The Gardenia Story

The Gardenia Story
Episode 34 Masa Lalu


__ADS_3

*Hallo semua, aku kembali dengan masa lalunya si gunung es tanpa matahari ini. Makasih kalian masih tetep stay di cerita aku.


Setelah seminggu tidak update, akhirnya hari ini aku update lagi. Senang nya~~


Okay, selamat menikmati ceritanya*~


EPISODE 34 MASA LALU (Zhuzu ver.)


“Aku dan dia sama, dia anak yang terbuang begitu juga aku.” Dia memulai cerita itu dengar beberapa kata singkat penuh makna yang bisa langsung dimengerti Arora. Arora sedikit ragu dengan pemahamannya, ia memilih untuk bertanya. “Terbuang? Apa maksudmu?”


Zhuzu menghela napas panjang, menyakitkan bagi dirinya untuk menceritakan itu. Rasanya seperti menabur garam di atas luka. Tapi, mau bagaimana lagi? Entah kenapa ia ingin menceritakan semuanya agar Arora dapat percaya padanya.


“Dia bercerita padaku sambil menangis, dia bilang orang tuanya tidak menginginkannya. Dia bilang orang tuanya membuangnya.” Kalimatnya terhenti, ia memalingkan pandangan ke jendela. Ia tak ingin melihat rasa iba yang terpancar jelas dari Arora. “Berarti, kau.. “


“Ya, aku juga begitu.” Sambungnya dengan suara lirih.


*flashback on*


“Ibu mau bawa aku kemana?” Tanya seorang anak kecil lugu nan polos. Seorang wanita paruh baya dengan penampilannya yang masih mempesona diusia yang tidak muda lagi. “Bertemu Ayah mu.” Jawabnya dengan senyuman.


Anak kecil itu terbiasa untuk diam dan menurut, ia tidak banyak bicara seperti anak kecil lain pada umumnya. “Nona Martha, apa anda yakin dengan keputusan anda?” Tanya seseorang lelaki paruh baya yang tengah duduk di sebelah supir.


“Aku yakin, dia harus bertanggung jawab.” Jawab nya singkat. “Tuan besar berkata bahwa ia akan mencarikan anda pasangan yang lebih baik. Apa anda tidak ingin mempertimbangkannya?” Tanya nya lagi. Martha menghela napas, “Zhuya adalah anaknya. Aku tidak ingin anakku terjebak dalam hubungan politik.”


Dia mengangguk pelan, “Baiklah, saya akan beritahukan hal ini pada Tuan besar.” Keadaan kembali sunyi, semua orang larut dalam pikiran masing-masing. Sampai ketika sang supir mengabarkan bahwa mereka telah tiba ditujuan.


Mereka turun dari mobil dan mendapati seorang pelayan berdiri di depan pintu. “Maaf, ada perlu apa?” Tanya pelayan itu. “Aku ingin menemui Chris Daffin.” Ucap Martha tegas. “Maaf, tapi Tuan Daffin sedang tidak bisa ditemui.” Jawab pelayan itu dengan sedikit arogan.


“Bisakah kau membiarkan kami masuk terlebih dahulu? Kami akan menunggu sampai Tuanmu itu selesai dengan urusannya.” Ucap Pak Gui, asisten Tuan besar Sherwin, ayah dari Martha. “Maaf, kami tidak bisa membiarkan orang asing masuk sembarangan.” Jawab pelayan itu dengan angkuh.


“Ada apa ini? Mengganggu waktu makan siangku yang berharga.” Ucap seorang wanita dengan wajah angkuh dari dalam bangunan mewah dihadapan mereka. “Ini, Nyonya. Mereka datang untuk bertemu dengan Tuan.” Jawab pelayan itu.


“Tidak, tidak bisa. Suamiku terlalu sibuk untuk bertemu dengan gelandangan seperti kalian.” Ucap wanita itu dengan sombongnya.


