
Di rumah sakit raga ku tiba-tiba kejang-kejang setelah sukma ku masuk ke dalam ia seperti kehabisan oksigen, ia tidak bisa diam dan membuat semua suster-suster yang berada di sana panik.
"Pasien bernama Raisa Vallensia kritis" ucap salah satu suster yang panik.
"Cepat panggilkan dokter" titah temannya.
Suster itu langsung keluar dan berteriak nama dokter.
"Dokter tolong pasien bernama Raisa Vallensia, dia kritis dok" dokter Renita yang mendengar teriakan itu berlari masuk ke dalam ruangan ICU.
Dokter Renita memeriksa denyut jantung dan tekanan darah ku.
"Tekanan darahnya turun, suster cepat transfusikan darah secepatnya" titah dokter Renita.
"Dokter stok darah golongan AB rhesus negatif di rumah sakit ini tidak ada, darah itu sangat langka dokter" jawab suster.
"Bagaimana ini, dia butuh darah secepatnya" bingung suster Renita.
"Dokter kalau tidak salah darah dokter Kevin AB rhesus negatif" salah satu dokter yang berada di sana teringat akan hal itu.
"Cepat panggil dokter Kevin ke sini" suster itu langsung menghubungi dokter Kevin.
Dokter Kevin langsung berangkat ke rumah sakit setelah tau kalau aku butuh darahnya.
Tubuh ku terus kejang-kejang yang membuat kedua suster dan dokter yang berada di ruangan ICU panik.
tit
tit
tiiiiiiiiiit
Alat itu berbunyi dengan keras.
Tubuh ku tidak lagi kejang-kejang seperti tadi, dia kini diam tak bergerak sama sekali.
Dokter Renita mengusap wajahnya."Dia sudah tidak dapat tertolong lagi"
Kedua suster yang mendengar hal itu mengigit bibirnya, selama ini para dokter berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan ku namun takdir berkata lain.
"Bawa dia ke kamar mayat" titah dokter Renita.
__ADS_1
Mereka berdua mengangguk lalu dokter Renita keluar dari dalam ruangan ICU.
"Renita bagaimana dengan Raisa, apa keadaannya sudah kembali stabil?" khawatir dokter Kevin yang baru sampai di rumah sakit.
"Kau telat, dia sudah berpulang"
DEG!
Entah kenapa dokter Kevin sangat terguncang ketika mendengar kalau aku sudah tak dapat di selamatkan lagi.
"Renita apa kau bercanda?" dokter Kevin masih tidak percaya kalau aku sudah menutup mata untuk selamanya.
"Aku tidak bercanda Kevin, dia sudah pergi, kau telat datang kemari, dia butuh darah mu Kevin, tapi kau telat datang ke sini, dia sudah tidak bisa di selamatkan" dokter Kevin shock berat, entah kenapa ia merasa tak rela kehilangan ku, padahal dia masih belum tau kalau aku adalah anaknya.
Azam terus berlari hingga pada akhirnya ia sampai di rumah sakit.
Azam dengan terburu-buru berlari mencari ku di dalam ruangan ICU karena dia merasa aku akan ke sana.
Langkah Azam terhenti saat dua orang suster mendorong brankar keluar dari dalam ruangan ICU itu tepat di mana ruangan ku di rawat selama ini.
"Tunggu suster" suster itu berhenti.
Azam terus melihat ke arah seseorang yang di tutupi kain berwarna putih, dengan gemetaran Azam membuka kain yang menutupi wajah seseorang itu.
DEG!
"Suster kenapa Raisa dia bawa keluar, dia mau di pindahkan kemana suster?" suster itu diam, mereka tidak tau harus menjawab apa.
"Suster jawab, kenapa Raisa di bawa keluar, dia belum sembuh suster"
"Maaf mas pasien bernama Raisa Vallensia sudah menghembusakan napas terakhirnya 1 jam yang lalu" jawab suster itu.
DEG!
Terasa di tusuk seribu belati hati Azam saat mendengar kenyataan itu, ia dengan air mata yang mengalir melihat kembali ke arah ku yang sudah pucat pasi.
"Raisa bangun, Raisa jangan tinggalin aku, Raisa buka mata kamu" titah Azam dengan terus menggoyangkan tubuh ku.
"Raisa bangun, Raisa buka mata kamu, Raisa jangan tinggalin aku" teriak Azam yang mendapati tubuh ku tidak bergerak walaupun ia berusaha untuk membangunkan ku.
"Suster kembalilah dia, aku ingin dia kembali, bawa dia kembali suster" titah Azam.
__ADS_1
Kedua suster itu diam, mana mungkin ia bisa membawa ku kembali, satu orang pun tidak ada yang bisa menghidupkan orang mati lagi.
"Suster tolong kembalikan dia, aku mau dia suster" teriak Azam.
"Kakak tenangin diri mu, kakak jangan begini" Adam yang baru sampai langsung menenangkan kakaknya yang tengah terpukul karena kepergian ku.
"Adam, dia pergi Adam, dia pergi ninggalin aku, Adam bawa dia kembali, aku tidak mau Raisa pergi, aku tidak mau"
Adam diam, ia tak menyangka kalau semesta menginginkan ku pergi dari dunia ini.
"Adam tolong bawa dia kembali, aku ingin dia kembali, tolong Adam" Adam memeluk kakaknya untuk menenangkannya, ia memberi kode pada suster untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Suster itu membawa ku ke kamar mayat.
"Dia mau membawa Raisa kemana, hei jangan bawa Raisa ku pergii" teriak Azam yang melihat suster itu membawa ku pergi darinya.
Azam hendak mengejar suster itu, namun Adam menahannya.
"Kakak tenangin diri mu, kakak jangan begini"
"Aku tidak bisa tenang, dia membawa Raisa ku pergi, aku tidak mau dia pergi, aku harus kejar dia, lepaskan aku Adam" Adam tidak mendengarkan dia terus mencekal kuat tangan kakaknya agar tidak pergi kemana-mana.
"Adam lepaskan tangan ku, aku mau pergi" teriak Azam.
"Kakak jangan begini, biarkan suster itu menjalankan tugasnya, kakak jangan menghambat perkerjaannya" marah Adam yang melihat kakaknya tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Azam diam, ia terisak saat teringat kalau aku kini sudah berpulang.
"Adam aku gagal, dia pergi ninggalin aku, andai aku menolongnya dari dulu, mungkin hari ini aku masih bisa melihatnya tersenyum"
"Aku egois, aku egois, andai aku tidak egois dia akan hidup, dia tidak akan pergi, dia tidak akan pergi Adam"
Azam duduk di kursi tunggu dengan menyesali segalanya.
"Kakak yang sabar, kakak harus bisa ikhlaskan dia, doakan saja Raisa biar dia bisa tenang di alam sana" ucapan Adam membuat air mata Azam tumpah ruah.
"Bagaimana aku bisa ngikhlasin dia, dia segalanya bagi ku, aku tidak tau bagaimana hidup ku tanpa dia di samping ku"
Ning Aisfa yang mendengar hal itu pun tersenyum kecut."Ternyata Azam telah mencintai orang lain saat aku pergi, maaf Azam aku tidak tau kalau kamu mencintainya" batin ning Aisfa.
Azam terus menangis karena kepergian ku, sedangkan Adam terus menenangkan kakaknya yang merasa bersalah akibat kematian ku.
__ADS_1
Jenazah Raisa di urus sesuai ketentuannya, setelah selesai, jenazah Raisa di antar menuju pemakaman umum yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit ini.
Pelayat-pelayat yang ikut mengantarkan jenazah Raisa tidak banyak, hanya beberapa saja.