
Sampai di rumah sakit.
"Dokter tolong dua santriwati ini,mereka sedang terluka, selamatkan mereka" kata pak kyai.
"Baik, letakkan di sini, kalian tidak boleh masuk, tunggu di depan, kami yang akan menangani mereka" jawab dokter.
"Baik dok" balas mereka.
"Kalian pulanglah ke pesantren, jaga Bu nyai dan dua santriwati itu, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya" kata pak kyai.
"Baik pak kyai, kami yang akan menjaga mereka, kami undur diri dulu assalamualaikum" jawab mereka.
"Wa'alaikum salam" balas keduanya.
Santri-santri itu kembali ke pesantren.
"Azam kamu masih ingat dengan Rina santriwati yang bunuh diri itu?" tanya pak kyai menunggu di kursi tunggu.
"Iya saya masih ingat, ada apa dengan dia" jawab Azam pura-pura tidak tau.
"Menurut dua santri yang selamat itu, mereka bisa seperti ini karena ulah Rina, mereka tak sengaja melukai hati Rina lalu Rina melakukan ini semua pada mereka" kata pak kyai.
"Lalu?" tanya Azam.
"Saya mau kamu bereskan masalah ini, saya tidak mau tau kamu harus buat Rina tidak berkeliaran lagi, saya tak mau santriwati maupun santriwan di ganggu lagi oleh Rina, sudah cukup dia membuat santri-santri berhenti mondok tiba-tiba, untung saja malam ini saya tau kenapa alasan mereka berhenti" jawab pak kyai.
"Baik pak kyai, saya yang akan membereskan masalah ini, pak kyai jangan risau" kata Azam.
Pintu ruangan UGD terbuka.
"Bagaimana dokter kondisi dua santriwati itu?" tanya pak kyai bangun dari duduknya.
"Kondisinya lumayan parah ,dua santriwati itu harus di rawat dulu karena luka salah satu di antara mereka sangat dalam" jawab dokter.
"Ya Allah" shock pak kyai.
"Pak kyai duduk dulu, biar saya yang akan menghandle ini" kata Azam.
Pak kyai menuruti dan duduk di kursi tunggu.
"Apa mereka berdua sudah sadar dok?" tanya Azam.
"Sudah, tapi kondisi mereka sangat lemas, mohon urus administrasinya dulu, biar mereka di pindahkan ke ruangan perawatan" jawab dokter.
"Baik dok, saya yang akan urus" kata Azam.
Dokter itu berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Pak kyai tunggu di sini dulu, saya yang akan mengurus administrasinya kata Azam.
__ADS_1
"Azam kamu bayar pakai ini saja, saya akan tunggu di sini, kamu minta suster untuk menempatkan mereka dalam satu kamar, beri kamar VVIP saja" jawab pak kyai memberikan kartu kredit.
"Baik pak kyai" kata Azam.
Azam mendatangi suster bagian administrasi.
"Assalamualaikum suster saya ingin membayar admistrasi pasien bernama Ria Maharani dengan Amaira Diniyah, tolong di pindahkan ke ruangan perawatan, jadikan satu kamar saja ya sus" kata Azam.
"Baik" jawab suster itu.
Setelah membayar Azam meninggalkan suster bagaimana administrasi.
"Ya Allah tampan sekali Ustadz itu, malah sopan lagi, bismillah calon suami" kata suster itu.
"Jangan mimpi, ayo kerja lagi, jangan mikirin dia, dia tak akan mau dengan mu" jawab temannya.
"Ishh kau ini, mematahkan mimpi ku saja" kata suster.
"Sudahlah, dia juga sudah pergi, kita ke sini itu untuk kerja, cari uang bukan cari jodoh" jawab temannya.
"Siapa tau dapat jodoh gitu sekalian" kata suster.
"Jangan kebanyakan halu, ayo kita kerja lagi" jawab temannya.
Mereka berdua kembali melanjutkan berkerja.
Azam terus saja berjalan sampai matanya melihat sesuatu yang membuat ia berhenti.
"Ruangan ICU, ya Allah apa kondisi Raisa separah itu sampai-sampai dia di rawat di ruangan ICU, duh bagaimana ini, haruskah aku langsung membantunya atau malah membiarkannya saja" kata Azam bingung.
"Dokter Kevin" panggil suster.
"Iya ada apa suster?" tanya dokter Kevin.