Martha sudah tidak tahan dengan sikap wanita itu, “CHRIS!! JIKA KAU TIDAK KELUAR, MAKA AKU BERJANJI AKAN MEMBAKAR RUMAHMU BESERTA SELURUH ORANG YANG ADA DISINI!!” Ia meneriakkan ancaman mengerikan untuk menarik perhatian orang yang ia cari sekaligus melampiaskan amarahnya.


Tak lama, seorang lelaki keluar dari rumah itu. “M-martha? Ada apa? Kenapa kau kesini? Mari, masuk dan duduk dulu.” Jawab Chris dengan senyum gugup. Ia tau pasti bahwa jika Martha sudah berjanji, sekejam apapun hal itu pasti akan ia lakukan. Wanita yang diketahui sebagai Nyonya disini, mengdengus kesal dengan sikap suaminya itu.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah besar dan mewah itu. “Silahkan duduk, mari bicara baik-baik. Apa yang membawamu kesini? Kekediaman ku yang sederhana ini?” Tanya Chris yang sengaja berendah diri, ia tidak ingin menyulut kemarahan Martha.


“Nikahi aku.” Jawab Martha singkat sembari menyesap teh yang disediakan untuknya. Chris terbelalak mendengar jawaban Martha, “A-apa? T-tapi, kenapa?” Tanya nya tak percaya. “Zhuya, beri salam.” Perintah nya. Zhuya yang sedari tadi hanya diam, lalu berdiri untuk memberi salam. “Hallo, paman.” Ucapnya sembari membungkukkan badan.


“Ini anak mu, Chris.” Sambung Martha. Chris hanya diam termangu melihat anak kecil yang begitu mirip dengannya itu. Terlihat jelas bahwa anak berumur 4 tahun itu adalah peraduan antara dia dan Martha. “Chris. Aku menunggu jawabanmu.” Ucap Martha untuk mennyadarkan Chris dari lamunannya.


‘Apa? Ini anakku? Kenapa Martha…? Apa karena kejadian malam itu?’ Pikir Chris. Ia menimbang-nimbang keuntungan jika ia setuju untuk menikahi Martha. Lalu tak lama, “Baiklah, aku akan bertanggung jawab.” Ucapnya setuju.

__ADS_1


Bebepara hari kemudian, pernikahan pun dilaksanakan dengan seadanya. Hanya mengundang keluarga dan beberapa teman saja, juga diadakan dengan sangat sederhana. Kini, nama Zhuya Sherwin berubah menjadi Zhuya Daffin.


“Zhuya sayang. Mulai sekarang, dia adalah Ayahmu. Kau mengerti?” Tanya Martha dengan senyum manisnya. Zhuya mengangguk, “Aku mengerti, Ibu.” Jawabnya dengan wajah datar.


Beberapa tahun telah ia lewati dengan damai, walaupun keluarga barunya tidak begitu menerima kehadirannya disana. Tapi, ia punya Ayah dan Kakek yang menyayanginya. Setidaknya sampai hari ini.


Zhuya saat ini telah berumur 9 tahun. Ia tumbuh sebagai seorang lelaki yang tampan dengan sikap dingin dan wajah tanpa ekspresinya. Ia telah banyak mempesona para wanita diusianya yang sekarang.


Ia berjalan menuju ke kamar Ibunya untuk membicarakan sesuatu. Saat tiba di depan kamar, ia mengetuk pintu. “Ibu, ini aku. Boleh aku masuk?” Tanya nya. Telah beberapa kali ia mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Karena penasaran akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk dan melihat keadaan didalam.


Pintu terbuka dan ia mendapati pemandangan yang menyakitkan. Ia terduduk lemas dengan napas terengah melihat wanita yang paling dicintainya tergeletak tanpa daya dilantai. Ia bergegas masuk dan memeriksa keadaan Ibunya.


“Ibu? Ibu? Ibu?! Ibu!! Bangun!” Serunya sembari mengguncang tubuh Ibunya yang sudah pucat dan dingin. “Ibu, bangun!” Ia memeriksa tanda-tanda kehidupan dari tubuh Ibunya, tapi hasilnya nihil.


