Terpisah Dari Raga

Terpisah Dari Raga
Tiba-tiba bisu


__ADS_3

Pagi harinya.


"Sudah selesaikan yang sholat, ayo sekarang langsung ke ruangan tempat raga ku di rawat" kata ku.


"Aku lapar, tunggu sebentar aku mau sarapan dulu, baru aku akan ke sana, ayo temani aku cari makan dari pada kamu terus saja mendesak ku, lebih baik ikut aku aja yuk" ajak Azam.


Aku menghela napas panjang, sungguh aku sangat geram rasanya pada Azam.


"Awas sampai kau berbohong dan mencari alasan lain lagi, ku makan kau hidup-hidup, biar kau tau rasa, iih menyebalkan sekali kau ini" amuk ku.


Azam tersenyum melihat ku yang sudah kesal.


"Sstt jangan marah-mara, awali pagi dengan senyuman manis biar sepanjangan hari rasa manis itu akan terasa" jawab Azam.


"Ah sudahlah, kau jangan ceramah pagi-pagi, ayo katanya mau cari makan, kalau sampai kau berani mencari alasan lain lagi, demi hidup dan mati aku akan mencekik mu dengan tangan ku sendiri" kata ku.


Pemuda tak berperasaan itu malah tersenyum manis bagaikan orang yang tidak tau rasa iba sama sekali.


"Sstt jangan berisik, ayo ikut aku cari makan, aku sudah lapar sekali, kamu jangan marah-marah, nanti cepat tua loh" jawab Azam.


"Aku tidak peduli, mau cepat tua kek, mau gila kek, mau mat-


Pemuda itu langsung melototi ku.


"Jangan bicara sembarangan, aku tidak suka, ayo ikuti" ajak Azam.


Aku tidak berbicara lagi dan menuruti pemuda ini.


Kami berdua berjalan mencari warung makan.


Kami berhenti di depan warteg, Azam makan di sana sedangkan aku menunggunya makan yang sangat lama sekali selesainya.


"LAMA SEKALI KAU MAKAN, kau ini makan apa lagi bersemedi, lama sekali" pekik ku.


Azam tak menjawab dan terus melanjutkan menyantap hidangan yang ada di depannya.


"Kenapa kau tiba-tiba bisu begini, ada apa ini sebenarnya, apa makanan ini mengandung racun mematikan sehingga saat kau memakannya kau akan berubah menjadi pria yang tak dapat berbicara?" tanya ku tak habis pikir.


"Aduh gadis ini, kenapa dia marah-marah sih, dia tidak melihat apa kalau di warteg ini banyak sekali orang yang sedang makan, mana bisa aku menjawab semua ocehannya itu" batin Azam.


"Woy, jawab kenapa kau diam saja hah, aku ini sedang bertanya, kenapa kau tidak kunjung menjawab juga, apa kau tiba-tiba tuli sehingga kau tak bisa mendengar suara ku ini?" tanya ku kesal.


"Iya aku tuli, iih anak ini menyebalkan sekali, sabar Azam sabar, kau jangan marah-marah, jangan dengarkan ocehannya biar mood mu tidak rusak seperti setiap hari-harinya" batin Azam.


"Hai markonah jawab, aku ini ngomong dengan mu, kenapa kau diam saja, lihat aku ada di samping mu, kenapa kau malah terus saja melihat ke depan, apa mendadak kau buta" kesal ku.


"Aduh bagaimana caranya aku menjelaskan ini semua padanya, kenapa dia tidak mengerti kalau di sini itu tempat umum, semua orang akan menganggap ku gila kalau aku membalas setiap ocehannya, maaf Raisa aku harus diam dulu sebentar, kau sabar ya" batin Azam.


"Azama El Fatih buka mulut mu dan bicaralah kenapa kau diam saja, kenapa kau malah mengacangi ku" teriak ku.


"Bu ini uangnya" kata Azam.

__ADS_1


"Terimakasih mas" jawab ibu warteg.


Azam keluar dari dalam warteg.


"Enak saja dia malah meninggalkan aku di sini sendirian, benar-benar menyebalkan, akan aku hajar kau ya, berani-beraninya kau mengacangi ku begini" amuk ku.


bugh


bugh


bugh


"Adooi sakit" pekik Azam.


Aku tak berhenti dan terus saja memukul dadanya bertubi-tubi.


