-apa pada adiknya.
__ADS_1
"Iya" jawab Adam.