
Di dalam pesantren.
Di dalam suasana malam yang gelap para santriwati semuanya masuk ke dalam kamar karena sudah waktunya mereka istirahat.
"Eh Ustadz Azam itu makin hari makin ganteng aja" kata Fatimah.
"Iya dia itu memang ganteng, tapi sayangnya cuek, dingin lagi, susah sekali kita dapatkan" jawab Amaira.
"Jangankan buat mendapatkan Ustadz Azam di lirik sedikitpun aja gak pernah, mana bisa kita mendapatkannya" sahut Maria.
"Iya juga, terbuat dari apa sih Ustadz Azam itu, kenapa modelnya kayak batu, kerasnya minta ampun" tak habis pikir Fatimah.
"Sebenarnya kenapa sih Ustadz Azam harus bersikap kayak gitu, kita kan susah buat dekati dia kalau kayak begini" kata Maria.
"Aku juga tidak tau bagaimana cara yang akan kita lakukan untuk mendapatkannya, yang penting sekarang itu kita berusaha saja, jangan menyerah, lambat laun Ustadz Azam pasti luluh juga" kata Ria.
"Eh kalian tau gak sih tentang cerita santri yang rela mati karena Ustadz Azam tidak mau menerima cintanya?" tanya Amaira.
"Enggak, emang gimana ceritanya?" tanya Fatimah.
"Dulu itu...
Cerita Amaria.
Rina saat ini dalam keadaan hati yang berbunga-bunga, wajahnya yang sangat cantik terus mengukir senyuman manis.
"Hari ini aku akan melamar Ustadz Azam, aku yakin dia pasti menerima ku, dia kan sudah tau kalau aku adalah santri teralim di pesantren ini, aku yakin sekali dia pasti menerima ku" kata Rina begitu percaya diri.
__ADS_1
"Aku harus cari Ustadz Azam, eh dia kan pasti ada di sekolahan santriwan, bagaimana caranya aku bisa ke sana sedangkan pak kyai melarang keras santriwati mendatangi santriwan, gimana ini masa, aku melanggar aturan sih" kata Rina di landa kebingungan.
"Tapi tak apalah yang penting aku bisa mendapatkan Ustadz Azam, masalah aturan yang di langgar itu hal biasa dan hukumannya juga pasti biasa, gak mungkin melebihi batas, palingan cuma di suruh bersihin saluran air, udah biasa itu mah" kata Rina mengganggap remeh hukuman jika melanggar aturan yang sangat di larang keras.
"Aku harus temui Ustadz Azam, aku harus bisa jadi milik dia" kata Rina begitu percaya diri.
Rina berjalan menuju asrama santriwan yang ada di sebelah asrama santriwati.
"Rina kamu mau kemana?" tanya Nadila yang tak sengaja melihat Rina yang berjalan ke jalanan yang di larang oleh pak kyai.
"Jangan bilang kamu mau ke asrama santriwan, kamu tau kan kalau itu tidak boleh gimana sih kamu ini, nanti kamu dia hukum sama pak kyai, kamu mau apa?" tanya Nadila lagi.
"Diam lah kau dil, jangan halangi aku, aku ini ingin melamar Ustadz Azam, masalah hukuman itu hal kecil, tak mungkin pak kyai menghukum ku dengan berat, aku yakin sekali" jawab Rina enteng.
"KECIL, hei Rina asal kau tau, kalau sampai ada laporan santriwati masuk ke asrama santriwan hukumannya itu di keluarkan dari dalam pesantren kau mau itu hahh" kata Nadila yang membuat Rina tercengang dengan beratnya hukuman tersebut.
"Aku tidak peduli mau di keluarkan atau tidak yang penting Ustadz Azam harus menjadi milik ku, aku yakin dia pasti menerima ku, kau jangan halangi jalan ku" jawab Rina.
"Haha mana mau Ustadz Azam dengan mu, Rina kau jangan kepedean dulu, takutnya nanti kau malah di tolak mentah-mentah" ejek Nadila menertawakan Rina yang membuat mood Rina langsung berubah.
"Tutup mu Dila, kau jangan menertawakan aku, aku yakin kalau aku pasti di terima sama Ustadz Azam, sudahlah aku mau ke Ustadz Azam saja, tak mau meladeni mu yang hanya ingin menghentikan usaha ku untuk mendapatkannya" kata Rina lalu kembali berjalan meninggalkan Nadila yang masih terus menertawainya.
"Rina-rina dia pikir dia sealim apa sampai-sampai Ustadz Azam yang paling ganteng itu mau menerimanya, dasar gadis bodoh" kata Nadila sendiri dengan menatap punggung Rina yang terus berjalan menuju asrama santriwan.
Rina melangkah memasuki asrama santriwan tanpa rasa takut sedikitpun.
Semua mata tertuju padanya, mereka semua kaget dengan kedatangan Rina yang masuk ke dalam asrama santriwan, mereka tau itu hal yang sangat di larang.
__ADS_1
Rina tidak peduli dengan tatapan mereka, dia terus berjalan sampai kakinya memasuki sekolahan.
"Itu Ustadz Azam, aku harus temui dia" kata Rina melihat Azam yang berjalan di balkon.
Dengan cepat Rina menaiki tangga untuk menemui Azam dan mengutarakan maksud tujuannya datang ke sini.
"Azam" panggil Rina.
Azam menoleh ke belakang, ia begitu tertegun melihat santriwati berada di asrama santriwan.
"Wahai ukhti mengapa kau ada di sini, ini bukan tempat mu, kembalilah ke dalam asrama santriwati, jangan di sini" suruh Azam.
"Aku sengaja datang ke sini karena aku ingin melamar mu" kata Rina dengan percaya diri.
"Maaf ukhti, sudah saya bilang dan tegaskan pada semua santriwati, kalau saya ingin fokus ke pondok dulu, saya tidak mau memiliki hubungan pada siapapun saat ini" jawab Azam menolak lamaran Rina selembut mungkin.
"Kau sudah mau hampir lulus, kau juga sudah menjadi Ustadz, apa lagi yang kau tunggu selain menikah, sudah cukup kau belajar di sini, kau harus memikirkan masa depan mu, bukan pelajaran saja" kata Rina.
"Masa depan saya sudah di atur oleh Allah taala bukan anda, jadi walaupun saya masih menolak seribu cinta yang berdatangan, percayalah ada satu orang yang sudah Allah siapkan untuk saya" jawab Azam.
"Sudah cukup kau menolak mereka Azam, bukalah mata mu dan lihatlah kalau ada orang yang mencintai mu dan sekarang dia datang menemui mu" kata Rina yang sudah tak habis pikir dengan Azam yang masih berusaha untuk menolak perasaannya.
"Orang yang saya cintai belum saya temukan pada diri siapapun termasuk anda, jadi mengertilah kalau saya tidak mau menerima anda, sekarang kembalilah ke asrama santriwati, jangan berada di sini, di sini bukanlah tempat anda, anda tau kan kalau seorang santriwati tidak boleh masuk ke dalam asrama santriwan, itu di larang keras mengapa anda melanggarnya, apa anda tidak tau konsekuensinya" jawab Azam.
"Aku tidak peduli hukuman yang akan di berikan, yang penting aku sudah mengatakan kalau aku menyukai mu, ku mohon terimalah, apakah kau tidak tau kalau aku ini santriwati teralim, kenapa kau masih menolak ku" kata Rina.
Azam tertawa kecil setengah mengejek mendengar perkataan Rina barusan.
__ADS_1