
"Sepertinya di sana ada apa-apa, aku harus ke sana, aku harus bisa sampai di sana sebelum aku terlambat meski aku tidak tau aku akan terlambat kenapa" aku bangun dari duduk ku dan berlari keluar dari dalam rumah sakit.
Entah kenapa rasanya susah sekali untuk ku melangkah, tubuh ku semakin lama semakin lemas, mungkin itu terjadi karena seharian aku menangisi Azam.
Namun aku masih terus berlari menuju rumah dokter Kevin, aku tidak mempedulikan tubuh ku yang pelan-pelan mulai melemah.
"Aku harus bisa sampai di rumah, aku harus lihat ada apa di sana, apa mama sedang sakit keras sehingga nenek nyuruh aku ke sana"
"Aku sampai di sana secepatnya, aku tidak mau kehilangan mama"
Aku terus berlari dengan kencang menuju rumah dokter Kevin yang sudah tak seberapa jauh.
Aku menghentikan langkah ketika sampai di depan rumah, aku memegangi dada ku yang kehabisan napas karena terus berlari tanpa henti.
"Akhirnya aku sampai di sini juga, aku harus masuk ke dalam, aku harus lihat keadaan mama dan papa"
Dengan senyuman manis aku melangkah masuk, tiba-tiba langkah ku terhenti tepat di ambang gerbang, senyuman yang tadinya merekah di bibir ku kini sirna saat mata ku melihat seorang gadis yang sebaya dengan ku, wajah gadis itu mirip sekali dengan mama.
"Pak Kevin bu Hana ini anak bapak dan ibu yang selama ini saya rawat, saya nemuin Jihan di dalam gerobak sampah, saya dari dulu ingin datang ke sini tapi saya takut Jihan di usir seperti anak-anak lainnya, saya tidak mau Jihan terluka pak bu, tapi hari ini saya nekat bawa dia kemari karena Jihan berhak tau siapa orang tua kandungnya" jelas bu Sumirah.
"Mama" gadis bernama Jihan itu memeluk bu Hana.
Bu Hana membalas pelukan Jihan, ia menangis haru setelah menemukan anaknya yang sudah lama hilang.
"Nak mama kangen sama kamu, mama dari dulu terus berusaha nyari kamu" bu Hana membelai lembut wajah Jihan dengan air mata yang terus mengalir.
"Jihan juga kangen banget sama mama" balas Jihan.
Dokter Kevin diam, wajah Jihan sama persis seperti wajah bu Hana saat masih muda, ia teringat pada ucapan Bahar yang mengatakan kalau dia menaruh anak kandungnya di dalam gerobak sampah saat masih bayi, ia sekarang percaya kalau Jihan adalah anaknya meski sebenarnya bukan.
"Ma bawa anak kita masuk, papa tidak mau ada orang yang nyulik dia lagi" titah dokter Kevin.
"Pak Kevin lebih baik tes DNA dulu, biar lebih akurat" saran satpam yang trauma karena banyak sekali penipuan di jaman sekarang.
__ADS_1
"Tidak usah pak satpam, dia adalah anak ku, darah gading ku yang sudah hilang 17 tahun yang lalu"
DEG!
Hati ku hancur saat papa ku mengatakan hal itu.
"Papa aku adalah anak kandung papa, bukan dia pa, bukan dia, papa jangan percaya begitu saja padanya, dia bukan siapa-siapa, dia hanyalah orang asing, papa jangan bawa dia masuk, usir dia pa" teriak ku yang tidak terima ada orang yang menggantikan posisi ku.
Walaupun aku berteriak senyaring apapun tetap percuma karena mereka tidak akan bisa melihat ku apalagi mendengar ku.
"Ayo nak masuk, mama kangen banget sama kamu" ajak mama.
Jihan mengangguk lalu mengikuti papa dan mama masuk ke dalam rumah.
"Tidakk, jangan bawa dia masuk ma, dia bukan aku, dia orang yang menyamar jadi aku, aku di sini ma, mama aku di sini" teriak ku histeris saat kini posisi ku sudah di gantikan oleh orang lain.
Tidak ada yang mendengar ku, mereka tetap saja membawa orang asing itu masuk ke dalam rumah.
"Mama aku di sini, dia bukan aku ma, dia bukan aku, mama jangan percaya pada dia" isak ku yang tak terima posisi ku di ambil oleh orang lain.
Aku menyeka air mata yang terus mengalir lalu berjalan menuju pondok pesantren Al-ikhlas yang jauh.
Saat ini aku tidak bisa berlari seperti tadi, tubuh ku terlalu lemas, dengan tertatih-tatih aku berjalan menuju pondok.
Sepanjang perjalanan aku menguatkan diri untuk tidak hancur saat melihat Azam bersama yang lain.
Kini aku sudah tiba di depan pondok pesantren yang sudah di dekorasi sebagus mungkin.
"Aku harus bisa tegar, Raisa kamu harus bisa berlagak baik-baik saja, jangan terlihat lemah di depannya, kamu harus bisa tegar, ingat itu baik-baik"
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam pesantren itu, dada ku terasa sakit saat melihat dekorasi yang super bagus di dalam pesantren ini.
Aku melangkah menuju masjid, aku berdiri di ambang pintu masjid.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Aisfa Maharani binti Abdul Aziz dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" ucap lantang penghulu itu.
Azam melihat ke arah ku yang berdiri di ambang pintu masjid yang tengah terguncang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisfa Maharani binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" jawab Azam dengan lantangnya.
"Bagaimana pada saksi sah?"
"Saaah" teriak para saksi yang turut hadir di sana.
Doa pun di ucapkan setelah ijab kabul selesai di lakukan.
DEG!
Rasanya sesak ketika melihat sesuatu yang tak seharusnya di lihat.
Aku memegangi dada ku yang terasa sesak, aku menahan air mata ku agar tidak tumpah, namun tak bisa, pertahanan ku hancur saat melihat dia yang ku cintai menikah dengan wanita lain tepat di hadapan ku.
"Raisa" batin Azam yang melihat ku terus memegangi dada dengan air mata yang mengalir.
Rasanya aku tak sanggup berada di sini lebih lama lagi, alhasil aku pun lari dari sana dengan memegangi dada ku yang terasa sangat sakit.
"Raisa maafkan aku" batin Azam.
Adam yang melihat ku pergi mulai panik, ia ingin mengejar ku namun keadaan serasa tak mengizinkannya.
Ning Aisfa mencium punggung tangan Azam selaku orang yang kini berstatus suaminya, sedangkan orang yang kini menjadi suaminya tengah memikirkan wanita lain yang tanpa sengaja hatinya ia lukai.
Azam melirik ke arah adiknya,"Kejar dia, aku yang akan mengurus semuanya yang ada di sini" jawab Adam.
Dengan cepat Azam bangkit dari duduk dan berlari keluar dari dalam masjid.
"Azam, Azam kamu mau kemana" teriak mereka semua yang melihat Azam yang pergi begitu saja setelah ijab kabul selesai di lakukan.
__ADS_1
Adam yang berada di sana langsung menenangkan orang-orang yang berada di sana khususnya ning Aisfa dan pak kyai.