Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Bodoh


__ADS_3

"Baru kali ini saya menemukan manusia yang ingin di puji oleh orang lain, hei ukhti kau jangan menjadikan kealiman mu sebagai alat biar kau di sanjung, kau jangan haus pujian, saya tau kalau anda selama ini ingin terlihat alim agar di puji oleh semua orang dan anda bisa melakukan apapun dengan itu cihh, ingat kealiman palsu mu itu tidak akan bisa menipu saya, saya tidak bodoh, saya tau mana orang yang benar-benar alim dengan orang yang ingin terlihat alim, jangan coba-coba untuk menipu karena saya ini tidak akan tertipu" tegas Azam lalu meninggalkan Rina yang sudah sangat malu.


"Iya aku memang berpura-pura alim selama ini, itu semua aku lakukan hanya untuk bisa mengambil hati mu, kau harus dengar itu" teriak Rina mengakui segalanya.


Azam berhenti ia lalu berbalik badan kembali menghadap Rina.


"Kenapa anda melakukan itu semua, anda harus tau jika apa yang anda inginkan belum tentu bisa anda dapatkan, belajarlah ilmu agama lebih dalam, jangan cuma menjadikan kealiman sebagai sesuatu yang membuat mu terlihat bersinar di mata manusia, asal anda tau saya lebih baik tidak terlihat alim di mata manusia yang penting saya terlihat alim di mata Allah ta'ala itu lebih baik, jangan haus pujian itu tidak baik" jawab Azam lalu kembali berjalan meninggalkan Rina yang sudah sangat malu.


"Kenapa dia bisa senekat ini masuk ke sini"


"Apa dia tidak tau kalau hukumannya sangat berat"


"Benar-benar gila"


"Sok suci sekali dia"


"Ternyata dia hanya ingin di puji saja, miris"


"Baru kali ini aku menemukan orang sehina ini"


Rina yang mendengar hal itu membuat telinganya panas, rasa malu tersematkan di hati Rina.


"Itu pak kyai santriwati yang nekat masuk ke dalam asrama santriwan" tunjuk santriwan pada Dina yang ada di atas balkon yang saat ini menanggung rasa malu yang sangat besar.


"Gawat ada pak kyai di bawah, dia pasti akan menghukum ku, bagaimana ini, aku tidak mau di hukum karena masuk ke sini, aku gak mau di keluarkan dari dalam pesantren, gimana ini aku harus apa, aku tidak mau di hukum, aku juga ingin mendapatkan Azam, apa yang harus aku lakukan" batin Rina di landa kebingungan.


"Azam berhenti" teriak Rina.


"Azam berhenti, kau harus dengerin aku, kali ini saja, aku tidak mau kau menolak ku, kau harus menjadi milik ku, aku tak mau tau itu" teriak Rina berharap setelah melakukan hal ini dia bisa mendapatkan Azam.


Azam tidak memperdulikan, dia teru berjalan.


Melihat Azam yang tidak berhenti Rina semakin kesal karena usahanya kembali gagal.

__ADS_1


Rina berdiri di atas pembatasan balkon.


"Azam kalau kamu tidak menerima ku, aku akan loncat dari sini, kamu mau itu" teriak Rina mengancam Azam.


Azam menghentikan langkahnya.


"Loncat saja, itu kan yang anda inginkan, anda jangan bertanya pada saya karena saya tidak peduli akan hal itu, anda sudah mondok lama di pesantren ini, seharusnya anda tau kalau bunuh diri itu tidak boleh, anda pasti tau kalau orang yang melakukan bunuh diri akan kekal di dalam neraka" jawab Azam masih menatap lurus ke depan.


"Aduh gimana ini, aku harus apa, aku tak mungkin pergi menemui pak kyai, beliau pasti marah besar pada ku karena ulah ku saat ini, bagaimana ini, aku ingin pergi dari sini, tapi kanan dan kiri ku penuh dengan santri-santri yang berjejer rapi, di bawah juga udah banyak yang melihat ku, duh gimana ini" batin Rina di serang rasa panik.


"Kau akan membiarkan aku mati" kata Rina.


"Untuk apa saya melarang orang yang ingin mati, keputusan itu ada di tangan anda, kalau anda loncat, anda akan mati, kalau anda tidak melakukannya anda akan di keluarkan dari dalam pesantren, terserah anda mau memilih yang mana, saya rasa anda sudah dewasa untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk" jawab Azam.


Jawaban Azam membuat Rina semakin panik.


"Aku tidak mau di keluarkan dari dalam pesantren, aku tidak mau nama baik ku tercoreng hanya karena hal ini, aku tidak mau mama sama papa marah besar karena ulah ku, duh gimana ini, aku harus apa" batin Rina bingung.


Rina melihat ke arah pak kyai yang sedang murka.


"Duh gimana ini, terdengar dari suaranya kalau pak kyai tengah marah besar pada ku, aku harus apa, aku tidak mau di marahin habis-habisan olehnya, aku tidak mau hal itu terjadi" kata Rina semakin bingung.


Rina kembali melihat ke arah Azam yang terus berjalan tanpa memikirkan rasa empati sama sekali padanya.


"Azam jika kau menolak ku, aku akan loncat dari sini" teriak Rina mengancam.


"Saya sudah menolak anda, silahkan loncat saja, jika itu mau anda" jawab Azam.


"Kenapa Azam tidak bisa di ajak berkompromi sih" kata Rina pelan.


"Rina turun, jangan loncat" teriak pak kyai.


"Aku akan turun kalau Azam mau menerima cinta ku" syarat Rina.

__ADS_1


"Azam terima saja nak, jangan biarkan Rina meloncat" teriak pak kyai.


"Saya tidak mencintainya pak kyai, untuk apa saya menerimanya, karena hal itu akan membuat saya terluka, ini semua keputusan ada di tangannya, terserah dia mau berbuat apa, dia juga yang akan menanggung dosanya" jawab Azam.


"Jika itu yang kau mau, aku akan loncat sekarang" kata Rina.


"Jangan Rina, Azam terima saja dia" kata pak kyai.


Azam tak menggubris sama sekali perkataan pak kyai.


"Azam aku akan meloncat, kau akan menyesal seumur hidup mu atas kematian ku ini, kau akan menyesal" kata Rina.


"Untuk apa saya menyesal, anda juga yang bodoh, kalau anda memang ingin melakukan tindakan itu" jawab Azam.


"Azam aku akan loncat demi kamu" kata Rina.


"Jangan bawa-bawa saya, saya tidak suka hal itu, jika anda ingin loncat silahkan, tapi jangan bawa-bawa nama saya" jawab Azam.


"Jangan Rina, kau jangan meloncat" teriak pak kyai.


"Aku akan loncat Azam" teriak Rina sangat keras.


Azam masih terus berjalan tak mempedulikan Rina sama sekali.


"Arrrrgghh"


Teriakan panjang terdengar jelas di telinga mereka semua, tubuh Rina terjatuh ke bawah, kepala Rina menghantam material yang ada di bawah.


Darah mengalir dari kepala Rina, sebuah besi menusuk perut Rina yang membuat gadis itu langsung tak bernyawa.


Semua mata tertuju pada Rina, mereka semua berlarian mendekati Rina, kecuali Azam dia tetap diam di atas balkon.


"Gadis bodoh tidak tau apa-apa, dia pikir tindakannya itu benar apa, tidak sama sekali, mengapa dia segila itu hanya karena cinta, tak bisakah dia mengerti kalau aku tidak mencintainya, di mana otaknya itu" kata Azam tak habis pikir dengan jalan pikiran Rina.

__ADS_1


__ADS_2