The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 1 Perjalanan Baru


__ADS_3

EPISODE 1 PERJALANAN BARU


 


“Apaa?! Ke London?? Pah, apa Papah yakin?” seru Arora yang sedari tadi hanya diam menikmati makan malamnya. ”Tentu saja papah yakin.” Ucap kepala keluarga Gunadya, Abraham Gunadya. “Ah, bukan. Maksud ku, mengapa papah ingin kami melanjutkan pendidikan di London?” Tanya Arora sambil menunjuk dirinya beserta kedua sahabat karib nya.


“Tidak ada alasan. Pokoknya kalian harus melanjutkan pendidikan kalian di sekolah yang sudah kami siapkan. Papah sudah memesan 3 tiket pesawat dan juga mendaftarkan kalian ke sekolah terbaik disana. Jadi menurut lah dan belajar dengan sungguh-sungguh.” Sambung Amzar Prasaja, kepala keluarga Prasaja.


"Tapi…” ucap Arora yang ingin memprotes keputusan orang tua mereka. Tetapi, sebelum Arora sempat berbicara, Chemira memegang tangan Arora dan menenangkannya. “Baiklah pah. Kami akan belajar dengan giat disana. Terima kasih atas niat baik Papah dan Mamah, juga Om dan Tante sekalian.” Ucap Chemira sambil tersenyum ramah. “Baiklah. Karena kalian sudah setuju, kalian akan berangkat besok pagi. Kalian cepatlah berkemas setelah makan malam selesai.” Ucap Agustin Dhananjaya, kepala keluarga Dhananjaya. “Baik.” Ucap Arora, Chemira, dan Fimela serempak.


 


Setelah makan malam. Para kelapa keluarga berkumpul di taman belakang kediaman keluarga Prasaja bersama dengan istri mereka masing-masing. Sedangkan putri-putri mereka pulang kerumah mereka masing-masing untuk berkemas barang-barang yang akan mereka bawa ke sekolah baru nya. Kebetulan rumah mereka hanya berjarak tidak lebih dari 1 meter.


 


“Amzar, aku kagum padamu dan istrimu. Kalian dapat mendidik putri kalian menjadi seorang yang berperilaku se-dewasa itu di usia nya yang masih sangat muda.” Ucap Abraham. “Ya, aku setuju. Usia mereka masih 15 tahun dan Chemira sudah bisa bersikap dewasa seperti itu.” Ucap Agustin. “Ah, tidak perlu seperti itu. Aku beserta istriku juga tidak terlalu mengerti tentang itu. Kami memang mendidiknya untuk menjadi seseorang yang berpikir dan bersikap dewasa, tetapi kami tidak menyangka dia menjadi seseorang yang dewasa dalam waktu sesingkat itu.” Ucap Amzar. “Yah, walaupun begitu. Terkadang kami juga merindukan sifat kanak-kanak nya yang jarang sekali ia perlihatkan.” Ucap Emely Prasaja dengan ekspresi sedih.


“Tenanglah sayang. Bagaimanapun sifatnya, dia tetap putri kita.” Ucap Amzar menenangkan istrinya. Mereka pun melanjutkan obrolan sambil menikmati secangkir teh.


 


Di kediaman Prasaja, kamar Chemira.

__ADS_1


 


“Baiklah, semua barang sudah aku siapkan. Tinggal dimasukkan ke dalam koper.” Ucap Chemira dengan senyuman khas nya. Saat Chemira akan merapikan barang-barangnya, seorang pelayan datang dan mengetuk pintu kamarnya. “Permisi Nona, Tuan meminta ku untuk membantu Nona mengemaskan barang-barang Nona.” Ucap pelayan itu. “Tidak apa-apa, aku tidak perlu dibantu. Bilang saja pada Papah kalau aku yang ingin menyiapkan barang-barang ku sendiri.” Ucap Chemira menolak bantuan pelayan itu. Pelayan itu tidak bisa membantah ucapan Chemira, yang bisa ia lakukan hanyalah memberi tahu Amzar Prasaja kalau putri nya tidak ingin dibantu.


“hah, dasar anak itu. Dia selalu menolak bantuan dari para pelayan.” Amzar merasa frustasi karena anak nya terlalu mandiri. “Yasudah, tidak apa-apa. Biarkanlah dia melakukan apa yang dia suka.” Lalu pelayan itu membungkuk untuk memberi hormat, lalu beranjak pergi.


 


Di kediaman Gunadya, kamar Arora.


