
EPISODE 27 AJAKAN
Sepulang sekolah,
“Senior!” Seru Aline. Zhuzu memberhentikan langkah nya dan berbalik. “Haah, senior. Akhirnya aku menemukanmu.” Aline segera memberikan laporan hasil kerjanya. “Ini, senior. Sudah aku selesaikan. Dan ini catatan anggaran yang baru.” Ucapnya sembari tersenyum.
Zhuzu mengambil berkas-berkas itu, lalu menyimpannya. “Eh? Apa senior tidak memeriksanya terlebih dahulu?” Tanya Aline yang berusaha tetap bertingkah imut. “Aku yakin kau cukup cerdas untuk tidak meninggalkan kesalahan sedikitpun.” Jawab Zhuzu yang kemudian langsung pergi meninggalkan Aline.
Setelah Zhuzu benar-benar pergi dari sana, Aline melepaskan topeng imutnya. “Aargh, sialan. Aku sudah susah-susah mengerjakannya dengan baik dan teliti agar tidak ada kesalahan sedikit pun, supaya dia tidak bisa mengejek ku lagi.” Gerutunya. “Tapi kau salah, dia tetap bisa mengejek mu bahkan tanpa memeriksanya terlebih dahulu.” Sambung Friska sembari menikmati es krim nya.
Tak jauh dari Aline dan Friska, terlihat Ignacio dan Luna berjalan beriringan. “Bagaimana kalau di cafe depan?” Tanya Ignacio. “Hm, boleh deh.” Jawab Luna. Mereka baru saja menjadi partner beberapa waktu lalu, tapi mereka sudah terlihat sangat akrab.
Saat mereka sampai hampir sampai dipintu gerbang, “Wiih, ada pendamping nih?” Tanya Georgy. “Wah, hebat ya kau bocah sialan. Baru dikatain tadi pagi, pulang nya sudah pamer?” Sambung Ivan.
Luna sedikit kaget karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan senior-seniornya. “Kenapa? Iri ya?” Balas Ignacio. “Iri? Maaf ya, kita juga sudah ada.” Jawab Ivan. “Kalian mau kemana?” Tanya Zhuzu. “Ke cafe depan.” Jawab Ignacio sembari menunjuk sebuah cafe kecil di depan sekolah.
“Ke cafe berdua. Kencan?” Goda Delvin. Mendengar ucapan seniornya, Luna tertunduk malu. Selang beberapa detik, Arora, Chemira dan Fimela keluar dari gedung sekolah bersama dengan Sara. Ignacio melihat kesempatan bagus, “Dari pada mengurusi urusanku, lebih baik kalian melakukan apa yang harusnya kalian lakukan.” Ucap Ignacio sembari melirik ke arah empat gadis cantik disana.
Melihat Sara disana, Georgy sigap membenahi pakaian dan penampilannya. “Ehem, sepertinya kau benar. Aku harus melakukan yang seharusnya aku lakukan.” Ucapnya. “Ivan, kau ikut tidak?” Tanya Georgy. Mendengar ajakan secara tidak langsung itu, Ivan menganggukkan kepala, “Tentu saja aku ikut. Aku harus jadi.. Ehem, ‘pacar’ yang baik bukan?” Ucapnya.
“Ini kesempatan. Luna, ayo pergi.” Ignacio menarik Luna melangkah keluar dari gerbang sekolah dan segera menuju ke tempat tujuan mereka.
“Zhuzu, kurasa kita dilupakan.” Ucap Delvin sembari menepuk pundak Zhuzu. “Yah, mau bagaimana lagi?” Jawab Zhuzu sembari menyingkirkan tangan Delvin. “Kau mau ikut?” Sambung Zhuzu. “Hm? Tentu saja aku mau. Ayo.” Ajak Delvin.
“Ehem, hai.” Sapa Ivan. Fimela yang merasa terpanggil, menolehkan kepalanya. Seketika itu juga tatapan mereka bertemu dan terpaku selama beberapa saat. “Eh? Ah, hai.” Jawab Fimela dengan senyum canggung.
Sudah lama ia tidak berinteraksi dengan Ivan semenjak pernyataan sepihak darinya di kantin saat itu. Dan untuk kejadian di ruang kesehatan waktu itu, tentu saja itu tidak masuk dalam hitungan karena saat itu ia dalam keadaan setengah sadar.
“Em, apa kau.. mau pulang bersama?” Tanya Ivan yang terkadang melirik ke arah lain, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan rona merah di wajahnya. Tapi sepertinya Chemira salah paham tentang itu, ia mengira bahwa Ivan sedang mengisyaratkan bahwa mereka harus bersandiwara sekarang.
__ADS_1
Chemira menepuk pundak Fimela, lalu ia melirik ke sekeliling mereka. Saat ini mereka menjadi pusat perhatian dan satu sekolah sudah tahu mengenai hubungan palsu mereka. Fimela mengerti maksud Chemira, tapi ia ragu apakah ia bisa bersandiwara dengan baik atau tidak, mengingat bahwa ia tidak pernah berinteraksi sedekat ini dengan pria.