“Zhuya, ada apa?” Tanya Kakek Willy yang segera datang ketika mendengar suara Zhuya dari sini. “Martha? Ada apa ini? Dokter!! Kau, panggil dokter sekarang!!” Ia berteriak pada seorang pelayan dibelakangnya.


“Ya ampun, nak. Ada apa dengan Ibumu?” Tanya Kakek yang langusng menghambur ke arah Ibunya. “A-aku tidak tau. I-ibu sudah seperti ini sa-saat aku tiba disini.” Jawabnya dengan dengan gugup luar biasa. Tubuhnya sampai gemetar membayangkan kemungkinan terburuk yang ada. Pagi hari yang cerah ini terasa sangat suram baginya.


Beberapa menit kemudian, dokter pun datang dan memeriksa Martha. “Maaf, Tuan. Tapi, Nyonya tidak bisa diselamatkan. Tubuhnya sudah dingin dan tidak ada lagi darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ia sudah kehilangan nyawa kira-kira sejak satu sampai dua jam yang lalu. Saya akan memeriksa lebih lanjut terkait penyebab kematian nyonya.” Ucap dokter itu sembari memberi ucapan belasungkawa.


Zhuya tertunduk lesu. Ia kehilangan satu dari sangat sedikit orang yang menyanyangi dan mencintainya dengan sepenuh hati. Terlihat bahwa hanya dia dan Kakek Willy yang bersedih atas kepergian Ibunya, Martha. Istri pertama ayahnya, Yuri Daffin, terlihat biasa saja bahkan bahagia dengan berita itu.


Sore harinya, setelah Ibunya dimakamkan, ia hendak beristirahat di kamarnya. Ia lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Ia berusaha untuk terlihat kuat, ia bahkan tidak mengeluarkan air mata sedikitpun dihadapan para tamu.


“Ayah, wanita itu sudah pergi. Apa yang akan Ayah lakukan selanjutnya?” – Leo, putra kedua Chris


“Bagaimana dengan anak sialan itu? Apa kita perlu membuatnya menyusul Ibunya?” – Yuri


“Tidak, kita masih membutuhkannya untuk mendapatkan Pandora Corporation sepenuhnya.” – Chris


“Putra keluarga Gunadya telah tiada, putri mereka juga hampir menyusul. Sekarang wanita itu. Apa Ayah tidak terlalu gegabah?” – Jason, putra pertama Chris


“Masalah keluarga Gunadya tidak ada hubungannya dengan keluarga kita.” – Chris


“Bagaimana tidak ada hubungannya? Ayah membantu orang-orang itu dengan memfasilitasi pembuatan racun yang digunakan untuk membunuhnya.” – Leo


“Bagaimana jika Zhuya tau kalau kita menggunakan sisa racun mematikan itu untuk membunuh Ibunya?” – Jason


“Dia tidak akan tau. Dia tidak pernah mempelajari tentang obat-obatan dan tanaman racun. Dokter yang memeriksanya saja tidak dapat mendeteksi racun itu. Bagaimana dia bisa tau?” – Chris


“Tapi kurasa sekarang keluarga Sherwin tidak akan memberikan Pandora Corporation pada kita. Mereka pasti akan memberikan posisi pemimpin untuk Zhuya. Secara keluarga mereka tidak pernah menjalin hubungan dengan keluarga kita.” – Yuri


“Ya, itu sangat mungkin. Setelah kematian Zoe Sherwin, Martha mendapatkan posisi pemimpin Pandora Corporation. Sekarang, setelah ia telah tiada, maka Zhuya akan menjadi penerus resmi.” – Chris


“Sudahlah, kita lanjutkan saja pembicaraan ini lain kali. Ini sudah mendekati makan malam. Kakek pasti sedang mencari kita.” – Leo

__ADS_1


‘Ayah. Yang selama ini aku menyayangiku, sama seperti Ibu. Heh, itu semua palsu. Mereka hanya menginginkan perusahaan Ibu.’ Batin Zhuya. Ia kecewa dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyangka dirinya akan dimanfaatkan oleh Ayahnya yang selama ini ia tau menyayanginya.