"Iiih sialan kau, aku membenci mu, kenapa kau tega sekali tidak menganggap ku di dalam warteg hah, di mana lisan mu, kenapa tiba-tiba bungkam, di mana telinga mu, kenapa mendadak tuli dan di mana mata mu, kenapa buta seketika hah" amuk ku terus memukuli dadanya.


Azam mencekal tangan ku.


"Hei di dalam warteg itu banyak manusia yang tidak melihat m, bahkan hanya aku saja yang bisa melihat mu, mana mungkin aku menjawab setiap pertanyaan mu itu, mereka akan menganggap ku gila, bagaimana kau tidak bisa berpikiran ke arah sana hah" jawab Azam.


"Kenapa kau tidak bilang?" tanya ku marah.


"Kalau di kanan dan kiri ada manusia bagaimana caranya aku mengatakannya pada mu nona" jawab Azam.


"Akkhhh menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan, aku membenci mu" teriak ku memukul dadanya.


Aku terdiam mata ku menatap wajah pemuda itu.


"Jangan bercanda, itu tidak lucu" kata ku.


"Aku tidak pernah bercanda, aku memang benar-benar mencintai mu, aku mencintai mu Raisa" kata Azam.


Tubuh ku bagaikan patung, dada ku tiba-tiba sesak.


"Akkkhh sakit" kata ku terduduk di bawah dengan memegangi dada ku yang sesak.


"Raisa kamu kenapa?" tanya Azam khawatir.


"Azam dada aku sakit banget" jawab ku.


"Kenapa tiba-tiba Raisa menjadi seperti ini, kenapa wajahnya pucat begini, ada apa ini, ya Allah hamba mohon hilangkan rasa sakit di tubuh Raisa, hamba mohon" batin Azam.


"Raisa kamu kenapa, kamu jangan buat aku khawatir" kata Azam.


"Akkh sakit Azam, dada ku sakit huhu" tangis ku.


"Kamu jangan nangis Raisa, tenangkan diri mu, kamu harus tenang, jangan nangis, tenang dulu" kata Azam.


"Ambil napas dan buang pelan-pelan" kata Azam.

__ADS_1


Aku mengambil napas lalu membuangnya pelan-pelan.


"Bagaiman, masih sakit?" tanya Azam.


"Sudah mendingan" jawab ku.


"Alhamdulillah" syukur Azam.


"Ayo kita kembali ke rumah sakit saja" ajak Azam.


Aku tidak menjawab dan berjalan bersamanya, seketika kami berdua diam tak ada sepatah katapun yang terucap di bibir kami berdua.


"Kenapa hening begini, barusan jelas-jelas dia mengatakan hal yang membuat dunia ku berhenti, kenapa dia malah diam saja saat ini" batin ku.


Aku menatap wajahnya, mata kami tak sengaja bertemu kami berdua lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Gimana ini, aku harus bilang apa, kenapa tadi aku bilang di waktu yang tidak tepat, aku tak mau kita berdua seasing ini, tak akan aku biarkan itu terjadi" batin Azam.


"Bagaimana?" tanya Azam.


"Apanya yang bagaimana?" tanya ku.


"Tanggapan mu" jawab Azam.


"Tanggapan yang mana?" tanya ku.


"Kenapa gadis ini tidak peka sama sekal,i dia memang tidak peka, apa pura-pura tidak peka" batin Azam.


"Iya atau tidak?" tanya Azam.


"Tidak" jawab ku.


Azam menatap ku kecewa, wajahnya menjadi layu bagaikan bunga yang tidak pernah di siram.


"Tidak dapat menolak" kata ku.


Sorot mata tajam itu mengarah pada ku sedangkan yang di tatap tersenyum tanpa tau malu.


"Kenapa kau nakal sekali" kata Azam.


"Nakal sedikit tidak apa-apa saja, eh tapi pacaran itu tidak boleh loh, dosa bagaimana kau ini, kau itu Ustadz, gak boleh ngajak orang pacaran, bagaimana kau ini, dasar Ustadz tidak benar" omel ku.


"Siapa juga yang ngajak pacaran" kata Azam.


"Terus kalau bukan pacaran apa lagi?" tanya ku.


"Komitmen itu boleh" jawab Azam.


"Apa itu sama seperti pacaran?" tanya ku.


"Tentu saja berbeda, aku akan melamar mu setelah engkau kembali ke dalam raga mu" jawab Azam.

__ADS_1


"Sekarang saja bantuin aku kembali ke dalam raga" ajak ku tersenyum.


__ADS_2