Fimela memulai sandiwaranya dengan senyuman malu-malu, “Em, ba-baiklah.” Jawab nya. Ivan sedikit tidak percaya bahwa tawarannya akan diterima begitu saja. “Baiklah, ayo.” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
Kali ini, Fimela menerima uluran tangan Ivan. Mereka berjalan beriringan. Tapi sebelum melangkah pergi, Fimela sempat menoleh ke belakang. Ia ingin memastikan bahwa keputusannya benar.
Arora dan Chemira mengangguk, mereka menyetujui pilihan Fimela. Karena saat ini, adalah saat yang tepat untuk mendeklarasikan hubungan mereka.
Ivan menggandeng tangan Fimela erat, ia seakan tidak ingin tangan kecil itu lepas dari genggamannya. Mereka melangkahkan kaki pergi dan menjauh dari tempat itu, berdua.
“Ehem, Sara. Bisakah kau ikut dengan ku?” Tanya Georgy yang tidak ingin kalah dari Ivan. “Untuk apa aku ikut denganmu?” Sara menjawab pertanyaan Georgy dengan sebuah pertanyaan sarkas yang diucapkan dengan nada ketus.
“Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan.” Jawab Georgy yang tetap sabar dengan sikap ketus yang selalu Sara tunjukkan padanya. Sara sedikit aneh dengan kesabaran Georgy padanya. Sebelumnya, ia tidak pernah sesabar ini pada wanita. Tapi Sara adalah pengecualian.
Ia sedikit ragu, tapi akhirnya ia menyetujuinya. “Baiklah. Jika yang kau katakana ini tidak penting, maka aku akan pergi meninggalkanmu.” Jawab Sara. Entah kenapa, mendengar jawaban Sara membuat Georgy merasa senang. “Baiklah, mari.”
“Hmph.” Sara berjalan mendahului Georgy dengan langkah kesal. Georgy haanya tersenyum gemas melihat tingkah Sara. “Sara, tunggu aku.”
“Tunggu.” Ucap Delvin. Chemira dan Arora terlihat bingung dengan kedatangan dua senior lainnya. “Ada apa, senior?” Tanya Chemira. “Hm, bagaimana kalau kau pulang denganku saja? Ada sesuatu hal juga yang ingin aku katakan.” Ucap Delvin. “Eh? Tapi bagaimana dengan Arora?” Tanya Chemira.
“Ada Zhuzu yang akan mengurusnya. Mari.” Ajak Delvin. Chemira melirik ke arah Arora. Arora tampak ragu. Delvin memberikan isyarat mata, ia meminta agar Zhuzu mengambil tindakan segera.
“Ehem, Arora. Aku ingin membicarakan tentang sesuatu.” Pancing Zhuzu. Mendengar hal itu, Arora sontak menghadap ke arah Zhuzu. “Tentang apa?” Tanya Arora. Zhuzu mendekat pada Arora dan berbisik, “Kondisi tubuhmu yang istimewa.”
Arora mengerjapkan matanya tak percaya, “Se-senior akan memberitahukannya padaku?” Tanya Arora. Zhuzu melangkah mundur, menjauh dari Arora. “Ya, apa kau mau dengar?” Tanya nya. Arora menatap Chemira sejenak, kemudian ia menjawab, “Te-tentu saja aku mau.”
Zhuzu tersenyum mendengar jawaban Arora. “Kalau begitu, ayo kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara.” Ucapnya sembari mengulurkan tangan pada Arora. Arora ragu, tapi rasa penasaran mengalahkan keraguannya. “Hm, baiklah.” Jawabnya sembari menerima uluran tangan Zhuzu.
“Mereka sudah pergi. Jadi, bagaimana?” Tanya Delvin lagi. “Hm, boleh deh.” Jawab Chemira. Mereka berjalan beriringan sembari mengobrol ringan.
__ADS_1
Semua orang yang melihat merasa iri dengan kedekatan mereka.
“Lihat itu, aku iri sekali dengan mereka. Mereka bisa berkencan dengan para pangeran. Aaa, aku sangat iri.” – Siswa A
“Jadi dia yang bernama Wendy? Dia cantik sekali.” – Siswa B
“Tidak, dia bukan Wendy. Aku pernah melihatnya sekali. Wendy punya rambut berwarna coklat.” – Siswa C
“Ya, dan yang aku tau Wendy tidak secantik itu.” – Siswa D
“Oh aku tau. Kalau tidak salah namanya Fimela? Yang bersama Zhuzu namanya Arora, dan yang bersama Delvin itu Chemira.” – Siswa E
“Waw, kau tau banyak ya? Dasar penggosip.” – Siswa B
“Tapi, apa benar hubungan mereka seperti yang digosipkan?” – Siswa C
“Kau ini bagaimana? Perlakuan mereka tadi menunjukkan bahwa mereka secara terang-terangan mendeklarasikan hubungan.” – Siswa E
“Tapi, kenapa mereka masih menggunakan sebutan ‘senior’?” – Siswa A
“Tentu saja itu adalah bentuk pengekspresian perasaan. Bisa dikatakan sebagai panggilan khusus?” – Siswa E
“Haah, terserah kaulah.” – Siswa C
*******************
Terima kasih untuk para pembaca semua.
Terima kasih juga untuk vote, like, favorit, dan bintang nya.
__ADS_1
Thank you all ~~