‘Mereka ingin memanfaatkan aku, maka aku tidak mungkin menyulitkan rencana mereka. Biarlah semuanya berjalan sesuai rencana mereka, tapi jangan harap aku akan menyerahkan perusahaan begitu saja. Aku dimanfaatkan, maka aku juga akan memanfaatkan mereka.’ Ia bertekad untuk menjaga peninggalan satu-satunya dari sang Ibu.


Makan malam,


“Zhuya, makan lah ini. Ini akan membuat suasana hatimu lebih baik.” Kakek Willy menyuapi Zhuya sesendok sup kaldu hangat dengan aroma yang memikat selera. Zhuya bersikap seperti biasa seolah ia tidak mendengar apapun sebelumnya.


“Tidak apa, kek. Aku baik-baik saja.” Jawabnya untuk menenangkan sang Kakek. Saat ini, orang yang menyayanginya hanya Kakek Willy seorang. “Aku selesai. Aku permisi ke kamar.” Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mulai menyusun rencana.


“Lihatlah betapa tidak tau sopan santunnya dia. Pergi begitu saja meninggalkan orang lain dengan sikap acuh seperti itu.” Leo merasa kesal dengan Zhuya yang selalu mendapatkan kasih sayang Kakek nya.


“Leo. Jaga bicaramu. Dia baru saja kehilangan Ibunya. Wajar jika dia bersedih sekarang.” Ucap Jason penuh peringatan. Mereka harus meyakinkan Zhuya bahwa mereka ada dipihaknya, agar mereka bisa menjalankan rencana dengan baik.


“Ya, Leo. Lagipula dia itu saudaramu. Kau tidak boleh berbicara seperti itu.” Yuri mencoba mengambil kesempatan ini untuk menunjukkan kepedulian nya. Zhuya tidak memperdulikan mereka, ia terus melangkah menuju kamarnya. ‘Heh, palsu.’


Hampir saja ia terbawa perasaan, lalu ia menghentikan langkahnya dan menoleh. “Terima kasih atas pengertiannya.” Ucapnya dengan senyum tipis lalu kembali melangkah pergi dari sana.


Hari demi hari ia jalani dengan berbagai komentar negatif dari orang-orang.


“Hey, lihatlah anak haram itu. Haha, menyedihkan sekali.”


“Dia berasal dari keluarga terpandang, tapi penampilannya seperti gelandangan saja. Keluarga nya pasti malu punya anak sepertinya.”


“Haha, namanya juga anak haram. Keluarga mana yang mau menerimanya?”


“Dasar anak haram. Haha..”


Ia terus menahan dirinya untuk selalu bersikap tidak peduli. Tapi ia benar-benar tidak tahan dengan semua komentar dan tindakan pembullyan yang ia terima. Akhirnya setelah lulus sekolah dasar, ia memutuskan untuk sekolah diluar negri.


Selama ia bersekolah di luar negri, keluarga Ayahnya selalu membiayai hidupnya dan memberikan kecukupan kebutuhan untuknya. Hanya saja, itu semua merupakan salah satu bagian dari rencana jahat mereka.


Karena ia tak perlu pusing soal uang, ia memanfaatkan waktunya untuk terus mengembangkan potensi diri agar ia bisa memimpin Pandora Corporation dengan baik untuk kedepannya.


Ia terus hidup dalam lingkaran kegiatan yang sama setiap harinya hingga sampai lah ia pada masa sekarang, dimana ia punya beberapa teman kepercayaan yang selalu membantunya dengan sepenuh hati. Yah, walaupun terkadang mereka menyebalkan.


*flashback off*


*******************


Terima kasih untuk para pembaca semua.


Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.


Thank you all ~~

__ADS_1


__ADS_2