
EPISODE 25 KEKHAWATIRAN
Luna menceritakan kejadian itu secara mendetail, tanpa terlewat sedikitpun. Suasana disana terasa sangat menyedihkan, ditambah dengan isak tangis Luna yang tidak kuat ia tahan. ”Lalu, apa yang dia lakukan padamu dipertemuan selanjutnya?” Tanya bu Vivian sembari memeluk Luna dan menenangkannya.
“Dia.. dia hanya mengancamku lewat pesan. Dia bilang aku tidak boleh memberitahukan ini pada siapapun.” Jawab Luna sembari memeluk erat bu Vivian. Luna merasa lega karena akhirnya ia dapat menceritakan kekhawatirannya. Terlebih ia bisa menganggap bu Vivian seperti Ibu kandungnya sendiri.
Bu Vivian mengelus kepala gadis kecil menyedihkan itu. “Sepertinya mereka sedang dihukum oleh Pak Rey karena mereka terlambat. Jadi mereka hanya bisa mengancammu lewat pesan. Kau beruntung Luna, dan jika kau tidak melakukan sesuatu, maka keberuntungan itu hanya akan bertahan selama paling tidak 1 bulan.” Ucap bu Vivian.
“Jadi, aku harus apa bu?” Tanya Luna dengan suara lirih. “Hm, ibu punya ide. Tapi, apa kamu mau?” Tanya bu Vivian. “Ibu melakukan ini demi diriku. Jadi, akan aku ikuti.” Jawab Luna.
“Baguslah jika kamu mau. Tapi Ibu sarankan, kamu harus berpikir panjang terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan agar tidak ada penyesalan setelahnya. Karena tidak semua yang orang lain lakukan adalah demi kebaikanmu, kau harus tetap berhati-hati.” Ucap bu Vivian. Luna mengangguk, “Hm, baik bu.”
Setelah mengakhiri sesi konseling, Luna dan Ibu Vivian melanjutkan pembicaraan dengan mengangkat beberapa topik ringan untuk mencairkan suasana. Sementara di luar ruangan, Ignacio sedang duduk termenung di sofa. Ia merasa bosan karena sudah menunggu hampir 2 jam tanpa melakukan apapun.
“Apa mereka masih lama? Bagaimana kalau aku tidur sebentar? Aku sangat lelah.” Ucapnya. Ignacio memejamkan matanya sembari bersandar pada sofa. Hampir saja ia terseret masuk kedalam alam mimpi, tiba-tiba ponsel Luna berbunyi. Satu pesan masuk.
“Hm? Pesan? Apa aku harus memberitahu Luna sekarang? Atau aku biarkan saja?” Gumam Ignacio. ia bingung antara menggubris atau tidak pesan tersebut. Lalu, ia mendengar tawa Luna dari dalam sana. Ia jadi tdak tega untuk mengganggu kebahagiaan yang terpancar dari dalam sana.
Ia berusaha untuk mengabaikan deringan pesan itu. Tapi semakin diabaikan, pesan yang masuk semakin banyak dan itu membuat Igancio tidak bisa istirahat. “Ah, siapa yang mengirimkan pesan sebanyak itu?” Ucapnya sembari mengambil ponsel Luna dan membuka setiap pesan yang masuk.
‘*Hey gadis kecil, aku ingatkan kau untuk tidak memberitahukan kejadian itu pada siapapun. Jika tidak, aku akan mengekspos video menyedihkan itu.’
‘Kau tau kan, kalau aku tidak keberatan untuk berbagi sesuatu yang menyenangkan?’
__ADS_1
‘Hey, kenapa kau tidak membalas pesanku? Apa kau sudah mulai melawan?’
‘Luna, aku peringatkan kau jangan macam-macam. Kalau tidak, aku akan segera mengekspos video dan foto-foto itu*.’
….. (dan masih banyak lagi ancaman lainnya.) …..
“Siapa sih? Mengganggu saja.” Gumam Ignacio. Ia juga memeriksa serangkaian pesan lainnya yang dikirim dengan maksud mengancam.
Tunggu, dia bilang sesuatu tentang video. Apa isi video itu? Kenapa dia sampai jadi penurut hanya dengan sebuah video? Ada yang tidak beres.
Tak lama kemudian, Luna dan bu Vivian keliar dari ruang konseling dengan dikelilingi aura hangat yang melingkupi mereka. Luna terkesiap melihat Ignacio yang tengah memeriksa ponsel nya.
“Hm, se-senior?” Panggil Luna. Ignacio menoleh dan mendapati bahwa Luna dan bu Vivian sudah keluar dari sana. “Ignacio, kau tau kan kalau membuka privasi orang lain tanpa izin itu tidak sopan?” Tanya bu Vivian dengan senyuman yang sama mengerikannya seperti Ibu kantin.