 


“Hmm…pakaian sudah, buku-buku sudah, perlengkapan mandi sudah. Baiklah semua nya sudah, tinggal dimasukkan ke koper.” Ucap Arora dengan nada girang. “Gapapa deh sekolah di London, bisa sekalian jalan-jalan.” Lalu ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kamarnya. “Masuk.” Ucap Arora memberikan izinnya. “Permisi Nona, Tuan meminta saya untuk membantu Nona.” Ucap pelayan itu dengan nada yang sopan. “Baiklah, silahkan. Kebetulan aku juga sudah capek. Terlalu banyak barang yang aku siapkan.” Ucap Arora sambil menghela napas panjang. “Aku mengantuk. Kakak pelayan, aku serahkan hal ini padamu ya.” Ucap Arora yang segera bangun dari duduk nya. “Baik Nona, serahkan saja semua ini padaku.” Lalu pelayan itu bergegas merapikan barang-barang Arora.


 


 


“Haahh, aku capek. Kakak pelayaann.” Seru Fimela memanggil seorang pelayan ke kamar nya. “Aku sangat lelah, kakak pelayan selesaikan ini untuk aku ya?” Ucap Fimela dengan nada memohon. “Nona, anda tidak perlu memohon. Memang sudah tugas saya untuk membantu Nona.” Ucap pelayan itu sembari tersenyum. “Aaa, kau baik sekali kakak pelayan. Baiklah, aku akan pergi tidur.” Ucap Fimela sambil membanting tubuh nya ke atas kasur.


 


Pagi besoknya, di Bandara

__ADS_1


 


“Mamah, Papah aku akan merindukan kalian. Huhuu…” Ucap Fimela sembari memeluk kedua orang tua nya. “Pergilah nak, kami akan selalu mendo’akan mu. Jaga dirimu baik-baik ya sayang.” Ucap Nadya Dhananjaya sembari mengecup kening putri tercintanya.


“Mah, Pah. Jaga diri kalian baik-baik yah. Chemira pergi dulu, aku akan selalu merindukan kalian.” Ucap Chemira sembari memeluk kedua orang tua nya. “hmm, ya sayang. Mamah dan Papah akan selalu menunggu kepulangan mu. Jaga dirimu baik-baik ya.” Ucap Emely yang sedari tadi menahan pilu, tak rela jika putri nya berada jauh darinya.


“Mamah, Papah. Huhuuu… “ Tangis Arora pecah ketika ia menatap kedua orang tuanya. “Sudah-sudah, sayang. Jangan menangis. Belajarlah dengan giat dan sungguh-sungguh disana ya.” Ucap Ailany Gunadya yang ikut meneteskan air mata.


Setelah puas menumpahkan segala kekhawatiran dan kegelisahan yang melanda mereka. Arora, Chemira dan Fimela akhirnya dapat melepaskan pelukan mereka. Sebenarnya mereka benar-benar tidak ingin pergi. Mereka ingin bersekolah di dalam negeri saja, mereka ingin berada di dekat kedua orang tua mereka. Tapi, demi membanggakan kedua orang tua, mereka memutuskan untuk menjalani pendidikan di sekolah yang sudah ditentukan orang tua mereka.


“Ayo, Arora, Fimela. Pesawat kita akan segera lepas landas.” Ucap Chemira. Setelah itu, mereka segera berpamitan dengan orang tua mereka. Lalu, mereka pun segera masuk ke pesawat yang akan mengantarkan mereka menuju tujuan mereka berikutnya, London.


 


Di dalam pesawat.


 


“Hey, kalian sudah tau kita akan sekolah di mana?” Tanya Fimela. “Papah mengirimkan sebuah email pada ku mengenai sekolah kita nanti.” Chemira merogoh tasnya untuk mencari keberadaan handphone nya. Lalu, ia membuka kembali email yang dikirimkan Papah nya. “Ah, ini dia. Kita akan bersekolah di London Business Management School.”


Mendengar pernyatan dari Chemira, Arora yang sedang meneguk minumannya langsung tersedak. “Uhuk uhuk. Hah?? Kau yakin Chemira? Kau tau kan London Business Management School bukanlah sekolah yang dapat kau pandang remeh? Banyak ahli dalam dunia bisnis merupakan lulusan dari sana.” Ucap Arora dengan nada yang sedikit meninggi. “Iya, aku tau itu. Semalam aku juga bertanya pada Papah, mengapa ia memilihkan kita sekolah sebagus itu. Aku juga awalnya kaget. Tapi Papah ku bilang, tujuan kita disekolah disana adalah untuk mempersiapkan kita sebagai pewaris tunggal.” Ucap Chemira dengan tenang. Lulus di sekolah yang seperti itu bukanlah perkara mudah. Tapi mereka harus tetap berjuang demi membanggakan


 

__ADS_1


__ADS_2