"Bagaimana dengan pasien bernama Raisa Vallensia dokter" jawab suster.
"Ada apa dengannya?" tanya dokter Kevin.
"Kata suster bagian administrasi, pihak sekolahan tidak mau lagi membayar biaya perawatan pasien, karena kondisi pasien masih tak kunjung ada perubahan juga, bagaimana ini dokter apa kita cabut saja alat bantu pernapasan itu" jawab suster.
"Jangan, saya yakin anak itu masih bisa selamat, dia pasti bisa sembuh, jangan di cabut alat pernapasannya, dia bisa meninggal nanti" larang dokter Kevin.
"Terus siapa yang akan membayar biaya perawatannya dokter, dia sudah tidak punya ayah dan ibu, tak ada orang yang bisa kita mintai untuk membayar biaya perawatannya?" tanya suster.
"Biar saya saja yang bayar, pastikan tak ada satu susterpun yang mencabut alat bantu pernapasannya tanpa seizin saya" jawab dokter Kevin.
"Baik dok, saya akan kasih tau pada semua suster, saya permisi" kata suster itu pergi.
"Ya Allah ternyata Raisa sudah tidak punya ayah dan ibu, kasihan dia, aku terus saja mengusirnya, maafkan aku Raisa" kata Azam yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Aku harus cari anak itu sampai ketemu, aku harus tanya kemana ayah dan ibunya, apakah mereka sudah meninggal dunia ataukah sudah bercerai" kata Azam lalu pergi dari sana.
Dokter Kevin masuk ke dalam ruangan ICU.
"Anak ini, kenapa aku merasa tak tega sama sekali pada anak ini, apa yang sebenarnya terjadi, aku tak pernah merasakan hal ini, siapa anak ini sebenarnya, kenapa aku tak terima kalau suster itu mau mencabut alat bantu pernapasannya, aku tak akan biarkan hal itu terjadi, dia berhak untuk hidup, aku yakin dia pasti bisa sembuh, dia pasti bisa kembali bersekolah seperti dulu lagi" kata dokter Kevin melihat ku yang masih tidak sadarkan diri.
Azam terus mencari ku. kemanapun.
"Di mana anak itu, kenapa dia menghilang, bukannya tadi siang dia bilang mau ke sini, kenapa dia tidak menampakkan dirinya, awas saja akan aku marahin dia kalau aku menemukannya" kata Azam terus mencari ku.
Azam terus saja mencari ku.
"Aku sudah berkeliling kemanapun, tapi kenapa Raisa tak kunjung ketemu, dia kemana, masa dia tidak ke sini" kata Azam terus mencari ku.
Azam menghentikan langkahnya.
"Comelnya, iiih lucu, gemasnya kau" kata ku melihat bayi di dalam box.
"Hai adek manis, comelnya kau" kata ku mengelus pipinya.
Bayi mungil itu tersenyum.
"Iiih comel" gemas ku.
Aku mau menyentuh pipinya tiba-tiba sebuah tangan menepis ku.
"Azam" panggil ku kaget.
"Jangan di pegang, dia masih kecill, jangan di cubit-cubit kasihan, dia nanti nangis" kata Azam.
"Gak akan, kamu ngapain di sini, kamu nyariin aku sampai ke sini, aku kan tadi siang bilang akan pulang besok, kenapa kamu malah datang ke sini?" tanya ku.
"Siapa juga yang nyariin kamu, pd saja kamu itu" jawab Azam.
"Terus kamu ngapain di sini kalau gak nyariin aku?" tanya ku.
"Aku ke sini lagi jagain dua santri yang lagi di rawat di sini bersama pak kyai" jawab Azam.
"Oh begitu, tak kirain nyariin aku" kata ku.
"Memang iya, tapi aku tidak mau ngaku" batin Azam tersenyum.
"Ngapain kamu senyam-senyum kayak gitu?" tanya ku.
"Emang kenapa kalau aku tersenyum, gak boleh" jawab Azam.
"Gak boleh lah, nanti kamu di sangka orang gila senyam-senyum sendiri kalau ada orang yang melihat kamu, mereka kan gak bisa lihat aku di sini" kata ku.
"Lucu tau, anaknya siapa ini" kata Azam.
__ADS_1
"Anak ku" jawab ku.
"Dasar kamu ini, mana mungkin kamu punya anak" kata Azam.