“Pesan? Luna..” Bu Vivian memeriksa kondisi Luna saat ini. Dan benar saja, Luna langsung gemetar ketakutan setelah membaca pesan-pesan itu. “Bagaimana ini? Bagaimana ini? …” Luna terus menggumamkan kata-kata yang sama.
“Luna? Boleh ibu lihat?” Tanya bu Vivian. Luna memberikan ponselnya, lalu ia terhuyung seakan-akan kehilangan semua tenaganya untuk berdiri. Ignacio sigap berdiri dan membantu Luna duduk di sofa. “Jadi ini orangnya. Ignacio, mungkin akan ada tugas baru untukmu.” Ucap bu Vivian.
“Hm? Apa? Detektif lagi kah?” Tanya Ignacio. “Ya, dan satu lagi misi jangka panjang.” Jawab bu Vivian. “Lagi? Ya ampun bu, aku sangat lelah.” Ucap Ignacio yang terduduk lemas di lantai tepat disamping sofa yang Luna duduki sekarang.
“Ignacio. Sebagai asisten ku, kau harus melakukan tugas ini. Kau mau poin tugasmu di diskon 50%?” Ucap bu Vivian dengan senyuman yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
“A-a-a, ja-jangan bu, jangan. Baiklah, aku akan lakukan.” Jawab Ignacio dengan senyuman terpaksa. Luna yang sedari tadi hanya memperhatikan, terlihat bingung. “Poin tugas?” Tanya Luna. Mendengar Luna bertanya, bu Vivian segera mengalihkan perhatian nya dari Ignacio.
__ADS_1
“Poin tugas adalah poin yang kalian dapatkan jika melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh siapapun yang punya kewenangan di sekolah ini. Baik kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, suster ruang kesahatan, ibu kantin, pengurus organisasi, guru pelajaran tambahan dan pembimbing konseling seperti ibu.” Jawab bu Vivian.
Luna mengangguk memberi tanda bahwa ia mengerti. “Tapi bu, aku belum pernah dengar tentang poin tugas ini?” Tanya Luna lagi. “Memang belum saat nya kau tau tentang sistem poin tugas ini. Kau akan tau setelah pergantian semester nanti. Walaupun begitu, sistem poin ini sudah berlaku sejak kalian resmi menjadi siswa di sekolah ini.” Jawab bu Vivian.
“Oohh, baiklah. Aku mengerti bu.” Jawab Luna. “Baiklah. Jadi sekarang karena kau sudah mengerti, bagaimana kalau kita bahas sesuatu yang sedikit serius.” Ucap bu Vivian. Ia duduk di sofa yang ada di hadapan Luna. Sementara Ignacio, dia masih dalam keadaan duduk di lantai.
Di luar ruang konseling.
“Kau lihat itu Friska. Aku tidak berbohong.” Ucap Aline. “Kau benar. Apa kesempatanku sudah hilang?” Ucap Friska dengan wajah murung. “Hey, jangan sedih begitu, kau masih punya kesempatan. Kau jauh lebih baik dari si Luna itu.” Ucap Aline untuk menyemngati Friska.
“Tapi.. mereka terlihat sangat akrab. Jauh berbeda denganku yang hanya orang luar ini.” Jawa Friska. “Hey, Friska. Ayolah, kau itu cantik. Jauh lebih cantik dari si Luna itu.” Ucap Aline. “Tapi.. aku.. “
“Friska, dengarkan aku. Walaupun saat ini kita tidak tau apa hubungan mereka, kita juga tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan didalam. Tapi yakinlah, kau masih punya kesempatan. Walaupun kesempatan itu sudah hilang, tak masalah. Kita bisa buat kesempatan baru.” Sambung Aline dengan nada pasti sembari tersenyum.
“Hm, Aline, terima kasih. Kau sudah menyemangatiku. Itu membuatku merasa lebih baik. Tapi, lupakan lah hal itu. Aku tidak ingin lagi terjerat dalam persoalan seperti itu. Lagi pula, aku tidak tau apakah aku benar-benar menyukainya atau tidak. Mungkin, Luna cocok untuknya. Aku tidak ingin memaksakan diriku sendiri.” Jawab Friska sembari membalas senyuman Aline.
“Haah, kau ini. Mudah sekali menyerah. Tapi, yaa.. itu terserah padamu.” Aline mengheka napas panjang. Friska tertawa melihat reaksi Aline, “Sudahlah, mari kita beli es krim. Bu Yolanda tidak masuk hari ini.” Ucap nya sembari menarik Aline untuk segera ke kantin.
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~